Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Yang Muda Yang Berbudaya

Posted on: February 18, 2008

Republika menulis laporan mengenai JBRB pada edisi Sabtu, 16 Februari yang lalu. Sebelumnya, JBRB juga dimuat oleh Indo Pos dan sempat masuk di dalam tayangan VOA yang disiarkan oleh JakTV. Berikut adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Republika tentang JBRB:

Yang Muda Yang Berbudaya

Banyak orang buang sampah sembarangan. Tak mau antre. Parkir mobil di trotoar. Menyerobot lampu merah. Sekelompok anak muda ingin membenahinya.

Seorang perempuan mengaduh. Kakinya terinjak. Punggungnya didorong dari belakang. Dia dipaksa masuk ke dalam bus Transjakarta. Sesampainya di dalam kendaraan besar itu penderitaannya belum berakhir. Tidak ada tempat duduk.

Terpaksalah ia berdiri. Dalam himpitan penumpang bus lain tubuhnya terdorong ke depan ke belakang. Pegangan tangannya hampir terlepas. Penumpang yang berdesak-desakan menopang tubuhnya hingga ia tidak sempat jatuh. ”Aduh ini mah brutalway, bukan busway ya,” keluhnya.

Padahal keberadaan bus Transjakarta yang memiliki jalur khusus (busway) adalah simbol kemodernan Jakarta. Tapi, perilaku penumpangnya ternyata belum memadai untuk ukuran masyarakat modern. Siapa saja yang pernah berjuang naik bus Transjakarta pada jam sibuk paham betapa kejamnya dunia menumpang bus dengan jalur khusus tersebut. Calon penumpang banyak berlomba masuk lebih dulu. Tak memakai aturan mendulukan penumpang keluar baru calon penumpang masuk bus.

Di sudut Jakarta lain, mata Dhany Ryandi membelalak. Pria berambut ikal itu tidak habis pikir bagaimana anak-anak sekolah dasar bisa sampai membuka situs khusus pria dewasa di internet. Dhany pun bangkit dari tempat duduknya. Tanpa pikir panjang ditegurnya anak-anak itu. ”Saya suruh mereka pulang,” kata dia. ”Bayangkan, anak SD udah bisa buka gambar porno di warnet,” ujarnya lagi.

Apa mau dikata. Zaman telah berubah. Bukan cuma anak yang makin rentan terpapar perilaku kurang baik. Anggota masyarakat yang lebih dewasa juga tidak kalah dalam hal terpengaruh budaya buruk. Maka, banyak orang emosi di jalan. Sama dengan bertambahnya tetangga yang tidak mengenal satu sama lain. Tindakan Dhany mungkin saja tidak berani dilakukan orang lain. Mereka bisa saja memilih menutup mata. Alasannya, ”Bukan urusan gue.”

Teman Dhany, Arief Maulana Sultan (23 tahun), juga memilih untuk hidup lebih peduli. Lahir, besar, dan bekerja di Jakarta membuatnya merasa ‘rumahnya’ makin lama makin kotor. Supaya gundukan sampah tidak menumpuk, Arief menerapkan cara sederhana. Disimpannya dulu sampah di kantong atau tasnya bila tempat sampah tidak ditemukan.

Selain itu, Arief berupaya pula menjadi orang yang lebih positif. Internal auditor Bank Lippo itu sadar tanpa pikiran jernih hidup serta lingkungannya dapat makin berantakan. ”Saya mencoba lebih mengerti kondisi orang lain,” terangnya. ”Belajar untuk mendengarkan dan lebih toleran,” sambungnya.

Bagi Arief ‘gaya hidupnya’ yang baru itu bukan tanpa sebab. Kepedulian terhadap satu sama lain yang makin tipis harus diperhatikan. Arief tidak sudi Jakarta menjadi kota tanpa budaya. Kalau ada yang menganggapnya aneh, Arief memilih bersikap cuek. ”Who cares. Apa yang gue lakukan belum seberapa,” katanya. Sebenarnya semua juga demi dirinya sendiri.

Andri Gilang juga lahir dan besar di Ibu Kota. Seumur hidupnya dia mendengar pujian dari masyarakat luar negeri tentang betapa ramahnya orang Indonesia. Terpatri sudah dalam otaknya bahwa ia adalah bagian dari masyarakat yang berbudaya ramah.

Ketika melanjutkan pendidikan di Sydney, Australia, semua berubah. Gilang bingung. Para bule yang ditemuinya di Negara Kanguru itu bersikap jauh lebih toleran terhadap sesama. Mengapa orang Jakarta –yang katanya pintu masuk Indonesia– sering berlomba-lomba mengedepankan kepentingannya sendiri?

Gilang yang baru pertama kali menginjak tanah asing memang terkejut melihat kesopanan orang Barat. ”Kalau ada orang mau menyeberang jalan, dari jauh saja mobil sudah berjalan pelan,” kata dia. ”Di Jakarta, baru mau nyeberang aja udah diklakson-klakson.”

Perilaku warga Jakarta yang seenaknya sudah terbukti sisi merugikannya. Sampah yang dengan tidak pedulinya ditumpahkan di sungai membantu banjir mengalir lancar kala hujan deras. Angkutan umum berhenti seenaknya. Tanpa teguran petugas Dinas Perhubungan dan tanpa rasa bersalah dari si sopir menyebabkan antrean panjang kendaraan di belakangnya. Waktu terbuang. Emosi terkuras. Harta menjadi mubazir.

Padahal, menaati peraturan justru memudahkan hidup. ”Kalau saya naik motor dan berhenti di belakang garis putih di lampu merah, saya pasti melaju terlebih dulu saat lampu berubah hijau,” kata Muhammad Rusdi Indradewa (24 tahun). Dia melanjutkan, ”Karena mereka yang berhenti di depan garis tidak lihat lampu yang berubah warna.”

Di mana salahnya sampai banyak orang Jakarta yang perilakunya ‘tidak berbudaya’? Rusdi yang juga warga Jakarta asli merasa kota ini membutuhkan perbaikan. ”Jakarta harus jadi lebih baik,” kata dia. Maka, Rusdi menggagas terbentuknya komunitas peduli Jakarta. Namanya Jakarta Butuh Revolusi Budaya.

Kata revolusi, ujar Rusdi, mungkin dipandang orang lain tidak tepat. Tapi, Rusdi yakin kalau warga Jakarta tidak diberi terapi kejut perbaikan gaya hidup orang-orangnya lebih sulit terwujud. Perilaku lebih sadar lingkungan yang diterapkan anggota Jakarta Butuh Revolusi Budaya boleh jadi masih jauh ideal. ”Saya percaya kalau tidak dimulai dari sekarang solusinya tidak akan pernah ada,” ujarnya.

Gilang mengatakan meski hidupnya terikat dengan niatnya menjadi warga Jakarta yang lebih baik, bukan berarti ia melakoninya tanpa cela. Kesalahan tidak akan luput dari perilakunya sebagai manusia. Namun, setidaknya Jakarta Butuh Revolusi Budaya menjadi pengingat bagi Gilang untuk selalu berbudaya baik.

Begitu pun Arief. Mimpinya adalah melihat Jakarta yang teratur. Mengamati perkembangan Jakarta di bawah pemimpin yang, katanya, tidak asal bicara. Arief percaya tanpa banyak bicara, cukup dengan menunjukkan keseriusannya menjadi orang yang lebih baik banyak orang yang melihat itu. ”Langkah Jakarta Butuh Revolusi Budaya masih jauh. Kalau saya bersikap positif mudah-mudahan teman dan keluarga bisa terpengaruh positif,” kata dia. ind

2 Responses to "Yang Muda Yang Berbudaya"

maannntttaabbb..
ini kawula muda yang di butuhkan oleh negara ini..
sukses smua bro & sist..

[senyumlah untuk semua orang]

Yup yup, mari kita yang muda ini membawa budaya yang baru di Jakarta Raya ini. Yang penting, kerjakan di diri kita sendiri dulu.

Saya punya keyakinan dengan anak muda jaman sekarang, yang punya pikiran modern dan terbuka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: