Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Mereka Juga Pahlawan

Posted on: August 23, 2008

17 Agustus 2008 merupakan peringatan 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Kita tidak akan pernah dapat menikmati kemerdekaan berikut segala manfaatnya tanpa ada perjuangan dari para pahlawan yang telah rela mengorbankan segalanya demi tanah air tercinta.

Orang bijak mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan satu hari khusus untuk memperingati jasa para pahlawan, yaitu pada tanggal 28 Oktober. Bahkan setiap upacara bendera kita selalu mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan. Begitupun di bangku sekolah, kita pernah mendapatkan pelajaran Sejarah, PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), dan  pelajaran sejenis lainnya yang membuat kita mengenal para pahlawan nasional dan perjuangan mereka seperti Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, dan Sultan Agung. Gambar para pahlawan tersebut juga menghiasi dinding-dinding ruang kelas kita; bahkan dalam pecahan uang kertas.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata “pahlawan” memiliki arti orang atau sekelompok orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Dari pengertian ini, dapat kita lihat bahwa ada tiga unsur yang harus ada dalam diri seorang pahlawan, yaitu keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran. Berdasarkan definisi tersebut, maka para pahlawan yang telah turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia layak untuk disebut pahlawan.

Keberanian. Sudah jelas para pahlawan nasional memiliki keberanian. Untuk menghadapi para penjajah yang memiliki kekuatan lebih unggul, baik dari segi persenjataan dan perlengkapan maupun strategi, tentu diperlukan keberanian.

Pengorbanan. Untuk melawan para penjajah para pahlawan harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan harta benda. Padahal resiko yang harus dihadapi sangat berat: terluka, menjadi lumpuh, atau bahkan meninggal dunia.

Membela kebenaran. Bangsa Indonesia tidak pernah memiliki kesalahan terhadap para penjajah. Kenyataan dan kesadaran sebagai bangsa yang benar dan didorong oleh adanya keinginan untuk lepas dari belenggu penjajahan, membuat para pahlawan rela membela negara tercinta ini.

Buah perjuangan para pahlawan tersebut telah kita nikmati selama 63 tahun. Sudah sepantasnya kita mengisi era kemerdekaan ini dengan hal-hal yang berguna terutama bagi negara. Kemerdekaan yang telah kita nikmati ini akan menjadi sangat sia-sia jika kita hanya diam berpangku tangan.

Walaupun kita memang telah bebas dari penjajahan, kenyataannya masih banyak bentuk lain dari penjajahan  yang sedang kita hadapi di era kemerdekaan ini. Dengan menutup mata saja kita dapat melihat bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang hidup miskin, menganggur, tidak mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak, atau bahkan menjadi korban dari kekerasan dan perbudakan. Sungguh suatu hal yang ironis terjadi di negara merdeka ini.

Namun demikan, masih banyak pula pihak yang peduli dengan keadaan ini dan berusaha agar negara kita tercinta dapat keluar dari keadaan ini.

Frederick Sitaung. Mungkin banyak dari kita yang tidak mengenal nama ini. Namun, sosok satu ini sungguh patut untuk dijadikan panutan dan diacungi jempol. Frederick merupakan salah satu dari empat orang peraih anugerah Indonesia Berprestasi Award (IBA) 2007, yang diberikan oleh PT. Exelcomindo Pratama Tbk.

IBA diberikan kepada warga negara Indonesia yang berprestasi serta mempunyai karya usaha yang bermanfaat bagi masyarakat luas, bangsa, dan negara. Kategori pendidikan untuk penghargaan ini memang layak diterima oleh Frederick Sitaung. Bagaimana tidak, sebagai satu-satunya guru yang bertahan di Kampung Poepe, Desa Welputi, Kabupaten Merauke, Papua, Frederick mengalami hambatan yang tidak ringan. Kelaparan selama satu minggu, nyaris dipanah oleh orang tua murid, sampai gaji terlambat datang berbulan-bulan semua sudah pernah dialaminya.

Namun hal tersebut tidak pernah menyurutkan semangat Frederick untuk tetap mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan masyarakat di pedalaman Papua. 15 tahun sudah Frederick Sitaung bertugas sebagai guru di Kampung Poepe dan ia tidak berminat pindah. Bagi masyararakat Kampung Poepe, Frederick bukan hanya menjadi guru bagi anak-anak mereka namun juga menjadi guru seluruh masyarakat Kampung Poepe. Bahkan Frederick juga diminta masyarakat untuk menjadi Pendeta.

Frederick Sitaung hanya salah satu contoh dari orang-orang yang bersedia mengabdikan hidupnya bagi masyarakat dan negara. Masih banyak Frederick Sitaung lainnya. Dalam bidang pendidikan dapat kita sebut nama Ibu Kembar yang memberikan pendidikan kepada anak-anak yang tinggal di kolong jembatan.

Kemudian dalam bidang kesehatan ada nama dr. John Manangsang yang pernah bekerja di Puskemas Tanah Merah di pedalaman Papua. Lalu ada Suster Apung yang mengabdikan dirinya untuk pelayanan kesehatan bagi para penduduk di pulau-pulau di Laut Flores. Dalam bidang lingkungan hidup juga terdapat banyak nama yang tak kalah hebat, seperti Bang Idin yang melakukan penghijauan di daerah bantaran Kali Pesanggrahan.

Para tokoh di atas merupakan orang-orang yang tidak pernah lelah mengorbankan segala yang mereka miliki demi kepentingan masyarakat di sekitarnya. Tidak jarang dalam pengabdiannya mereka menemui hambatan. Namun berbekal niat yang tulus dan keberanian di dalam diri segala hambatan yang ada dapat diatasi. Sudah sepantasnya mereka disebut pahlawan. Dalam setiap perjuangannya mereka selalu mengedepankan kebenaran dalam bentuk hak-hak manusia untuk mendapatkan kehidupan yang baik.

Berbicara mengenai pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan memang akan menghasilkan obrolan panjang. Banyak sekali orang di sekitar kita, tanpa kita sadari, sebenarnya layak disebut sebagai pahlawan. Beberapa yang sedang hangat menjadi pembicaraan adalah para pahlawan olah raga yang telah mengharumkan nama Indonesia dalam Olimpiade Beijing 2008. Markis Kido dan Hendra Setiawan (peraih medali emas bulu tangkis), Maria Christin (peraih medali perunggu bulu tangkis), Triyatno (peraih dua medali perunggu angkat besi), dan atlet Indonesia lainnya saat ini sangat dipuja oleh pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia atas prestasi gemilangnya dalam mengangkat nama Indonesia.

Namun di sela-sela hiruk-pikuk pujian bagi para pahlawan olah raga ini, terselip keprihatinan atas nasib beberapa mantan atlet nasional yang juga pernah membuat bendera merah putih berkibar di ajang olah raga nasional.

Sebut saja Budi Setiawan, mantan atlet Taekwondo peraih medali perunggu dalam Asean Games ke-10 di Seoul tahun 1986. Saat ini Budi harus berjuang keras untuk menghidupi keluarganya dengan menjadi pelatih honorer Taekwondo untuk anak-anak SD dan SMP. Bahkan Budi pernah menjual medali yang telah diperolehnya agar keluarganya dapat melanjutkan kehidupan.

Lain lagi dengan nasib Sukarnah, mantan atlet lempar lembing yang pernah mendapatkan medali perunggu dalam Asian Games ke-3 di Tokyo tahun 1958. Saat itu Sukarnah merupakan satu-satunya atlet Indonesia yang membawa pulang medali. Namun di usia senjanya kini Sukarnah harus menjalani kehidupan sebagai buruh tani musiman di Desa Cisaga, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Budi Setiawan dan Sukarnah hanya sebagian kecil dari mantan atlet berprestasi yang kini hidup menderita. Mereka jauh tidak beruntung dibandingkan dengan atlet-atlet berprestasi saat ini yang telah menerima bantuan rumah dari Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Dr. H. Adhyaksa Dault, SH,MSi.

Mengingat jasa-jasa yang telah dilakukan para tokoh di atas bagi negara tercinta, sudah seharusnya pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat menghargai mereka. Bukan hanya dalam bentuk penghargaan secara material namun juga dengan meneruskan perjuangan yang telah mereka lakukan.

Foto diambil dari sini.

8 Responses to "Mereka Juga Pahlawan"

hehe pertamax:mrgreen:

ya sepakat, sepertinya pahlawan atau mereka yang telah berjasa kepada Indonesia kurang dihargai oleh pemerintah dan sebagian rakyat Indonesia. bahkan hal tersebut membuat orang berpikiran menjadi pahlawan berarti mengorbankan segalanya tanpa memperoleh keuntungan apapun kecuali pujian, medali, dll yang sifatnya simbolik dan baru diberikan predikat pahlawan jika sudah meninggal dunia (itupun juga kalo diingat).

saya miris tiap kali membaca kisah pahlawan yang dilupakan atau dielu-elukan tapi gak diperhatikan kesejahteraannya. pantesan banyak orang yang enggan menjadi pahlawan, karena melihat kenyataan yang terjadi seperti itu, lebih baik menjadi orang biasa namun bermanfaat untuk banyak orang, lebih baik menjadi pahlawan untuk diri sendiri dan keluarga meski gak terkenal di khalayak.

cuma tergelitik sedikit…..meski ini cuma film tapi rata2 isi cerita suatu film diangkat atau terinspirasi dari dunia nyata, saat nonton Superman, Batman, film2 Hero lainnya pasti mereka punya masalah dengan kehidupan pribadi mereka sendiri misalnya percintaan atau persahabatan. bahwa menjadi pahlawan yang dibutuhkan setiap orang, hampir tidak punya waktu untuk diri sendiri dan orang2 tersayang, tidak punya kehidupan normal. bahkan Superman enggan menceritakan siapa dirinya kepada Lois Lane (film versi jadul) karena Superman takut menyakiti Lois dsb, trus juga Batman sewaktu Robin mau gabung ma dia (versi Batman n Robin), Batman ngingetin Robin kalo jadi pahlawan itu gak gampang dan harus ngorbanin segalanya termasuk menyembunyikan identitas asli.

Meski itu cuma film, tapi saya rasa itu masuk akal, kalo mau jadi pahlawan jangan asal mengharapkan imbalan, ingin terkenal, ingin dipuji, dll, banyak resiko yang harus dihadapi dan kita harus berpikir apakah kita mau mengambil resiko tersebut? Hidup memang penuh resiko tapi bukan berarti menjadi pahlawan menjadi satu-satunya jalan mencapai kesuksesan atau memenuhi mimpi. Apalagi jaman sekarang ini, gak usah jadi pahlawan yang melakukan hal2 baik, benar, terpuji dan mulia, jadi orang biasa aja sudah luar biasa banyak pengorbanannya. Saya gak mengecam pahlawan seperti yang dituliskan di artikel ini, tapi hanya mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa seperti pak Frederick tapi saya yakin setiap orang bisa melakukan hal terpuji lainnya meski hanya hal sederhana. Karena saya juga yakin, menjadi pahlawan itu ada prosesnya (pengorbanan dll) dan kadang orang2 melupakan proses, yang kadang2, harus dimulai dari angka nol.

Saya rasa harus ada definisi yang jelas tentang pahlawan itu sendiri. Apalagi di negara kita, jasa orang2 yang sudah mengharumkan bangsa belum dihargai dan diperhatikan kesejahteraannya. Saya mendukung usaha untuk menghargai jasa pahlawan, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya🙂

*Termasuk juga menghargai jasa Ongku-ongku (kakek) saya yang ikut berjuang merebut kemerdekaan RI di mana pusara Ongku dari pihak Ibu belum ditemukan dan pusara Ongku dari pihak Bapak ada di kampung sana, mereka dikubur sebagai orang biasa, tapi yang pasti apa yang telah mereka lakukan juga perbuatan mulia……

Yonna:
Cie..pertamax niy ye..

“Saya gak mengecam pahlawan seperti yang dituliskan di artikel ini, tapi hanya mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa seperti pak Frederick tapi saya yakin setiap orang bisa melakukan hal terpuji lainnya meski hanya hal sederhana.”

Sepakat! Seperti kata orang bijak: lakukanlah mulai dari sekarang, mulai dari hal kecil, dan mulai dari dirimu sendiri. Untuk saya sendiri, akan saya tambahkan satu lagi: lakukan itu dengan hatimu.

Contoh yang saya berikan di sini, yaitu Pak Frederick dll, hanya bermaksud untuk mengingatkan kita semua, bahwa ternyata di luar sana masih banyak orang yang telah rela berkorban dan berbuat satu demi sesamanya. Mereka hanya sebagian kecil dari contoh orang-orang yang ada. Saya yakin masih banyak orang-orang yang seperti Pak Frederick dll. Bahkan mungkin, tanpa kita sadari, orang-orang terdekat kita telah menjadi pahlawan bagi kita, dengan hal-hal kecil yang mereka lakukan.

Memang sangat penting untuk menghargai jasa para pahlawan, dan juga orang-orang lain yang telah berjasa bagi kita.

Weitzz … ikutan donk … hehe …

Memang gak kalah pentingnya menghargai jasa mereka yang juga disebut sebagai pahlawan. Kadang, aku mikir juga yah mba Anggie banyak juga loh di antara mantan-mantan atlet Indonesia yang hidupnya jadi serba kekurangan.

Padahal, mereka pernah membawa nama bangsa ini sehingga menjadi harum dan dikenal oleh dunia. Aku lupa nama atlet tinju yang waktu itu gak tau gimana karena udah tua dan dia juga udah pensiun dari dunia keatletannya, eh dia malah jadi pejual narkoba. Akhirnya, dia ketangkep dan masuk penjara deh … kan kasian juga.

Jangan sampe deh, atlet yang baru kemaren menangin segala macem pertandingan hidupnya nanti jadi sengsara, serasa ngga berbuat apa2 untuk negeri ini …

lagi jalan2..eh ketemu blog yang bagus ini.
.hmm..kayaknya susah ya..pada saat mereka mempersembahkan yang terbaik, mereka dielu-elukan dan diberikan penghargaan… tapi justru yang terjadi kemaren bunda dengar di berita, ada beberapa pahlawan kita yang terlantar setelah mendapatkan undangan 17-an di istana, ada pecatur cilik dari riau yg mendapatkan medali emas di singapura enggak di urusin koni..dicuekin sampe enggak bisa pulang ke riau..kasian…
.

bunda rie:

terima kasih udah mampir.

iya, bun..
bener2 memprihatinkan ya..
seperti habis manis sepah dibuang..

Hai terimakasih sebelumnya sudah mampir diblog saya http://panca.wordpress.com
saya sangat bersukur dikunjungi oleh teman yang hebat dan juga memiliki kepedulian terhadap pendidikan, apalagi kepada pendidikan dasar bagi kalangan yang punya keterbatasan untuk mengakses pendidikan.

Mudah-mudahan semesta mendukung perbuatan yang sedang kita lakukan ini.

Saat ini saya dan rekan-rekan yang memiliki pedulian pendidikan mengelola sekolah gratis non formal untuk para masyarakat putus sekolah dan masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan.

Alhamdulilah kegiatan yang kami jalani semenjak tahun 2003 masih bisa berjalan hingga sekarang. Semoga saya kita bisa saling bertukar pikiran dan selalu melakukan hal hal konstruktif untuk mengurangi angka putus sekolah dan mengurangi kemiskinan melalui jalur pendidikan publik. Amin.

———————
‘Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma,
setidak-tidaknya untuk tingkatan sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan
rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus
terbuka bagi semua orang dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara
yang sama, berdasarkan kepantasan’. (Pasal 26 ayat 1 Deklarasi Universal Hak
Asasi Manusia)

lagi iseng nyari berita tentang makna Pahlawan, dan nyasar di blog ini. saya setuju banget dengan uraian tentang pahlawan yang disampaikan.

cuma pengen kasih masukan aja, kayaknya tgl 28 oktober bukan hari pahlawan deh, tapi hari sumpah pemuda. Nah kalo 10 november baru bener deh hari pahlawan, itu juga kalo kalender indonesia saya belum berubah ya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: