Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Ada Apa Dengan Pendidikan Indonesia?

Posted on: September 30, 2007

Tanggapan atas Bab I : Pendahuluan (oleh Aan)

Saya merupakan salah satu produk sistem pendidikan Indonesia yang tamat dan lulus SMU tahun 2003. Saya merasa Angkatan ‘03 adalah angkatan yang multi dimensi, atau kalau boleh juga disebut Angkatan Percobaan. Bukan tanpa alasan, tapi kalau kita tengok kembali rasanya banyak sekali perubahan sana-sini pada Angkatan ‘03 tersebut. Mungkin beberapa hal yang akan saya tuliskan ini pernah terjadi di angkatan-angkatan sebelumnya.

Hal-hal penting tersebut di antaranya:

  1. Perubahan sistem UMPTN menjadi SPMB yang berlaku sejak tahun 2001 yang berarti tahun masuknya Angkatan ‘03 di bangku SMA.
  2. Perubahan sistem Cawu menjadi Semester di sebagian besar wilayah Indonesia. Angkatan ‘03 secara otomatis mengalami dua sistem pembagian waktu belajar yang berbeda (kelas 1 dan 2 sistem Cawu, kelas 3 sistem Semester).
  3. Perubahan Kurikulum ’94 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004.
  4. Perubahan EBTANAS menjadi UAN.
  5. Pembedaan istilah Tamat dan Lulus SMU (yang kalau tidak salah mulai diterapkan tahun 2003).
  6. Dan mungkin beberapa perubahan istilah lain yang tak kalah kerennya.

Paling tidak hal-hal di atas masih ada dalam ingatan kita. Di antara sekian banyak dinamika perubahan di dunia pendidikan tersbut ada satu hal yang cukup merisaukan saya kala masih berseragam putih abu-abu (sebenarnya bukan abu-abu menurut saya): Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Satu kata kunci yang membuat saya sedikit gugup saat itu adalah kompetensi. Ada apa dengan pendidikan di Indonesia saat itu? Apa maksud kompentensi itu? Hati menjadi resah dan otak berputar tak tentu arah. Khawatir kalau-kalau nanti akan ada tambahan di ujian akhir, yang praktikum lah, yang pidatolah, yang lari jarak jauhlah, yang membedah kodoklah, dan banyak lagi. Seketika semua hal praktis terlintas di pikiran. Apakah yang akan menjadi tolok ukur kompetensi untuk kelulusan (SMU) nanti?

Sepertinya memang ini sistem pendidikan terbaru di Indonesia saat itu. Namun kekhawatiran saya (dan mungkin juga teman- teman saya) berangsur reda seiring berlalunya jam-jam pelajaran. Senin sampai Sabtu masih dilalui dengan PR, ulangan, LKS, olah-raga seminggu sekali dan hal rutinitas lain yang membuat saya bosan dan (hampir atau bahkah benar-benar) lupa keberadaan KBK. Dan benar saja, setelah beberapa waktu saya merasakan ketatnya persaingan di sekolah terfavorit di Madiun itu, saya hampir lupa bahwa saya sedang berada di sebuah sistem yang baru. Saya hampir tidak merasakah bedanya! Jangankan merasakan bedanya, mungkin banyak diantara teman- teman saya yang bahkan tidak sadar kalau saat itu ada sistem bernama Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Dari khawatir saya berubah menjadi bingung dan penasaran. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan KBK? Bukannya tidak pernah ada guru yang menjelaskan apa itu KBK, tetapi manifestasi nyata sistem itu tidak (atau belum) terlihat. Apa yang bisa disebut kompetensi, siapa yang kompeten? Jangankan mencari jawaban untuk sistem itu secara utuh, mendapat jawaban yang pasti dari diri saya pun tidak mampu. Apa yang kompeten dari diri saya? Apa kompentensi anda setelah setelah lulus SMU?

Perbedaan Kurikulum ’94 dan KBK pada intinya terletak pada proses belajar mengajar di kelas. Dalam sistem ini tertuliskan bahwa siswa diharapkan untuk lebih aktif berpendapat, berdiskusi, bereksperimen, dan banyak hal lain yang pada Kurikulum ’94 tidak ada. Namun kenyataannya, praktek di lapangan (hampir) tak ada bedanya. Tidak seperti reformasi negeri ini yang melahirkan kebebasan pers, sistem Pemilu baru (yang katanya lebih demokratis), dan juga kian melonjaknya harga-harga di pasar. Saat anda membaca tulisan ini, coba lihat bagaimana proses belajar mengajar di sekolah-sekolah negeri kita. Saya yakin banyak siswa yang masih harus memindahkan tulisan yang ada di buku catatan guru melalui papan tulis atau orasi monoton, sekali pun sudah mempunyai buku pelajaran.

Kalau kita tilik secara singkat kompetensi artinya mempunyai sifat bersaing (berdaya saing). Jadi, siswa-siswi yang telah menempuh pendidikannya dalam sistem itu diharapkan mampu bersaing. Namun kurang jelas bersiang dalam hal apa dan bagaimana. Atau mungkin kita diharapkan untuk mencari tahu sendiri. Apakah dengan lulus dan tamat SMU dengan nilai tiga mata pelajaran utama rata- rata 7 siswa sudah bisa dikatakan kompeten? Di sini ada yang hilang. Ketidakpahaman siswa tentang apa kompetensi dirinya membuat Kurikulum Berbasis Kompetensi kurang mengena. Sayangnya, hal ini diperparah dengan kurangnya peran pengajar untuk mengaktifkan KBK ini, selain mengganti buku pelajaran dengan sampul baru yang bertuliskan Sesuai Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Saat SMU, tambahan bimbingan belajar di sekolah (gratis) hanya memberikan keletihan di atas jam pelajaran Senin-Sabtu yang sudah cukup hectic. Keharusan untuk menghapal dan menguasai materi pelajaran sering kali tanpa diimbangi usaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi di tengah proses. Sering kali banyak siswa yang pada akhirnya malah tidak paham apa-apa ketika mengikuti bimbingan belajar ekstra di sekolah, karena yang terjadi adalah pembebanan yang melebihi kapasitas, bukan sebuah bimbingan yang efektif. Bimbingan belajar seharusnya berusaha mengatasi masalah yang ada pada proses belajar. Yang perlu diingat adalah bahwa ini semua merupakan proses belajar. Proses itu penting, bukan hanya hasil. Kita sering mendengar istilah goal-oriented, itu di dunia kerja. Sedangkan di dunia pendidikan pijakannya adalah process-oriented. Jika proses sudah kita kuasai, kita akan dengan mudah beradaptasi sesuai situasi dan kondisi untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jika hanya hasil yang dikejar, kita tak akan punya cukup pondasi untuk membangun kompetensi di atasnya.

Maka itu ada seorang guru saya yang ketika ulangan lebih menekankan penilaian dengan melihat alur penyelesaian masalah yang benar. Kadang terdengar membosankan memang. Tapi lihat saja ketika seorang guru hanya peduli hasil akhir, banyak yang di kertas ulangannya mendapat suatu jawaban tanpa ada asal yang jelas. Karena memang banyak cara untuk mendapat suatu jawaban sebuah soal: bisa dengan meminta dari teman (paling populer), melirik, bahkan melihat secara terang-terangan buku pelajaran (banyak juga dilakukan), menuliskan angka dengan acak (jarang terjadi), atau melempar penghapus kotak yang sudah diberi tanda A, B, C, D, dan E. Hal-hal tersebut dapat dimaklumi, meski tidak bisa diampuni, ketika proses tak dikuasai. Sedangkan proses yang dikuasai dengan solid akan memberi kerangka berpikir yang kuat. Hasil pun bisa dicapai dari berbagai arah. Jika hanya hasil yang ditekankan, siswa akan kehilangan esensi dari sebuah pendidikan. Kalau ini terjadi, karakter tak akan terbentuk. Dan kompetensi tidak akan tercapai tanpa karakter.

Pendidikan Indonesia menggunakan istilah Proses Belajar Mengajar (PBM), jadi ya kegiatannya mengajar apa yang perlu diajarkan. Dan harus dipahami bahwa mendidik berbeda dari mengajar. Belajar bisa dilakukan sendiri seperti, belajar memasak, belajar komputer, dan bahkan belajar materi-materi kuliah. Tanpa masuk kelas pun sebenarnya seorang siswa bisa menguasai materi sebuah kelas dan mendapat nilai A, kecuali jika absensi diwajibkan dan ada penilaian dari tugas. Namun ia akan kehilangan pengalaman interaksi yang penuh di kelas.

Lain halnya dengan belajar, pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada pendidik/pengajar dan yang dididik/belajar. Lagi pula tidak ada kata yang enak didengar untuk menggambarkan pendidikan yang dilakukan sendiri. Sekarang coba kita telaah sejenak kata yang bisa menggambarkan pendidikan yang dilakukan sendiri, seperti:

  • terdidik (bersifat memperoleh pendidikan),
  • didikan (hasil pendidikan),
  • mendidik (ini jelas bukan),
  • Didik (yang ini nama orang), atau mungkin
  • Swadidik?

Dan bahasa mencerminkan budaya. Berarti sebenarnya bangsa Indonesia sudah paham bahwa pendidikan membutuhkan komunikasi dua arah, tidak seperti belajar.

Kembali ke learning process, hal ini akan bisa dipahami mengapa yang dipakai adalah kata learning, bukan studying. Karena seperti kita ketahui bahwa studying bisa dilakukan sendiri, tanpa perlu seorang guru. Guru dalam suatu proses belajar adalah sebagai sumber pengetahuan, bukan seseorang yang berprofesi sebagai pendidik (atau pengajar). Maka tak jarang banyak orang yang mengatakan, “Buku adalah guruku” bukan “Buku adalah pendidikku” karena memang buku tidak bisa memantau apa yang kita serap dan pahami dari proses belajar kita.

Istilah yang digunakan Aan dalam artikel di blognya, “patung indah tapi tanpa jiwa,” bisa menggambarkan hal ini. Hilangnya esensi komunikasi dua arah bisa sangat fatal. Bahkan ada ungkapan diantara para pendidik: A learning process is successful when a student is able to construct a solid argument to refute his teacher’s opinion. Sudah lazim kah hal ini di Indonesia? Itu juga kalau gurunya punya opini sendiri yang terlepas dari apa yang dikatakan buku pelajaran. Tampaknya fenomena ini yang sedang terjadi di dunia pendidikan (atau lebih tepatnya pengajaran) Indonesia. Seperti dalam artikel yang sama, Aan mengungkapkan bahw a”tidak ada proses untuk mencari tahu mengapa kita harus belajar ini dan itu, yang ada hanya apa yang harus kita pelajari” di dalam kelas. Proses yang kita punya sekarang ini notabene hanya bertumpu pada aliran informasi satu arah. Parahnya aliran informasi satu arah ini juga kebanyakan tidak dilandasi knowledge basis yang kuat. Masih banyak pengajar yang belum punya kemampuan mengolah informasi sehingga bisa menyampaikannya dengan baik kepada siswa. Dengan kata lain, banyak guru yang hanya berperan sebagai (maaf) speaker dari buku pelajaran. Kalau pun aliran informasi satu arah ini berasal dari sumber pengetahuan yang solid, hasilnya belum tentu memuaskan. Apalagi kalau pemberi informasinya kurang jelas?

Filosofi pemerintah tampaknya kurang berhasil dipahami atau mencapai sasaran. Saat pemerintah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun, selama sembilan tahun itulah yang disebut Pendidikan Dasar. Selepas itu disebut Pendidikan Lanjutan. Nah yang kurang dipahami di sini adalah esensi Pendidikan Dasar-nya. yang ada hanya Pengajaran Dasar. Seharusnya kalau memang Wajar 9 Tahun menjadi Pendidikan Dasar, itu sudah bisa menjadi pondasi yang solid untuk melanjutkan pendidikan ke depannya. Memang sebuah kenyataan yang sulit. Namun bukan berarti kita menyerah begitu saja pada sistem. Sebisa mungkin kita harus berusaha memperbaiki. Ada yang punya ide dan berminat?

14 Responses to "Ada Apa Dengan Pendidikan Indonesia?"

Selain itu, pernah juga ngobrol dengan salah satu tokoh Kepemudaan di FKA ESQ Jawa Barat, tentang Interest Personal Challange (apau itu namanya).

Jadi siswa kurang difasilitasi interes terhadap suatu bidang dan kurang adanya challange di situ. Misalkan siswa diperbolehkan memilih fokus untuk bidang pelajaran yang diminati dan adanya fasilitas yang mendukung (materi dan non materi).

Pernah juga diskusi di forum tersebut, bahwa rencana para orang tua2 yang peduli terhadap pendidikan mengusulkan sejak SMP/SMA diberlakukan sistem SKS. Jadi siswa bisa lulus lebih cepat atau sesuai kemampuan, jadi lebih ada challange.

Deniar:

Sependapat dengan anda, pemberlakuan sistem SKS mungkin merupakan langkah awal perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Juga tentang fasilitas yang mendukung minat dan bakat siswa. Memang ini yang dirasa sedang diperlukan sistem pendidikan di Indonesia untuk dapat mulai membangun karakter anak didiknya.

Semoga tidak hanya teori lagi yang diluncurkan, namun juga aplikasi yang benar.

Saya setuju apabila sistem SKS diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia mulai SD hingga SMA. Karena sistem SKS lebih manusiawi, siswa tidak dibuat pusing dengan adanya peringkat atau rangking yang seringkali justru jadi momok yang menakutkan. Pemberlakuan sistem SKS harus dibarengi dengan perubahan sistem pengajaran, tidak satu arah yang hanya berkutat pada kegiatan menghapal dan mencatat. Sebagai tambahan, ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial atau kesenian harus mendapat penghargaan yang sama dengan ilmu pasti (IPA).

Berdasarkan pengetahuan saya, sudah ada beberapa sekolah di Jakarta yang menerapkan sistem SKS walau masih dalam tahap percobaan. Saya akan coba cari artikelnya.

Thanks.

yaa mungkin kelemahannya adalah kedwasaan murid u/ memilih pelajraan sesuai kebutuhannya…ya, tapi namanya juga pembelajaran

kalo menurut gw persoalan paling fundamental dalam pendidikan selain kurikulum adalah komersialisasi pendidikan, iniiii gawaaaaaaat…..

dan gw merasa 4 tahun terlalu singkat hehehehe

jangan heran dalam beberapa tahun ke depan ada MIT cabang garut

Aul:

Poin penting yang anda sampaikan ini memang dahsyat pengaruhnya di dunia pendidikan, bahkan juga di sepakbola: komersialisasi.

Sedangkan u/ bisa dewasa memilih pelajaran yg sesuai kebutuhan siswa berarti harus ada kesempatan u/ memilih dulu, kan? Inilah yg kita belum punya (in general).

MIT cabang Garut bukan tidak mungkin, melihat sudah banyak Univ besar dunia yg buka cabang di lain benua. Tapi apa ngga aneh kalau MIT cabang Garut? Hehe…

nostalgia juga deh…..
waktu masih SMP saya merasakan sistem semester, tetapi adik kelas yang setahun di bawah harus mengikuti sistem cawu (berlaku pendidikan dasar 9 tahun/kurikulum 1994), jadi angkatan saya adalah angkatan terakhir sistem semester waktu itu. kemudian SMA (1996) baru merasakan sistem cawu.

intinya mah kurikulum pendidikan indonesia selalu jadi bahan percobaan para ahli dan cendekiawan pendidikan. setiap saat selalu ada kejutan tidak enak dalam sistem pendidikan kita. contohnya tragedi UAN atau UN tahun 2005-2006 lalu.

entah gimana nanti sistem pendidikan indonesia saat anakku mulai sekolah, hope everything will be okay aja lah amin.

Kalau kita rasakan, memang benar apa yang dikemukakan Aan. Perbedaan antara kurikulum yang satu dan lainnya seakan-akan tak ada bedanya. Yang saya rasakan adanya perubahan kurikulum ini hanyalah sekedar adanya suatu proyek kegiatan yang menguntungkan orang-orang tertentu saja. Kalau saja uang yang digunakan untuk pembaharuan kurikulum ini digunakan untuk membantu biaya anak-naka yang tak mampu bersekolah akibat ketiadaan biaya, saya yakin uang itu sangat cukup bahkan berlebih. Pergantian kurikulum tidak memberikan pencerahan yang baru karena guru dalam mengajar tetap saja seperti itu-itu juga.

menurut gw pendidikan itu adalah suatu kesadaran manusia dalam melihat berbagai fenomena di dunianya.
entah bagaimana dan untuk apa ia mencari pengetahuan lewat menempa dirinya hingga menjadikan ia dipanggil sebagai “manusia terdidik”. so…

Education is a way for that human know him/her self that for what he/she live…..

ngarti apa wha…..!!!!

Pendidikan di Jakarta, khususnya…

Ngomong soal SD negeri dulu deh, dari cari sekolah, syarat2 pendaftaran, syarat umur, tes, pdkt dgn guru2nya, melayangkan amplop sogokan, sampe keluarnya ancaman2…itu adalah rutinitas yang harus dialami OT setiap tahun, miskin atau kaya. Di lain pihak, kepala sekolah, sampe guru2 bersangkutan tanpa sungkan menentukan pilihan sogokan, mau ngasih uang atau AC atau TV 29 inch FLAT??

Jadi, apa pesan moralnya…yang disogok dan yang nyogok? Siapa yang salah?

So, is it about knowing who you are? or is it an act of desperation?

Kenapa stlh bertahun2, pihak pemerintah tidak ada yang bertindak? Mudah2an, generasi muda kita bisa jadi “si tangan besi” di bidang pendidikan negeri tercinta ini. Amiin..karena sudah terbukti di dunia, bahwa anak2 Indonesia sangat cerdas.

Go! Indonesia Go!

Pendidikan itu khan seharusnya tidak hanya mendidik hal yang bersifat pengetahuan saja, tetapi juga mendidik moral-moral manusianya. tapi terkadang banyak tempat pendidikan yang hanya mengetengahkan ilmu pengetahuannya saja tidak pada moral anak-anak didiknya..

sistem sks pada sekolah ada baiknya sich jadi buat anak-anak yang otaknya pinter dia bisa cepet selesai tanpa harus tergantung pada pendidikan yang terlalu lama.ya gak….

klo mengenai sogok..menyogoknya kayaknya gak dijakarta aja kali ya, skrg didaerah juga udah mewabah tuch, tapi itu khan tergantung ama individu kita masing-masing aja kali ya. memang sich sekarang gak dipungkirin lagi baru mau masuk sekolah aja dah dimintai dana pelicin…wah itu gimana ya..?smoga smua yang ada disini sangat tidak setuju tentang penyogokan ya gak…

gimana pendidikan di Indonesia bisa maju, habis kurikulumnya berubah terus, buku mahal, kualitas guru pas-pasan, malah yang yang pintar seperti Profesor ngojek diluar kampus, siswa dan mahasiswanya belajar sendiri dikelas

thx nich at artkelna….
lam knal…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: