Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Perubahan Lanskap Bisnis (2): Pendidikan dan Bahasa Inggris

Posted on: January 10, 2008

Sebenarnya saya masih ingin membahas Korean Pop industry sebagai lanjutan posting Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop. Tapi kebetulan saya mendapati sebuah video dokumenter yang menarik tentang fenomena lain namun masih seputar Negeri Ginseng. Kali ini berkaitan dengan pendidikan, kasus khususnya bidang bahasa Inggris.

Dengan kasat mata pun kita bisa melihat bahwa Korea telah mencpai tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Pendidikan tentu merupakan salah satu energi utama kesuksesan ini. Dengan sistem yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, di mana sekolah tidak gratis, para orang tua di Korea berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Paradigma pendidikan di Korea pun bisa dikatakan mirip dengan kita. Bidang-bidang eksakta masih dianggap berstatus tinggi, profesi medis pun jadi obesesi, dan gelar sarjana sangat menentukan tingkat gaji, kemudahan karir, bahkan pencarian jodoh. Mirip kan dengan kita? Hanya saja itu tadi, pengorbanan mereka sampai keringat kering. Orang tua akan melakukan apa saja agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah tanpa harus bekerja sampingan (karena biaya hidup tidak murah). Bayangkan saja, dengan luas negara yang hanya sedemikian, pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang tinggi, tak heran tiap individu begitu kerasnya berusaha. Ujian masuk universitas (SPMB) sudah begitu mewahnya. Bahkan katanya, ujian masuk SMA saja sudah cukup bergengsi. Karena mereka tak main-main, output yang dihasilkan pun bukan main jadinya.

Masalahnya, persaingan selalu ada dan bahkan semakin meningkat setiap saat. Di era sekarang ini mereka tidak hanya bersaing dengan sesama orang Korea, tapi juga orang-orang dari seluruh dunia. Mungkin analogi saya sedikit imajiner, tapi biarlah. Kasarnya seperti ini: dengan gaya yang sama, permukaan yang lebih kecil akan menghasilkan tekanan yang lebih besar, P = f/A. Masih ingat fisika, kan? Mungkin hukum ini berlaku juga di masyarakat. Dengan wilayah yang hanya 99,646 km persegi (bandingkan dengan pulau Jawa 126,700 km persegi – data Wikipedia), wajar jika tekanan yang mereka rasakan lebih besar daripada tekanan yang dirasakan Amerika Serikat dengan ambisi pendidikan yang sama. Meski menyedihkan, tak cukup mengherankan bila tingkat bunuh diri siswa cukup tinggi. Bayangkan, yang bunuh diri itu masih siswa, bukan rocker yang kecanduan drugs.

Tekanan yang besar dirasakan juga pada bidang bahasa Inggris. Mereka sadar bahwa kompetensi internal harus juga bisa bersaing di tingkat internasional. Akibatnya, ambisi dan obsesi semakin menjadi. Pendidikan sudah menjadi obsesi nasional di Korea, kini bahasa Inggris. Ambisi ini antara lain terwujud dalam lirik lagu yang sudah banyak menyisipkan bahasa Inggris, pemberian judul film (meski percakapannya memakai bahasa Korea), sampai variety show yang diikuti artis-artis yang mempunyai segment bahasa Inggris (misal, Speed English di acara Star Golden Bell). Kini, para orang tua pun mulai mempersiapkan balita mereka agar globally competitive. Di bawah usia 5 tahun anak-anak ini sudah duduk di depan tutor mereka, mendengarkan pelajaran bahasa Inggris dalam bahasa Inggris. Balita di Indonesia ngapain, ya?

Di usia SMA mereka biasanya mempunyai tutor privat dan diharapkan sudah siap dengan kemampuan bahasa Inggris mereka. Obsesi bahasa Inggris ini sendiri sudah menciptakan suatu pasar baru. Lembaga kursus bahasa Inggris dengan native speaker, tutor privat, sampai TK bahasa Inggris jadi trend. Yang cukup membuat saya ngowoh adalah biaya TK berbahasa Inggris berkisar $1000 per bulan. Seperempat sampai sepertiga gaji bulanan middle class di Amerika hanya untuk biaya TK? Biaya yang para orang tua ini keluarkan dalam setahun dikabarkan melebihi anggaran pemerintah untuk pendidikan. Tapi jangan bandingkan dengan anggaran pemerintah kita tercinta. Belum lagi camp yang berjalan mulai dari hitungan minggu sampai bulan di English Village, sebuah kota yang sengaja dibangun untuk menciptakan nuansa luar negeri dengan berbahasa Inggris lengkap dengan imigrasi, kantor polisi, hotel, perpustakaan, teater, dan kafe-kafe. Katanya, bila ketahuan berbicara dalam bahasa selain Inggris bisa kena denda.

Belum cukup sampai di situ, pasar terus berkembang. Mengetahui animo para orang tua yang besar, kini meningkat pula praktek operasi lidah oleh para dokter bedah Korea. Kalau di showbiz ada Dokter Plastik, di dunia pendidikan (bahasa Inggris) ada Dokter Lidah. Para dokter ini mengatakan (setelah riset) bahwa lidah orang Korea secara genetik sulit mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, terutama lafal L atau R yang memang sedikit rolling. Bagaimana ya, agak susah mengungkapkannya, seperti pengucapan” radio” dalam bahasa Inggris. Jadi, seperti sunat, lidah anak-anak kecil ini dioperasi (dipotong sedikit bagian bawah lidah) sehingga menjadi lebih bebas bergerak. Perubahan memang ada (they’d better be different karena memang dioperasi), tapi sampai sejauh inikah?

Lagi-lagi Korea mengalami perubahan lanskap bisnis yang fenomenal. Merasa ada kesamaan antara dunia hiburan dan pendidikan di Korea dalam perubahan lanskap bisnis? Tampaknya para dokter sedang memegang kendali di balik layar?

Video: Tounge Tied

11 Responses to "Perubahan Lanskap Bisnis (2): Pendidikan dan Bahasa Inggris"

Sepertinya ian tertarik banget sama budaya nya orang2 korea yah, terlihat dari beberapa topik yang di bahas ter-influence gaya hidup orang korea… Mmmm(wondering??).

Kalau dilihat sampai segitunya ya, hingga operasi lidah segala. Sebesar itu kah dampak globalisasi terhadap perubahan gaya hidup? Kalau di Indonesia sendiri, asal bisa nyambung cas cis cus udah bisa dianggap manusia waras, yang gawat adalah orang2 yang udah umbar sana-sini, pakai bahasa inggris pula, tapi masih saja membohongi rakyat kecil.

Andri (Gilang?):
Iya, 2 posting ttg Perubahan Lanskap Bisnis memang tentang Korea. Saya memang suka mengamati fenomena sosial, kebetulan sedang tertarik dengan Korea­čÖé Karena saya pikir cukup informatif, saya post di sini.
Kalau terlalu off the track, saya mohon maaf, lain kali saya akan post di blog pribadi saja.

Nah, ketika mengamati fenomena sosial saya membandingkan dengan Indonesia. Misal, di posting ini, kalau orang Korea bisa terobsesi belajar bahasa Inggris tapi semangat nasionalisme mereka tetap tinggi, kenapa orang Indonesia “yang udah umbar sana-sini, pakai bahasa inggris pula, tapi masih saja membohongi rakyat kecil” (kata Andri G)?

Terus terang, selain sedang suka nonton K-Drama­čÖé Hallyu (Korean Wave) ini fenomenal. Dunia hiburan Korea bisa dibilang sebagai no 1 sekarang di Asia, bahkan Jepang sekarang “mengimpor” sebagian produk hiburan Korea.

Selain hiburan, perekonomian dan industry mereka juga sedang gila-gilaan. Tentunya semua ini ada hbungannya dengan apa yang terjadi di masyarakat mereka.

Saya pribadi juga ingin melihat Indonesia bisa seperti ini. Bagaimana ya caranya? Let’s find out how together­čÖé

Andri G = A. Gilang kayanya deh hehehe

Wah ada sequelnya nih….ada niat mbikin ketiganya? biar trilogy:mrgreen:

Ian….meski tinggal di DC, tapi nglotok banget ngomongin Korea, merhatiin budaya dan perilaku orang2nya. Kalo saya mah merhatiin cowok2nya, kaya pemain film Endless Love siapa deh namanya lupa, dia juga maen di So Close bareng Shu Qi dan Vicky Zao (Zao We) dan pemain sepakbola Ahn Jung Hwan (gue bacanya Anjungan:mrgreen: ) itu cuakep minta ambruk hehe.

Bener2 yach…orang Korea itu sungguh2 dalam mencapai cita2nya, totalitas dalam berusaha, sehingga hasil yang diperoleh maksimal. Ckckc ampe operasi lidah segala, untung jadi bagus, coba kalo jadi pelo doang yaaa cape de!

Dukungan dari pemerintah juga berperan aktif yah….salut banget….jadi ada sinergi di dalam kerjasama.

*ditunggu seri berikutnya:mrgreen:

Yonna:
Saya sih merhatiin budaya dan perilaku juga merhatiin dramanya gitu loh…terakhir yang seru banget tuh Coffee Prince, yang maen Yoon Eun Hye (yang maen di Princess Hours) hehehe…
Cowok yg di Endless Love Song Seung Hoon (yang jadi kakanya Song Hye Gyo) and Won Bin, busyeeet masih inget
hahaha…

Posting ke-3 belum tahu, tergantung permintaan hehehe…

@Ian
astaghfirullah kaget akika….dalam tempo 21 menit, Ian langsung merespon komen saya (lihat sisi kanan komen nomer 3 disubmit 10:34 am dan komen nomer 4 disubmit 10:55 am)…ternyata Ian jugak gentayangan…hehe gentayangan berdua, takut2in blogmasters yuuuu:mrgreen:

Oh iya namanya Song Seung Hoon…wah saya hanya apal wajahnya, nyerah kalo disuruh nginget namanya apalagi nyebut namanya…saya gak bisa bahasa Korea, paling taunya cuma Sun Dong Yang (*halah!)

Saya rikues postingan ke-3 ya, abis bagus juga tulisan Ian…menguasai dan akrab dengan masalah yang ditulisnya. ganbatte!:mrgreen:

@ Ian,

Sama sekali gak out off track kok, kita yang kurang info tentang korea, jadi bisa tambah pengetahuan, apalagi mengenal budaya mereka yang seperti itu, jadi lebih memahami keragaman budaya.

@ Yonna

Didukung, ditunggu sequel ketiga nya….

Tepatnya Korea mana? Utara apa Selatan?
Pastinya Korea Selatan ya, Korea Utara sih punya cellphone aja ngga boleh.
Korsel kan banyak dibantu US, om. Ada hubungannya kali.
Penggunaan bahasa Inggris itu sendiri ngga salah sih, malah udah seharusnya. Orang Korea terobsesi belajar bahasa Inggris, nah kalo disini ..kalo kepepet aja kali ya.
Bukannya orang kita ngga mau, tapi takut menghadapi intimidasi. Nanti dianggap arogan, westernized, dan segala macam kesinisan-tak-berbobot lainnya. Padahal dimana-mana orang masih bangga berbahasa dialek daerah atau setdknya ber-aksen kedaerahan supaya terkesan jujur dan bersahaja. Sama aja kan?:mrgreen:

Berbahasa itu (seharusnya) ngga berarti melepas kejatian diri seseorang, tapi malah sebaliknya, untuk mengikat lebih erat.
Yang penting itu makna, bukan kata. Jiehhhh.

Marisa:
Oh ya, maaf…kurang lengkap ya. Benar yang saya maksud Korea Selatan.
Mbakyu, apakah saya menyebutkan bahwa Korea dan Amerika tidak tidak ada hubungannya?

Tentang obsesi global Korea dan orang Indonesia yang “masih bangga berbahasa dialek daerah atau setdknya ber-aksen kedaerahan supaya terkesan jujur dan bersahaja” sudah ada rencana untuk jadi entry baru dari saya­čÖé

Tapi apa bener kl beraksen kedaerahan jadi terkesan jujur dan bersahaja? Bukannya malah terkesan ndeso hahaha…joke!

Thanks!

dear ian,
sebenernya tingkatan untuk sadar untuk berbahasa inggris di indo skarang mulai meningkat e.i : TK di indo or play group di indo ada yg khusus bahasa inggris. skarang university or sma pun ada yg khusus bahasa inggris. mengenai doctor bedah lidah di indo emang blom ada tp kl di liat2 indo gak perlu dokter bedah sih lidahnya lumayan laval tapi accent tetep indo heheheh…. tp kl di liat2 orang indo malesnya (apa lg gw) kl ngomong huruf terakhir like “at least” tnya gak di omongin.

wah, wah… korsel kerja keras sampai segitunya rupanya. terutama sampai operasi lidahnya itu lho (woooww!!). tampaknya butuh biaya banyak untuk jadi manusia global. dipikir2 jadi bangga sama genetik indonesia yang menciptakan lidah (mayoritas) orang indonesia lebih fleksibel untuk mengucapkan bunyi. walo cuma hasil pengamatan dan belom jadi penelitian empiris sih…
tapi menarik niy soal bahasa daerah. terus terang gw suka banget denger orang2 yang berbicara bahasa daerah. kesannya lebih feels like home dan kekeluargaan (walo mereka ternyata lagi berantem, heheh…). yang paling asik adalah ngedengerin orang yang bicara bahasa inggris dengan aksen kedaerahan. gak pa2 donk ada jawlish, sunlish, dll… emang singapur aja yang bisa bikin singlish-tapi yang ini tata bahasanya yg kacaw ya…hehe.

nah meracau gak jelas kan gw…

Wah makasih artikelnya boss….sangat berguna sekali..semangat terus ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: