Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Pengembangan Perbukuan

Posted on: April 13, 2008

Krisis perbukuan seperti yang terjadi di tanah air hampir tidak pernah terdengar di persekolahan Amerika. Siswa-siswa sangat dimanjakan oleh sistem perbukuan Amerika. Buku-buku teks, buku pendukung, buku pengayaan, dan referensi, semuanya tersedia di perpustakaan sekolah. Setiap siswa mendapat pinjaman buku teks untuk setiap mata pelajaran. Siswa juga dapat meminjam buku apa saja sesuai dengan minatnya, melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan masyarakat, atau fasilitas peminjaman antar perpustakaan. Setiap siswa diharapkan memelihara buku teks dengan baik. Setelah naik kelas, buku teks dikembalikan ke sekolah untuk digunakan kembali oleh adik kelasnya. Begitulah seterusnya. Sekolah, distrik, atau negara bagian baru akan memperbaharui dan mengganti buku teks di sekolah setiap enam tahun sekali.

Musim pengadaan buku teks dimulai pada bulan April. Ada dua proses pengadaan buku teks di AS; adopsi formal buku teks dan pasar bebas. Yang diincar oleh penerbit adalah proses adopsi formal buku teks yang berlaku di 22 negara bagian, terutama Texas, California, dan Florida. Di kelompok negara bagian ini, buku teks yang akan digunakan oleh sekolah terlebih dahulu diuji kualitasnya oleh tim evaluasi yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian. Hanya buku-buku yang telah lulus evaluasi yang akhirnya akan dibeli oleh pemerintah negara bagian. ”The Big Three” negara bagian Texas, California, dan Florida senantiasa selalu menjadi perhatian utama para penerbit. Ke tiga negara bagian ini mempunyai populasi siswa SD-SMA sekitar 13 juta, sedang 19 negara bagian lainnya hanya 12,7 juta siswa. Meskipun jumlah siswa di ketiga negara bagian ini berbeda-beda; California lebih dari 6 juta siswa, Texas lebih 4 juta siswa, dan Florida sekitar 3 juta siswa, tetapi anggaran pengadaan buku teks mereka hampir sama. Pada tahun anggaran 2003/04, sebagai contoh, ke tiga negara bagian ini membelanjakan $900 juta untuk bahan instruksional termasuk buku teks. Meski unit cost berbeda untuk pembelian barang yang hampir sama, masyarakat tidak ribut karena lelang dilaksanakan secara fair, kompetitif, dan terbuka, dan dilaksanakan oleh sebuah unit khusus pengadaan yang sangat profesional.

Pengadaan buku teks di 28 negara bagian lainnya, seperti New York, Pensylvania, dan Ohio dilakukan melalui mekanisme pasar bebas. Sekolah atau distrik bebas memilih buku yang paling sesuai dengan Guidelines yang dikeluarkan oleh negara bagian. Meski populasi siswa SD-SMA di negara bagian tersebut sangat besar, penerbit tidak terlalu kuatir dalam memasarkan buku-bukunya. Logika bisnis penerbit umumnya akan berupaya masuk ke dalam daftar adopsi di negara-negara bagian dengan sistem adopsi formal buku teks untuk menutup biaya disain dan pengembangan yang tinggi, lalu menarik untung di negara-negara bagian yang menganut mekanisme pasar bebas. Oleh karena itu, persaingan agar masuk daftar adopsi di negara bagian, terutama ”The Big Tree,” menjadi sangat kritis, bahkan seringkali menentukan hidup matinya bisnis mereka.

Seluruh penerbit berupaya masuk dalam daftar buku yang diadopsi dengan berbagai cara, termasuk membeli perusahaan saingan. Dalam bisnis dengan turn-over milyaran dollar ini, penerbit gurem akhirnya harus mengalah dan membiarkan perusahaannya ditelan dan menjadi bagian dari konglomerasi penerbit raksasa yang menguasai seluruh bisnis buku teks dan bahan pelajaran di Amerika. Penerbitan buku teks di Amerika saat ini hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan raksasa, yaitu Pearson, perusahaan Inggris; Vivendi Universal, perusahaan Perancis; Reed Elsevier, perusahaan patungan Inggris dan Belanda; dan McGraw-Hill, perusahaan konglomerasi Amerika. Penerbit gurem atau setengah gurem akhirnya hanya melakukan sub-kontrak (maklun) pekerjaan pengembangan atau penulisan dari penerbit-penerbit raksasa.

Proses penulisan buku teks di Amerika nampaknya telah berevolusi menjadi sebuah proses industri dari pada sebuah proses pedagogi. Penulisan buku teks di sebagian besar penerbit Indonesia juga sudah mengikuti ”trend” yang tidak menggembirakan ini. Penulisan buku terdiri dari kegiatan mengumpulkan bahan, mengidentifikasi topik, menulis, mengedit, sampai pada tahap finalisasi setelah mendengar berbagai umpan balik (edit final), dilakukan oleh para ”pekerja” yang berbeda dan waktu yang berlainan. Seringkali satu sama lain tidak mengenal atau berkomunikasi dengan baik. Hanya seorang editor yang mengelola aliran pekerjaan penulisan buku itu semua. Topik-topik diidentifikasi dari referensi buku-buku teks yang pernah terbit sebelumnya, lalu diramu sehingga menjadi sangat komprehensif. Editor memutuskan topik-topik atau outline buku teks yang akan ditulis. Setelah puas dengan outline yang akan ditulis, editor menyewa beberapa “pekerja” penulis buku untuk mengembangkan outline dan menulis buku.

Dalam penulisan buku teks, Texas sering menjadi patokan utama. Meski hampir semua negara bagian mengeluarkan Guidelines, State Framework, Curriculum, atau Standar Kompetensi Ilmu Pengetahuan dan Keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa, tetapi aturan Texas yang dikenal dengan TEKS (Texas Essential Knowledge and Skills) paling banyak memberikan pengaruh. Hal ini karena Texas merupakan satu-satunya negara bagian yang mengatur pengadopsian buku teks TK sampai SMA secara lengkap. Negara bagian California mengatur pengadopsian buku teks hanya untuk TK sampai kelas 8. Standar kompetensi beberapa negara bagian memang nampak belum banyak berkembang secanggih Texas. Dokumen TEKS disusun oleh anggota Texas Board of Education yang terdiri dari para akhli kurikulum, guru, dan politikus yang umumnya berpandangan ”konservatif.”

Selain Texas, pengaruh standar pendidikan California yang mewakili pandangan ”liberal” tampak cukup kuat. Penulisan buku-buku teks akan selalu dihadapkan pada dua pandangan yang hampir berseberangan antara ”konservatif” atau ”tradisional” dan ”liberal.” Terlalu banyak ”teori evolusi,” buku teksnya akan ditolak oleh tim adopsi konservatif, sedang kalau lupa merepresentasikan semua kelompok etnik, ras dan jender, akan ditolak mentah-mentah oleh tim adopsi liberal.

Editor buku teks akan senantiasa selalu mengikuti perkembangan baru dalam dunia pendidikan. Seorang editor aktif mengikuti berbagai seminar, workshop, atau lokakarya pendidikan di universitas-universitas, lembaga pemerintah, atau lembaga-lembaga riset untuk mengikuti perkembangan hasil riset, jargon-jargon baru, dan kecenderungan-kecenderungan yang akan datang; seperti accelerated learning, active learning, dan sebagainya. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengidentifikasi nama-nama yang sedang ”naik daun” dalam dunia pendidikan yang mempunyai nilai jual pasar, untuk dicantumkan sebagai ”penulis” buku teks yang akan segera diterbitkan. Persis seperti yang terjadi di tanah air.

Penampilan buku teks siswa SD, SMP dan SMA sangat ”berbobot.” Terbuat dari kertas glossy yang tebal dengan kualitas printing yang bagus, penampilan buku teks siswa SD hampir sama dengan penampilan buku teks mahasiswa. Kalau dilihat perkembangannya dalam empat dekade ke belakang, ketebalan buku teks memang selalu meningkat seiring berjalannya waktu. Namun, bobot buku teks ternyata sudah mulai mengancam kesehatan siswa. Beberapa negara bagian seperti California, Tennessee, dan enam negara bagian lain sedang dalam proses legislasi untuk menentukan berat maksimum buku teks yang boleh diproduksi. Buku-buku teks untuk mata pelajaran pokok seperti matematika, sains, sejarah, dan membaca, semakin lama semakin tebal dan berat. Anak-anak SD, SMP dan SMA pergi ke sekolah dengan backpack yang berat layaknya regu pencinta alam yang ingin menaklukkan puncak Gunung Himalaya. Organisasi pediatrik dan chiropractic telah mengeluarkan rekomendasi, berat buku teks dan lainnya dalam backpack siswa agar tidak melebihi 20% dari berat badan siswa. Ke depan, buku teks harus lebih ringan, tahan lama, dengan kualitas printing yang sama atau lebih bagus. Tentu tidak mudah dan tidak murah. Beberapa sekolah telah mulai merintis penggunaan laptop sebagai pengganti buku teks, dan beberapa perpustakaan sudah merintis e-library dengan meminjamkan e-book, sebagai respon terhadap kesehatan dan meningkatnya volume informasi di abad ini.

Pelajaran Bagi Pengembangan Buku Teks di Indonesia

Sistem pengembangan buku teks di AS sudah semakin mengarah menjadi sebuah ”industri” perbukuan dengan margin yang tinggi. Jaminan mutu sepenuhnya diserahkan pada pilihan, kapasitas dan intelektual pasar. Indonesia sebaiknya tidak mengikuti kecenderungan ini. Pasar Indonesia nampaknya belum siap dan belum secanggih pasar AS. Tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Indonesia baru 6,8 tahun (SMP Kelas 1), dan tingkat pendapatan per kapita 1/40 warga AS, sangat rentan terhadap berbagai penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh segelintir perusahaan penerbit yang bermodal besar. Pemerintah harus tetap dapat berperan agar kualitas pedagogik dapat tetap terpelihara.

Satu pelajaran yang paling berharga, buku teks di AS tidak perlu diganti dengan berubahnya kebijakan dalam kurikulum pendidikan. Perubahan kebijaksanaan atau kurikulum hanya mengubah metode pembelajaran. Buku teks dapat mengambil posisi sebagai buku referensi sementara guru aktif memperkaya materi pembelajaran dari berbagai literatur yang sangat dini dan kontekstual. Kadang-kadang siswa disuruh menyimak artikel di koran atau di internet untuk memenuhi tujuan instruksional tertentu. Persepsi masyarakat di Indonesia, ”Ganti Menteri, Ganti Kurikulum, Ganti Buku” sebenarnya ulah penerbit untuk melanggengkan usahanya. Sayangnya, guru dan kepala sekolah ikut memberi dukungan terhadap penggantian buku teks itu. Sebagian karena iming-iming rabat 30% – 40% dari penerbit, jika guru dapat menjual bukunya langsung kepada siswa. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah dan DPR harus secara tegas melarang bagi penerbit atau pedagang buku untuk menjual langsung atau berhubungan dengan guru atau sekolah, karena ini praktek bisnis yang sangat berbahaya. Berdasar pengalaman penulis pribadi sebelumnya sebagai Wakil Komite Sekolah di SMPN 13 Jakarta dan Wakil Dewan Pendidikan Kabupaten Sukabumi, perilaku penerbit menawarkan rabat langsung kepada guru dan sekolah merupakan praktek bisnis yang sangat mewabah dan sangat menggoda. Kalau Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan bersikap pasif dan membiarkan praktek ”korupsi” terang-terangan dan kasat mata ini menjalar sampai ke sekolah dan kelas, maka sampai kapan pun sistem perbukuan di Indonesia tidak akan efektif.

Cara berikutnya untuk mengatasi pergantian buku ialah dengan sistem peminjaman. Awalnya sekolah perlu mengadakan satu siswa satu buku untuk setiap mata pelajaran. Selanjutnya, sekolah meminjamkan kepada siswa untuk satu tahun ajaran penuh. Tahun ajaran baru tidak menciptakan kegiatan orang tua membeli buku-buku baru karena sekolah menyediakan buku tahun lalu yang masih dapat dipakai. Sistem peminjaman juga menanamkan sifat tanggung jawab kepada siswa untuk memelihara dan menjaga barang pinjaman dengan baik.

Mata pelajaran di SD, SMP dan SMA di Indonesia sebaiknya juga dikelompokkan menjadi 4-6 mata pelajaran saja. Memang sungguh ironis, di satu pihak sekolah-sekolah di Indonesia masih kekurangan buu dan guru, tetapi di pihak lain, banyak rumpun-rumpun bidang studi yang dipecah menjadi beberapa mata pelajaran yang menuntut buku dan guru sesuai dengan bidang keahliannya. Sehingga ratio murid terhadap buku dan guru menjadi kurang efisien. Pelajaran IPA menjadi tiga mata pelajaran yang menuntut buku dan guru berbeda, demikian juga IPS. Padahal kalau dilihat dari substansi materi, rumpun pelajaran IPA di sekolah bukan ”rocket science” yang memerlukan buku dan guru dengan keahlian khusus. Penyederhanaan mata pelajaran juga akan memudahkan pemahaman materi dalan konteks kehidupan siswa sehari-hari, sehingga pendidikan yang didapat oleh siswa di sekolah menjadi lebih berarti.

Dalam pengadaan buku, sebaiknya tidak boleh ada ”monopoli kekuasaan” di tangan satu atau segelintir orang dalam membuat keputusan adopsi buku. Sistem adopsi buku teks untuk menjamin kualitas buku di AS dilakukan bervariasi, ada yang di tingkat negara bagian, tingkat distrik, atau tingkat sekolah. Sebenarnya sistem adopsi sangat tergantung dari efektivitas penyampaian akuntibilitas publik. Di tingkat sekolah, perlu ada panitia khusus yang diawasi oleh Komite Sekolah yang aktif dan punya integrasi. Demikian juga kalau pengadopsian dilakukan di tingkat kabupaten atau propinsi. Namun demikian, penentuan pengambilan keputusan pada tingkat sekolah untuk seluruh Indonesia tidak selamanya akan efektif. Sekolah-sekolah di desa yang terpencil sebaiknya dilakukan di tingkat kabupaten atau propinsi.

Langkah Depdiknas untuk mengembangan ”e-book” layak disambut dengan sangat baik. Mulai tahun 2007, Depdiknas telah mengembangkan jaringan elektronik ke seluruh sekolah di Indonesia. Lalu, Depdiknas membeli hak cipta (”copy right”) buku-buku teks untuk disajikan secara terbuka di website bagi siapa saja yang memerlukan. Siswa, guru atau sekolah tinggal mendownload dan mencetaknya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi siswa tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik karena tidak punya buku. Kendalanya hanya satu, sejauh mana siswa mempunyai akses internet dengan bandwith internet yang memadai agar dapat download buku teks tersebut.

7 Responses to "Pengembangan Perbukuan"

Hahaha lagi-lagi Depdiknas melakukan program tanpa perhitungan, ini dia kesalahan kita selalu mempunyai improvisasi-improvisasi berlebihan dalam pengembangan program untuk negara berkembang, saya MENOLAK dengan tegas program e-book saat ini. Bukan tanpa maksud, tetapi Depdiknas harus sadar berapa banyak jumlah sekolah yang isinya anak-anak yang jangankan mengenal internet, komputer saja barang langka bagi mereka. Dengan adanya program e-book ini depdiknas hanya memanjakan orang-orang pada level menegah ke atas dan ini sangat-sangat tidak adil. Sebagai pertimbangan, coba data jumlah pengguna internet pada murid atau mahasiswa, kebanyakan adalah kaum menengah keatas. Kalaupun kaum menengah ke bawah menggunakan internet itupun mereka menggunakan jasa warnet yang sekarang mahalnya ga ketulungan, tarif rata2 2000-5000 per jam. Padahal saat ini saja sudah berapa banyak anak-anak yang mengamen di jalan dengan alasan untuk biaya buku paket, blom lagi paksaan “pihak sekolah” terhadap biaya sana-sini.
Pengembangan ebook memang baik tapi alangkah baiknya jika pemerintah berusaha membetulkan jalan program2 yang sudah dibuat tanpa harus memajukan program2 baru. Selesaikan wajib belajar 9 tahun, salurkan BOS dengan baik, lakukan sertifikasi guru, hargai guru honorer dll.
Negara ini tidak pernah paham…selalu mencontoh…contoh dan contoh….coba “hidup” dalam masyarakat dan pahami kemuan dan apa yang mereka butuhkan. Indonesia bukan hanya milik kaum elite, kaum madani, tetapi Indonesia juga milik kaum miskin. Pahami kebutuhan tiap elemen masyarakat, karena hanya ini solusinya!!!

Tambahan, isi artikel sangat inspiratif dan layak diajukan sebagai acuan bagi penertiban peredaran buku di Indonesia. Terlebih saya setuju dengan saran penulis bahwa diperlukan penyederhanaan mata pelajaran. Terima Kasih Pak Iskandar untuk informasi-informasi dalam artikel ini.

Kenapa Anda bisa menolak program tersebut Bung Udiot? Bukankah itu berarti Depdiknas dan pemerintah berpikiran maju ke depan? Bukankah di jaman sekarang internet tidak lagi menjadi barang mewah dan bukankah sudah saatnya kondisi itu juga terjadi di dunia pendidikan Indonesia?

Kabar terakhir yang saya baca sih Depdiknas berniat meningkatkan penetrasi internet di seluruh sekolah di Indonesia. Saya kurang tahu detailnya, tapi kalau itu benar terjadi saya kira strategi e-book layak dicoba. Mungkin bisa jadi sebuah solusi untuk melawan “mafia” buku selama ini.

Strategi e-book memang terdengar sedikit menggelikan apabila kita melihat fasilitas sekolah-sekolah di Indonesia yang sebenarnya, tapi kalau Depdiknas tidak memiliki Visi yang luar biasa selamanya pendidikan kita tertinggal jauh dari negara lain.

Tapi bukan sebuah strategi yang mudah memang, Anda tentu tahu bahwa bahkan di kampus kita tercinta saja internet masih jadi barang mewah, hehe.

Hahaha oleh karena itu Bung GBM sebenarnya saya mendukung banget ide e-book di Indonesia, cuma bukankah lebih baik apabila program2 yang terdahulu diselesaikan dahulu, soalnya bukan rahasia umum klo anggaran pendidikan kita yah segitu-segitu aja, ya ga sih..hehehe mendingan persiapkan dulu fasilitas-fasilitas yang memudahkan akses terhadapa e-book karena klo tidak seperti yang anda bilang bung GBM di kampus kite yang mahal bayarannya aja masih kaya begitu aksesnya lemot-lemot ga cihuy, pas download udah keburu malay duluan hehehe

Ikutan nimbrung ah. Buat rekans, gimana kalau kita bantu agar mimpi pemerintah itu tercapai? Tidak mengapa e-book buat yang mampu. Buat yang belum mampu, mari kita galakan buku yang bukan e-book.
Daripada komentarin orang lain, mendingan yuk bantu sumbang buku ke ratna. kebetulan ratna juga lagi punya program menggalakan minat baca di sekolah pinggiran, yaitu di SMPN 2 Klari. Kasian loh adik-adik disana banyak yang belum bisa melanjutkan sekolah ke SMA karena lokasi sekolah yang jauh dan berat biaya transport nya padahal orangtua mereka kebanyakan petani yang kurang mampu menyekolahkan anaknya hingga tinggi.
Sebulan sekali ratna sumbang buku dan sebulan sekali pula ratna berdiskusi buku dengan pelajar disana. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa bermanfaat buat anak-anak ini. Ternyata mereka itu benar-benar haus membaca buku loh. Mereka senang mendapatkan buku-buku bacaan yang menarik. Pesertanya makin bulan makin banyak. Mudah-mudahan dengan cara ini ratna bisa membantu anak daerah lebih maju lagi. Seandainya ratna juga bisa menyentuh anak-anak di daerah pinggiran lainnya ….
Ratna juga kerap memberikan buku bacaan kepada anak jalanan. Entah nantinya mereka buang atau jual, tapi ratna yakin satu atau dua anak akan ada yang terpengaruh positif oleh buku yang dibacanya itu. Semoga.
Yuukk kita mulai memberi buku bacaan kepada anak jalanan. Daripada memberi mereka uang (yang juga sudah ada peraturan yang melarangnya namun tidak berfungsi), lebih baik kita memberi buku bacaan kepada mereka khan?? Syukur-syukur kita bisa berdiskusi dengan mereka.

Salam,
Ratna
student.women_motivation@yahoo.com

spektrum indonesia sebagaimana negara-negara berpenduduk besar lainnya memang sangat lebar, dari mulai penduduk yang masih telanjang sampai dengan para tycoon muda yang sangat fasih dengan digital gadget. strategi pembangunannya dengan demikian harus beragam untuk dapat menggapai seluruh lapisan. untuk yang masih tidur, mari kita bangunkan. untuk yang sudah bangun, mari kita ajak jalan. untuk yang baru bisa berjalan, mari kita ajak jogging ringan. untuk yang sudah lari, mari kita ajak sprint. kebijakan pemerataan memang sangat intristik dan romantik, akan tetapi apakah kita akan menunggu semuanya hidup pada frekwensi yang sama, baru melangkah maju lagi? inisiatif e-book tidak untuk semua, hanya bagi mereka yang punya akses internet. di daerah-daerah yang masih belum terjangkau internet, depdiknas mendorong dan mempersilahkan kepada calon enterpreneur untuk mencetak dan menggandakan tanpa perlu pusing ada tuntutan hak cipta, karena depdiknas sudah membeli hak ciptanya. lalu dipersilahkan menjual, bahkan membuka toko buku teks, dengan ketentuan margin profit yang tidak lebih 15%. saat ini buku teks sudah “over-rated.” harga jual jauh melebihi ongkos produksi. buku yang seharusnya tersedia murah menjadi sangat mahal. inisiatif e-book ini sebenarnya ingin menghapus “monopoli” perbukuan yang dilakukan oleh segelintir korporat.

Hi,

Setuju banget kalau buku, dan budaya membaca, itu penting untuk kemajuan each individual and the nation karena dia complementary with education. Tapi memang sayang melihat textbooks jadi ajang business and commercial, yang menguntungkan the few at the top at the cost of many at the bottom. Masih inget dulu SD, tiap tahun pasti beli buku baru.. dan buku lama pun dibuang karena tidak bisa lagi di pake my younger sister. Completely different from my next school where everyone’s book is provided by the school and is handed down throughout the years.

Sama dengan Ratna, my friends and I here ada initiative Buku Untuk Anak Bangsa buat kirim buku ke sekolah-sekolah di Indonesia. Kita kirim buku-buku berbahasa Inggris, yang kita get from second-hand books or donations from local community. Activities-nya bisa dilihat di website (http://bukuuntukanakbangsa.blogspot.com)

asti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: