Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Gue Gak Butuh Lo, Monyet!

Posted on: October 19, 2007

kumuh.jpgUntuk kalian masyarakyat miskin Jakarta, mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang tidak punya harga diri dan rasa percaya diri? Mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang bisanya cuma disuruh-suruh kayak babu? Mau sampai kapan kalian menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan terbelakang yang bisanya cuma manggut-manggut sok ngerti? Sudah cukup.

Untuk kalian masyarakat kaya Jakarta, apa sudah sejelek itukah gambaran Jakarta di dalam benak kalian? Sudah sedemikian hinakah Jakarta sehingga layak untuk terus dicela dan dicemooh? Kenapa setiap kali kita bertemu, kalian hanya berkeluh kesah tentang susah dan beratnya hidup di Jakarta? Mulai dari macetnya yang gak ketulungan, banjirnya yang tidak ada habisnya, para polantas dan pejabat Pemdanya yang pada mata duitan, hingga harga barang-barang yang makin hari makin mahal saja. Kalau sudah begini, pantas saja Jakarta menjadi sebuah kota yang amat tidak nyaman untuk ditinggali. Bandingkan dengan kota lain di negara-negara maju seperti Paris di Perancis atau Tokyo di Jepang, mengapa kota-kota tersebut bisa menjadi begitu indah dan nyaman? Setiap kali kalian berlibur kesana, hati kalian berbunga-bunga dan setiap momen terasa begitu luar biasa sehingga sayang untuk tidak diabadikan melalui kamera digital kalian.

Kalau memang sudah tidak betah hidup di Jakarta kenapa kalian tidak pergi saja ke kota lain dan memulai hidup baru? Kenapa kalian tidak mengotori kota lain saja seperti Bandung, Semarang, Surabaya, atau Medan? Kenapa kalian tidak menyetir mobil ugal-ugalan di tempat lain layaknya orang gila yang selalu kalian lakukan di jalan-jalan utama dan tol di Jakarta? Pergi saja ke tempat lain dan langgar semua peraturan yang ada, langgar dan langgar terus. Terobos saja lampu merah, toh polisi sedang tidak nongkrong. Merokok saja seenak jidat kalian seperti yang biasa kalian lakukan sehari-hari di Jakarta, merokok di tempat-tempat umum dan pura-pura tidak lihat kalau ada orang yang batuk karena menghirup asap rokok kalian.

Jakarta tidak butuh orang-orang yang maunya menang sendiri. Jakarta tidak butuh orang-orang egois yang taunya cuma bagaimana mengumpulkan uang sebanyak mungkin lalu berperilaku seenaknya di dalam lingkungan masyarakat. Jakarta tidak butuh orang-orang pintar yang saking pintarnya justru tidak tahu kalau pembangunan mall dan trade center sudah melewati batas sehingga tidak ada lagi kawasan hijau di Jakarta. Jakarta tidak butuh orang-orang sok suci yang apabila bertemu masyarakat miskin selalu menyebut nama Tuhan sembari menjanjikan peningkatan kesejahteraan padahal kalian tahu kalau semua itu hanya bohong belaka.

Sudah, tutup mulut dan kemas barang-barang kalian. Pergi jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi. Jangan pura-pura menyesal serta minta maaf karena dosa kalian sudah menumpuk, hanya Tuhan yang tahu. Sudah, hentikan basa-basi itu lalu mulai tinggalkan kota ini, tinggalkan. Tinggalkan, kami sudah lelah dengan gaya kalian yang petantang-petenteng sok jagoan, dengarkan ini baik-baik, “Gue gak butuh lo, monyet!”

Foto diambil dari sini.

Presented by

10 Responses to "Gue Gak Butuh Lo, Monyet!"

ampun mbak,ehehehehe

@GBM
waks monyet teriak monyet hehe:mrgreen:

gini ya jakarta, kalo gak ada orang-orang kaya itu roda perekonomian bisa tersendat..kalo gak ada orang miskin lantas gak ada yang bisa diinjak-injak.

kalo gitu gue mudik ke new york deh….new yorkyakarta hadiningrat hehehehhhhhh

Saya setuju dengan pendapat itu, kalau Anda perhatikan lebih dalam saya tidak menentang pendapat tersebut karena saya pada dasarnya adalah orang yg sangat memuja proses “keseimbangan”.

Yang saya tidak suka adalah orang kaya yang petantang-petenteng, maunya untung terus tanpa memikirkan nasib orang miskin.

jakarta emang keras ya?! nasib jadi orang kecil diinjak-injak ma orang kaya mulu. ya betul kita perlunya orang kaya yang berakhlak mulia bukan orang kaya tapi katrok gitu. lagipula orang-orang kaya harta dan hati lebih lama suksesnya daripada orang kaya harta miskin hati karena mikirin cari laba terus dengan cara halal-haram akhirnya dia akan jatuh juga.

soal keseimbangan, saya juga memujanya, cuma masalah waktunya aja…prinsip tanam-tuai berlaku universal, tinggal tunggu aja cerita selanjutnya gimana nasib orang kaya kelakuan monyet itu hehe

Tulisan yang menarik, terima kasih.

Walau sayang terlalu jelas posisi keberpihakannya; kaum miskin hanya dibahas pada 1 (satu) alinea pembuka yg diletakkan paling atas. Sementara kaum kaya tepat sebaliknya, dicaci habis2an. Why? Dendam pribadi kah, sehingga kehilangan subyektivitas?

Btw, sudahkah rekan2 membaca sebuah surat terbuka sebagaimana terlampir?

Surat Terbuka untuk Gubernur Foke, Jakarta

@terbanglah lebih tinggi

dalam artikel ini, kebetulan kaum kaya lah yang kebagian jadi bahan caci maki Tasa, kalo mau rikues ke Tasa minta buatin artikel yang mencaci maki kaum miskin, gimana?:mrgreen:

duh2x masih ada toh manusia tidak bisa bercermin……..cepek dech. ingat no one be perfect, kita hidup bermasyarakat.emangnya selama ini ente tidak hidup dari keringat monyet2x tersebut?
saya menyayangkan kenapa bakat yang bagus untuk membuat artikel dikotori dengan kebencian……
so………
we live together dont make problem,if we dont wont disturb ok…

duh2x masih ada toh manusia tidak bisa bercermin……..cepek dech. ingat no one be perfect, kita hidup bermasyarakat.emangnya selama ini ente tidak hidup dari keringat monyet2x tersebut?
saya menyayangkan kenapa bakat yang bagus untuk membuat artikel dikotori dengan kebencian……
so………
we live together dont make problem,if we dont want disturb ok…

Dheca: He-he-he. Capek yah? Sama dooonk. Makasih loch udah capek2 nulis komentar, ampe dua lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: