Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Tan Malaka, Sang Revolusioner

Posted on: September 6, 2008

Dari sekian banyak pahlawan nasional yang diberi gelar sebagai pahlawan nasional pada akhir hayatnya, ternyata masih ada sosok yang seakan hilang dan terlupakan oleh kita.

Salah satunya adalah seorang revolusioner legendaris yang juga merupakan penggagas gerakan-gerakan massa. Dia adalah Tan Malaka. Lelaki yang lahir di Suliki, Pandan Gadang Sumatera Barat pada 2 Juni 1897 dengan nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Menurut biografi yang ditulis di dalam bukunya yang berjudul Aksi Massa dinyatakan bahwa ia pernah melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada tahun 1913 setelah ia tamat dari sekolah menengah akhirnya.

Enam tahun kemudian beliau kembali ke Indonesia dan mengabdi sebagai guru untuk anak-anak kaum buruh di perkebunan Sumatera. Ia juga termasuk salah satu tokoh luar biasa yang namanya pun dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh sekelas Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan sebagainya.

Nampaknya tidak banyak dari kita yang tahu tentang sosok seorang pejuang seperti Tan Malaka. Kontribusi beliau terhadap bangsa ini juga termasuk dalam perjuangan yang patut diperhitungkan. Karena dengan terjunnya beliau ke dalam dunia politik pada tahun 1921, bangsa ini seperti mempunyai pergerakan-pergerakan baru baik dalam bidang sosial, politik, maupun budaya.

Karena ia ada dalam dunia politik bukan tanpa tujuan dan bukan tanpa alasan. Ia memang mempunyai cita-cita untuk mewujudkan Republik Indonesia yang terlahir dari revolusi.

Dalam aksinya ia banyak mengumpulkan pemuda komunis. Kemudian, ia juga berdiskusi tentang pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia-Belanda. Selain itu, ia juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus kaderisasi serta ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, serta jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Hal tersebut dilakukan sebelum Tan Malaka memisahkan diri dari PKI. Namun pada akhirnya kegiatan tersebut dilarang oleh pemerintah Belanda.

Selain beliau dulu adalah pemuda yang mempunyai semangat pergerakan revolusi yang cerdas, ia juga seorang buronan. Karena ia terlibat aktif dalam aksi-aksi perlawanan di beberapa tempat. Semua itu berujung dengan pembuangan dirinya ke Kupang pada tahun 1922.

Semasa hidupnya ia banyak menghasilkan karya tulis yang berisikan tentang pemikiran-pemikirannya. Dan kebanyakan dari karya-karyanya tersebut berisikan manifestasi cita-citanya mewujudkan kelahiran Republik Indonesia melalui revolusi.

Sayangnya, Tan Malaka tidak pernah tercantum di dalam daftar nama-nama pahlawan yang diberi gelar sebagai pahlawan nasional sejak masa pemerintahan orde baru. Tidak jelas alasan mengapa namanya dihapus dari daftar tersebut. Padahal yang saya tahu, cita-cita yang begitu mulia dan berjuang sebagai revolusioner itulah yang membuat namanya besar.

Jarang sekali kita temukan pada zaman sekarang pemuda yang benar-benar mempunyai semangat pergerakan revolusi sebagai perwujudan cintanya terhadap negeri ini. Tetapi, Tan Malaka telah membuktikannya. Melalui buku-bukunya (Madilog, Gerpolek, dan Aksi Massa) ia telah menyampaikan semangat juangnya dan kebenaran tentang apa yang terjadi pada bangsa ini.

Bahwa masyarakat kita senantiasa memperoleh dari luar, dan tak pernah mempunyai cita-cita sendiri… Bangsa Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain perbudakan. (Tan Malaka)

Sadarkah bahwa kita ini adalah para pemuda penerus perjuangan para pahlawan bangsa ini? Sadarkah, bila sudah terlalu banyak yang harus dikorbankan demi negara ini? Karena rakyatnya tak mampu mengelola negerinya sendiri. Naudzubillah.

Sungguh bukan suatu hal yang sepele untuk meluruskan sebuah niat menuju revolusi. Tetapi, alangkah baiknya jika kita menengok kepada masa di mana revolusi benar-benar diperjuangkan keberadaannya. Karena ia harus ada untuk mempertahankan segala kondisi setelah kemerdekaan. Tan Malaka mengajak kita semua para generasi muda untuk memperjuangkannya kembali dan mempertahankannya.

Revolusi bukan saja menghukum, sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai segenap perbaikan dari kecelaan.

Di dalam masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru.

Oleh karena itu, mari kita bergerak untuk memperjuangkan kembali revolusi. Karena dengan begitu kita dapat tunjukkan bahwa kita adalah generasi penerus yang menghargai para pahlawannya. Merdeka!

10 Responses to "Tan Malaka, Sang Revolusioner"

Sayangnya kini, tak banyak pihak yang bergerak atas nama perjuangan yang benar-benar mampu mempertahankan nilai yang dibawa hingga akhir hayatnya,.
Salam kenal ya,.

Merupakan salah satu dari para founding fathers kita kayaknya ya, yang jelas memang para founding father era perjuangan merupakan orang2 yang hebat walaupun beberapa diantaranya memiliki perbedaan yang cukup tajam dari segi ideologi dan sikap. Tapi yang jelas semua memiliki satu tujuan yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu dan makmur. mereka sama sekali tidak pernah memiliki rasa rendah diri terhadap bangsa lain dan mereka lebih mendahulukan yang terbaik bagi bangsa ketimbang untuk diri mereka sendiri.

dwinanto: Iya, sayang sekali ngga banyak pihak yang demikian. Salam kenal juga, thanks sudah mampir ke sini.

oky: coba mas oky punya bukunya. Salah satunya aja deh, pasti bakal lebih megiris hati lagi. Founding fathers adalah salah satu kata yang tepat untuk mewakili dirinya. Thanks­čÖé

bahkan Muhammad Natsir aja gak dihargai jasanya oleh pemerintah. padahal beliau merupakan arsitek negara Indonesia.

@mba Yonna
Bener tuh mba, banyak banget sebernernya kalo harus diabsenin satu-satu tokoh-tokoh yang ada di negara ini. Mau dia pahlawan atau bukan, tapi yang jelas2 jasanya itu ngga main-main deh, kalo ngga dihargai berarti negara ini belum menghargai jasa-jasa yang mereka udah sumbangkan bahkan masih terasa manfaatnya sampai sekarang.

Apalagi nama yang mba Yonna sebut di atas, Muhammad Natsir yang merupakan arsitek negara Indonesia dan bapak Tan Malaka, sampai beliau meninggal dunia dan makamnya ditemukan, ia belum mendapat penghargaan apa2 selain gelar pahlawan nasional yang tidak diakui sejak pemerintahan orde baru.

Apa kabar dgn Henk Ngantung? Gubernur Jakarta yg “tersingkirkan” krn dianggap dekat dgn OrLa (baca: “komunis”).

Menyedihkan memang ketika ideologi dijadikan jurang pemisah!

suharto memimpin Indonesia diatas tumpahan darah jutaan rakyat Indonesia pasca G.30.S, jadi jangan heran jika banyak kontribusi para pahlawan kita yang sengaja dilenyapkan bahkan seolah-olah dijadikan penjahat…….

Saya hanya bisa menyampaikan hal ini dan menuliskan satu sosok dari sekian banyak tokoh negeri ini yang bernasib tak kalah buruknya. Dan perlakuan yang demikian mereka dapat bukan dari bangsa lain, melainkan bangsanya sendiri.

Memang tak ayal lagi, pemerintahan orba memperlakukan mereka yang justru bertindak benar. Hanya, mereka tidak dapat melihat lebih rasional lagi tentang apa tindakan-tindakan revolusi tersebut. Atau mereka iri sama tokoh-tokoh tersebut karena mereka ngga bisa melakukan demikian. Wallahualaam …

Tan Malaka!
dari yang saya baca, beliau memang patut disebut sebagai founding father-nya Indonesia, mengingat beliau salah satu pencetus nama Indonesia itu sendiri.
Madilog!
Buku Ajaib! karena orang Indonesia yang mengarangnya. belum lagi saya temukan (apalagi dijaman sekarang ini) buku yang sebaik ini. buku yang dilarang ditanah airnya sendiri tapi digunakan dan dihargai bahkan ada yang menjadikannya text book wajib di negara lain.
Indonesia!
“negara yang besar adalah negara yang rakyatnya menghargai pahlawan-2nya.”
apakah sebutan bagi negara yang rakyatnya tidak menghargai pahlawannya? mungkin, negara kecil.
apakah sebutan bagi negara yang rakyatnya membunuh pahlawan-2nya. mungkin, Negara Kesatuan Republik Indonesia
kita bukan hanya tidak menghargai Pahlawan kita, tapi kita lah yang membunuh pahlawan-2 kita. ironis!

Jakarta atau mungkin Indonesia butuh (atau Harus melakukan!)Revolusi Budaya.

jgn hanya lewat ucapan tapi dengan perbuatan.
terus di garis depan . . . !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: