Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Jalan Tol Trans-Jawa, Ketahanan Pangan dan Energi Nasional.

Posted on: November 18, 2008

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan jalan tol trans-Jawa dari Cikampek, Jawa Barat sampai Surabaya, Jawa Timur dianggap sebagai kunci bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa khususnya sektor industri. Para perencana dan pengambil keputusan menganggap bahwa dengan kondisi prasarana transportasi saat ini, khususnya jalan raya, tidak mendukung perkembangan sektor industri untuk bersaing global. Kondisi jalan raya saat ini dianggap penghambat daya saing sektor industri di pulau Jawa. Apakah pembangunan jalan tol Trans-Jawa merupakan solusi terbaik bagi perkembangan ekonomi di pulau Jawa?

Tulisan ini mencoba secara ringkas mengkaji kelayakan pembangunan jalan tol Trans-Jawa dalam konteks pembangunan berkelanjutan di pulau Jawa. Kompas edisi 17 November 2008 memaparkan secara jelas bahwa jalan tol Trans-Jawa akan mengkonversi 655.400 hektar lahan pertanian. Hal ini tentunya akan mengancam ketahanan pangan nasional mengingat peranan pulau Jawa yang memasok 53 persen kebutuhan pangan nasional. Konversi lahan pertanian sebanyak itu akan terus bertambah seiring dengan pembangunan sektor perkotaan sepanjang jalan tol tersebut, khususnya di pintu-pintu keluar jalan tol. Konversi guna lahan juga akan berpengaruh terhadap perubahan struktur mata pencarian penduduk. Dipastikan tenaga kerja sektor pertanian di pulau Jawa akan banyak beralih ke sektor perkotaan. Lambat laun sektor pertanian di pulau Jawa menjadi sektor marjinal dan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional.

Di Amerika Serikat, pembangunan jalan bebas hambatan antar negara bagian (Interstate Highways) dimulai pada tahun 1956 dan ini bukanlah menjadi kunci utama perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang, sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat sejak pertengahan abad ke-18. Sistem rel kereta api di Amerika Serikat menghubungkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat, dari kota-kota di pantai Timur ke kota-kota di pantai Barat. Kota-kota besar seperti Chicago, Detroit, dan Atlanta adalah contoh kota-kota yang berkembang pesat akibat adanya prasarana rel kereta api. Perkembangan moda transportasi darat dan pembangunan jalan bebas hambatan menjadi alternatif untuk mendistribusikan bahan baku dan produk industri tetapi tidak mematikan peranan kereta api sebagai sarana transportasi di Amerika Serikat.

Dengan menghangatnya isu pemanasan global dan krisis energi, keberadaan jalan-jalan bebas hambatan di Amerika Serikat ditengarai sebagai penyebab tingginya penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Jalan-jalan bebas hambatan tersebut menyebabkan berkembangnya kawasan-kawasan permukiman di suburb dan pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin sprawling. Pertumbuhan kota yang sprawling ini menyebabkan pelayanan transportasi publik yang tidak efisien dan semakin meningkatkan ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan pribadi.

Indonesia mestinya mencontoh dari eksternalitas negatif dari pembangunan jalan bebas hambatan di Amerika Serikat. Pembangunan jalan tol trans-Jawa bukan hanya mengancam ketahanan pangan nasional akibat konversi lahan pertanian dan tenaga kerja pertanian ke sektor perkotaan, tapi juga akan semakin meningkatkan konsumsi bahan bakar minyak akibat peningkatan penggunaan moda transportasi jalan raya. Dampak negatif dari pembangunan jalan tol Trans-Jawa ini akan bertambah bilamana kita menghitung pula dampak lingkungan dari berkurangnya lahan terbuka hijau, termasuk hutan dan perkebunan di pulau Jawa. Pembangunan jalan tol juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kota-kota di sepanjang jalan tol yang akan menjadi sprawling.

Alternatif yang bisa disampaikan untuk meningkatkan perkembangan perekononomian di Pulau Jawa adalah mengembangkan sistem perkeretaapian. Pengembangan jalur ganda rel kereta api di Pulau Jawa dapat menjadi alternatif utama untuk membantu distribusi bahan baku dan produk dari sektor industri di Pulau Jawa. Begitu pula halnya dengan mengaktifkan kembali jalur-jalur kereta api yang dulu sempat dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Pengembangan jalur ganda rel kereta api tidak akan mengkonversi lahan pertanian sebanyak pembangunan jalan tol. Pengembangan sistem perkeretaapian tidak akan pula mengkonsumsi energi sebanyak konsumsi energi oleh moda transportasi jalan raya akibat pembangunan jalan tol.

Secara ringkas dapat disampaikan bahwa pembangunan jalan tol Trans-Jawa bukanlah solusi yang berkelanjutan untuk mengembangkan perekonomian di Pulau Jawa. Solusi ini hanyalah menjadi ancaman bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Pembangunan jalan tol Trans-Jawa lebih banyak ruginya bagi kepentingan nasional. Sebagai alternatifnya, kita dapat mempertimbangkan pengembangan sistem perkeretaapian yang lebih hemat energi dan tidak mengkonversi banyak lahan pertanian.

9 Responses to "Jalan Tol Trans-Jawa, Ketahanan Pangan dan Energi Nasional."

“jalan tol Trans-Jawa akan mengkonversi 655.400 hektar lahan pertanian”

sepertinya pembangunan infrastruktur baru = pelenyapan infrastruktur lama.

Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan lokal sepertinya masih harus bersaing sekuat tenaga dengan sektor indusri yang mempunyai backing orang2 kaya dan berkuasa.

Itu namanya bencana yang direncanakan. Bagaimana nih para planner yang berada di belakang proyek ini. Disamping itu apa proyek ini tidak melanggar UU tata ruang dan turunannya?

wa, bagaimana tidak impor dari luar terus. lahan pertanian ja terus dialih fungsi. Apa lagi dengan adanya pembangunan proyek jalan tol trans jawa ni. bagaimana kalau jalannya dibuat jalan layang atau jalan dibawah tanah ja. nah malah keren tu. bagaimana kalo ada lahan pertanian yang dibuat lahan pertanian abadi, jadi lahan tersebut akan selalu menjadi lahan untuk pertanian. mungkin cara ini dapat mengurangidaya impor Indonesia. terus ada yang harus diperhatikan juga, penghargaan terhada para petani Indonesia. jangan sampai pupuk langka ya Pemerintah. Ok!
Ok dech bye bye!
hidup Indonesia!

ada yang bilang tol trans jawa adalah bencana yang direncanakan?? kurang setuju!! yang benar adalah..bencara yang DIRENCANAKAN dan TERSTRUKTUR..hehe..
kenapa nggak mengembangkan perkeretaapian saja. yang pertama, untuk menjadikan seluruh jalur menjadi double track diperlukan dana yang jauuuhhhh lebih rendah daripada mambangun tol sepanjang itu. tinggal tingkatkan saja sarana dan prasarana perkeretaapiannya. Di samping itu, jalur kereta api tidak memakan banyak lahan. Sehingga, di samping tidak perlu banyak2 pembebasan lahan, area pertanian dan hutan akan tetap terjaga. Tau sendiri kan,sekarang global warming.
Udah gitu..setelah tol dibangun..pasti diiringi melonjaknya penggunaan kendaraan pribadi dan angkutan barang melalui jalan raya. Tantu tidak efektif dan semakin memperparah polusi. GLOBAL WARMING lagi deh nyangkutnya..

Yaa..kembangin aja perkeretaapian. Kereta api barang misalnya, tentu bisa mengangkut barang dalam jumlah besar sekaligus. Sehingga dapat menekan biaya, menekan penggunaan bahan bakar (menekan resiko parahnya GLOBAL WARMING juga), dan tentu lebih cepat, ekonomis,dan efisien.

Saya kira tol trans jawa itu bila beroperasi nanti akan lansung mematikan jalur pantura.Ini bisa memicu urbanisasi dan contohnya telah terjadi kepada warga di spanjang jalur bandung jakarta pasca tol cipularang beroperasi.Mereka dulu menggantungkan nafkahnya dari
ramainya arus lalu lintas, ada yg buka rumah makan, jadi tukang parkir,pedagang asong . Kini denyut jalur
bandung jakarta sudah lemah, mereka yang yng punya kendaraan lebih senang lewat tol.
O iya soal jalan tol kita itu sebetulnya jauh ketinggalan ( cuma 600 km) begitu juga soal kereta api ( cuma 3.000km )
Di china jalan tol sudah 65.000 km sejak pertama dibangun tahun 1988.tiap tahun mereka bangun 4.000km tol baru.Walaupun banyak jalan tolnya sepi dari kendaraan padahal dalam setahun 5.000.000 mobil terjual disana
Tapi mereka juga membangun jalur kereta api bahkan sama pesatnya.Di sana ada 77.083 km rel kereta api!!!

Menurut saya pembangunan jalan tol trans-jawa sepanjang 1200 kilometer merupakan konsekuensi logis dari apa yang dinamakan pembangunan ekonomi di pulau Jawa. Hal itu tidak dapat dipungkiri lagi mengingat semakin padatnya jumlah penduduk di pulau Jawa, terutama di kota-kota besar. Pembangunan tol trans-jawa merupakan ide yang baik bila dikaitkan dengan jumlah penduduk tadi. Namun hal itu jangan sampai mempengaruhi ketahanan pangan nasional karena bila hal itu terjadi, maka kita akan kekurangan bahan makanan yang diakibatkan oleh pembangunan jalan tol tersebut. Perlu diingat bahwa setiap hari libur nasional seperti lebaran dan Natal, jalur pantura selalu padat dan sering dilanda kemacetan panjang yang berujung pada tingginya konsumsi bahan bakar minyak. Bila nantinya proyek jalan tol trans-jawa selesai, maka kemacetan dan padatnya kendaraan di jalur pantura dapat dikurangi secara signifikan serta dapat menekan konsumsi bahan bakar minyak.

Saya kira pembangunan tol tidak semuanya jelek. Justru dari segi kemajuan ekonomi dampaknya akan sangat baik, mengingat jalan merupakan infrastruktur yang mempunyai dampak “multiplier-effect” yang sangat besar. Mengingat ekonomi Indonesia yang bertumpu pada pulau jawa maka secara tidak langsung ekonomi indonesia akan ikut terangkat. Masalah tergusurnya 655.400 hektar lahan pertanian memang terlihat besar. Namun 655.400 hektar itu tidak dijelaskan berapa persen dari total keseluruhan lahan pertanian pulau jawa? jadi saya rasa asal persentase lahan yang dikonversi tidak terlalu besar tidak akan menjadi masalah besar. Toh Indonesia masi mempunyai potensi pertanian besar yang belum dioptimalkan. Ingat luas Indonesia itu dari sabang sampai marauke, yang jadi pertanyaan itu , kok bisa 53% kebutuhan pangan nasional dari pulau jawa? Jawa itu cuman sebagian kecil wilayah indonesia. Kita masih punya pulau2 lain untuk mengoptimalkan potensi pertanian kita. Untuk masalah lingkungan saya rasa malah tras-jawa mengurangi konsumsi bahan bakar dan biaya. Misalnya pengangkutan barang yang biasanya dapat memakan waktu 2 hari maka dapat dipotong jadi 1 hari berkat adanya trans jawa. Bayangkan berapa banyak BBM yang bisa dihemat, blum lagi penghematan biaya makan, minum, sewa truk, rokok, etc. Dan yang pasti efisiensi waktu. Hal lain yang amat penting adalah besaran investasi yang akan terserap oleh pembangunan trans-jawa. Triliunan rupiah sudah dipastikan akan terserap dari proyek ini, akan banyak lapangan kerja yang akan tersedia. Belum lagi produsen bahan baku seperti semen, besi, dll akan diuntungkan. Memang dalam suatu proyek pembangunan akan ada hukum “Pareto” dan “trade-off” dimana ada keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan. Selama keuntungan yang ditimbulkan jauh lebih besar, serta kerugian dapat diminimalisasi saya rasa tidak akan menjadi masalah besar(lebih banyak orang yang “better-off daripada yang “worst-off”). Justru justru efisiensi malah akan tercapai.
Untuk pembangunan rel saya rasa itu ide bagus. Namun pertanyaannya adalah, apakah multiplier effect dan pengaruh pembangunan rel sebesar pembangunan jalan? saya rasa tidak, karena rel hanya dilalui kereta milik negara, dan tidak semua barang dapat diangkut kereta. Dan terlalu banyak birokrasi didalamnya dikarenakan sampai sekarang menurut undang-undang layanan kereta api kita masi dimonopoli oleh perusahaan negara.
Sehingga kalau ada investor mau masuk dalam pembangunan perkereta-apian di Indonesia akan terhalang oleh undang2 dan birokrasi yang pelik.
Kalau dibilang ekonomi dari AS maju dari abad 18 karena kereta, ya itu karena pada masa itu cuma ada kereta, mobil/truk blum ada. Kalau dikatakan interstae highwaynya Amerika tidak berpengaruh besar saya sangat tidak setuju. Karena di Amerika salah satu indikator ekonomi terpenting adalah penjualan mobil, kalau penjualan mobil terganggu berarti ekonomi Amerika dalam masalah(lihat bangkrutnya General Motors dimasa resesi ekonomi AS).
Dan berdasarkan penelitian infrastruktur yang diawali Aschauer(1989), infrastruktur jalan beserta listrik merupakan infrastruktur yang pengaruhnya paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ingat kemajuan suatu bangsa ditumpu oleh infrastruktur yang baik. Cina sudah menjadi contohnya dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melesat dikarenakan pembangunan infrastruktur yang gencar dan baik. Dan Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa untuk dapat melebihi bangsa lain. Mudah-mudahan pembangunan Indonesia dapat terus berjalan, dan negara kita dapat keluar dari kemiskinan. AMIN

Maju Terus Indonesia………

Memang enggak seberapa banyak sawah yang harus dikonversi menjadi jalan tol berikut interchange dan rest roomnya. Tapi apa Anda lupa? Di jalan tol itu nanti bakal banyak pabrik dan perumahan yang tumbuh bak jamur cendawan, yang tentunya dibangun di atas bekas sawah. Di sinilah masalahnya. Para petani yang kehilangan sawahnya itu mau kerja apa nantinya? Pertambahan tol hanya meningkatkan jumlah mobil, berkebalikan dengan pernyataan Anda, BBM yang habis lebih banyak. Apa cuma angkutan barang yang menghabiskan BBM? Survei telah membuktikan bahwa KA lebih hemat polusi ketimbang moda angkutan lain, karena selain armadanya tak sebanyak moda lain, jalannya harus ikut rel, tapi daya angkutnya jauh lebih besar ketimbang moda lainnya.

emang..kapan sih pembangunan jalan tol trans-jawa nya dimulai?
di atas ga disebutinn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: