Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Asyik, Jakarta Banjir Lagi!

Posted on: February 5, 2008

bajaj23.jpgSungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Setiap hujan turun hati mereka tidak pernah tenang. Mereka memikirkan nasib rumah dan kendaraan mereka, mereka memikirkan bagaimana anak-anak mereka dapat pulang dari sekolah, dan mereka memikirkan bagaimana caranya dapat pulang tepat waktu padahal lalu lintas pasti akan sangat macet di saat hujan turun. Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Hujan yang seharusnya menjadi sebuah hiburan gratis dari Tuhan justru menjadi momok yang amat menakutkan bagi mereka. Setiap hujan turun, hati mereka menjadi gelisah tidak karuan. Sungguh menyedihkan. Kondisi ini sungguh ironis karena di berbagai tempat lain di dunia hujan justru menjadi simbol romantisme dan waktunya bermesra-mesraan. Sementara hujan di Jakarta, justru dicaci dan dimaki.

Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Pemerintah DKI Jakarta dan berteriak, “Kami sudah bosan dengan banjir.” Yang ada, masyarakat Jakarta hanya bisa diam dan termenung menatapi rumahnya terendam air. Mereka hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun harus rusak dan tidak tersisa akibat kekuatan alam yang tidak terbendung. Raut wajah mereka yang selama ini jarang ceria karena harus melawan kerasnya kehidupan di Jakarta untuk sekian kalinya harus muram dan sedih sambil menatap kosong ke depan. Memang sungguh berat untuk bisa menjadi bagian dari masyarakat Jakarta, rasanya satu nyawa saja tidak pernah cukup.

Banjir lagi banjir lagi. Tapi apa mau dikata, hujan bukan suatu hal yang bisa dikontrol. Hujan adalah sebuah gejala alam ciptaan Tuhan. Hujan pasti akan terus turun selama bumi ini masih berputar. Ingin rasanya berdoa dan meminta Tuhan agar menghentikan turunnya hujan di Jakarta, tapi saya tahu itu tidak mungkin. Toh, di lain sisi kita semua juga membutuhkan hujan sebagai sumber air minum kita. “Jadi mau bilang apa?” Tanya seorang pejabat Pemerintah DKI Jakarta. “Yah, hadapi saja dan terima dengan lapang dada.”

Mau tahu apa jawaban orang miskin? “Ngomong emang gampang!” Untuk sebagian besar masyarakat Jakarta yang hidup pas-pasan yang setiap hari harus lari mengejar metromini dengan napas terengah-engah, bukan jawaban seperti itu yang ingin mereka dengar dari para pejabat kota. Tubuh mereka sudah terlalu lelah dan jiwa mereka sudah begitu jengah. Muka mereka yang hitam dan berdaki akibat kepulan asap kendaraan bermotor tampak tidak puas dengan jawaban seperti itu, tapi apa mau dikata suara mereka hanya dianggap angin lalu saja.

Masalah banjir memang bukan barang baru di Jakarta. Sejak tahun 2002, banjir di Jakarta semakin parah saja setiap tahunnya. Apabila hujan turun lebih dari satu atau dua jam saja bisa dipastikan banyak lokasi di Jakarta tergenang air. Setiap banjir terjadi baik masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta sama-sama tidak mau disalahkan. Kalangan masyarakat menuduh Pemerintah DKI Jakarta tidak becus dalam menata dan dan mengatur kota sementara kalangan pejabat juga tidak mau disalahkan begitu saja dengan balik menuduh bahwa masyarakat Jakarta tidak memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan. Menurut hemat saya, tuduhan masing-masing pihak adalah benar. Sebagai bagian dari masyarakat Jakarta selama enam tahun saya sadar sepenuhnya bahwa mayoritas masyarakat Jakarta tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan itu tidak saja perlu tapi sangatlah penting. Saya ingat bagaimana seorang teman dekat saya dengan santainya selalu membuang sisa makanan di mana saja ia berada, bahkan di tengah jalan apabila kami sedang berada di dalam mobil sekalipun. Saya biasanya langsung melotot dan berteriak, “Buset!” Teman saya yang kebetulan punya kepribadian sangat nyentrik hanya menjawab sembari mesam-mesem, “Yaelah, sok bule lo. Semua orang juga begitu.”

Di sisi lain, Pemerintah DKI Jakarta sama sekali tidak memiliki strategi jangka panjang dalam mengelola tata ruang kota Jakarta. Sebenarnya sih ada, tapi tidak dilaksanakan. Coba lihat saja sekeliling Anda, sebagai warga Jakarta Anda tentu sadar bahwa diri Anda dikepung oleh pusat-pusat perbelanjaan. Gedung-gedung beton yang mewah dan megah berdiri begitu kokoh lalu secara arogan merebut hak masyarakat Jakarta untuk memiliki daerah-daerah pusat resapan air. Sudah berapa sering Anda mendengar dari teman Anda atau membaca beritanya di koran atau majalah bahwa daerah Senayan di Jakarta Pusat sebenarnya adalah daerah hijau? Tapi kenyataannya, satu mall yang begitu mewah dengan sukses dibangun beberapa tahun lalu mendampingi mall, hotel, dan bangunan mewah lainnya di daerah itu. Sudah berapa sering Anda mendengar para ahli lingkungan berkata bahwa banjir yang terjadi di Jakarta adalah hasil keserakahan manusia yang tidak berhenti membangun gedung dan rumah sembari memusnahkan pohon-pohon di Jakarta? Tapi, gedung dan rumah baru terus saja dibangun.

Di tengah ketidakpastian Pemerintah DKI Jakarta dalam mengatur tata ruang kota Jakarta, minimal ada satu strategi yang pasti dalam menghadapi banjir. Strategi itu adalah membiarkan masyarakat Jakarta terus-terusan mengomel dan mendumel. Masuk kuping kanan lalu keluar kuping kiri. Toh seperti biasa, nanti mereka diam sendiri. Pemerintah DKI Jakarta sepertinya tahu kalau protes masyarakat Jakarta lebih baik didiamkan dan tidak perlu didengar karena lama-lama mereka akan bosan sendiri lalu menganggap banjir itu adalah hal yang biasa saja, seperti yang sudah mulai terjadi saat ini. Apabila dahulu masyarakat Jakarta tampak begitu marah melihat lambatnya Pemerintah DKI Jakarta menanggulangi bencana banjir, sekarang banyak masyarakat Jakarta yang diam saja sembari mengelus dada ketika rumah mereka terendam banjir. Pemerintah DKI Jakarta tampaknya tahu persis bahwa mereka memiliki warga yang baik hati, warga yang mudah untuk memaafkan dan menerima segala cobaan. Kalau kata orang Jawa, yo wis ditrimo wae. Pemerintah DKI Jakarta mungkin bahkan berpikir kalau bencana banjir sudah menjadi hiburan cuma-cuma bagi masyarakat Jakarta. Buktinya, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa justru tertawa girang dan main kapal-kapalan setiap banjir datang. Mereka lalu berpikir, kenapa banjir mesti dihilangkan?

Kalau memang kondisi ini yang diinginkan oleh sebagian besar masyarakat Jakarta, masyarakat golongan ekonomi menengah dan bawah harus tahu diri dan tidak boleh iri kalau melihat orang kaya menginap di hotel bintang lima atau liburan sebentar ke luar negeri ketika banjir menggenangi Jakarta sementara mereka harus menjaga rumah dengan gayung dan ember. Yo wis ditrimo wae. Mau marah gimana? Toh, kita juga yang paling gembira apabila mengetahui ada mall baru yang akan segera dibuka. Toh, kita juga yang paling bangga kalau rumah kita berdekatan dengan Carrefour.

Foto diambil dari sini.

2 Responses to "Asyik, Jakarta Banjir Lagi!"

tasa….sekarang udah dibuka Jakarta Water Park loch….tersedia permainan olahraga air apa saja dan GRATISSS…

mau rafting, kayak, kano, arung jeram, ski air, swimming, atau mau mandi sekalian semuanya ada dan kita punya banyak air di sini.

and you already find out this Jakartan mother turns out crazy just like other Jakartans did….we just laugh on our daily elegy then forget it and back to the regular life:mrgreen:

Setiap hujan turun Jakarta pasti banjir. Bikin pusing kepala. Jalanan macet dan rumah terendam. Mau sampai kapan coba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: