Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Jakarta MEMANG Butuh Revolusi Budaya

Posted on: April 29, 2008

Jakarta MEMANG butuh revolusi budaya. Saya tertarik bergabung ajakan Kang Tasa dan anak-anak muda di Washington DC ini karena misi dan visi organisasi yang 110% kebetulan klop dengan cita-cita yang selama ini saya dambakan, meski umur sudah tidak 19-25 tahun lagi. Satu dekade lalu, ketika krisis ekonomi menghantam negeri kita, yang kelimpungan ternyata bukan hanya ekonomi, tetapi juga politik, sosial, budaya dan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat mana yang tidak tepat. Bangsa Indonesia seperti abis kena diare berkepanjangan, lalu dehidrasi dan pikirannya banyak yang terganggu. Tidak kurang kita saksikan berbagai konflik terjadi karena hal yang sangat sepele. Sisi positifnya ada juga, masyarakat menikmati banyak sekali acara dagelan yang ditampilkan oleh para politikus, pengamat, pejabat pemerintah, dan public figure lainnya, di berbagai media massa.

Ketika itu, saya membantu WANGO (World Association of NGO) menyelenggarakan workshop nasional mengenai “universal values” yaitu nilai-nilai luhur yang dianut oleh berbagai kelompok masyarakat di dunia dengan latar belakang ras, agama, nasionalisme, atau bahasa yang berbeda. Contohnya, nilai luhur semangat kepahlawanan — seluruh lapisan masyarakat dunia menjunjung tinggi nilai itu. Workshop dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang mewakili organisasi keagamaan, masyarakat, budaya, politik, dan komunitas pendidik. Melalui diskusi dan presentasi, para toma dan toga menyatakan kekhawatirannya akan keadaan yang sedang terjadi yang akan menggerus nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Apa itu nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Jawabannya ada di kepala setiap orang. Tokoh Orba tentu memberi jawaban nilai-nilai P4 yang berderet sampai puluhan itu. Tokoh agama mungkin akan memberi daftar nilai dari kitab sucinya masing-masing. Tokoh aliran kepercayaan mungkin akan mengingatkan agar selalu eling dan waspada. Para pendidik akan mengacu pada pengalaman, pengetahuan, keyakinan dan pemahamannya sendiri-sendiri. Mengingat dahsyatnya perubahan sosial yang sedang terjadi, serta beragamannya nilai-nilai luhur, maka berbagai inisiatif di Departemen Pendidikan Nasional muncul ke permukaan. Ada kelompok kajian Pendidikan Budi Pekerti, ada kelompok kerja perumusan kembali Pendidikan Moral Pancasila atau Pendidikan Kewargaan Negara, ada Perumusan Iptek dan Imtaq. Bukan hanya pemerintah yang melakukan inisiatif ini, Kadin dan beberapa organisasi masyarakat pun melakukan kegiatan serupa.

Saya sendiri memulai seri Workshop Pembangunan Karakter Bangsa di 10 SMP yang tersebar di beberapa propinsi, melanjutkan workshop nasional yang sudah dilakukan dengan format yang serupa. Workshop Pembangunan Karakter Bangsa di daerah diikuti oleh Komite Sekolah (masyarakat yang peduli dengan pendidikan) dan guru. Workshop mengidentifikasi nilai-nilai luhur yang paling penting yang akan menjadi mandat masyarakat kepada sekolah untuk mencoba menanamkannya. Pendekatannya betul-betul “bottom-up,” semua masukan welcome. Pada awal workshop sudah disampaikan agar hadirin melupakan sejenak nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para akhli di Jakarta melalui Pendidikan Pancasila atau lainnya. Pada saat reformasi itu Departemen Pendidikan Nasional baru saja pensiun dari peran “Ministry of Truth” yang telah dipikulnya selama 5 dekade lebih. Hasilnya ternyata sangat membanggakan. Nilai-nilai luhur budi pekerti yang menjadi mandat masyarakat agar ditanamkan oleh sekolah kepada putra-putrinya tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini telah dirumuskan, seperti kejujuran, keberanian, toleransi dan menghargai sesama, disiplin, keimanan, kebersihan, kerja keras, kebangsaan, dan lain-lainnya.

Daftar nilai-nilai itu sudah berserakan di berbagai buku yang mengulas mengenai budi pekerti. Ambil saja salah satu, kita akan mendapatkannya. Yang terpenting itu justru pelaksanaannya, integritas pribadi sebagai perwujudan kejujuran – “do what you said, and say what you meant.” Selama ini kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri. Di tembok sekolah tidak jarang kita saksikan slogan “kebersihan itu sebagian dari iman” tetapi sampah di mana-mana. 99% WC sekolah negeri jorok abis. Guru-guru pun tidak berkomentar apa-apa. Di sekolah belajar biologi, tetapi pot-pot tanaman di depan kelas pada kering kerontang, sebagian dijadikan asbak oleh guru-guru. Guru Matematika dan IPA mengajarkan kejujuran alam, kalau 2 kali 2 itu empat, tetapi masuk kelas sering terlambat, dan siswa mencontek dibiarkan. Berbagai paradoks ini kita alami di sekolah, di tempat pembudayaan manusia Indonesia. Oleh karena itu, mandat masyarakat ini harus menjadi acuan wajib bagi seluruh pendidik, guru dan kepala sekolah, dalam melakukan tugasnya sehari-hari. Maka dalam workshop itu dirumuskanlah cara mengimplementasikan penanaman nilai-nilai luhur ini. Ternyata tidak mudah. Sekolah harus mengurutkan prioritas mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting. Setelah diurut, maka nilai luhur yang paling penting dijadikan budaya sekolah atau “corporate culture.” Sekolah yang mengadopsi “disiplin” sebagai corporate culture menerapkan sistem poin, misalnya, siswa terlambat 5 menit dapat 5 poin, buang sampah sembarangan 10 poin, dsb. Akumulasi poin sampai jumlah tertentu akan menjadi hukuman berat, seperti drop-out. Sekolah yang mengadopsi “kebersihan” sebagai corporate culture, nampak lingkungannya sangat bersih dan asri, agak mirip-mirip sekolah jepang, sepatu dibuka, lantainya mengkilat kinclong, WC-nya mirip restroom hotel, bikin betah berlama-lama di sana. Sungguh mengesankan. Jika saja gerakan seperti ini dapat dilakukan secara istiqomah di lebih dari 200.000 sekolah di tanah air, maka kita akan menyambut generasi mendatang dengan sumringah.

Jakarta MEMANG butuh revolusi budaya. Sudah saatnya masyarakat “engage” dalam kegiatan pendidikan anak-anaknya di sekolah untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Sudah saatnya Indonesia mempunyai masyarakat madani yang peduli dengan pembangunan watak dan karakter anak bangsa. Kita dapat memanfaatkan lembaga Komite Sekolah di lingkungan masing-masing atau terlibat dalam kegiatan Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota. Kenaggotaannya terbuka dan sifatnya sukarela. Di Amerika, mereka dipilih langsung oleh masyarakat. Mereka bekerja tanpa gaji tetapi pengaruhnya sangat besar, bisa memecat kepala dinas atau kepala sekolah jika aspirasi masyarakat tidak dilaksanakan. Apakah kita sudah mengarah ke sana?

Picture was taken from here.

14 Responses to "Jakarta MEMANG Butuh Revolusi Budaya"

Halo Pak Iskandar, salam kenal dari saya, Yonna🙂

Sama Pak, saya juga tertarik gabung karena misi dan visi JBRB yang mengena di hati dan seolah-olah serasa ketemu “jodoh” karena sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta yang mengalami pasang surut hidup di Jakarta pasti merasa klop dengan JBRB.

Kebetulan beberapa waktu lalu, saya mampir ke SD Selong untuk bertemu teman-teman sekalian bertemu lagi di Udi setelah hampir 3 taun kita gak ketemu. Saya melihat Rusdi dan teman-teman yang lain mengajarkan bimbel, materi berburu dan bahasa Inggris. Kebetulan di sela-sela kesibukan Rusdi mengajar kelas Inggris, kita membahas tentang kurangnya kemampuan berbahasa Inggris anak SD Selong, kata Rusdi bahkan mereka tidak tahu arti kata seragam dalam bahasa Inggris dan saya menimpali dengan anggukan prihatin dan mengatakan bahwa belajar bahasa Inggris memang harus dari kecil karena kalau tidak, maka kasihan mereka akan kesulitan belajar setelah dewasa nanti. Tapi sejauh ini, usaha dan dedikasi tim JBRB sudah maksimal, saya salut melihat teman-teman dan bila dibandingkan saya sendiri yang cuma menjadi pengamat (baca : penonton).

Kemudian mengenai Jakarta Memang Butuh Revolusi Budaya, kalau melihat kenyataan rasanya pesimis, skeptis dan apatis deh. Yah hanya kegelisahan dalam hati sih, toh semua perlu proses dan supaya proses berjalan lancar harus ada kemauan, keberanian, niat dan dukungan ya?! Jakarta mengalami krisis multidimensi.

Terima kasih…..artikel yang sangat bagus🙂

Super Keren deh Pak artikelnya, benar-benar seorang penulis FANTASISTA. Setiap membaca tulisan Bapak seperti ada rasa penasaran terhadap tulisan-tulisan berikutnya dari Bapak. Ditunggu yah pak tulisan-tulisan berikutnya.

hm, tapi saya agak keberatan loh dengan gaya corporate culture, mungkin bisa ngobrol2x di lain waktu?

Setuju ma yonna, tapi berat ‘bu. Artikel ini mungkin lebih membicarakan generasi yang akan datang, dan itu baik dan memang tanggung jawab kita semua. Tapi generasi yang saat ini bagaimana? Jangan lupa generasi yang saat inilah (kita-kita nih.) yang mengalami transisi drastis dari era Orde Reformasi ke Orde Reformasi, belum lagi tragedi Mei 1998, bom Bali dan Jakarta, 9/11, dan lain sebagainya. Generasi kita ini trauma, bukannya tidak cerdas atau tidak peduli. Tapi trauma.

Kualitas mungkin ada di JBRB, dan JBRB-JRB lainnya di negara ini, tapi kuantitas, task force, strategic force dan human powernya ada di dunia yang pesimis, skeptis, dan apatis itu. Bukan ngga mungkin JBRB dan segala visinya meraup ribuan massa dari generasi baru di Indonesia, tapi political approachnya gimana dulu.

Saya pribadi mendukung JBRB to the bones, tapi untuk menjembatani dua dunia itu tidak selalu mudah untuk dilakukan. Masih ada krisis kepercayaan.

Komentar mas aul betul, saya ganti deh istilahnya “corporate culture” menjadi “academic culture.” how is that? Academic culture nampaknya lebih cocok untuk lingkungan sosial budaya sekolah. Ada senses of logic termuat di sana.

wah… seneng bisa nemu blog ini
tulisan manteb dari blog yg asik
…pembangunan watak dan karakter anak bangsa…
walau agak keberatan juga ama istilah “corporate culture”, kok terdengar sangat kapitalis, hehe😛
uhm… revolusi ya, bukan hanya reformasi?

btw ttg komite sekolah, di jogja berhasil mengusut korupsi si kepala sekolahnya

well, JBRB emang keren banget. IBRB kali ya.. hehe.. Indonesia butuh revolusi budaya.. hehe.. anyway, opini dikit sih.. hehe.. artikel ttg teknologi blum ada ya? hehe.. teknologi itu bagian dari budaya lho..

senang baca2 disini. salam kenal semuanya.

michaeljubel.

Michael Jubel:

IBRB sudah dalam perbincangan…untuk skrng JBRB dulu karena keterbatasan yg ada hehe🙂

salam.
wah, setuju-setuju. pendidikan karakter yang positif. ” do what you said, and say what you mean” memang sederhana, tapi jika diaplikasikan akan menjadi sebuah energi karakter yang hebat. jujur saja, saya sendiri masih belajar untuk mengatakan apa yang saya inginkan, dan mengatakan apa yang saya maksud. tapi terkadang, saya suka salah dalam membahasakan keinginan saya sehingga ditafsirkan berbeda oleh orang lain apalagi orang itu punya budaya yang lain juga.
yang jelas, tulisannya cukup bagus. saya senang akan konten dari tulisannya yang “bergigi’.
salam dari ahmad, the voice from the desert.

Weewww … keren banget nih pak artikelnya …😉

Setuju banget dengan usulan atas apa yang terjadi terutama di lingkungan pendidikan di Indonesia ini. Memang sudah saatnya “masyarakat “engage” dalam kegiatan pendidikan”, karena dengan hal tersebut kualitas dan kuanitas pendidikan di Indonesia dapat ditingkatkan.

Memang ngga mudah, tetapi ngga ada salahnya untuk memulai sesuatu demi perwujudan situsi ke arah masa depan yang lebih baik.

Salam kenal Pak, saya Izmi.😉

Eh, tulisan kuantitasnya kurang satu huruf tuh, hehe …

Maaf, cuma mau meluruskan satu kata ajah. Takut artinya jadi beda, kan lebih ngga enak.

salam.
pak iskandar, salam kenal dari ahmad, tki saudi arabia.
saya pikir, budaya positive itu ada pada segelintir orang saja, sehingga sebagian besar belum berbudaya positive. misalnya saja, orang care sama kebersihan, tapi upaya kebersihan yang dilakukan sekelompok kecil tidak dihargai oleh kelompok lain yang tak punya kesadaran lingkungan. maka tak heran jika di indonesia saya melihat, orang membuang puntung rokok dimana saja tanpa ada rasa bersalah. saya pikir teman-teman juga mudah sekali mendapatkan pemandangan seperti itu di negeri kita.
maka, pada titik ini moment revolusi budaya nampaknya bukan saja harus di jakarta, tapi juga di seluruh indonesia, biar serempak dan simultan.
konsep thaharah dalam islam semestinya juga tidak terbelenggu dalam wudhu saja tapi juga harus menyangkut konsep thaharah lebih luas kedalam kehidupan real di masyarakat. hal inilah yang perlu ditekankan dalam ranah keagamaan. jadi, berislam itu harus equal dengan revolusi budaya itu tadi.
saya pikir itu saja.
thanks and let us keep moving together.
ahmad

Mas Ahmad:

Benar sekali, momen revolusi budaya harus dilakukan secara simultan di seluruh Indonesia. Kami sedang bergerak menuju IBRB. Semoga kita berhasil menggunakan Jakarta sebagai starting point-nya.

Saya pribadi sangat setuju dengan konsep thaharah yang semestinya sangat luas dan menyeluruh.

Kami mohon dukungannya dari seberang, tolong sampaikan cita-cita ini pada semua saudara-saudara setanah air. Dan kalau memungkinkan juga bisa memberi donasi untuk membiayai kegiatan kami di Jakarta dan sekitarnya. Semoga ini semua diberkahi Allah SWT untuk kebaikan kita bersama.

Salam Revolusi Budaya!

Perubahan budaya dimana pun memang butuh dukungan luas dan usaha keras ya. Dan suara-suara pesimis, skeptis, dan apatis itu pasti ada di tiap pergerakan menuju perubahan. Saya setuju dengan jargon “Do what u said, and say what u mean”, walau sampai sekarang masih terus belajar mengimplementasikannya. Memang kita harus bangun dari angan-angan dan bergerak untuk mewujudkannya.

Hmmm… jadi teringat sebuah artikel yang saya baca beberapa waktu lalu tentang perjuangan seorang Kepala SMAN 10 Malang yang berhasil mengubah budaya suatu sekolah yang tadinya tak dipandang orang kemudian sekarang menjadi suatu sekolah favorit di wilayahnya. Berawal dari bagian yang tidak terperhatikan yaitu toilet yang jorok dan bau. Butuh waktu dan perjuangan bagi Kepala Sekolah tersebut untuk menularkan kebiasaan bersih pada seluruh penghuni sekolah itu, sampai-sampai beliau turun tangan sendiri memantau dan membersihkan toilet-toilet tersebut. Namun apa yang ditanamnya telah berbuah. Saat ini sekolah tersebut bahkan meraih penghargaan di bidang kebersihan. Prestasi itupun menular juga pada aspek-aspek lainnya, termasuk mutu pendidikannya.

Hanya berbagi cerita, dan semoga semangat itu menular pada kita semua.
Selamat beraksi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: