Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Archive for the ‘Surat dari Selong’ Category

Seiring berkembangnya dunia pertelevisian negeri ini, pastinya juga diikuti dengan berkembangnya trend program-program acara yang akan ditonton masyarakat. Tetapi sayangnya, tak banyak dari mereka yang tahu bahwa sebagian acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta di negeri ini adalah berupa “pembodohan” . Dengan rekayasa kamera dan ide acara, segalanya dapat dikemas sedemikian hingga sampai kepada bungkusan acara yang menarik untuk ditonton (bukan disimak).

Dapat dilihat sendiri, acara yang sedang naik pamor akan lebih sering menghiasi layar kaca anda, ketimbang acara yang syarat akan pendidikan dan mengajarkan anda tentang ilmu pengetahuan. Dapat saya katakan di sini acara-acara tersebut adalah infotainment, sinetron dan film-film pendek. Saya menyayangkan sekali, betapa bodohnya khalayak untuk mengkonsumsi acara seperti itu.

Contohnya infotainment. Tidak salah memang jika mereka itu menayangkan berita yang bertemakan gaya hidup selebritis, tetapi belakangan mengapa mereka menjadi penyorot gaya hidup pribadi orang ? Inilah sisi yang harus dipahami dan dibenahi. Berita-berita tentang selebritis yang sedang heboh dibicarakan seperti kasus perceraian, nikah siri, ada juga yang terlibat kasus korupsi dan sebagainya adalah bukan bagian dari berita infotainment yang sebenarnya.

Bukankah hal-hal tersebut merupakan aib yang harusnya dijaga. Mungkin, si selebritis tidak mau memberikan keterangan lebih tentang masalah pribadinya kepada khalayak, karena ia pun tahu sebagai seorang manusia yang juga mempunyai harkat dan martabat yang sama untuk lebih berhati-hati terhadap apa yang ingin melukainya atau mengancamnya. Mengapa justru si pemburu berita alias pers dari infotainment itu yang mengganggu kisah hidup pribadinya ? Apa sih pengaruh hidup mereka yang nikah-cerai bagi kehidupan kita?

Apa sih efeknya mereka yang gonta-ganti pasangan bagi diri kita? Saya rasa tidak ada apa-apa pengaruhnya selain menimbulkan opini yang tidak sedap bagi masyarakat yang mempunyai pikiran sehat tentang dampak penayangan acara ini. Dibilangnya mereka itu cari sensasi dikarenakan bekerja di dunia hiburan. Dan si seleb juga sadar, bukan resiko yang kecil karena setiap gerak-gerik mereka adalah buruan wartawan infotainment. Objektif sekali bukan?

Saya setuju jika hal ini disebut sebagai ber-ghibah. Karena, infotainment zaman sekarang sudah demikian parah. Sudah ditayangkan sebanyak-banyaknya tiga kali sehari, ditambah tujuh hari seminggu mereka pasti dinanti para penonton setianya yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan remaja putri. Namun, tidak menutup kemungkinan banyak kalangan pun menontonnya. Tidak berbobotnya tontonan seperti ini pun kian ramai diikuti.

Seperti menjamurnya tayangan sinetron-sinetron remaja yang bertemakan cinta atau film pendek atau yang biasa disebut dengan FTV. Terlebih lagi generasi muda negeri ini diracuni oleh hal-hal yang terbungkus dengan baik. Padahal itulah yang merusak. Banyak yang meniru adegan-adegan yang ada di dalam tayangan-tayangan tersebut. Entah itu gaya berpakaian, pergaulan, cara bicara dengan logat khas anak muda dan lain-lain. Jika, masyarakat tidak berpikir secara sehat mengenai masalah ini, berarti mereka sendiri sudah setuju bangsa ini terus dibodohi oleh pertelevisian yang semakin hari semakin kian mudah membuat acara-acara semacam acara di atas. Televisi itu hidup dari rating atas pendapatan tontonan. Nah, acara-acara demikian itu dijadikan tontonan?

Pikirkan lagi. Menurut teori umum komunikasi yang menjelaskan tentang bagaimana menjelaskan tentang fenomena komunikasi bagi manusia yakni terdapat dalam teori kognitif dan behavior. Yang mana teori ini berkembang dari ilmu psikologi yang memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Salah satu konsep pemikirannya adalah model stimulus-respon atau S-R, yang menggambarkan proses informasi antara stimulus dan respon.

Contoh lain teori yang termasuk di dalam kelompok teori ini adalah model psikologi Comstock yang menerangkan tentang efek televisi terhadap individu. Tujuan model ini adalah untuk memperhitungkan dan membantu memperkirakan terjadinya efek terhadap tingkah laku orang perorang dalam suatu kasus tertentu, dengan jalan menggabungkan penemuan-penemuan atau teori-teori tentang kondisi umum dimana efek selama ini dapat ditemukan.

Model ini dinamakan model psikologi karena melibatkan masalah-masalah keadaan mental dan tingkah laku orang perorangan. Model ini berpendapat , televisi hendaknya dianggap sederajat dengan setiap pengalaman, tindakan atau observasi personal yang dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pemahaman (learning) maupun tindakan (acting). Jadi model ini mencakup kasus dimana televisi tidak hanya mengajarkan tingkah laku yang dipelajari dari sumber-sumber lain.

Efek jangka panjang yang sedianya telah ada di dalam diri kita apabila kita tidak cermat dalam memilih tontonan, apalagi tontonan untuk anak-anak. Jangan sampai mereka dewasa sebelum waktunya. Dampingi mereka ketika menonton dan batasi waktunya. Setidaknya, bersikap dewasalah dalam menghadapi perkembangan zaman. Jangan kalah oleh zaman yang semakin berlari membawa ke-modern-an. Tetap berpikir cermat dan kritis dan waspada oleh keadaan yang bisa berubah semaunya. Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada esok hari jika kita tidak menjalani hari ini.

I’ve been to Museum Bank Mandiri for many times now. This morning I went there again to have a meeting with the Berburu Center team. And just like always, going to Museum Bank Mandiri gave me a very unique sensation I can’t describe with words.

But first, let me make it clear. Going to Museum Bank Mandiri and Kota Toea is not an easy journey. The traffic that you have to pass is like crazy. You all know how bad the traffic in Glodok and Kota can be, don’t you? So I suggest you wake up early and get going real soon in the morning.

Museum Bank Mandiri is not the world’s best museum, for sure. The condition outside the museum is a big factor why this museum is less attractive than it should be. Kota Toea is indeed a very hot place to be. If you come at 12 noon, you’ll probably think you’re 5 minutes away from hell. It’s damn hot and the air is so polluted. The sound of bajaj, angkot, buses, and people just makes everything so perfectly frustrating. If you want to commit suicide (a memorable one for people you love), I suggest not to do it in this area.

So, it’s so wonderful to know that you can still find peace inside the building of Museum Bank Mandiri. The old building offers us a very “adem” atmosphere. Its old furnitures and displays give us a very peaceful feeling. The fact that the museum is a melting point of a lot of communities and organizations makes it even more special.

I spent most of the time with the team at the library which is managed by Forum Indonesia Membaca; a very inspirational organization who seeks to educate people that reading is important.

We talked about our programs and strategies. The meeting was not too long but very effective, although we could still hear the sound of bajaj from inside.

One important thing we all agreed on was that we are going to conduct a training on living values very soon. We feel that the famous 12 living values rhyme perfectly with the 5 themes/values that we have in Berburu. We’re hoping the training can be conducted next month during the holy month ramadhan.

Back to Museum Bank Mandiri. We managed to take some good pictures. The museum got plenty of great spots for camera posing. I’m not a professional photographer, but taking a great angle may not be that hard for me.

It seems that I’ll be visiting Museum Bank Mandiri even more in the future, since we’re planning to launch Berburu Center’s so-called office (sekretariat, to be exact) at the museum. Hopefully, we can conduct many creative events and programs and together with other organizations we can create a better Kota Toea.

Note: We’re changing Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) to Berburu Center: The Research Center for Human Positive Behavior.

Salam Berburu!

It’s a bless that JBRB has been awarded “2008 Young Changemakers Initiative” by Ashoka Indonesia. I hope this achievement will make us stronger.

This is not the end. This is a start.

I thank everyone out there who has been supporting our movement and never given up hope. Let’s build this city together because we believe that Jakarta deserves a second chance.

Kita baru saja melewati peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-80. Bagi sebagian besar orang, peringatan ini tidak beda jauh dari peringatan nasional lainnya; di mana hanya ada satu hal yang luar biasa bagi mereka, yaitu: libur!

Tapi bagi sebagian kecil masyarakat, perayaan sumpah pemuda memiliki makna yang sangat dalam. Bagi mereka sumpah pemuda merupakan sebuah peristiwa sejarah yang benar-benar luar biasa karena memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Menurut saya, satu hal luar biasa tentang penyelenggaraan sumpah pemuda pada tahun 1928 adalah kecerdikan para pemuda Indonesia untuk mengusung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Seperti yang kita tahu, bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan pastinya berbagai macam bahasa daerah. Dengan kondisi seperti ini, pemberontakan atau perselisihan sangat mungkin terjadi. Peran sebuah bahasa pemersatu menjadi sangat krusial.

Dan di tahun-tahun awal masa kemerdekaan, saya yakin bahasa Indonesia memang menjadi alat utama dalam mempersatukan bangsa ini. Coba bayangkan apabila bangsa ini tidak pernah memiliki sebuah konsensus nasional mengenai penggunaan suatu bahasa sebagai bahasa nasional.

Presiden Sukarno dan Presiden Suharto patut berterima kasih kepada para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang memiliki inisiatif untuk mengadakan sumpah pemuda di tahun 1928.

Masih banyak hal luar biasa dalam penyelenggaran sumpah pemuda, namun yang pasti disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang benar-benar luar biasa!

Pertanyaannya sekarang, “Apakah pemuda Indonesia jaman sekarang dapat melakukan hal-hal luar biasa seperti sumpah pemuda?”

JBRB akan turut bertartisipasi dalam sebuah acara yang diadakan oleh Prasetiya Mulya. Acara yang dinamakan The 2nd Indonesian Consumunity Expo ini adalah sebuah pameran Komunitas dan Produsen terbesar di Indonesia!

JBRB akan menampilkan berbagai macam hiburan dan simulasi Berburu. Ada kemungkinan JBRB juga menjual berbagai macam merchandise; seperti kaos dan pin. Jadi jangan ketinggalan untuk datang dan lihat aksi JBRB.

Acara akan diadakan pada tanggal 8 & 9 November di Plaza Utara Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

Hubungi Oky di sipembururusa@yahoo.com untuk informasi lengkapnya.

Berikut adalah salah satu video yang diberikan oleh tim Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) kepada para murid Berburu. Video ini menampilkan Vena Anisa dan Desta Club Eighties. Belum sempurna, but it’s a start.

Salam Berburu!

Gelaran acara peringatan ulang tahun Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) yang pertama, sekaligus peluncuran Program Berburu menuju 300 sekolah pada tahun 2011, telah dilaksanakan pada tanggal 28 Juni 2008. Acara yang diberi judul Siang Berbudaya Itu Seru (SiBer) ini diselenggarakan di SDN Selong 01 Pagi, mulai pukul 13.00-15.00. Atas terselenggaranya acara ini seluruh panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut berkontribusi dan selalu mendukung kami. Berikut ini beberapa kenangan dari SiBer yang sempat terekam kamera.

 

Kak Lia dan Kak Festy yang menjadi MC sedang memberikan kesempatan kepada Kepala Sekolah SDN Selong 01 Pagi, Ibu V.A. Sri Subarni, untuk memberikan kata sambutan. SDN Selong 01 Pagi merupakan pilot school project untuk Program Berburu. Selama satu tahun belakangan Program Berburu secara rutin diadakan di SDN Selong 01 Pagi, setiap hari Sabtu pukul 10.00-14.00. Kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua/wali murid, serta siswa/i SDN Selong 01 Pagi menyambut baik dilaksanakannya Program Berburu di sekolah mereka.

 


X-Banner acara SiBer yang didesain oleh Kak Adi, bergambarkan logo Berburu, Indo dan Nesia. Banner ini dilengkapi dengan penjabaran lima budaya positif yang menjadi tema dalam Berburu, yaitu (1) Mengikuti tata tertib, (2) Mencintai lingkungan, (3) Menghargai sesama, (4) Membaca itu menyenangkan, dan (5) Mencintai kebudayaan Indonesia. Indo dan Nesia merupakan ikon Berburu yang digunakan dalam berbagai cerita. Penggunaan tokoh Indo dan Nesia yang menggambarkan profil siswa dan siswi sekolah dasar di Indonesia diharapkan dapat membantu dan menarik minat siswa dan siswi untuk memahami dan menerapkan setiap tema dalam Berburu.

 


Penampilan siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi dalam Drama Berburu. Drama ini merangkum lima tema Berburu menjadi satu cerita. Ide dasar drama diambil dari tiga cerita tema Berburu dalam Buku Panduan Berburu. Indo dan Nesia menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Para siswa-siswi sangat bersemangat dalam pementasan drama ini. “Senang..riang..hari yang kunantikan!!”

 


Kak Novie sedang memimpin siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi untuk melakukan Senam Berburu. Senam Berburu biasa dilakukan sebelum Berburu dimulai. “Tangan kanan ke depan, ke belakang, depan belakang, lalu goyangkan. Lakukan seperti ini dan berputarlah. Mudahkan caranya? Tangan kiri ke depan, ke belakang, depan belakang, lalu goyangkan. Lakukan seperti ini dan berputarlah. Mudahkan caranya?”

 


Untuk mengenalkan mengenai pelaksanaan Berburu, maka dilakukan simulasi Berburu. Kak Anie sedang menerangkan kepada siswa-siswi SDN Selong 01 Pagi mengenai salah satu tema Berburu, yaitu Mencintai Lingkungan. Pada prakteknya, penyampaian materi Berburu menggunakan banyak metode, antara lain presentasi, storytelling, diskusi kelompok, permainan, dan lainnya.


Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos