Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Kemacetan lalu lintas merupakan salah satu masalah kronis di kota-kota besar Indonesia dan masalah ini semakin parah setiap tahunnya. Pertumbuhan panjang jalan kota di Indonesia jauh lebih lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan. Di Jakarta, misalnya, tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan adalah 9 sampai 11 persen per tahun tetapi pertumbuhan pembangunan jalan kurang dari 1 persen per tahun.

Pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan hanyalah memecahkan masalah kemacetan lalu lintas secara sementara. Setelah beberapa tahun, jalan baru akan diisi dengan lalu lintas yang akan terjadi jika jalan baru tersebut tidak dibangun. Hal serupa terjadi dengan pelebaran jalan ketika jalan yang telah diperlebar tersebut akan kembali macet hanya dalam beberapa bulan. Fenomena seperti itu disebut induced demand. Karena induced demand ini, membangun jalan baru atau pelebaran jalan adalah solusi kemacetan lalu lintas yang sifatnya sementara.

Ada beberapa solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan salah satunya adalah pengurangan menggunakan kendaraan pribadi. Sebuah artikel di New York Times (12 Mei 2009) menceritakan tentang sebuah kota tanpa mobil di Jerman. Jalan-jalan di kota ini sepenuhnya bebas mobil kecuali di jalan utama dan beberapa jalan di pinggir kota. Penduduk kota ini masih diperbolehkan memiliki mobil, tapi parkir menjadi masalah bagi mereka karena hanya tersedia dua garasi umum di pinggir kota tersebut.

Kota tersebut bernama Vauban yang berpenduduk 5.500 jiwa dan terletak di pinggiran kota Freiburg, dekat perbatasan Perancis dan Swiss. Penduduk kota tersebut sangat tergantung pada sarana trem ke pusat kota Freiburg dan banyak dari mereka hanya menyewa mobil ketika tidak tersedia sarana angkutan umum di tempat yang mereka tuju.

Tujuh puluh persen dari keluarga di Vauban tidak memiliki mobil. Mereka cukup berjalan dan bersepeda ke toko-toko, bank, restoran, sekolah dan tempat-tempat tujuan lainnya di kota Vauban. Bentuk kota ini memanjang dan menyediakan akses yang mudah untuk berjalan kaki dari setiap rumah menuju tram.

Menciptakan tempat hunian dengan desain kompak, akses yang mudah terhadap transportasi umum dan tingkat berkendaraan yang rendah adalah visi perencana kota di abad ke-21 ini. Kota Vauban merupakan contoh desain perkotaan di abad ke-21 sebagai jawaban terhadap ancaman emisi gas rumah kaca dan pemanasan global dan terbatasnya pasokan minyak.

Saya berpendapat bahwa desain kota Vauban adalah ekstensi dari konsep New Urbanism. Konsep New Urbanism adalah suat konsep desain perkotaan yang pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal tahun 1980. Konsep ini mempromosikan beberapa prinsip utama diantaranya walkability dan konektivitas, tata guna lahan yang beragam (mixed land uses), dan kepadatan tinggi. Terdapat cukup banyak kota dengan konsep New Urbanism yang tersebar di beberapa negara, tetapi jalanan kota-kota tersebut masih penuh dengan mobil.

Kota Vauban menunjukkan bukti adanya kemungkinan untuk menciptakan kota tanpa mobil. Penerapan desain kota yang walkable, tata guna lahan yang beragam, dan kemudahan akses ke transportasi umum yang handal seperti ditunjukkan di kota Vauban kota merupakan komponen untuk menciptakan kota tanpa mobil.

Mobil masih merupakan barang mewah bagi kebanyakan keluarga Indonesia. Banyak warga kota, terutama yang tinggal di kampung kota, tidak memiliki mobil dan terbiasa hidup tanpa mobil. Gang-gang di kampung kota terlalu sempit untuk mobil dan warga banyak berjalan kaki dan bersepeda ke tempat tujuan mereka. Merujuk kepada konsep New Urbanism, kampung kota di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip penting dalam konsep tersebut seperti walkability dan kepadatan tinggi.

Perencana kota di Indonesia harus menghargai keberadaan kampung kota dalam konteks rendahnya tingkat kebutuhan berkendaraan para penghuninya. Warga kampung kota cenderung memiliki kebutuhan berkendaraan yang rendah ketika mereka memiliki akses yang tinggi terhadap angkutan umum dan dan jalan-jalan di lingkungannya tetap sempit. Warga kampung kota harus tetap memiliki tingakt kebutuhan berkendaraan yang rendah untuk mengurangi tingkat kepemilikan mobil di perkotaan.

Bagi pembangunan kawasan perumahan baru di di kawasan pinggiran, perencana kota dapat meniru keberhasilan kota Vauban. Kebutuhan berkendaraan adalah dipengaruhi oleh desain kota dan akses ke transportasi umum. Melalui desain kota yang mendorong untuk banyak berjalan dan bersepeda dan akses yang tinggi terhadap transportasi umum yang handal adalah tidak mustahil untuk menciptakan sebuah kawasan kota tanpa mobil. Kota Vauban di Jerman dan kampung-kampung kota di Indonesia adalah contohnya.
______________________________

Traffic congestion is one of the chronic problems in most Indonesian cities and this problem is getting worse year by year. The growth of road developments in Indonesian cities is much slower than the growth rate of vehicle ownership. In Jakarta, for example, the growth rate of vehicle ownership is 9 to 11 percent per year but the growth of road developments is only less than 1 percent per year.

When a new highway was built or a road was widened, it will only solve the traffic congestion for a short period of time. After a few years, the new highway will fill with traffic that would not have existed if the highway had not been built. Similarly, the widened road fills with more traffic in a few months. Such phenomenon is called induced demand. Because of the induced demand, neither building new roads nor widening roads are the long-lasting solution to traffic congestion.

There are several possible solutions to eradicate traffic congestion problems and one of them is the reduction of private vehicle uses. I read an article in the New York Times (May 12, 2009) on a suburb town without cars in Germany with great interest. Streets in this upscale town are completely car-free except the main thoroughfare and a few streets on edge of the town. The residents of this town are still allowed to own cars, but parking is relegated to two large garages at the edge of the development.

The Vauban town, is located on the outskirt of Freiburg, near the French and Swiss borders and home to 5,500 residents. The residents are heavily dependent on the tram to downtown Freiburg and many of them take to car-sharing when longer excursions are needed. Seventy percent of Vauban’s families have no cars. They do a lot of walking and biking to shops, banks, restaurants, schools and other destinations that are interspersed among homes. The town is long and relatively narrow and provides an easy walking access to the tram for every home.

Creating places with more compact design, more accessible to public transportation and less driving is the envision of urban planners in the 21st century. The Vauban town is an exemplar of the 21st century urban design in response to the threats of greenhouse gas emission and global warming and the dwindling oil supply.

I could argue that the Vauban’s urban design is the extension of the New Urbanism. The New Urbanism is a school of urban design arose in the U.S. in the early 1980s. This school of urban design promotes several key principles including walkability and connectivity, mixed land uses, and high density. There have been many the New Urbanist towns in several countries, but cars still fill the streets of these towns.

The Vauban town provides an example of the possibility of creating city without cars. The walkable and mixed-land-uses urban design, easy access to public transportation and excellent public transportation system as demonstrated in the Vauban town are the components for creating city without cars.

Cars are still a luxury item for many Indonesian families. Many urban residents, particularly those live in kampung kota, do not own cars and are used to living without cars. Streets (gang) in Indonesia’s kampung kota are too narrow for cars and the residents are used to walking and biking to their destinations. Kampung kotas are located in the center of urban areas and relatively accessible to public transportations. In reference to the New Urbanism concept, the Indonesia’s kampung kota has implemented the principles of walkability and high density.

Indonesian planners need to appreciate the existence of kampung kota in terms of lacking driving needs. Kampung kota residents will be less likely to have a demand for cars when their neighborhoods are accessible to public transportations and the streets in their neighborhoods remain narrow. Kampung kota residents need to remain lack of driving needs for reducing the car ownership rate in urban areas.

For new developments in suburb areas, Indonesian planners can emulate the success of the Vauban town. Driving needs are profoundly affected by the urban design and the high access to public transportation. It makes sense to envision and is not all impossible to create a city without cars.

Tahun 2009 ini merupakan tahun yang sangat menentukan bagi para perumus
kebijakan publik untuk mengatasi krisis ekonomi global saat ini yang
berawal dari krisis keuangan di Amerika Serikat pada awal tahun 2008 lalu.
Kebijakan yang diambil pada awal tahun 2009 ini akan sangat mempengaruhi
masa depan ekonomi dunia. Di Amerika Serikat, masyarakat berharap besar
dengan proyek-proyek pekerjaan umum yang digagaskan oleh president
terpilih Barack Obama untuk mengatasi krisis ekonomi.

Barack Obama berjanji akan mencanangkan proyek pekerjaan umum terbesar
sejak proyek jalan interstate yang dibangun sejak lima puluh tahun silam.
Proyek pekerjaan umum tersebut diyakini menjadi awal bagi bangkitnya
perekonomian yang terpuruk akibat krisis ekonomi dengan menyediakan
lapangan pekerjaan baru.

Para gubernur se-AS dalam pertemuannya dengan Barack Obama pada awal
Desember 2008, menyampaikan proyek pekerjaan umum yang siap dijalankan
senilai USD 136 miliar meliputi proyek jalan, jembatan, pengairan dan
sejenisnya. Proyek-proyek tersebut akan menciptakan 40.000 lapangan
pekerjaan baru untuk setiap USD 1 miliar.


Pelajaran dari the Great Depression

Bila dibandingkan dengan the Great Depression pada awal tahun 1930-an,
krisis ekonomi di AS saat ini belumlah seberapa, minimal dilihat dari
sisi pengangguran. Pada tahun 1930-an pengangguran mencapai hampir
sepertiga tenaga kerja di AS. Angka pengangguran di AS pada akhir Desember
2008 tercatat 7,2%, yang merupakan rekor terendah dalam 16 tahun terakhir,
dan angka masih sangat mungkin untuk bertambah. Krisis ekonomi saat ini
membuat ekonom dan politisi berpikir keras utk menghindari edisi kedua
dari the Great Depression.

Dalam mengatasi the Great Depression, Presiden Franklin D. Roosevelt
menciptakan the New Deal yang salah satu programnya adalah menciptakan
lapangan pekerjaan baru melalui proyek-proyek pekerjaan umum di hampir
seluruh bagian AS. Salah satu proyek pekerjaan umum yang dicanangkan oleh
FDR adalah Tennessee Valley Authority (TVA) yang membangun dam di sungai
Tennessee dan belasan proyek hidroelektrik di kawasan Tennessee yang
merupakan salah satu kawasan termiskin di AS pada saat itu. Sejarah
menunjukkan bahwa the New Deal terbukti hasilnya untuk mengatasi the Great
Depression. Begitu pula dengan TVA yang mampu menciptakan sumber listrik,
menciptakan hampir 30.000 lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan
kesejahteraan penduduk di kawasan Tennessee.

Prinsip penting dalam program-program yang dikembangkan oleh pemerintahan
FDR dalam mengatasi the Great Depression adalah intervensi pemerintah pada
ekonomi pasar bebas. Prinsip ini merupakan implementasi dari nasihat John
Maynard Keynes yang interventionist government policy. Keynesian economics
inilah pula yang diaplikasikan oleh pemerintahan Obama untuk mengatasi
krisis ekonomi saat ini.

Pekerjaan Umum yang Ramah Lingkungan
Obama seperti halnya FDR yg berasal dari partai Democrat yang platformnya
adalah liberal dalam konteks intervensi pemerintah dalam ekonomi pasar
bebas juga mendapatkan kritik dari pihak konservatif yang menyakini bahwa
intervensi pemerintah yang besar dalam ekonomi pasar bebas akan
memperbesar defisit anggaran pemerintah dan dalam jangka panjang akan
mengurangi tenaga kerja di luar sektor pekerjaan umum.

Seperti apa yang dijanjikan pada saat kampanye, Obama akan menciptakan
proyek-proyek pekerjaan umum yang ramah lingkungan (green jobs) yang
diyakini akan mengurangi anggaran pemerintah melalui penghematan energi
dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Proyek ramah lingkungan
ini diharapkan pula berkontribusi untuk mengurangi emisi pemanasan global.

Proyek-proyek pekerjaan umum yang akan dicanangkan oleh pemerintahan Obama
meliputi proyek konvensional seperti perbaikan jalan, jembatan, drainase
dan sejenis, serta proyek yang ramah lingkungan seperti proyek pembuatan
energi alternatif, panel sinar matahari, kincir angin, yang efisien
energi, dan pemasangan sistem pemanasan dan pendingin yang energi efisien
pada gedung-gedung pemerintah. Proyek ramah lingkungan yang dicanangkan
oleh pemerintahan Obama juga mencakup investasi di transportasi massal dan
inovasi untuk memproduksi kendaraan hibrid atau teknologi baterai.

Pelajaran buat Indonesia
Selanjutnya apa yg bisa dipelajari oleh Indonesia yang juga menerima
imbasnya dari krisis ekonomi global ini? Belajar dari keberhasilan the New
Deal dan penerapan Keynesian economics maka intervensi pemerintah
sangatlah penting dalam mengatasi dampak krisis ekonomi global ini.

Dana pembangunan yang telah dianggarkan dalam APBN agar benar-benar dapat
diserap untuk pembangunan sektor riil, khususnya di daerah-daerah yang
mengalami tingkat pengangguran yang tinggi. Proyek pekerjaan umum sejenis
TVA seperti pembangunan dam dan irigasi untuk mengekstensifkan lahan
pertanian di luar Jawa adalah sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat
ini. Proyek ekstensifikasi lahan pertanian juga dapat diarahkan untuk
mengurangi beban pulau Jawa sebagai pemasok pangan nasional dan
mengentaskan kemiskinan di luar Jawa.

Kalau mau mencontoh proyek ramah lingkungan yang digagaskan oleh Obama,
Indonesia pun bisa mengembangkan sistem transportasi massal dan proyek
inovasi energi alternatif. Sementara itu, proyek pekerjaan umum
konvensional seperti jalan dan jembatan lebih diarahkan pada perbaikan
prasarana jalan yang rusak daripada membangun jaringan jalan yang baru.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk
memajukan jam masuk sekolah dari pukul 7:00 menjadi 06:30 memicu
kontroversi di masyarakat umum yang menganggap bahwa kebijakan tersebut
mengorbankan pelajar untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di ibukota.
Kebijakan tersebut dianggap tidak akan mengatasi masalah kemacetan lalu
lintas dan alasan bahwa 14 persen kemacetan disebabkan oleh pelajar
dianggap mengada-ada (Kompas 25 November 2008).

Pendapat lain menganggap bahwa kebijakan memajukan jam sekolah hanyalah
semakin membuktikan ketidakmampuan pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi
kemacetan. Para pelajar akan dipaksa untuk bangun lebih pagi dan mereka
akan mengantuk dalam kelas. Kebijakan itu dianggap akan membuat banyak
pelajar yang datang terlambat dan ruangan kelas menjadi kosong.

Kebijakan untuk memajukan jam masuk sekolah tersebut adalah suatu
kebijakan yang inovatif dan kreatif untuk mengatasi kemacetan di ibukota
mengingat keterbatasan yang banyak dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Reaksi keras dari masyarakat adalah hal wajar yang perlu
diantisipasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari suatu kebijakan
yang kontroversial. Pemerintah DKI mesti menjalankan kebijakan ini dengan
konsisten sambil berupaya terus untuk mengurangi kemacetan di ibukota
melalui kebijakan-kebijakan lainnya. Baca Terus!

Tas hitam dari kulit buaya
“Selamat pagi!”, berkata bapak Oemar Bakri
“Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!”
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S’lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
“Berkelahi Pak!”, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet… Standing dan terbang

Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Masih ingatkah kita dengan lirik dari lagu di atas? lagu milik Iwan Fals yang menceritakan perjuangan seorang guru dalam mendidik rakyat tetapi tidak mendapat harga dari Pemerintah.

Refleksi lagu di atas sungguh dramatis memang, tetapi jika kita melihat kondisi saat ini yang bukan hanya Pemerintah tetapi kitapun telah melupakan peran dan jasa para Guru kita akan menyadari bahwa saat ini bukan hanya satu Guru Oemar Bakrie tetapi berjuta-juta Guru Oemar Bakrie telah lahir di Indonesia. Tahukah anda bahwa kita mempunyai Hari Guru Nasional setiap tanggal 25 November?

Guru memang sudah dilupakan, bukan terlupakan. Kata terlupakan bisa berarti terjadi tanpa kesengajaan, tetapi dilupakan artinya dilakukan dengan sengaja. Kita semua memang sengaja melupakan peran dan jasa guru. Ketika kita bisa membeli mobil dan bertemu guru dengan Vespa tuanya, adakah hati ingin berhenti untuk menanyakan kabar? Dan tak jarang ketika anak kita membagi cita-citanya untuk menjadi seorang Guru, dengan refleks kita akan menghardiknya. Ngapain jadi guru, gaji kecil, mau makan aja susah? Terlalu banyak kesengajaan yang dilakukan untuk melupakan peran dan jasa Guru.

Tak jarang dalam kehidupan sehari-harinya banyak Guru yang menggabungkan profesi mereka dengan profesi lainnya, seperti tukang ojek, buka warung, mengajar les,dan lainnya. Tetapi hal ini kadang direspon negatif oleh banyak kalangan. Mereka memang munafik tidak bisa memberi gaji besar tetapi mengecam ketika guru ingin memperoleh penghasilan tambahan. Keadaan yang akan membuat banyak Guru yang terlibat hutang, lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawanya? Ironi memang menjadi seorang Guru.

Bahkan ada cerita klasik yang beredar di masyarakat, sekumpulan Guru menyampaikan aspirasinya kepada perwakilan rakyat mengenai kecilnya pendapatan yang diterima. Sang wakilpun berucap, makanya Guru turun dong ke jalan gugat pemerintah. Sang wakil telah berusaha menghancurkan kemuliaan Guru, kemuliaan yang dibangun dengan keringat dan waktu. Mungkin Guru yang ada di pikiran dia hanya sekumpulan manusia yang berbelas kasih meminta perbaikan hidup dari pemerintah.

Sudah saatnya kita bangkit dan bergerak untuk menghargai para Guru yang telah lahir di Indonesia. Kita perjuangkan mereka sebagai balas budi kita. Dan semoga tidak akan ada Oemar-Oemar Bakrie berikutnya, melainkan akan lahir Abu Rizal-Abu Rizal Bakrie di Indonesia yang dicetak oleh para Guru kita di Indonesia.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap pengabdian para Guru di Jakarta, Jakarta Butuh Revolusi Budaya dan Riayatul Ummat Foundation akan memberikan bingkisan kepada ratusan Guru teladan di Jakarta. Bagi teman-teman yang mau berpartisipasi bisa menghubungi: Nadya di 087880168007

Kita baru saja melewati peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-80. Bagi sebagian besar orang, peringatan ini tidak beda jauh dari peringatan nasional lainnya; di mana hanya ada satu hal yang luar biasa bagi mereka, yaitu: libur!

Tapi bagi sebagian kecil masyarakat, perayaan sumpah pemuda memiliki makna yang sangat dalam. Bagi mereka sumpah pemuda merupakan sebuah peristiwa sejarah yang benar-benar luar biasa karena memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Menurut saya, satu hal luar biasa tentang penyelenggaraan sumpah pemuda pada tahun 1928 adalah kecerdikan para pemuda Indonesia untuk mengusung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Seperti yang kita tahu, bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan pastinya berbagai macam bahasa daerah. Dengan kondisi seperti ini, pemberontakan atau perselisihan sangat mungkin terjadi. Peran sebuah bahasa pemersatu menjadi sangat krusial.

Dan di tahun-tahun awal masa kemerdekaan, saya yakin bahasa Indonesia memang menjadi alat utama dalam mempersatukan bangsa ini. Coba bayangkan apabila bangsa ini tidak pernah memiliki sebuah konsensus nasional mengenai penggunaan suatu bahasa sebagai bahasa nasional.

Presiden Sukarno dan Presiden Suharto patut berterima kasih kepada para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang memiliki inisiatif untuk mengadakan sumpah pemuda di tahun 1928.

Masih banyak hal luar biasa dalam penyelenggaran sumpah pemuda, namun yang pasti disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang benar-benar luar biasa!

Pertanyaannya sekarang, “Apakah pemuda Indonesia jaman sekarang dapat melakukan hal-hal luar biasa seperti sumpah pemuda?”

This article was published by The Jakarta Post on October 27, 2008. Read the article on The Jakarta Post, here.

Don’t forget to join the “What do you think of dangdut?” poll below.

It may sound funny but I do have a theory that one of the reasons why our young people are losing their national identity is because they hate dangdut.

It’s so obvious, no young and educated Indonesians like dangdut. And I’m not just pointing my finger at my fellow young Indonesians, I have to admit I don’t like it too.

We young Indonesians don’t like it so much that we have been making it as one of the best laughable topics for so many years.

We feel sorry for people who actually dance to the rhythm of dangdut; we feel sorry for people who like Rhoma Irama. We laugh at them so happily knowing that their music is so kampungan and our music is so much cooler.

We can sing any famous American singer’s song perfectly and we know the lyrics by heart.

Modern music concerts are common in this country, and it seems to me that every single one of them can easily attract a large number of young and educated Indonesians.

The Java Jazz Festival, for example, has always been packed with young and educated Indonesians for 4 years although when the festival was first introduced many people thought the ticket prices were unreasonable; but young Indonesians came anyway.

The same organizer just conducted an R&B festival called Soulnation which was successful in drawing a lot of young Indonesians; they paid tickets worth at least Rp 200,000 and didn’t complain. They came in dressing up themselves with the latest R&B outfits copying their idols like Akon and Ashanti.

What’s wrong with not liking dangdut one may ask. Well, it’s not wrong as one of my best friends pointed it out to me that you can’t blame someone for liking one type of music as you can’t blame someone for liking nasi goreng.

But what we don’t realize is that dangdut is our national treasure; It’s part of our national heritage. What we don’t realize is that dangdut is the music of our country; just like Project Pop said through their song “Dangdut is the music of my country” a few years ago.

What we don’t realize is that when we laugh at dangdut thinking that it’s a stupid music, it’s like laughing at keroncong or any other Indonesia’s traditional music genre.

Sometimes I wonder why we can’t fall in love with dangdut while young African Americans can be so proud of their R&B and rap music.

One of the reasons may lie on the fact that we are too arrogant to like the same kind of music that low-income Indonesians like; that we don’t want to put ourselves on the same level with mas-mas and mba-mba.

If that is the kind of mentality that we all share, then I think we should feel sorry for ourselves for thinking that dangdut is so kampungan and that those people who like it just don’t have taste in music. We should feel sorry for ourselves for not realizing how music, like language, could be a very effective medium to unite us all.

Imagine if all young Indonesians, whether poor or rich, could at least agree that dangdut is something we all could enjoy together. We would be more united.

Apparently it’s the responsibility for anyone working in the dangdut industry to find a way to make the music more attractive to young and educated Indonesians, such as my friends and myself.

At the end, I’m not encouraging you to like dangdut. Music is about one’s personal preference, after all. But what I’d like to encourage us all is that instead of mocking those who like dangdut, we all should respect them for being able to express their “Indonesianity” a little bit more than we can.

Picture above taken from here.

A hesistant “interesting” sums up about seventy percent of the responses I get when I tell Indonesians that my majors are History and Political Science. For them, “interesting” is not always postive and thus, not always…interesting. Seeing that the pursuit of History as either a field of study or a career is rare in Indonesia, that reaction is not surprising. The following article aims to explain this lack of interest. At the same time, it acknowledges that undertaking this field in Indonesia is far from easy. This hinders further studies on the subject, and yet its importance cannot be emphasized enough. So we come to a conundrum.

Through years of questioning and observation, I can attribute this diminishing interest to at least two factors: teaching methods that foster unfavorable attitudes towards the subject, and the limited and dim career opportunities. There may very well be others, but these are ones I can pinpoint from my own experience.

To those who do not have a natural interest in a subject, the manner in which a class is taught is significant in determining a student’s outlook towards it. It is only understandable that the amount of facts that has to be memorized can cause one to dread class. Combine force-fed information with monotonous lectures that scream boredom? Tiresome.

For Indonesian students, history class and history may be considered tedious and dull purely because of these teaching methods. In contrast, a history class in the USA may use visual aids (movies, pictures, powerpoint slides) and even incorporate field trips to draw students in. Essays, debates, and discussions encourage students to structure their thoughts and challenge existing ideas. This is not to say that all history classes in the States take on this dynamic approach, it just happens more often. As a result, information is more easily absorbed and remembered. History class may even be fun. Clearly, it would be nice if the objectives of the history class go beyond memorizing dates, names and information. Teachers should aim for bigger goals such as cultivating students interest in the world or pride in their own country.

Regarding limited and dim career opportunities, being a historian or a professor seems to be the most obvious career choices. I have lost count the number of times people have assumed me to be either of those in the future. Let us be frank, they are less than desireable jobs in Indonesia. Not only are the related number of jobs minute, the salaries are not sustaining. Not all of us are fortunate enough to pursue a degree that may lead to dismal careers – even if we are passionate about it.

There are two silver linings to this. Firstly, there is the increasingly common reality that one’s graduate degree – not the undergraduate degree – will determine your career. This gives students the opportunity to pursue their interest first, then decide on a Masters degree related to their future career. Even I am constantly reminded of this fact by graduate students, professors and young professionals.

Secondly, even with a History major, one can find jobs in other fields. Business, finance, and government are such fields that employ those with a History degree. This is again supported by the idea that one’s undergraduate degree does not necessarily determine one’s career. Knowing this, readers may question, why waste time pursuing two different degrees when it is possible to specialize in one? Thus the other reason why I choose to pursue the social studies.

Interest is not the only reason why I take History. There are pros to the degree that are often forgotten. With History, students are forced to develop essential and yet basic skills that other majors may not: the ability to read, the ability to write, and the ability to analyze. In order to do well, it is compulsory for students to be able to scour and digest information from numerous sources, and present them in an orderly form of thought. For a country like the US in which experts of these areas are highly sought after, a History major is a good bet for covering the basics. Once they are taken care of, the handling of new information and becomes much easier. Therefore, employers do not avoid recruiting graduates from the social studies, even if the job may differ from the field of study.

It appears that the problem in Indonesia can be traced to the education system as well as ourselves. Current teaching methods fail to draw the students in, and it has become widespread for youths to consider history as a boring subject. History is crucial not only because it explains how events have changed through time or because it tells of the development of the world. It allows people to learn from the past and possibly even predict future circumstances.

Furthermore, students benefit from it by perfecting their reading, writing and analysis. However, with the difficulty of finding careers, how can one expect the interest and pursuance to rise? To put it simply, it would be difficult without personal motivation and systematic change. Fostering interest should be the first step – then we can move on from there.


Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos