Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop

Posted on: December 7, 2007

Peringatan: Posting cukup panjang

Jaman sekarang hampir semua hal sudah diharapkan untuk dapat diintegrasikan satu sama lain. Alat komunikasi bukan lagi telpon engkol milik Bung Karno dulu. Bukan juga sebatas handphone Nokia 3310. Everything is beyond imagination. Sebuah handphone sekarang sudah dilengkapi kemampuan seperti sebuah digital camera, MP3 player, digital organizer, bahkan semakin mendekati sebuah portable computer. Lanskap bisnisnya telah berubah dari hanya bisnis alat komunikasi menjadi bisnis perangkat elektronik pribadi terintegrasi. Tapi bukan itu yang ingin saya sentuh di posting ini, melainkan bisnis hiburan.

Ya, bisnis hiburan dan tepatnya Korean showbiz industry. Belum lama ini saya terkena imbas Hallyu (demam Korean pop culture). Awalnya adalah ketika saya menonton My Sassy Girl di sekitar akhir tahun 2006 lalu (sangat telat memang). Lalu seperti reaksi berantai, saya menonton semakin banyak drama, film, dan segala jenis variety show Korea hingga akhirnya saya tahu siapa itu Jeon Ji Hyeon, Rain (Bi), Lee Hyo Ri, Super Junior, DBSK, See Ya, selain Song Hye Gyo yang sudah saya kenal lewat Endless Love. Di sinilah saya menemukan fenomena perubahan lanskap bisnis itu. Suatu perubahan yang bahkan menurut saya sangat- bahkan terlalu- cepat. Saya akan fokuskan hal ini pada dunia musik.

Kemunculan Shanty dengan sexy dance-nya dulu dianggap keren. Lalu belum lama kemarin ada Ratu yang terkenal dengan imej cute-yet-sexy dan unique-fashion-sense. Band Sejuta Umat- Peterpan- sempat menjadi idola menggeser SO7. Lalu kini muncul popstar baru, BCL, yang menyanyi sekaligus berakting. Tampaknya sudah cukup agresif dunia musik Indonesia. Tapi bila dibanding dengan Kpop, ternyata itu semua belum ada seberapa. Di Korea ada jauh lebih banyak penyanyi berbakat dari usia belasan hingga puluhan. Mereka tidak hanya jago mengolah vokal, tapi juga jago mengolah gerak dan juga berakting. Ya, rata-rata penyanyi Korea memang bisa dance. Panggung yang dulunya hanya sebagai tempat sang penyanyi berdiri kini telah menjadi arena show-off kemampuan dance. Penonton pun menggila. Lihat saja Rain (Bi), ia mampu menaklukan Asia dalam sekejap. Rain adalah contoh yang fenomenal; masih banyak penyanyi tingkat nasional yang dance mereka tak kalah dari Rain.

Yang juga menarik adalah bahwa para penyanyi Korea sekarang ganteng-ganteng dan cantik-cantik (menurut standar Korea). Seakan-akan beberapa tahun belakangan banyak lahir bayi-bayi ganteng dan cantik dengan bakat luar biasa. Karena rupanya kini tak cukup hanya bermodal satu hal untuk bisa sukses, bahkan tidak cukup untuk sekedar eksis. Penyanyi tak lagi hanya harus bersuara indah tapi juga harus bisa menarik perhatian dengan berbagai cara. Mungkin syarat menjadi penyanyi di Korea adalah bisa menyanyi dan dance serta berpenampilan (wajah) menarik. Lanskap bisnis telah berubah.

Namun semua tak terjadi semudah membuat sensasi di infotainment Indonesia. Para produser dan pencari bakat sangat gencar mencari dan mengorbitkan artis baru setiap saat. Lebih seringnya mereka memahat para artis baru ini. Mereka bukan satu atau dua orang, tapi beberapa sekaligus. Ahmad Dhani yang menelorkan Ratu, Andra and The Backbones, dan Dewi-Dewi belum ada apa-apanya dibanding JYP, SM atau YG. Paling tidak ada satu artis baru (entah solo atau grup) gacoan tiap managemen artis ini setiap tahun yang siap menjadi idola baru Kpop. Para produser ini menyeleksi remaja-remaja berbakat usia belasan. Sayangnya, bakat saja tidak cukup. They must be pretty!

Lalu, bagaimana bila sang calon idola baru kurang cantik dan make-up sudah tak lagi cukup? Para produser tak perlu khawatir, Korea punya banyak Dr. 90210. Benar, operasi plastik (OP) sudah menjadi alternatif umum sekarang. Di kalangan artis Korea sekarang (wanita khususnya), tidak lagi sulit untuk melihat siapa yang pernah melakukan OP. Yang paling umum dilakukan adalah operasi mata-dan-hidung, dua fitur orang Korea mereka anggap kurang menarik. Meski kebanyakan penggemar OP adalah artis wanita, ada juga beberapa artis pria yang “terpaksa” melakukan OP untuk membuat mata mereka lebih terbuka.

Ko Ara.jpgMata besar, hidung lancip (atau dikenal dengan Western Nose) plus dan ukuran wajah yang relative kecil telah menjadi standar wajah komersil di Korea hari ini. Maka OP mulai dari mengangkat kulit sekitar mata, meluruskan tulang dan pemasangan batang silikon di hidung, sampai yang menyakitkan macam reparasi tulang rahang pun dijalani demi mendapat wajah idola. Ada yang hanya merubah satu bagian, ada juga yang mendapat total makeover ala Kim A Jung. Meski demikian, bukan berarti tidak ada artis wanita yang alami. Masih ada beberapa wajah-cantik-alami yang bahkan lebih cantik dari wajah plastik. (foto: Ko A Ra yang masih alami?)

Yang menyedihkan adalah bahwa kini bukan hanya kalangan selebriti yang melakukan OP, melainkan juga para cewek ABG! Hal ini sudah menjadi barang umum. Hanya saja mereka yang melakukannya tidak terang-terangan mengakuinya. Sudah jelaslah ini dampak perubahan lanskap bisnis yang begitu cepat. Naiknya standar (wajah) di Korean pop culture jelas secara langsung maupun tidak telah mempengaruhi perubahan di lapisan di bawahnya: penonton dan penggemar. Menurut seorang teman saya (pria) dari Korea, ia bahkan sudah terbiasa dan bisa membedakan apakah seseorang pernah melakukan OP atau tidak. Dan masih berdasar pengalamannya, biasanya cewek-cewek ABG melakukan OP setelah kelulusan SMA menuju universitas, beberapa sebagai hadiah dari orang tua mereka.

Park Shi Yeon Coba amati foto artis Park Shi Yeon disamping. Wajah before-nya sudah begitu cantiknya dengan hidung yang seperti itu, namun tetap saja ia melakukan OP.

Tuntutan dunia bisnis hiburan ini tentunya cukup membuat pusing para produser dan artisnya sendiri. Produser harus terus menghasilkan artis-artis baru dengan penampilan semenarik mungkin dan para calon idola semakin rajin berlatih dan mempercantik diri agar terpilih. Training vokal dan gerak bisa dilakukan secara intensif, namun tidak untuk merubah wajah. Semakin gencarnya penyanyi menjadi bintang iklan, model di majalah, dan juga berakting membuat wajah mereka mau tak mau juga menjadi fokus tontonan. Sehingga OP pun seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses memasuki Kpop World. Banyak dari mereka yang OPnya tidak berhasil mulus. Banyak juga yang harus menghindari pertanyaan-pertanyaan wartawan seputar OP, dinilai tidak terbuka atau jujur, tidak bisa melakukan hal-hal tertentu, dan mendapat kritik tajam dari publik. Foto-foto “before-and-after” pun banyak di-upload di internet. Jikalau mereka bukan artis, mungkin saja mereka tak sampai sejauh ini rela menjadikan wajah mereka media eksperimen desain para dokter ahli OP dan juga produser. Sedihnya, jika ada yang salah dengan wajah baru mereka dan tak tampak menarik lagi, fans bisa dengan mudah berpaling. Apalagi bila wajah adalah satu-satunya aset. Benar-benar membuat depresi.

Dan fenomena ini lebih banyak menghinggapi artis wanita. Kenapa? Karena umumnya jika tidak benar-benar ada bagian wajah yang harus dioperasi (seperti mata yang terlalu sipit), para artis pria tidak merasa perlu melakukan OP. Mereka bisa cuek saja. Sebaliknya, artis wanita ingin selalu tampil sempurna di depan sesama artis wanita, para pria, media, dan tentunya penggemar. Ini yang menurut saya tidak seimbang. Tuntutan pada artis wanita yang seperti ini membuat mereka merasa kurang dengan keadaan dirinya. Hal ini kemudian diperparah dengan menjual tampang artis-artis wanita baru itu. Jadinya ini terasa seperti sebuah eksploitasi daripada sekedar bisnis hiburan.

Kembali lagi seperti handphone yang bukan lagi hanya sebagai alat komunikasi, penyanyi pun kini bukan lagi sekedar pemilik suara merdu di CD. Seperti bagi kita kebanyakan, meski fungsi utama handphone adalah sebagai alat komunikasi, N95 tentunya lebih menarik daripada N3310, bukan? Penonton juga lebih suka menonton idola mereka bisa menyanyi, dance, dan pastinya berpenampilan menarik dan cantik. All-in-one package. Tapi sayangnya, para artis ini bukan handphone.

Sungguh fenomena yang semoga tak akan pernah terjadi di Indonesia.

dmsgmlchl_20960487.jpg
Semoga Jeong Da Bin tak perlu OP jika ia memutuskan untuk menjadi artis nanti.

Foto-foto dari: Popseoul dan berbagai sumber.

12 Responses to "Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop"

bener emang panjang…ampe ngos2an mbacanya:mrgreen:

wah gitu ya….gak tau mau nanggepin apaan….mikir kelamaan tuh bos keburu datang..ntar aja ya…daaaag:mrgreen:

@ian
membaca ini saya jadi teringat masa lima tahun lalu di jakarta. ketika itu ada seorang artis cilik, yang tentu sekarang sudah besar, bercerita soal hidupnya kepada saya. ia tinggal bersama neneknya. kedua orang tuanya tetap tinggal di tanah kelahiran mereka. sepanjang cerita ada nuansa janggal yang saya rasa. ia tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya. ia memang ceria dan masih tanpa dosa. namun saya merasa, ada tembok besar di kanan-kirinya, yang menjaga supaya ia tetap ceria dan tanpa dosa. tetapi itu tembok artifisial belaka. jadilah sepanjang cerita kami berdua, praktis tak tercipta leluasa. seperti ketika saya dan anak-anak kecil lain saat bercengkerama. bicara dandanannya, jangan bayangkan ia seperti anak kecil tetangga. karena rupanya lebih mirip orang dewasa. lengkap dengan riasan tebal yang menutupi sekujur mukanya. pakaiannya pun jauh dari rasa bahagia yang biasa hinggap pada anak-anak seusianya. semuanya seperti serba terpaksa. tetapi kepada saya, lagi-lagi ia mengaku sangat gembira. neneknya, hampir mau melakukan apa saja demi kesuksesan cucunya. jadwal syuting hingga dini hari pun bukan soal yang perlu diperdebatkan. soalnya sang cucu dituntut lengkap. bisa nyanyi. pandai lenggak lenggok dan menari. juga mesti bisa beraksi saat kamera menyorotnya, bahkan hingga dini hari.

inilah watak industrialisasi. terutama jika bicara pasar hiburan yang sarat dominasi kapitalisasi. ia punya logikanya sendiri, sebagai prasyarat dan syarat demi kelanggengannya. kejayaannya. semuanya dikomodifikasi. akhirnya ini meminggirkan hakikat manusia dalam kutub bernama komersialisasi. bahkan lihatlah saat bulan suci. penetrasi industrialisasi tetap tak bisa dihindari. tontonlah televisi. banjir sekali mata acara yang seperti membuat agama masuk dalam jerat ketat industrialisasi. soalnya saat semua hal masuk dalam realitas pasar hiburan, semua hal itulah yang menyesuaikan diri dengan realitas pasar hiburan. ada rating. ada prime time. ada slot iklan. termasuk agama, saat masuk dalam realitas pasar hiburan, mau tak mau harus ikut logika dan realitas yang berlaku dalam pasar hiburan. maka lihatlah betapa menjamurnya dominasi program televisi yang menjadikan dakwah hanya sebagai basa-basi. jadilah agama harus rela tersubordinasi dalam pasar hiburan yang jadi inti.

sekali lagi, inilah industrialisasi. melahirkan anak kandung bernama budaya konsumtif yang dirumuskan dalam Collin’s Dictionary of Sociology sebagai kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang dan jasa pelayanan. atau juga bisa diartikan sebagai budaya yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern saat cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial, seperti jender, umur, pekerjaan, etnis, dan sebagainya, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu para konsumen.

logika pasar hiburan adalah bagaimana menjadikan segala rupa ihwal yang masuk ke dalamnya sebagai komoditas yang laku dan bisa dijual. jika tidak, harap minggir. segala ihwal demi menyematkan predikat layak jual tadi pun dilakukan. pada kasus korea, operasi plastik jadi sangat wajar karena selain teraplikasinya ilmu dan teknologi, sistem nilai dan keyakinan mereka pun memungkinkan untuk itu. saya jadi teringat alkisah atlet-atlet bulu tangkis mereka yang terheran-heran demi menemukan kebiasaan pebulu tangkis indonesia yang gemar berdoa sebelum berlaga.

pada kasus indonesia, mungkin ada, tetapi baru satu dua yang berani mengakuinya secara terbuka. namun cerita artis cilik yang saya alami di muka kiranya bisa jadi pembuka. kalau kita memang perlu revolusi budaya.

Dunia memang semakin edan saja yah! Saya setuju kalau Jakarta butuh revolusi budaya secepatnya kalau tidak jakarta makin jatuh ke dalam lubang penuh dosa dan nista. menyedihkan.

halo Ian, ayem bek….akhirnya setelah semedi dapat inspirasi nih hehe…

hmmm….saya mau komen di sisi ini….mulai….

membaca artikel ini, perasaan saya gak karuan, campur aduk antara kagum, kaget, heran dan salut. sebagai negara maju yang posisinya diperhitungkan di kancah dunia internasional, negara korea dan rakyatnya punya sinergi positif dalam bekerjasama mencapai misi dan visi mereka untuk menjadi maju, modern, terdepan, dsb. Mereka mencintai kesempurnaan…bisa dikatakan mereka adalah rakyat yang perfeksionis, pemuja kesempurnaan. Mereka akan melakukan apa saja yang bisa membawa mereka pada kesempurnaan. Untuk yang satu ini, pantas lah jika sekarang mereka jadi negara maju yang punya rakyat yang cerdas, intelek, makmur, dsb. Suatu sisi yang patut direnungkan kenapa kita gak maju-maju, cuma nambah tua doang setiap tahunnya.

Terlepas dari cara mereka dalam mencapai kesempurnaan, kita bisa tiru semangat, kerja keras, kreativitas, improvisasi, inovasi, dedikasi, integrasi, dll yang positif2 aja maksudnya….salam

Mas Ingki:
Komentar sampeyan bisa jadi entry jg tuh hehe…tp benar sekali, fenomena komersialisasi dan industrialisasi sudah melanda negara kita juga.

Rahmawati:
Maka itu kita harus mulai sekarang juga!

Yonna:
Ada benarnya, nice twist. Kita masih bisa mengambil sisi positifnya: kerja keras, semangat untuk lebih baik. Tapi tanpa harus merubah garis yang sudah ada tentunya.

[…] 2008 by ian Sebenarnya saya masih ingin membahas Korean Pop industry sebagai lanjutan posting Perubahan Lanskap Bisnis (1): Kpop. Tapi kebetulan saya mendapati sebuah video dokumenter yang menarik tentang fenomena lain namun […]

@ ian
operasi plastik sudah lumrah sepertinya untuk artis2 di lihat dari sisi lain bukan hanya untuk terlihat cantik tp saya pikir untuk terlihat professional juga. mana ada orang yg mau liat bintang flmnya jelek dan berkerut. e.i demi moore dia umur 40 tp terlihat 30an.

@yonna
untuk jadi orang yg maju banyak2lah membaca dan buka mata sehingga kita dapat mengerti bermacam2 hal. negara indonesia bisa juga kok kyk gt kl smua rakyatnya berpendidikan.

Kiera:
Terima kasih atas dua komentarnya di seri Perubahan Lanskap Bisnis­čÖé

Benar kata Kiera bahwa operasi plastik sudah lumrah di kalangan artis. Karena itulah artikel saya adalah tentang platform yang sudah mulai berubah/bergeser. Fenomena di kalangan artis ini sudah merambah ke tengah-tengah masyarakat biasa, gadis-gadis muda khususnya (yg bukan artis).

Lalu untuk artisnya sendiri, ini bukan seperti Demi Moore yang melakukan operasi plastik untuk mempertahankan kecantikan dan kemudaan. Yang terjadi di Korea adalah sebelum para artis debut biasanya mereka sudah jauh hari mempersiapkan operasi plastik ini. Bisa dibilang jadi lebih proaktif.

Begitu…

Dan juga, seharusnya bakat dan kemampuan bisa menutupi kekurangan (penampilan atau wajah). Kalau terbalik, prestis profesi artis jadi menurun donk?

gw pngin nanggapin ttg oplas yg kian marak di kalangan artis tpu yg paing parah tuh korea,wah g nyangka bgt abis sempurna sih…,hampue mirip kya artis disini muka2nya,tpu aq heran knp yaa aetus d sna bsa cepat go internasional padahal wktu gw liat aksi panggingnya lee hyo ri biasa aja tu ,suaramya pas2an,boa jga cma aksi panggungnya aja yg bgs msh bgsan agnes monica suaranya,lgian hmpe sma kn aetus d sana penyanyi bsa jga terjun ke akting tpu bdanya d sana sungguh2 n serius.,persaingan di dunia akting ketat dusampung artisnya si penulisnya jga bersaing ,mngkin jga krn birokrasi sbg faktor n letak negaranya ,dan klo boleh aq komentar qta kn jga pnya penyanyi2 berbakat kya anggun yg udah jdi penyanyu dunua malah lebih bagus dari penyanyi korea mesku g bsa dance tpi suaranya mirip ama annie lenox wktu muda n enigma jgo main alat musik lgi,trs qta pnya gita gutawa msh muda tpi pestasimya seabrek,belum lgi dlu qta kan raja n ratu festival penyanyi wkt asua bagus n festival dunia lanmmya,liat aja ga ada kn yg oplas di banding ama artis korea,klo dudunua film qta mestu hrs belajar banyak ,khususnya du dunua sinetron ,jgn hanya jual tampang tok,bru 3 tahun aja udah membintangi lebuh dari belasan sinetron cba bayangkan d korea sna utk menjadu aets papan atas sja hrs lama paling hannya main di 5-7 serial ,tpu aqmulai salut ama dunia layar lebar qta yg mulai bamgkitkmbali,kloserual kn g bsa diikutkan ke ajang festival inteenasional ,klo layar lebar bsa diikutkan festival.ya udah cayoooooo……………………

yaela aksi panggung boa bgs tp suara gk? yakin loe..makanya buka youtube..winter love nya boa di panggung bisa dinyanyikan sama kek di album..performance girls on top dia di times square amrik jg stabil dgn dance yg intens, gk sengaja di improve kek agnes…tim dance nya agnes berantakan kek ge senam aja

Maaf ya,,, numpang baca,,,

Emang persaingan di dunia hiburan Korea ketat dan dinamis banget… Gak kyk di Indo.

Ih pengen liat artis2 Indo yg multitalented yg bisa nyanyi, nari, akting kayak artis2 Korea sana…

Band2 mellow Indo ud bosen ngeliatnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: