Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Archive for the ‘Pemikiran’ Category

Did you know that last June 22 was the birthday of our beloved city Jakarta? Some of you were probably aware of that fact, but I’m sure most of us didn’t care at all; that is exactly what happened in my office, everything went just like any other day. No one mentioned the fact that Jakarta was having its 482nd birthday.

Compared to our country Indonesia, Jakarta turns out to be so much older. But it is too bad that despite the fact that our capital is so old, the condition doesn’t show the kind of maturity that a city as old as Jakarta should have. Perhaps that is why we Jakartans don’t really care whether or not it’s a birthday. Because it’s always the same kind of Jakarta we all have: bad traffic, bad public transportation, pollution, flood, and poverty.

With all those problems, we don’t feel like celebrating it. I even forgot that last Monday was Jakarta’s birthday until I heard, accidentally, the news on the radio reporting that our local government had been conducting cultural events in several areas.

Our ignorance of this special occasion definitely reflects our attitude towards this city of ours. Admit it, most of us don’t like it here. Admit it, most of us always curse at this city every single day and always think that if not for the money we would have left this city so long time ago.

Am I being too much on this? I don’t think so. I was driving my car a few days ago from my office to a friend’s house in Blok M when suddenly a metromini cut me off. This bus came from nowhere and stubbornly stopped right in front of me. I was going to curse but decided not to when I saw the people’s faces on the bus. I felt sorry for them.

They all looked sad. None of them were crying, but I could tell they were all unhappy. Their bodies were squeezed against each other and they were all sweating. Suddenly I felt guilty for being inside my comfortable car. I felt guilty for having my air conditioner and radio on. I looked at those people and I realized that not all people in this great city of ours can enjoy Jakarta’s luxurious malls and nightclubs.

The funny part was the fact that the condition of the bus was no better than the people’s condition inside. Just like any other Jakarta’s public transportation system, this bus in front of me looked like the ugliest bus in the whole world. At that very moment, I was so ashamed of being an Indonesian. I couldn’t imagine what I would have said if there had been a foreigner sitting next to me; trying to mess his or her concentration from this very embarrassing sight, I would probably have said, “By the way, have you tried our busway?”

It seems to me that Jakarta is run to please the rich. Look at our big malls. Our malls are so luxurious that even my American friend, Bill, admitted that our malls are better than the ones in the United States. While walking inside a famous mall in Central Jakarta, he pointed at those branded items being displayed at various outles, and said, “Isn’t it amazing, there are actually many people in this city who buy all those unreasonably-priced products?”

But it is interesting to know that even the rich are not actually happy living in Jakarta. If you don’t trust me, ask them to describe Jakarta in one word. I bet most of them will say macet. In other cities, people probably have positive words like: beautiful, traditional, or peaceful. And that is why they always go somewhere far every time they have a chance. We shouldn’t be surprised to know that Jakarta’s rich people are among the main tourist sources for cities like Singapore, Kuala Lumpur, and Bangkok; and not the other way around.

So, what now? Did 482nd birthday mean anything? It still did and should mean something.

I think it is time for all of us to look at Jakarta differently. It is time for us to treat Jakarta wisely and start doing small but real actions to this city. I remember I didn’t really like Jakarta in the past. But living in the United States for 2 years made me realize that Jakarta was not as bad as I had thought before. It was the first time when I realized that Jakarta had so many great things I couldn’t find in America. And one thing for sure, I missed those things so badly.

So when I came back, I decided I would treat Jakarta differently. I made a vow that I would start doing the things that I never had done before. It was not easy, but I managed to survive. First, for the very first time in my life I went to Monas. Then, I went to other cultural and historic attractions. I began to find out that Jakarta is more than just about malls and cafes. Second, I started trying all kinds of food that this city offers. I found out food in Jakarta is not mainly about nasi uduk or soto betawi. You will be surprised to know that the choices are unlimited. Third, I now use the traffic as a perfect therapy on patience.

At the end, we can always have thousands of excuses not to like Jakarta and all its elements. But, we all should know that there is a second choice to like this city, although it might only be just a little bit more; and to do it, it will need some efforts.

Bencana jebolnya tanggul Situ Gintung, Cireundeu, Tangerang Selatan pada tanggal 27 Maret lalu tentunya sangat memprihatinkan. Korban jiwa tercatat berjumlah 99 orang (Kompas 1 April 2009) dan angka ini masih mungkin bertambah mengingat masih terdapat 100 korban dilaporkan hilang. Bencana ini mencakup kawasan yang tidak terlalu luas (112.5 ha) tetapi karena besarnya korban jiwa ini, pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian yang besar terhadap bencana ini.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisa penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menemukan adanya erosi buluh pada bagian tanggul yang jebol (Kompas 1 April 2009). Adanya erosi buluh ini menyebabkan terjadinya rembesan air ke dalam kapiler retakan yang selanjutnya membuat badan tanggul longsor. Erosi buluh ini telah terdeteksi pada pengamatan yang dilakukan pada bulan Desember 2008.

Curah hujan yang tinggi di kawasan sekitar Situ Gintung ditengarai sebagai penyebab terjadinya bencana jebolnya tanggul Situ Gintung. Hujan hanyalah pemicu dan bukanlah penyebab terjadinya bencana tersebut. Curah hujan Curah hujan tinggi tercatat sering terjadi sebelumnya di kawasan Situ Gintung, seperti terjadi pada tahun 2007 yang menyebabkan banjir besar di Jakarta, tetapi tidak menjebolkan tanggul Situ Gintung.

Sebagai seorang pengamat tata ruang di Indonesia, saya berpendapat bahwa bencana Situ Gintung adalah akibat lemahnya penegakan rencana tata ruang. Indonesia telah memiliki Undang-undang Penataan Ruang sejak tahun 1992 melalui UU 24/1992 yang membagi fungsi utama kawasan menjadi dua yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung termasuk diantaranya kawasan sekitar mata air dan kawasan sekitar waduk/danau, seperti halnya kawasan Situ Gintung. UU 24/1992 menegaskan bahwa kawasan lindung adalah kawasan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan lindung adalah sangat terbatas seperti upaya konservasi, rehabilitasi, penelitian dan objek wisata lingkungan.

Bilamana kita mengacu kepada ketentuan yang terdapat dalam UU 24/1992 ataupun Undang-undang Penataan Ruang yang baru (UU 26/2007), kawasan Situ Gintung semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung. Pemfungsian kawasan Situ Gintung sebagai kawasan lindung ini berarti kegiatan yang diperkenankan dilakukan di kawasan ini hanyalah untuk melindungi kelestarian Situ Gintung. Kawasan permukiman tentunya tidak termasuk ke dalam kawasan lindung dan tidak diperkenankan terdapat di kawasan Situ Gintung.

Bencana yang terjadi di kawasan Situ Gintung adalah akibat dari kegiatan yang terjadi di kawasan tersebut yang tidak melindungi kelestarian lingkungan hidup Situ Gintung. Lebih dari 40 persen dari kawasan tangkapan air dari Situ Gintung yang luasnya 112,5 hektar adalah kawasan terbangun (Kompas 1 April 2009). Persentasi kawasan terbangun sebesar ini di kawasan yang semestinya diarahkan sebagai kawasan lindung tentunya menjadi bukti lemahnya penegakan undang-undang penataan ruang di Indonesia. Besar kemungkinan bilamana bencana ini tidak terjadi, persentasi kawasan terbangun di kawasan Situ Gintung akan bertambah seiring dengan tekanan pertambahan penduduk.

UU 26/2007 yang merevisi UU 24/1992 dengan menambahkan klausul pengenaan sanksi bagi pelanggar tata ruang juga belum diimplementasikan secara tegas. Berikut pula dengan pengenaan disinsentif dan insentif dalam pelaksanan pemanfaatan ruang belum ditegakkan sebagaimana mestinya. Pelanggaran tata ruang di kawasan Situ Gintung adalah hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak pelanggaran tata ruang di Indonesia. Penegakan UU Penataan Ruang tidaklah mudah tanpa adanya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya tata ruang.

Masyarakat Indonesia masih memerlukan waktu dan upaya yang lebih intensif untuk “belajar” pentingnya tata ruang untuk pembangunan yang berkelanjutan. Musibah Situ Gintung ini dapat pula dimaknai sebagai pembelajaran bagi masyarakat tentang konsekuensi dari pelanggaran tata ruang. Indonesia perlu belajar dari kesalahan yang terjadi di kawasan Situ Gintung untuk menghindari terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Masyarakat Indonesia mesti memahami pentingnya rencana tata ruang bagi kebaikan dan keselamatan mereka. Pemahaman ini adalah sangat esensial bagi pemerintah untuk menegakkan wibawa UU Penataan Ruang 26/2007 demi terwujudnya ruang Indonesia yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

Tahun 2009 ini merupakan tahun yang sangat menentukan bagi para perumus
kebijakan publik untuk mengatasi krisis ekonomi global saat ini yang
berawal dari krisis keuangan di Amerika Serikat pada awal tahun 2008 lalu.
Kebijakan yang diambil pada awal tahun 2009 ini akan sangat mempengaruhi
masa depan ekonomi dunia. Di Amerika Serikat, masyarakat berharap besar
dengan proyek-proyek pekerjaan umum yang digagaskan oleh president
terpilih Barack Obama untuk mengatasi krisis ekonomi.

Barack Obama berjanji akan mencanangkan proyek pekerjaan umum terbesar
sejak proyek jalan interstate yang dibangun sejak lima puluh tahun silam.
Proyek pekerjaan umum tersebut diyakini menjadi awal bagi bangkitnya
perekonomian yang terpuruk akibat krisis ekonomi dengan menyediakan
lapangan pekerjaan baru.

Para gubernur se-AS dalam pertemuannya dengan Barack Obama pada awal
Desember 2008, menyampaikan proyek pekerjaan umum yang siap dijalankan
senilai USD 136 miliar meliputi proyek jalan, jembatan, pengairan dan
sejenisnya. Proyek-proyek tersebut akan menciptakan 40.000 lapangan
pekerjaan baru untuk setiap USD 1 miliar.


Pelajaran dari the Great Depression

Bila dibandingkan dengan the Great Depression pada awal tahun 1930-an,
krisis ekonomi di AS saat ini belumlah seberapa, minimal dilihat dari
sisi pengangguran. Pada tahun 1930-an pengangguran mencapai hampir
sepertiga tenaga kerja di AS. Angka pengangguran di AS pada akhir Desember
2008 tercatat 7,2%, yang merupakan rekor terendah dalam 16 tahun terakhir,
dan angka masih sangat mungkin untuk bertambah. Krisis ekonomi saat ini
membuat ekonom dan politisi berpikir keras utk menghindari edisi kedua
dari the Great Depression.

Dalam mengatasi the Great Depression, Presiden Franklin D. Roosevelt
menciptakan the New Deal yang salah satu programnya adalah menciptakan
lapangan pekerjaan baru melalui proyek-proyek pekerjaan umum di hampir
seluruh bagian AS. Salah satu proyek pekerjaan umum yang dicanangkan oleh
FDR adalah Tennessee Valley Authority (TVA) yang membangun dam di sungai
Tennessee dan belasan proyek hidroelektrik di kawasan Tennessee yang
merupakan salah satu kawasan termiskin di AS pada saat itu. Sejarah
menunjukkan bahwa the New Deal terbukti hasilnya untuk mengatasi the Great
Depression. Begitu pula dengan TVA yang mampu menciptakan sumber listrik,
menciptakan hampir 30.000 lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan
kesejahteraan penduduk di kawasan Tennessee.

Prinsip penting dalam program-program yang dikembangkan oleh pemerintahan
FDR dalam mengatasi the Great Depression adalah intervensi pemerintah pada
ekonomi pasar bebas. Prinsip ini merupakan implementasi dari nasihat John
Maynard Keynes yang interventionist government policy. Keynesian economics
inilah pula yang diaplikasikan oleh pemerintahan Obama untuk mengatasi
krisis ekonomi saat ini.

Pekerjaan Umum yang Ramah Lingkungan
Obama seperti halnya FDR yg berasal dari partai Democrat yang platformnya
adalah liberal dalam konteks intervensi pemerintah dalam ekonomi pasar
bebas juga mendapatkan kritik dari pihak konservatif yang menyakini bahwa
intervensi pemerintah yang besar dalam ekonomi pasar bebas akan
memperbesar defisit anggaran pemerintah dan dalam jangka panjang akan
mengurangi tenaga kerja di luar sektor pekerjaan umum.

Seperti apa yang dijanjikan pada saat kampanye, Obama akan menciptakan
proyek-proyek pekerjaan umum yang ramah lingkungan (green jobs) yang
diyakini akan mengurangi anggaran pemerintah melalui penghematan energi
dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Proyek ramah lingkungan
ini diharapkan pula berkontribusi untuk mengurangi emisi pemanasan global.

Proyek-proyek pekerjaan umum yang akan dicanangkan oleh pemerintahan Obama
meliputi proyek konvensional seperti perbaikan jalan, jembatan, drainase
dan sejenis, serta proyek yang ramah lingkungan seperti proyek pembuatan
energi alternatif, panel sinar matahari, kincir angin, yang efisien
energi, dan pemasangan sistem pemanasan dan pendingin yang energi efisien
pada gedung-gedung pemerintah. Proyek ramah lingkungan yang dicanangkan
oleh pemerintahan Obama juga mencakup investasi di transportasi massal dan
inovasi untuk memproduksi kendaraan hibrid atau teknologi baterai.

Pelajaran buat Indonesia
Selanjutnya apa yg bisa dipelajari oleh Indonesia yang juga menerima
imbasnya dari krisis ekonomi global ini? Belajar dari keberhasilan the New
Deal dan penerapan Keynesian economics maka intervensi pemerintah
sangatlah penting dalam mengatasi dampak krisis ekonomi global ini.

Dana pembangunan yang telah dianggarkan dalam APBN agar benar-benar dapat
diserap untuk pembangunan sektor riil, khususnya di daerah-daerah yang
mengalami tingkat pengangguran yang tinggi. Proyek pekerjaan umum sejenis
TVA seperti pembangunan dam dan irigasi untuk mengekstensifkan lahan
pertanian di luar Jawa adalah sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat
ini. Proyek ekstensifikasi lahan pertanian juga dapat diarahkan untuk
mengurangi beban pulau Jawa sebagai pemasok pangan nasional dan
mengentaskan kemiskinan di luar Jawa.

Kalau mau mencontoh proyek ramah lingkungan yang digagaskan oleh Obama,
Indonesia pun bisa mengembangkan sistem transportasi massal dan proyek
inovasi energi alternatif. Sementara itu, proyek pekerjaan umum
konvensional seperti jalan dan jembatan lebih diarahkan pada perbaikan
prasarana jalan yang rusak daripada membangun jaringan jalan yang baru.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk
memajukan jam masuk sekolah dari pukul 7:00 menjadi 06:30 memicu
kontroversi di masyarakat umum yang menganggap bahwa kebijakan tersebut
mengorbankan pelajar untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di ibukota.
Kebijakan tersebut dianggap tidak akan mengatasi masalah kemacetan lalu
lintas dan alasan bahwa 14 persen kemacetan disebabkan oleh pelajar
dianggap mengada-ada (Kompas 25 November 2008).

Pendapat lain menganggap bahwa kebijakan memajukan jam sekolah hanyalah
semakin membuktikan ketidakmampuan pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi
kemacetan. Para pelajar akan dipaksa untuk bangun lebih pagi dan mereka
akan mengantuk dalam kelas. Kebijakan itu dianggap akan membuat banyak
pelajar yang datang terlambat dan ruangan kelas menjadi kosong.

Kebijakan untuk memajukan jam masuk sekolah tersebut adalah suatu
kebijakan yang inovatif dan kreatif untuk mengatasi kemacetan di ibukota
mengingat keterbatasan yang banyak dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Reaksi keras dari masyarakat adalah hal wajar yang perlu
diantisipasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari suatu kebijakan
yang kontroversial. Pemerintah DKI mesti menjalankan kebijakan ini dengan
konsisten sambil berupaya terus untuk mengurangi kemacetan di ibukota
melalui kebijakan-kebijakan lainnya. Baca Terus!

Pernah tidak teman-teman membayangkan bahwa mencari pemimpin di negara ini mahal sekali harganya? awalnya sih tidak pernah terpikir, sampai kemarin berbincang dengan seorang rekan yang mengatakan bahwa satu putaran pilkada Jawa Timur menghabiskan dana kurang lebih 40 M untuk tiap putarannya. Wah kaget juga sih yah, terus ngebayang-bayang jika negara ini mempunyai 349 Kabupaten, 91 Kota, dan 33 Provinsi yang tiap pemilihan kepala daerahnya menghabiskan dana paling tidak 5M dari anggaran daerah, maka pemilu kita itu harganya yah kurang lebih MINIMAL 2,365 M. Jumlah diatas belum termasuk jumlah uang yang beredar selama masa kampanye loh.

Setelah uang-uang tersebut digelontorkan dari anggaran dalam masa pemilihan, biasanya masih banyak uang-uang tambahan yang harus dikeluarkan dari anggaran daerah pasca pemilihan. Misalnya biaya pengamanan kerusuhan, Hehehe biaya ini bisa dihitung sebagai biaya wajib. Karena biasanya calon yang kalah, demo besar-besaran membawa massanya untuk memprotes KPUD. Jika sudah kejadian yang seperti ini terjadi maka dipastikan akan semakin banyak biaya tambahan yang diperuntukan bagi calo demo dan anak buahnya.

Setelah biaya-biaya tersebut, daerah masih harus membayar gaji pemimpin terpilih yang relatif tinggi, ditambah rumah dinas, mobil  “mewah” dinas, staff ahli dll. Dan terkadang kongkow dengan para kolega dan sahabat karib di cafe juga menjadi biaya yang ditanggung dalam anggaran daerah. Tidak berhenti sampai disitu, daerah masih juga harus menanggung biaya studi banding, biaya seminar, biaya dinas dan biaya lain-lain sebagai biaya tambahan diluar batas normal.

Mahalnya biaya mencari pemimpin ini membuat banyak daerah tidak bisa mengalokasikan anggarannya dengan benar. Biaya-biaya yang seharusnya bisa digunakan untuk pembinaan dan pengembangan masyarakat, biaya alokasi pinjaman modal usaha dan biaya lainnya yang bisa mendatangkan manfaat malah digunakan tidak karuan. Akibatnya, semakin banyak masyarakat desa yang pergi ke kota besar dengan tujuan mencari penghidupan karena tidak tersedianya lapangan kerja di desa.

Sesampainya di kota, biasanya orang-orang ini mulai melakukan apa saja yang penting bisa hidup. Tetapi dengan kehidupan kota yang katanya kejam, tidak jarang akhirnya mereka memilih jalan instan untuk bisa bertahan hidup; seperti mengamen, mengemis, maling dll. Perkara semacam ini jelas merugikan orang lain dan harus bisa dicari jalan keluar yang baik untuk kita semua. Pertanyaannya adalah hati pemimpin yang bagaimana yang tega melakukan KORUPSI?

Inilah kisah hidup di negara ini, mencari pemimpin memang mahal harganya. Bukan hanya anggaran yang terbuang percuma, tetapi banyak kepentingan yang dipertaruhkan. Cukuplah kesalahan kita memilih pemimpin yang salah, dan sekarang saatnya berpikir untuk masa depan. Pilihlah pemimpin yang benar untuk masa depan yang ingin anda ciptakan.

tawuran

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan jalan tol trans-Jawa dari Cikampek, Jawa Barat sampai Surabaya, Jawa Timur dianggap sebagai kunci bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa khususnya sektor industri. Para perencana dan pengambil keputusan menganggap bahwa dengan kondisi prasarana transportasi saat ini, khususnya jalan raya, tidak mendukung perkembangan sektor industri untuk bersaing global. Kondisi jalan raya saat ini dianggap penghambat daya saing sektor industri di pulau Jawa. Apakah pembangunan jalan tol Trans-Jawa merupakan solusi terbaik bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa?

Tulisan ini mencoba secara ringkas mengkaji kelayakan pembangunan jalan tol Trans-Jawa dalam konteks pembangunan berkelanjutan di pulau Jawa. Kompas edisi 17 November 2008 memaparkan secara jelas bahwa jalan tol Trans-Jawa akan mengkonversi 655.400 hektar lahan pertanian. Hal ini tentunya akan mengancam ketahanan pangan nasional mengingat peranan pulau Jawa yang memasok 53 persen kebutuhan pangan nasional. Konversi lahan pertanian sebanyak itu akan terus bertambah seiring dengan pembangunan sektor perkotaan sepanjang jalan tol tersebut, khususnya di pintu-pintu keluar jalan tol. Konversi guna lahan juga akan berpengaruh terhadap perubahan struktur mata pencarian penduduk. Dipastikan tenaga kerja sektor pertanian di pulau Jawa akan banyak beralih ke sektor perkotaan. Lambat laun sektor pertanian di pulau Jawa menjadi sektor marjinal dan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

Di Amerika Serikat, pembangunan jalan bebas hambatan antar negara bagian (Interstate Highways) dimulai pada tahun 1956 dan ini bukanlah menjadi kunci utama perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang, sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat sejak pertengahan abad ke-18. Sistem rel kereta api di Amerika Serikat menghubungkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat, dari kota-kota di pantai Timur ke kota-kota di pantai Barat. Kota-kota besar seperti Chicago, Detroit, dan Atlanta adalah contoh kota-kota yang berkembang pesat akibat adanya prasarana rel kereta api. Perkembangan moda transportasi darat dan pembangunan jalan bebas hambatan menjadi alternatif untuk mendistribusikan bahan baku dan produk industri tetapi tidak mematikan peranan kereta api sebagai sarana transportasi di Amerika Serikat.

Dengan menghangatnya isu pemanasan global dan krisis energi, keberadaan jalan-jalan bebas hambatan di Amerika Serikat ditengarai sebagai penyebab tingginya penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Jalan-jalan bebas hambatan tersebut menyebabkan berkembangnya kawasan-kawasan permukiman di suburb dan pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin sprawling. Pertumbuhan kota yang sprawling ini menyebabkan pelayanan transportasi publik yang tidak efisien dan semakin meningkatkan ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan pribadi.

Indonesia mestinya mencontoh dari eksternalitas negatif dari pembangunan jalan bebas hambatan di Amerika Serikat. Pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan hanya mengancam ketahanan pangan nasional akibat konversi lahan pertanian dan tenaga kerja pertanian ke sektor perkotaan, tapi juga akan semakin meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak akibat peningkatan penggunaan moda transportasi jalan raya. Dampak negatif dari pembangunan jalan tol Trans-Jawa ini akan bertambah bilamana kita menghitung pula dampak lingkungan dari berkurangnya lahan terbuka hijau, termasuk hutan dan perkebunan di pulau Jawa. Pembangunan jalan tol juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kota-kota di sepanjang jalan tol yang akan menjadi sprawling.

Alternatif yang bisa disampaikan untuk meningkatkan perkembangan perekononomian di Pulau Jawa adalah mengembangkan sistem perkeretaapian. Pengembangan jalur ganda rel kereta api di Pulau Jawa dapat menjadi alternatif utama untuk membantu distribusi bahan baku dan produk dari sektor industri di Pulau Jawa. Begitu pula halnya dengan mengaktifkan kembali jalur-jalur kereta api yang dulu sempat dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Pengembangan jalur ganda rel kereta api tidak akan mengkonversi lahan pertanian sebanyak pembangunan jalan tol. Pengembangan sistem perkeretaapian tidak akan pula mengkonsumsi energi sebanyak konsumsi energi oleh moda transportasi jalan raya akibat pembangunan jalan tol.

Secara ringkas dapat disampaikan bahwa pembangunan jalan tol Trans-Jawa bukanlah solusi yang berkelanjutan untuk mengembangkan perekonomian di Pulau Jawa. Solusi ini hanyalah menjadi ancaman bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Pembangunan jalan tol Trans-Jawa lebih banyak ruginya bagi kepentingan nasional. Sebagai alternatifnya, kita dapat mempertimbangkan pengembangan sistem perkeretaapian yang lebih hemat energi dan tidak mengkonversi banyak lahan pertanian.

Kita baru saja melewati peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-80. Bagi sebagian besar orang, peringatan ini tidak beda jauh dari peringatan nasional lainnya; di mana hanya ada satu hal yang luar biasa bagi mereka, yaitu: libur!

Tapi bagi sebagian kecil masyarakat, perayaan sumpah pemuda memiliki makna yang sangat dalam. Bagi mereka sumpah pemuda merupakan sebuah peristiwa sejarah yang benar-benar luar biasa karena memiliki dampak yang begitu besar bagi perkembangan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Menurut saya, satu hal luar biasa tentang penyelenggaraan sumpah pemuda pada tahun 1928 adalah kecerdikan para pemuda Indonesia untuk mengusung bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Seperti yang kita tahu, bangsa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan pastinya berbagai macam bahasa daerah. Dengan kondisi seperti ini, pemberontakan atau perselisihan sangat mungkin terjadi. Peran sebuah bahasa pemersatu menjadi sangat krusial.

Dan di tahun-tahun awal masa kemerdekaan, saya yakin bahasa Indonesia memang menjadi alat utama dalam mempersatukan bangsa ini. Coba bayangkan apabila bangsa ini tidak pernah memiliki sebuah konsensus nasional mengenai penggunaan suatu bahasa sebagai bahasa nasional.

Presiden Sukarno dan Presiden Suharto patut berterima kasih kepada para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku dan budaya yang memiliki inisiatif untuk mengadakan sumpah pemuda di tahun 1928.

Masih banyak hal luar biasa dalam penyelenggaran sumpah pemuda, namun yang pasti disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang benar-benar luar biasa!

Pertanyaannya sekarang, “Apakah pemuda Indonesia jaman sekarang dapat melakukan hal-hal luar biasa seperti sumpah pemuda?”


Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures