Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Berinvestasi Melalui Membaca

Posted on: March 13, 2008

Benarkah bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak suka membaca? Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa menghabiskan waktu di perpustakaan adalah hal yang membosankan? Apakah Anda meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca? Membaca yang dimaksud di sini jelas bukan berarti membaca komik maupun novel romantis, melainkan buku yang kaya akan ilmu pengetahuan (contoh: buku akademis dan biografi) dan koran.

Sewaktu kecil, kita semua tentu tak asing dengan kalimat “buku adalah jendela dunia,” kita diajarkan bahwa manfaat dari membaca itu sangat besar. Sayangnya, kita seringkali lebih memberi porsi yang lebih besar bagi bacaan non-akademis daripada bacaan akademis. Kita tahan menyelesaikan membaca Harry Potter yang tebalnya lebih dari 500 halaman dalam 1-2 hari, sementara untuk membaca satu bab saja dari buku akademis kita bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu. Porsi yang jauh lebih besar juga kita berikan kepada kegiatan lain, seperti bermain playstation, yang tidak memberikan manfaat lain selain hiburan. Lantas apa hubungan antara membaca dengan berinvestasi?

Investasi dalam ilmu ekonomi memiliki arti suatu kegiatan menanamkan sejumlah uang ke perusahaan tertentu dengan ekspektasi keuntungan di masa depan. Kegiatan berinvestasi jelas dapat kita asosiasikan dengan kegiatan membaca. Menanam kita artikan sebagai menyerap, uang kita terjemahkan sebagai pengetahuan dari buku, dan perusahaan kita terjemahkan sebagai kepala kita.

Banyak sekali cerita menakjubkan tentang orang-orang yang menginvestasikan ilmu pengetahuan ke dalam kepalanya. Yang paling saya ingat dengan jelas adalah cerita seorang dealer koran yang tidak mengikuti jenjang pendidikan tinggi yang tampil acara Who Wants to be a Millionaire? Indonesia. Beliau dengan cerdasnya menjawab berbagai pertanyaan sulit yang diajukan oleh Tantowi Yahya hingga akhirnya dia menyerah beberapa level menjelang pertanyaan terakhir. Beliau bahkan mengetahui nama kapal yang dipergunakan oleh Charles Darwin sewaktu meneliti ke kepulauan Galapagos. Tantowi Yahya pun bertanya mengenai rahasia kehebatan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit itu. Jawabannya simpel saja, “Saya suka sekali membaca koran-koran yang ada di tempat saya.”

Apabila orang itu bisa meluangkan waktunya untuk berinvestasi ilmu pengetahuan, mengapa kita tidak? Berjuta alasan untuk tidak membaca buku-buku seperti itu rasanya gampang sekali disebutkan, mulai dari tidak adanya waktu sampai mahalnya biaya yang diperlukan.

Sekarang mari kita hitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca.

Mari kita asumsikan, satu buku komik terdiri dari 100 halaman dan untuk membaca per-halamannya kita membutuhkan 3-4 detik. Satu buku komik dapat kita lahap dalam waktu kurang lebih 30-40 menit. Kita asumsikan lagi, satu novel terdiri dari 250 halaman dan per-halamannya terdiri dari 30 baris. Kita membutuhkan satu detik untuk membaca satu baris. Sehingga, satu novel dapat kita lahap dalam waktu kurang lebih 125 menit. Sekarang kita asumsikan bahwa dalam seminggu seorang remaja putri dapat melahap tujuh komik dan tiga novel, sehingga ia menghabiskan sekitar enam jam per-minggu untuk membaca buku-buku non-akademik.

Sekarang kita asumsikan bahwa satu buku akademik terdiri dari 250 halaman, yang per-halamannya memuat 30 baris. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca setiap halamannya jelas lebih lama karena harus disertai usaha pemahaman yang mendalam. Separah-parahnya, seorang remaja putri yang sama mampu membaca satu halaman buku akademik selama dua menit. Praktis ia membutuhkan empat jam untuk membaca buku tersebut. Jika kita asumsikan bahwa enam jam di perhitungan pertama di atas adalah waktu yang bisa ia pergunakan untuk membaca dalam seminggu, jika ia mau mengurangi porsi novel dan komik yang dibacanya menjadi setengahnya saja, selambat-lambatnya kurang lebih dalam satu minggu ia bisa menyelesaikan buku akademis tersebut. Dalam sebulan ia bisa membaca empat buku akademis, dan 48 dalam setahun. Sungguh suatu jumlah yang lumayan, kendala yang tersisa hanyalah ketiadaan keinginan pribadi untuk membaca buku seperti itu. Memang perlu diakui bahwa tidak semua orang bisa seperti Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat ke-3 yang berkata:

I can’t live without books

Alasan yang juga lazim digunakan untuk menolak membaca adalah mahalnya harga suatu buku dan ketiadaan perpustakaan publik dalam jumlah yang memadai. Kita tentu tahu bahwa pemerintah dalam jangka waktu dekat tidak mampu mengurangi harga kertas, sehingga turunnya harga buku secara signifikan jelas tidak bisa diharapkan. Namun, kita tentu tahu bahwa ada perpustakaan di sekolah kita dan universitas kita. Selain itu, kita juga harus tahu bahwa Gramedia atau toko buku lainnya sebenarnya sudah menjelma menjadi perpustakaan publik. Opsi terbaik memang jelas tetap membeli buku itu. Beberapa dari kita bisa membeli baju, celana, aksesoris, atau sepatu baru setiap bulannya. Mengapa tidak menyisihkannya untuk membeli buku? Buku seharga 100 ribu tidaklah mahal, baju dengan harga yang sama bisa dibilang agak mahal.

Ada satu hal penting yang membedakan berinvestasi di perusahaan dan berinvestasi di kepala. Berinvestasi di perusahaan jelas memiliki resiko kerugian, sementara berinvestasi di kepala Anda jelas tidak memiliki resiko kerugian, bahkan menghasilkan keuntungan luar biasa bagi hidup Anda. Lantas, kenapa ragu lagi? Mari lebih giat membaca!

Gambar diambil dari sini.

12 Responses to "Berinvestasi Melalui Membaca"

Sayangnya hal itu benar. Bangsa Indonesia memang bukan bangsa yang gemar membaca. Sungguh disayangkan memang, tapi itu adalah sebuah fakta. Kalau menurut saya, pemerintah kurang peka untuk hal yang satu ini. Bisa dilihat dari minimnya fasilitas membaca di Jakarta dan Indonesia. Dibandingkan dengan negara maju dimana mereka memiliki perpustakaan publik dimana-mana masyarakat Indonesia selalu “dipaksa” untuk menimba ilmu tambahan dari toko buku.

saya pun terkadang bingung kenapa kok orang Indonesia pada males membaca ya. saya sih pribadi senang sekali membaca, dan ujung2nya saya harus memakai kacamata dengan minus yang terus bertambah karena terkadang tidak peduli ada tidaknya cahaya tetep pengen baca.

kalau lagi menggila, dari rumah sampai kampus naek bus dan kereta trus pegang buku, haha.

soal minimnya fasilitas membaca, bisa lihat salah satu postnya mas fatihsyuhud mungkin, beliau juga ditanya demikian oleh rekannya orang India yang mempertanyakan kurangnya fasilitas perpustakaan publik di Indonesia.

[…] Artikel ini juga bisa dibaca di website Jakarta Butuh Revolusi Budaya. […]

jangan lupakan kasus-kasus pembakaran buku dan penarikan buku yang sudah beredar oleh otoritas berwenang. sepertinya, rakyat kita memang diajarkan untuk memusuhi buku.

Saya kurang sepakat kalo dibilang orang Indonesia kurang suka membaca. Orangnya sih banyak yang suka…tapi sistemnya yang tidak mendukung. Sistem pendidikan Indonesia yang tidak diajarkan untuk membaca. Apresiasi terhadap pembaca kurang, perpus kumuh, ato malah buku di perpus ga bermutu. Itu contoh kecil…jadi lagi-lagi manusia menurut saya tidak bisa disalahkan…

salam,

pelanggan setia blog ini

jadi lucu ndiri baca kalimat ini:

“Kita tahan menyelesaikan membaca Harry Potter yang tebalnya lebih dari 500 halaman dalam 1-2 hari, sementara untuk membaca satu bab saja dari buku akademis kita bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu”

Hoeheoeho…saya betah baca tintin berjam2, tapi perlu waktu berminggu2 untuk menghilangkan pusing akibat membaca satu bundel dokumen yang setebel kasur itu:mrgreen:

ya emang gak semua orang indo hobi baca dan emang betul sistem kita yang kurang mendukung budaya membaca. toh kalo baca malah baca komik, tabloid gosip, majalah fashion. ya boleh aja baca gituan tapi diimbangi juga dengan bacaan yang lebih serius dan bermanfaat ya🙂

setuju banget, budget yang dikeluarkan adalah untuk urusan penampilan melulu. untuk beli buku, hmmm sayang duitnya kali yach?! padahal membaca itu asyik banget loch, bisa mengantarkan kepada dunia imajinasi (kalo baca komik ato novel) dan memberikan ilmu pengetahuan (kalo baca buku serius). apalagi kalo hobinya menyendiri, wuiihhh asiknya baca buku di kamar atau mojok di ruang keluarga atau di atas pohon sekalian hehe.

dengan memperbanyak baca, mengurangi kesempatan kita untuk nggosip, tawuran, hal2 gak penting lainnya. mengisi waktu dengan membaca itu asik banget apalagi kalo ada pointers2nya, jadi kalo kita lagi fast read tetep bisa nangkep inti per babnya.

orang itu malas membaca karena gak tau metode membaca yang benar. padahal dengan metode scanning dan skimming bisa menghemat waktu dan kita tetep tau apa isi buku tsb. kalo kita tau cara yang benar, maka membaca gak akan menjadi momok lagi. berlaku bagi bacaan serius. oke lah, ada saatnya kita harus proof read, tapi gak ada ruginya proof read itu loch?! meski mata pedes juga tapi asik lah, kita bisa mengetahui sesuatu jadi lebih detil.

ayo membaca🙂

Zaki: Setuju juga sih dengan pendapat itu walau pendapat bahwa masyarakat Indonesia kurang suka membaca tidak bisa juga disalahkan. Sama aja seperti pertanyaan, “Lebih dulu mana telur apa ayam?”🙂

Thanks yah buat dukungannya!

bung yuki, mohon izin untuk menggunakan artikel “Berinvestasi Melalui Membaca” sebagai salah satu ilustrasi untuk pelatihan di FH Unair pada hari ini..salam…

Silahkan kawan, mudah2an bisa bermanfaat, hehe. Cerita-cerita yah hasil pelatihannya.

@ sherwintobing: terima kasih yuki, pelatihannya baru aja kelar..pada bagian akhir pelatihan itu saya tunjukkan tulisan yuki sekaligus saya promosikan siapa yuki pada sekitar lima puluh peserta di depan saya..harapan saya agar mereka terprovokasi untuk segera mulai menulis..bahwa aktivitas menulis dan membaca layaknya telur dan ayam..bahwa menulis bisa soal apa saja dan dengan media apapun juga..sebuah provokasi bahwa cara termudah untuk mulai menulis adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya ini, sedang saya harap-harap cemas akan hasilnya..semoga teman-teman peserta itu benar-benar terprovokasi dan terbakar semangatnya..salam..

@ingki:
haha, kok penulisnya juga dipromosiin?😀 mudah2an artikel ini bisa membantu kawan..

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. JIKA rabun ada kacamata rabunnya, tetapi jika malas bagaimana? (Qinimain Zain)

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.
Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

Readers,
Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.
Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?
Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

Readers,
Lalu, mengapa otak orang lain unggul. Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

Readers,
Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan eksakta, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.
Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati (terpaksa(?)) mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science * dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka).

Readers,
Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

*THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm Scientific System of Science – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: