Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Kemacetan dan Jam Masuk Sekolah

Posted on: December 12, 2008

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk
memajukan jam masuk sekolah dari pukul 7:00 menjadi 06:30 memicu
kontroversi di masyarakat umum yang menganggap bahwa kebijakan tersebut
mengorbankan pelajar untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di ibukota.
Kebijakan tersebut dianggap tidak akan mengatasi masalah kemacetan lalu
lintas dan alasan bahwa 14 persen kemacetan disebabkan oleh pelajar
dianggap mengada-ada (Kompas 25 November 2008).

Pendapat lain menganggap bahwa kebijakan memajukan jam sekolah hanyalah
semakin membuktikan ketidakmampuan pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi
kemacetan. Para pelajar akan dipaksa untuk bangun lebih pagi dan mereka
akan mengantuk dalam kelas. Kebijakan itu dianggap akan membuat banyak
pelajar yang datang terlambat dan ruangan kelas menjadi kosong.

Kebijakan untuk memajukan jam masuk sekolah tersebut adalah suatu
kebijakan yang inovatif dan kreatif untuk mengatasi kemacetan di ibukota
mengingat keterbatasan yang banyak dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Reaksi keras dari masyarakat adalah hal wajar yang perlu
diantisipasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari suatu kebijakan
yang kontroversial. Pemerintah DKI mesti menjalankan kebijakan ini dengan
konsisten sambil berupaya terus untuk mengurangi kemacetan di ibukota
melalui kebijakan-kebijakan lainnya.

Masalah kemacetan di ibukota, khususnya di pagi hari, akan sedikit
berkurang melalui kebijakan ini. Intensitas kemacetan di ibukota pada jam
puncak di pagi hari akan berkurang seiring dengan bergesernya pergerakan
anak sekolah 30 menit lebih awal. Kontribusi pelajar terhadap kemacetan di
ibukota sebanyak 14 persen adalah masuk akal. Data Pokok Kependidikan dari
Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI menunjukkan bahwa 1,75 juta atau
21 persen dari 8,3 juta jiwa penduduk DKI pada tahun 2006 adalah penduduk
usia sekolah 7-18 tahun.

Kemacetan di ibukota tidak terlepas dari tingginya laju kepemilikan
kendaraan bermotor sebesar 15 persen per tahun yang tidak diimbangi dengan
pertumbuhan panjang jalan yang hanya sebesar kurang dari 1 persen per tahun.
Pengembangan sistem transportasi massal di ibukota pun masih jauh dari
harapan. Inovasi transportasi massal seperti busway yang sudah dapat
mengurangi intensitas kemacetan di jalur-jalur utama di pusat kota masih
belum banyak membantu menguraikan kemacetan di kawasan ibukota lainnya.
Demikian pula dengan Mass Rapid Transit yang sudah lama direncanakan pun
tak kunjung jelas kapan akan direalisasikan.

Tingginya laju kepemilikan kendaraan bermotor di Jakarta seiring dengan
tingginya urbanisasi di megapolitan Jakarta dan juga tidak terlepas dari
peran Jakarta sebagai ibukota negara serta pusat perekonomian dan bisnis
di Indonesia. Menguraikan kemacetan di Jakarta juga mesti mempertimbangkan
perkembangan yang terjadi di kawasan penyangga Jakarta.

Mengingat berbagai keterbatasan untuk mengatasi kemacetan melalui
pengembangan sistem transportasi massal dan tingginya laju kepemilikan
kendaraan bermotor yang sulit dikendalikan maka kebijakan memajukan jam
masuk sekolah perlu dianggap inovatif dan kreatif. Kebijakan memajukan jam
masuk sekolah tentunya lebih realistis ketimbang mesti menunggu sampai
sistem transportasi massal di Jakarta berjalan sesuai yang direncanakan
ataupun membangun lebih panjang jalan untuk mengimbangi perkembangan laju
kepemilikan kendaraan bermotor.

Pada awal pelaksanaan kebijakan ini tentunya diperlukan toleransi bagi
keterlambatan pelajar datang ke kelas mengingat diperlukan waktu bagi
pelajar dan orangtua untuk menyesuaikan dengan jam masuk sekolah yang
lebih awal. Begitu pula diperlukan jaminan ketersediaan angkutan umum di
pagi hari yang lebih awal.

Dalam tahapan selanjutnya, pemerintah perlu mengembangkan pelayanan bis
sekolah yang menyediakan pelayanan antar-jemput pelajar dari rumah ke
sekolah. Penyediaan bis sekolah ini akan mengurangi kemacetan karena akan
mengurangi penggunaan jumlah kendaraan pribadi yang sebelumnya digunakan
untuk antar-jemput pelajar.

Hal lainnya yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kemacetan
berkaitan dengan sekolah adalah penerapan rayonisasi (school attendance
zone) dalam sistem penerimaan siswa. Penerapan sistem ini membatasi siswa
dalam pilihan sekolahnya. Prioritas sekolah diberikan kepada siswa yang
tinggal dekat dengan sekolah tersebut. Penerapan sistem ini akan
memperpendek jarak tempuh siswa dari tempat tinggal ke sekolahnya dan
tentunya juga akan mengurangi kemacetan lalu lintas.

Dalam waktu mendatang diperlukan pula koordinasi yang terpadu di kawasan
megapolitan Jakarta dalam penyediaan sarana sekolah. Ketersediaan sekolah
yang berkualitas di kawasan penyangga ibukota adalah mutlak diperlukan
sehingga penduduknya tidak perlu mengirim anak-anaknya untuk mendapatkan
kualitas pendidikan yang lebih baik di pusat kota Jakarta dan hal ini akan
mengurangi beban transportasi di ibukota.

21 Responses to "Kemacetan dan Jam Masuk Sekolah"

ini namanya menyelesaikan masalah dengan cara memindahkannya ke orang lain.

gimme a break! masuk jam 7 pagi aja berangkatnya jam 5 (Wimar Witoelar bilang perlu 2 jam perjalanan untuk warga Jakarta), nah gimana kalo jam 1/2 7? berangkat jam 4 pagi? kasian mereka dong, akan kelelahan dan ngantuk di mana bisa mengancam prestasi di sekolah.

wajar aja dapet reaksi keras dari masyarakat karena masyarakat bukan dapet solusi malah dapet beban masalah lagi.

Kasian, anak-anak harus dikorbankan.

btw, tulisanku Anak Sekolah vs Macet ada link-nya disini, makasih ya!­čÖé

@ Yonna
I’ll give u a break, it’s around 12pm hehe…

Solusi dengan bis sekolah bisa cukup efektif. Saya sudah lama memikirkan ttg hal ini, demikian jg sebenarnya dengan “nationalisasi” jalur transportasi umum (seperti BusWay). Jadi benar2 mirip sistem Metro di US. Tp mgkn subsidi pemerintah ke arah itu masih belum kuat.

Dengan bis sekolah berarti jalur yg tadinya ditempuh kendaraan pribadi (ongkos pribadi) akan ditanggung pemerintah. Ditambah, pola perumahan di Indonesia yang tidak ter-cluster dg baik, membuat rute kurang efisien.

Sistem rayon dulu kan sempat populer, terlebih di daerah. Tapi setelah dibebaskannya sekolah dari sistem ini, mengembalikannya lagi jg tidak mudah. Ini berarti membatasi siswa dari mencapai potensi maksimal. Siswa yang kurang beruntung karena letak geografis tidak bisa masuk sekolah unggulan yg jauh dari rumahnya.

Kalau begitu, dirombaklah sistem unggulan sekolah. Berarti ada intervensi pemerintah dalam menjaga sistem ini, artinys prestasi sekolah terus dimonitor dan persebaran prestasi siswa jg.

@Ian
hahaha, kesannya gue nih buruh pabrik! makasih juragan­čśŤ

Ngga setuju kalo masuk sekolahnya jam setengah 7. Gak kebayang, jarak menuju sekolah ke rumah. Kasian adik aku donk … sekolahnya aja harus naik angkot dulu. Udah gitu masuknya dimajuin jamnya, trus ngatur waktu tidur, ngerjain tugas, dll gimana ??

Ini baru sekolah, kalo sampe kampus juga begitu … a.k.a kemacetan juga disebabkan oleh mahasiswa, jangan harap kota ini bisa lebih aman oleh aksi kami.:mrgreen:

Setuju banget dengan artikelnya, menurut saya ini solusi yang kreatif, efektif dan realistis untuk saat ini. Saya rasa kalo berangkat baik dari ujung barat jakarta sampai ujung timur jakarta maupun dari ujung utara sampai ujung selatan jakarta jika dilakukan antara jam 5 hingga setengah enam pagi maka perjalanan tidak akan lebih dari 1 1/2 jam karena pada saat jam tersebut lalu lintas masih sangat sepi, jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk mengeluh bagi penduduk jakarta justru dengan adanya ketetapan ini para orang tua dapat mengantar anaknya sekolah terlebih dahulu sambil berangkat ke kantor. Tapi pemerintah juga tetap punya kewajiban untuk mengatur transportasi masal yang sampai saat ini belum saya rasakan nyaman. Stop penambahan angkot lah.

kLo gue biLang sh Ne caRa sama sekaLii KAGA ngebanTu..
teTep aja maCet dmaNa” !!
bakaL tambaH rePot!!
yG bikin maCet itu kaN bukaN kiTa ,taPii anGkot” ma biS” di jalaNan..!

Ga setuju masuk jam 1/2 7, klo ada bimbel yg sampe malem gmana? jam msuk bimbel sm les dll kan ga dicepetin
itu sih stupid solution

pmerintah lbih bnyk mmbrikan nie tu ntuk ank skull..ato mhasiswa ??

Masalah kemacetan hrs dilihat dr apa saja penyebabnya;

1. Bajaj – kendaraan ini sdh lama direncanakan utk di hapuskan namun sampai saat ini masih sangat banyak.

2. Gerobak pedagang – yg jumlahnya cukup banyak dan sering lalu lalang sehingga kontribusi kemacetan yg ditimbulkannya cukup besar.

3. Angkot, metro mini, kopaja – yg sering berhenti/mangkal disembarang tempat terutama dipasar-pasar yg berada dipinggir jalan.

4. Perbaikan jalan, galian listrik dan telepon yg justru dikerjakan dijam-jam sibuk.

5. Truk-truk besar yg memasuki jalan2 sempit dipagi hari skt jam 6 pagi.

6. Pertumbuhan jumlah motor yg tdk dibatasi.

7. Busway yg jauh dr efektif.

Menurut saya memajukan jam masuk sekolah adalah ide orang malas yg samasekali tdak cerdas dan hanya mau gampangnya saja.

Menurut gw siy ini salah satu solusi yg baik juga, coz karena banyaknya pekerja dan pelajar yg memadati jalan pada waktu yg bersamaan berpengaruh juga sama kemacetan. Kalau jalanan lebih sepi kan anak2 sekolah juga bisa lebih cepat perjalananya, jd ga cape di jalan.
Tapi memang kita tidak bisa mengharapkan ini adalah solusi total dari pemerintah.. Masih banyak yg perlu di benahi, such as Angkot2 yg ngetem sembarangan, mengefektifkan Busway (Gila sekarang ngantrinya man!!), nemeertibkan kaki lima (banyak bgt jalanan yg keambil gara2 ini).
Di perlukan jg kerjasama dengan pengguna jalannya, seperti di haruskan nunggu bis hanya di Halte jd angkot juga ga berenti sembarangan, trus mentaati rambu2 juga dll dan yang paling penting menghargai orang lain. Ga usah berasa jalanan punya engkongnya.
Peace!

Well, baru aja jadi warga jakarta nih, semenjak harus cari nafkah di ibukota negara ini.

Kalo aku liat ini merupakan suatu usaha dari pemda DKI Jakarta dalam mengurangi tingkat kemacetan, tetapi upaya ini perlu adanya evaluasi ulang seberapa tingkat keefektifannya. Dibandingkan dengan hal yang harus dikorbankan seperti jadi lebih awalnya anak2 harus masuk sekolah (otomatis berangkat lebih awal lagi).

Dan kebijakan ini gak bisa berdiri sendiri musti sinergi dengan kebijakan2 laen seperti dari dinas pendidikan dan dinas Transportasi (duh apa ya nama departemennya -red).

Yang jelas suatu usulan yang cukup baik, namun perlu kita evaluasi ulang.

@Deniar
hehe selamat beradaptasi di Jakarta yaaa….

kabarnya setelah memajukan jam sekolah, pemda akan memajukan jam kerja. secara prioritas, kayanya Departemen, BUMN, dkk yang bakal duluan contohnya Telkom Jakarta:mrgreen:

Iya aku juga udah dapet gosip2nya dari milis nih… gak tau gimana ntar

Sbg plajar saya stju krn meskipun bnyk keluhan mengenai mslh ini tp bila dilihat dari manfaatnya sepertinya ckup baik dan tidak ad salahnya untuk dicoba.Krn setelah diliat bahwa jam kerja pun dimundurkan di setiap wilayah di DKI ini maka akan memberi dmpak kurangnya kemacetan. Selain itu jg menrut saya salah satu tjuan pmerintah memajukan jam skolah adlh untuk mengawasi para pelajar yang terlibat tawuran,krn dngan msuk sekolah pkul stngah 7 mka polisi dapat bertugas dengan baik untuk mengawasi para pelajar yg berlalu lalang krn jalan2 pst msih sepi di jam2 segitu.Namun memang selain mengadakan kebijakan ini jg seharusnya pemerintah memberikan kebijakan lain untuk membantu para masyarakt membiasakan diri,misalnya dengan memperbanyak bus sekolah yang benar2 efektif untuk mengantar para pelajar sehingga tidak perlu repot-repot untuk mngantar anak2 untuk bersekolah.Atau dengan pengadaan angkutan umum yg sedikit tp efektif di pagi hari sehingga setiap pelajar dpt memulai untuk membiasakan diri bersekolah lbh awal.Sisanya menurut saya hanyalah masalah mengatur waktu tidur untuk msyarakt terutama bagi pelajar.^^

It’s ok to have a comment.

x\sebagai pelajar saya prihatin,krena rumah saya ke sekolah harus menempuh perjalanan selama 30 menit,jika harus masuk jam 6:30 harus pergi sekolah jam 5:30.dan itu sangat berpengeruh buat kegiatan di sekolah. bahkan banyak anak”yang sengaja datang telat agar tidak masuk sekolah. kenapa masalah ini harus di imbaskan ke anak sekolah?!

See…stlh kebijakan ini berjalan, ternyata tidak mengurangi kemacetan tapi malah memajukan kemacetan. Kalo biasanya kemacetan dimulai jam 6 maka sekarang dimulai dari jam 5.30.

i think there is a collide on definition of early bird:mrgreen:

pada awalnya memank terjadi kontraversi, tapi dipihak gw yang kebetulan bekerja di jalan gatot subroto, jalanan semakin lancar berkat pengaturan jam sekolah.

dari pihak lain, gw gak setuju dengan dimajunya jam sekolah, coz anak2 harus bangun lebih pagi. padahal secara spikologis, itu tidak baik. mungkin tidak berdampak besar bagi yang rumah nya dekat dengan sekolah, tapi gmn dengan yang jauh rumahnya, mereka harus bangun sebelum subuh, makan pagi pun kadang gak dimakan, sesampainya disekolah mereka jadi gak konsen krn ngantuk.

menurut gw kembali ke awal..
kurangi jatah mobil pribadi di jalan
termasuk motor
lebih konsent ke angkutan umum, supaya orang2 pada mau naik, dibenerin fasilitas nya, dari bis, kereta, taxi, trus halte, kenyamanan station / terminal.

atau jam kantor dimajuin agak siang, tapi jam anak sekolah tetap jam 7.

Kenapa anak sekolah yang jadi korban?

Mentang2 kami bukan kaum produktif..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: