Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

I Wish This was Jakarta

Posted on: December 19, 2007

baltimore1.jpg

Last week I had the chance to visit Baltimore with a friend. I hadn’t been there since last summer and the memory of the beautiful harbor and the old buildings had been haunting my mind for months and I just couldn’t wait to go there again. This time I decided to spend my time not at the harbor but instead I chose to explore another part of the downtown which was just a few blocks away from the harbor where they have antique stores and old restaurants. My one-and-a-half-hour drive was so worth it.

When my friend and I finally arrived it was raining pretty hard and the weather was very cold. When I got off the car, my fingers started to shake as I could feel the freezing weather struck my very deepest bones. I quickly wore my gloves so that my fingers could feel a little bit warmer. The rain made it hard for us to explore the city, but then I realized that on the other hand the rain had made the old city more romantic and beautiful. I opened up the umbrella my friend had prepared and held it proudly with a big smile on my face. I could feel the breeze of the cold wind as I was walking on the sidewalk. I didn’t see many people that afternoon, probably because it was a weekday and it was raining but we were lucky because all stores were still open.

As I was enjoying the beautiful day, I kept observing the situation around. Everything seemed to be so peaceful. No one was yelling or talking loudly and there were just a few cars that could’ve interrupted the sense of peacefulness coming from the environment and the people. I couldn’t stop admiring how clean the streets and the sea water were, despite the fact that there were not many trash bins around.

I took some pictures with my borrowed camera, trying to look like a professional photographer. As I had developed a big interest in photography for such a long time but never had the chance to be involved within, I obviously couldn’t waste such a great moment to capture some beautiful pictures. The pictures I took are not the kind of pictures I could be proud of and they apparently are not the kind of pictures you will see on fancy travel magazines, but I hope you could still enjoy.

baltimore2.jpg

My friend and I decided to end our journey at a restaurant called Eat Bertha’s Mussel. It was a beautiful restaurant, I have to tell you. It was located right on the corner of Lancaster and Broadway streets. The food was not really special but the atmosphere was just so beautiful. It seemed to be an old and classic Irish restaurant, so of course they have a small bar full of beers and liquors. I ordered their special menu which was a large portion of mussels and a cup of hot coffee while my friend ordered some fish fillets and a hot apple cider. While I was enjoying my time and the food, the mussels were not bad, I could hear the sound of old jazz coming from the hidden speakers. It was just fantastic.

The time was late and I had to go back home. I decided to inhale the fresh air into my lungs and to enjoy the beautiful scenery a little bit more. Give me five more minutes, I said. The rain had stopped and I could walk on the sidewalk freely like a bird in the sky. When I was approaching the car and just a few yards away from it, I sighed and said to myself, “I wish this was Jakarta.”

7 Responses to "I Wish This was Jakarta"

@GBM,

kalau tempat seperti “beautiful harbor and old buildings”, Jakarta punya juga loh. itu di daerah kota kalau tidak salah, pelabuhan sunda kelapa dan bangunan-bangunan peninggalan jaman belanda dulu, dan sekarang sudah secara reguler diadakan wisata kota tua. Salah satu contoh nya, waktu itu saya pernah jadi peserta wisata dengan tema – Bank jaman belanda – jadi kita jalan2 mengitari daerah kota untuk melihat bangunan2 yang dulu diperuntukan keperluan bank, yang masih terawat dengan baik sampai saat ini salah satunya adalah museum bank mandiri. Hal seperti ini yang perlu dilestarikan dan di promosikan. seru banget soalnya…

link: http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Bank_Mandiri

hmmm i wish Jakarta not my city:mrgreen:

Eh Tasa kalo mau jalan2 ke pelabuhan Sunda Kelapa dalam waktu dekat ini, ati2 yah, sekarang Jakarta juga kena banjir pasang air laut dan Sunda Kelapa termasuk yang kena. Waktu itu liat di TV, wiii caurnya! Sekarang tiap bulan purnama, daerah pantai kena banjir pasang. Kasian banget!

Trus kalo mau foto2, ambil yang cakep2 aja ya….tengsin dong bekas banjir dipoto juga, nanti temen2 londonya Tasa ngetawain kota kita tercinta ini lagi hehe.

Given the fact that Java is the MOST populous land on earth, of which most of the residents are below the world’s poverty line, it’s going to take a loooooong time before we have that kind of Jakarta you wished for.­čÖé
For the time being, we can hope to try to encourage people not to use plastic, and not to litter.
Apart from that…, well, it’s just tough.

wah…kalo lo pengen jakarta kayak gitu..
berarti lo ga cinta jakarta donk?!

gw sendiri bangga ma jakarta, karna sekarang banyak perubahan disana sini.. dari surat kabar yang sering gw baca tiap pagi, pemerintah jakarta lagi sibuk-sibuknya benah jakarta.. mank sie masih banjir, macet, sumpek, banyak sampah.. itu kan karna masyarakatnya sendiri yang ‘ngeleyet’ dikasih fasilitas malah demo!! CAPEK DEH!!!
so, jangan salahkan pemerintah, mereka hanya ingin jakarta lebih indah, cuman masyarakatnya yang kurang toleransi..

misalnya:
1. pemerintah uda kasih fasilitas museum, tapi masyarakatnya malah doyan belanja and ajep2x.
2. pemerintah uda kasih fasilitas tempat sampah, masyarakatnya lebih suka buang sampah di jalan.
3. pemerintah uda kasih halte yang bagusan, malah masyarakatnya yang lebih suka nyetop angkot di pinggir jalan.
4. pemerintah uda kasih fasilitas jembatan penyebrang, masyarakatnya lebih suka nekat nyebrang di jalan.
5. pemerintah uda kasih busway, masyarakatnya lebih suka jaga gengsi dengan tetep naik mobilnya.
6. pemerintah uda bikin tempat pengolahan sampah dibojong untuk menanggulangi sampah dari jakarta dan sekitar untuk mencegah banjir, masyarakatnya malah demo dan menganggap niat pemerintah tidak baik.
7. pemerintah merenovasi pasar tradisional dengan memindahkan pedagang dipinggir jalan untuk minggat dari jalan raya karna menyebabkan macet malah dikritik oleh mahasiswa yang pro pada rakyat kecil.

so, guys bisa dilihat kan , bagaimana kerja pemerintah dalam membuat jakarta lebih indah, tapi sekali lagi butuh masyarakatnya yang musti kerja sama juga. kalau hubungan antara pemerintah dan masyarakat jakarta baik, pasti jakarta ga kayak gini.. betul ndak?!
Jangan pernah berharap jakarta sama dengan kota lain, coz jakarta beda dari gambar yang lo tempelin…

Gilang: Ntar kita kesono bareng yah. hehe.

Yonna: Bareng juga yah ke Pelabuhan Sunda Kelapa kapan2.

Dian: I know it’s damn hard. Well, we can start from simple things. At least it’s better than nothing.

Rusi: Wow, kritikan yang sangat tajam. Hehehe. Yah, itu pendapat Anda, silahkan saja berkomentar. Kalau pendapat saya, tidak ada salahnya mencontoh budaya atau negara lain yang lebih maju. Yang bagusnya kita contoh dan yang jeleknya kita hindari. Ketika gue bilang, “I wish This was Jakarta” gue mengharapkan pembaca cukup cerdas untuk mengerti bahwa yang gue maksud bukan persamaan fisik tapi lebih kepada persamaan esensi.

Di tempat itu, pemerintah kotanya juga memberikan fasilitas publik yang baik seperti yang Rusi contohkan di Jakarta. Dan tidak seperti yang Rusi contohkan, masyarakat di situ bisa menghargai dan menggunakan fasilitas itu dengan baik. Bukankah itu contoh yang baik untuk dicontoh? Perasaan chauvinism yang berlebihan justru akan menjadi bumerang bagi kita untuk menjadi bangsa yang besar.

Kalau gue ingin mencontoh nilai-nilai baik dari negara lain bukan berarti gue gak cinta negara sendiri kan? Apabila asumsi itu yang digunakan menurut saya itu sangat dangkal.

Terima kasih­čÖé

@rusi hakim

yang sabar, yang adem, ojo nesu….santai yak:mrgreen:

ini rusi yang jadi kontributor JBRB dulu bukan? apa kabarnya?­čÖé

tapi yach emang sih, orang jakarta lebih sering merasa tidak nyaman tapi terpaksa hidup di jakarta ini…tapi mereka butuh jakarta jadi tetep bertahan tinggal di sini.

gak cuma GBM yang membandingkan jakarta dengan kota lain…toh saya sendiri juga suka mengkhayal jakarta bisa seenak jogjakarta…what a stunning city to live­čÖé dan banyak pendapat lain yang bersikap serupa…

saya jadi ingat ma pendapat seorang penulis di Kompas yang bercerita bahwa temannya yang tinggal di jogja suka rekreasi ke jakarta…mendengar pengakuan temannya itu dia tertawa heran, lalu temannya dengan santai mengatakan bahwa kunjungannya ke jakarta karena ingin merasakan “neraka” yang cuma ada di jakarta yang maksutnya macet, sumpek, panas, dll.

atau truth joke dari orang bule ttg jakarta yang menanggapi semrawutnya kemacetan lalin jakarta dia dengan pasti mengatakan bahwa bank-bank di jakarta pasti aman dari perampok, karena perampok yang berusaha melarikan diri pasti akhirnya tertangkap karena terjebak ma lalin-nya yang sering macet ini.

menurut saya yach warga jakarta dan jakarta punya hubungan cinta benci…jadi dibilang benci tapi butuh, dibilang cinta tapi sering kena macet dll…ya gitu deh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: