Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Apakah Kita Sedang Tertidur Lagi?

Posted on: July 16, 2008

20 Mei seratus tahun yang lalu, sejumlah mahasiswa kedokteran STOVIA memprakarsai berdirinya Budi Utomo dan menjadi momentum penting bagi kemunculan berbagai organisasi dan partai politik yang menyuarakan pentingnya persatuan dan keinginan untuk merdeka setelahnya.

Seratus tahun telah kita lewati setelahnya, dan tak kurang dari enam Presiden dan belasan kabinet sudah kita miliki. Berbagai pencapaian penting telah kita raih, seperti kemerdekaan Republik Indonesia, pengokohan kedaulatan, pengembalian beberapa wilayah oleh penjajah Belanda dan Portugal, hingga tumbangnya rezim Soeharto yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

Kenyataannya, masih banyak rakyat yang belum terpuaskan dan berbagai masalah kerap menghantam Indonesia setelahnya. Mulai dari gerakan separatisme di Aceh, Maluku, dan Irian, tragedi G30S/PKI, kerusuhan Mei 1998, praktek korupsi yang semakin merajalela, bencana alam, semakin tak tercukupinya harga kebutuhan barang pokok sampai BBM, hingga kerusakan moral beberapa orang pemimpin kita. Mengerikan, apakah kita sedang tertidur lagi?

Claus Offe, seorang ekonom asal Jerman, mengutip teori A. O. Hirschman, the tunnel effect, dalam salah satu tulisannya yang dimuat di jurnal Social Research tahun 1991. Analogi yang diberikan oleh teori ini adalah kemacetan luar biasa yang terjadi di dalam sebuah terowongan satu arah yang memiliki dua jalur. Jalur kedua entah kenapa tiba-tiba menjadi lancar, pengemudi di jalur pertama yang kendaraannya sama sekali tidak bisa bergerak menatap iri ke pengemudi di jalur kedua. Rasa iri di sini inilah yang bisa kita kaitkan dengan politik kesabaran. Seberapa lama pengemudi di jalur pertama bisa bersabar sementara pengemudi jalur kedua dapat berkendara dengan lancar?

Pertanyaannya sekarang, berapa lama lagi rakyat Indonesia kuasa menahan perasaan marah karena hidupnya tidak mengalami perbaikan sementara bangsa-bangsa lain di sekitar kita, bahkan sesama negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan bahkan Vietnam terus menekan pedal gasnya dalam-dalam?

Kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada tumbangnya Soeharto sebenarnya mengindikasikan bangsa Indonesia sudah terbangun lagi dari tidur panjangnya, dan motornya kali ini lagi-lagi kalangan muda. Sayang, setelah bangun kita terlalu lama mengucek-ucek mata dan menggeliat dengan malasnya, bukannya langsung berdiri dan berjalan.

Salah siapa semua ini hingga kita tidak bangun, berdiri dan berjalan?

Banyak orang kerap menyalahkan pemerintah sebagai penyebab, misalnya, kesengsaraan ekonomi mereka. “Pemerintah itu suka korupsi,” begitu kata mereka.

Ya, kerusakan moral memang jawabannya. Mungkin hampir seluruh bangsa Indonesia telah rusak moralnya, dan parahnya banyak yang tidak menyadarinya. Misalnya saja, ada orang-orang tertentu yang tidak menyadari bahwa dengan membuka situs pertemanan, situs porno, maupun fasilitas chatting di jam kerjanya juga merupakan bentuk korupsi.

Ada juga yang memakai telepon kantor untuk menelepon temannya. Ada juga bendahara yang meminta penjual barang untuk memodifikasi bon demi seraup kecil rupiah. Tapi, di kala ada oknum pemerintah yang tiba-tiba tertangkap karena korupsi, mereka menjadi sangat vokal padahal mereka semua sama saja, pelaku korupsi. Hanya jumlah dan bentuknya yang membedakan mereka.

Koreksi diri mungkin merupakan hal yang sangat kecil, namun merupakan sebuah basis penting bagi perkembangan masyarakat. Anda perlu momentum untuk itu? Pada tanggal 20 Mei, silahkan ikut upacara hari kebangkitan nasional. Pandang sang merah putih dan katakan bahwa masih ada harapan untuknya karena Anda telah bangkit dan berjalan, karena Anda mau berubah.

Image was taken from here.

1 Response to "Apakah Kita Sedang Tertidur Lagi?"

Well, seperti yang Sherwin katakan dalam artikel di atas, kita memang lebih harus bisa mengoreksi diri. Korupsi memang bukan hanya dalam bentuk menyelundupkan uang yang pada zaman ini kerap kali dilakukan oleh para pemerintah.

Tapi, tanpa sadar kita juga pernah melakukan hal tersebut terhadap apa yang ada di depan mata kita. Ini benar terjadi. Saya ngga usah jauh-jauh nyari contoh. Di kantor saya pun hal ini ngga cuma satu atau dua orang yang melakukan hal yang tidak semestinya pada saat jam kerja.

Masya Allah deh !! Jangan pernah nyalahin orang, termasuk oknum yang dibilang suka korupsi lah, tapi kita sendiri ngga melihat kenyataannya pada mereka. Siapa tau itu cuma pikiran-pikiran negatif yang memang udah nge-cap mereka demikian. Tapi, lihat dulu seberapa buruknya diri kita dalam hal-hal kecil yang kita lakukan, padahal itu juga termasuk yang dibilang sebagai tindak korupsi.

Cheers­čśë

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: