Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Manusia Bukan Objek Perdagangan

Posted on: July 10, 2008

Membaca sebuah berita tentang human trafficking di situs Deplu, saya teringat masa-masa saya sedang menulis skripsi pada tahun 2006. Pada waktu itu saya memilih untuk mengangkat tema “Perdagangan Wanita” karena keprihatinan saya dengan marak terjadinya perdagangan perempuan. Keadaan pada saat itu diperparah dengan tidak adanya suatu aturan hukum yang mengatur masalah perdagangan orang di Indonesia.

Namun, pada saat ini dengan telah disahkannya Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO), diharapkan penanganan terhadap terjadinya perdagangan orang akan semakin membaik.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Pengawasan dan Pemberantasan Perdagangan Orang di Amerika Serikat, setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 600.000 – 800.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional dan sampai saat ini masih terus berkembang. Sebagian dari orang-orang ini memang sengaja diselundupkan dengan tujuan memasok pasar perdagangan seks internasional dan buruh yang dilakukan melalui jaring kejahatan internasional (transnational crime) yang terorganisasi secara rapi baik melalui jalur negara perantara maupun langsung.

Sebagian besar korban perdagangan orang berasal dari masyarakat golongan ekonomi rendah dengan tingkat pendidikan yang juga rendah. Hal ini disebabkan karena dalam perdagangan orang para pelaku kerap menipu para korbannya. Mereka mengiming-imingi para korban dengan gaji yang tinggi, pekerjaan yang menyenangkan, atau pekerjaan di luar negeri. Namun pada akhirnya, para korban harus menerima kenyataan pahit dan justru menjadi korban dari suatu sindikat perdagangan wanita atau buruh.

Jika melihat sejarah ke belakang, perdagangan orang sebenarnya merupakan praktek kejahatan yang telah terjadi sejak lama di Indonesia. Pada jaman raja-raja Jawa, perempuan diperdagangkan untuk kebutuhan seks. Perempuan dianggap sebagai barang dagangan untuk memenuhi nafsu lelaki dan untuk menunjukkan adanya kekuasaan dan kemakmuran.

Kemudian pada masa penjajahan Belanda, hal ini menjadi lebih terorganisir dan berkembang pesat. Para perempuan digunakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Demikian pula pada masa pendudukan Jepang, komersialisasi seks terus terjadi. Selain memaksa para perempuan pribumi dan perempuan Belanda untuk menjadi pelacur, Jepang juga membawa banyak perempuan dari Singapura, Malaysia, dan Hong Kong ke Jawa untuk melayani para perwira tinggi Jepang.

Menyedihkan, bahkan sampai saat ini jumlah perdagangan orang yang terjadi di Indonesia terus berkembang sehingga menempatkan Indonesia pada peringkat terendah dalam upaya penanggulangan perdagangan orang.

Kenyataan ini tentunya sangat memprihatinkan mengingat manusia sesungguhnya bukan merupakan komoditi perdagangan. Sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia seharusnya manusia saling menjaga harkat dan martabat sesamanya. Bukan malah merendahkannya.

Suatu kenyataan yang tidak menyenangkan bahwa ternyata Indonesia merupakan daerah rawan terjadinya perdagangan orang. Indonesia bukan hanya negara asal perdagangan orang namun juga telah menjadi negara tujuan dan negara transit. Hal ini dikarenakan oleh letak Indonesia yang strategis.

Dalam prakteknya, pelaku perdagangan orang melibatkan banyak pihak, termasuk aparat pemerintahan dan keluarga korban sendiri. Seperti yang telah diuraikan di atas, adanya desakan ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah merupakan faktor utama terjadinya perdagangan orang. Hal ini yang mengakibatkan beberapa orang tega untuk menjual anggota keluarganya sendiri.

Yang paling menderita dengan terjadinya perdagangan orang adalah para korban itu sendiri. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi para korban perdagangan orang mendapatkan perhatian khusus. Hal ini diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka karena kebanyakan dari mereka mengalami perlakuan tidak menyenangkan dalam bentuk eksploitasi seksual maupun fisik.

Terhadap para korban ini, selain diperlukan rehabilitasi dari segi mental juga perlu diberikan berbagai pendidikan dan keterampilan. Tidak lain sebagai upaya untuk menyiapkan mereka untuk kembali ke masyarakat dan dapat bertahan hidup.

Selanjutnya, terhadap para pelaku perdagangan orang, di dalam UU PTPPO telah diatur mengenai mekanisme penjatuhan sanksi pidana penjara dan denda. UU PTPPO ini bagi banyak orang memang diharapkan dapat menjadi angin segar untuk menekan terjadinya perdagangan orang.

Picture is from here.

4 Responses to "Manusia Bukan Objek Perdagangan"

mungkin, yang juga lebih penting direhabilitasi dari segi mental dan pendidikannya adalah masyarakat kita sendiri. masyarakat kebanyakan yang seringkali menuntut agar sejumlah orang luar yang mereka anggap sebagai ” bertindak di luar kewajaran” bisa bertahan hidup dalam “sistem” yang dijalankan.

pada praktiknya, proses integrasi sosial kerap mandek gara-gara struktur masyarakat yang tidak pernah tersentuh proyek rehabilitasi.

Hai mba Anggie …🙂

Miris banget memang tentang perdagangan manusia yang masih saja ada di bumi ini. Terutama, prostitusi. Terlalu sulit untuk mengentas masalah tersebut. Karena lagi-lagi tingkat kesadaran masyarakat dan mereka sendiri yang dipertanyakan keberadaannya.

Karena kebutuhan ekonomi yang semakin lama semakin besar, seiring bertambahnya penduduk akan semakin bertambah juga kebutuhan sosial dan material mereka. Jadi, mereka (terutama perempuan) yang diperdagangkan atau memperdagangkan dirinya terpaksa bekerja dengan cara tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Selain menurut mereka di zaman seperti sekarang ini kebanyakan dari mereka memang tingkat pendidikannya rendah, jadi sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang pantas sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka punya.

Lain halnya jika memang mereka yang ingin berada di dalam pekerjaan yang hina tersebut sebagai pemrakarsa perdagangan perempuan atau manusia. Mereka memang pantas disebut binatang ketimbang manusia !!

Karena mereka lebih tidak memiliki nurani sebagai manusia. Malu sama binatang. Mereka memang hidup dengan liar, tetapi mereka tidak menjual anak-anaknya.

Hmmm……bisnis harus memperhatikan etika, moral, kemanusiaan, agama. Manusia jadi lahan bisnis? Tuh TKI/TKW terutama melihat berita mengerikan tentang nasib TKW gue merasa kadang2 TKI/TKW sebagai korban human trafficking juga, meski sebenarnya sah dan legal karena dinaungi Depnaker. Cuma perlindungan hukum untuk mereka mana? Giliran udah parah baru deh pada kelabakan. Seandainya para TKI/TKW tahu betul apa saja hak dan kewajibannya di muka hukum, mgkn gak bakal terjadi hal2 mengerikan selama ini.

Ah gak usah lah TKI/TKW, bahkan pengusaha, bisnisman yang notabene-nya intelek semua, tapi sangat lemah kesadaran hukumnya. Giliran kena masalah hukum baru kalang kabut.

Semakin hari gue semakin yakin kalo Jakarta dan Indonesia gak cuma butuh revolusi budaya, tapi juga sangat perlu revolusi penegakan hukum.

mbak anggie kebetulan saya juga lagi buat skripsi tentang perlindungan saksi dan korban perdagangan orang, referensi buku apa aja yang dipake ya mbak..
thanks ya mbak smoga trafficking di indonesia makin berkurang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: