Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Dengar Jeritan Hati Mereka

Posted on: September 29, 2007

Suatu ketika di Jakarta saya menghadiri sebuah pameran di Jakarta Convention Center (JCC) dan di saat yang bersamaan tim sepak bola kebanggaan Jakarta Persija sedang berlaga menghadapi tim dari luar kota. Sebelum berangkat seorang teman saya sempat menasehati untuk tidak datang ke pameran tersebut dengan alasan Persija sedang bermain, Ia mengingatkan resiko terjadinya tawuran atau kerusuhan apabila Persija kalah dalam pertandingan tersebut. Saya tetap nekat untuk datang sembari terus berdoa supaya Persija menang.

Sayangnya doa saya tidak didengar oleh Tuhan, Persija untuk kesekian kalinya harus mengalami nasib sial, kalah. Usai kekalahan Persija suasana di dalam area Gelora Bung Karno menjadi mencekam. Para pengunjung pameran di JCC harus dilokalisasi supaya tidak menjadi korban dari kebringasan para Jakmania, julukan dari pendukung fanatik Persija. Petugas keamanan bersama polisi akhirnya berinisiatif untuk “mengurung” para pengunjung pameran di dalam area JCC sampai suasana di sekitar Gelora Bung Karno kondusif dan massa bisa digiring keluar. Orang-orang tampak panik terutama yang kendaraannya sedang diparkir di luar komplek JCC, termasuk saya sendiri. Kebringasan para pendukung Persija memang saat itu sudah cukup terkenal, mereka dianggap sebagai orang-orang pendukung olah raga yang tidak sportif karena tidak bisa menerima kekalahan. Setiap kali Persija kalah dalam laga penting para Jakmania selalu merusak dan menghancurkan fasilitas-fasilitas publik serta kendaraan-kendaraan pribadi yang kebetulan mereka lewati.

Hingga pukul delapan malam para pengunjung pameran tidak juga diperbolehkan meninggalkan area pameran. Suara letusan kembang api terdengar dari kejauhan dibarengi dengan teriakan dan nyanyian para pendukung Persija. Orang-orang yang berada di dalam area JCC mulai terlihat kesal dan jengkel, beberapa dari mereka meluapkan kemarahan dengan mengomel, “Payah banget sih Jakmania, masa gara-gara kalah aja sampai merusak begini.” Sementara ada juga memberikan sumpah serapah, “Dasar kampungan.”

Fenomena Jakmania di Jakarta memang unik dan patut dicermati. Untuk sebagian banyak kalangan masyarakat Jakarta terutama masyarakat kalangan menengah keatas keberadaan Jakmania hanyalah satu dari begitu banyak alasan mengapa Jakarta semakin hari semakin tidak aman dan nyaman untuk ditinggali. Di dalam pikiran mereka Jakmania adalah sekumpulan anak muda yang doyan berantem dan cari masalah. Sebuah pemikiran yang sebenarnya tidak salah mengingat Jakmania memiliki reputasi yang cukup buruk di Jakarta, kalau tidak percaya tanyakan saja kepada para supir metro mini atau angkot yang selalu jadi korban ketika Persija sedang bertanding. Kalau masih tidak percaya juga tanya saja kepada para petugas keamanan dan polisi bagaimana mereka harus selalu repot mentertibkan para pendukung fanatik Persija tersebut setiap kali Persija mengalami kekalahan.

Jakmania memiliki definisi yang negatif di dalam kamus orang-orang yang ngakunya beradab. Yang kita tidak sadari adalah kenyataan bahwa Jakmania merupakan sekumpulan orang-orang yang tertinggal dan tertindas. Para anggota Jakmania yang rata-rata berusia 15 tahun hingga 20 tahun merupakan bagian dari masyarakat Jakarta yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati glamornya dunia. Mereka adalah anak-anak muda yang tahu persis betapa nikmatnya jalan-jalan di pusat perbelanjaan tapi malu masuk ke dalam mal-mall mewah seperti Plaza Senayan atau Pondok Indah Mall karena takut diusir satpam karena baju mereka yang butut dan badan mereka yang bau keringat. Mereka adalah anak-anak muda yang tahu persis enaknya menyantap makanan cepat saji seperti McDonald’s atau Pizza Hut tapi terbatasnya uang yang dimiliki membuat sebagian besar dari mereka hanya sanggup menikmati santapan orang modern tersebut mungkin sebulan sekali.

Para anggota Jakmania adalah mereka yang memiliki hidup yang keras dimana yang kuat selalu mengalahkan yang lemah. Ayah mereka mungkin berprofesi sebagai tukang ojek atau tukang bangunan sementara ibu mereka adalah buruh pabrik atau tukang sayur. Anak-anak Jakmania setiap harinya harus melihat kenyataan bahwa mereka hidup di gang-gang kumuh dimana air bersih pun jadi barang mewah, mereka harus memahami kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa memperoleh pendidikan tinggi sehingga masa depan yang cerah jelas hanya jadi mimpi. Namun, di saat yang bersamaan mereka menyaksikan kenyataan bahwa ternyata ada cukup banyak orang di Jakarta yang hidup dengan bergelimangan uang dan harta, rumah mereka yang berlokasi di daerah-daerah elit terlihat begitu megah dan kokoh, orang-orang kaya ini dengan mudahnya mampu membeli mobil keluaran terbaru yang paling mahal sekali pun, hidup mereka terlihat begitu mudah.

Anak-anak Jakmania adalah sekumpulan orang yang patah hati terhadap ketidakadilan dunia. Berada di dalam stadion sepak bola sambil mengenakan atribut-atribut kebanggaan mereka adalah satu-satunya situasi dimana semuanya terasa masuk akal bagi mereka, dimana mereka merasa aman dan nyaman berada di sekeliling orang-orang yang senasib dan sepenanggungan. Hanya di dalam stadion itulah mereka bisa mengalahkan “dunia.” Singkat kata, sepak bola adalah hiburan satu-satunya bagi mereka. Hanya sepak bola dan Persija yang mampu membuat hati mereka terhibur dan mereka bisa tertawa untuk melupakan kejamnya dunia yang sesungguhnya, walau hanya sejenak. Mereka tahu dengan jelas bahwa begitu pertandingan usai dan mereka harus pulang ke rumah mereka akan kembali mendengar pertengkaran kedua orang tua mereka yang meributkan uang bulanan, adik mereka yang menangis karena belum minum susu, atau kabar tentang akan digusurnya rumah mereka.

Jadi bukanlah suatu hal yang aneh apabila para anggota Jakmania menjadi begitu beringas ketika Persija kalah, karena seseorang baru saja merebut hiburan mereka satu-satunya. Jadi bukanlah suatu hal yang aneh apabila ketika mereka pulang berbondong-bondong usai kekalahan Persija tangan mereka gatal ingin merusak mobil-mobil BMW atau Mercy yang melintas di hadapan mereka, karena mereka marah dan hati mereka untuk kesekian kalinya harus sedih.

Coba dengarkan nyanyian dan teriakan mereka ketika mendukung tim kesayangan mereka Persija bertanding, dengarkan jeritan hati mereka, “Yo… ayo… ayo Persija. Ku ingin, kita harus menang…. Yo… ayo… ayo Persija. Ku ingin, kita harus menang.

Foto-foto digunakan atas seijin www.thebigdurian.net

22 Responses to "Dengar Jeritan Hati Mereka"

ya, itu fenomena yang menarik di masyarakat kita…bobotoh Persib pun punya permasalahan yang sama juga….

dan elat-elit seperti kita keknya lupa ama yang beginian….

nice and thoughtful observation. kadang kita yang hidup ‘lebih berada’ daripada para Jakmania ini suka menyimpulkan aktifitas “doyan berantem” mereka sebagai “kampungan” tanpa menyadari atau merasakan status kehidupan mereka di rumah sedikit kurang nyaman. malahan kita dengan gampang memberi stereotype perbuatan mereka itu sebagai norak, ngga sportif, dan kurang kerjaan. ya mungkin itu partly benar, partly.

norak karena kita yang berada merasa lebih superior daripada mereka; bahwa sebagai manusia kita harus bersikap civil, selayaknya manusia sosial yang beradab. dan itu bukan dengan tauran, menghancurkan mobil-mobil di jalanan, atau membuat keributan di tengah jalan dengan petasan dan lempar-lemparan batu. tapi bukankah kita bisa mengatakan hal yang sama kepada anak-anak gaul yang suka berteriak, tonjok-tonjokan, dan memecahkan botol-botol minuman di dalam dan luar club saat mereka putus cinta dan bermabuk-mabukan? lebih norak lagi kan kalo kita nuduh orang lain norak, tapi kita sendiri juga norsky.

ngga sportif karena ngga bisa menerima kekalahan dengan lapang dada. well, namanya juga fans, pasti kesel kalo jagoannya itu dikalahkan (apalagi berkali-kali). tetapi fenomena ngga sportif ini juga sebetulnya hanya sebagian dari human nature. ada yg bisa nge-handlenya lebih baik, ada yg tidak. ketidak-sportifan society kalangan menengah keatas juga bisa dilihat di dunia professional. saling menjatuhkan rekan kerja dengan mengirim surat kaleng, main belakang, dsb dsb. sama aja ngga sih? kadang kita suka malu karena bangsa kita ‘kemsut,’ ngga kaya orang bule yang maju. yah, buktinya banyak juga fans sepak bola di Inggris yang gegar amarahnya saat tim keunggulannya kalah.. tapi ini besides the point.

kurang kerjaan juga dijadikan alasan untuk mencemoohkan Jakmanias. ya mungkin memang mereka kurang kerjaan (literally). dan seperti yang di bilang di blog ini, mereka malas face the reality di rumah yg kurang seru. memang apa yg mereka lakukan tidak baik (rusuh), mungkin di sini orang tua, pemerintah dan kita semua bisa membantu dengan menyediakan aktifitas positif seperti eskul, kerja sambilan, dsb. dan jangan salah, banyak juga anak muda yang berada yg suka berbuat iseng juga loh, seperti ngejek-ngejek para wanita (atau pria) di taman lawang.. duuh, kurang kerjaan bener sih (hohoho)

i guess what im trying to say is that kita itu sebetulnya pasti punya sifat dasar yang serupa. hanya saja kita me-label sifat-sifat itu dengan atribut dan makna kita sendiri yang favorable to ourselves or the pack we’re in. pernah ada yg bilang “the definition of something is always in the eye of the definer, not the defined.” yaa, saya rasa it’s fair untuk selalu mengingat bahwa: memang diatas awan masih ada langit, tapi jangan lupa di bawah awan pun ada bumi dan tanah yang keberadaannya patut direcognize juga =)

Aul: Iya, fenomena ini memang tidak terjadi hanya di Jakarta tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Ada Bobotoh di Bandung, Bonek di Surabaya, dan lainnya. Ketika mereka berubah menjadi pendukung sepak bola yang beringas, apakah itu hanya lantaran mereka adalah orang-orang yang tidak tertib atau ada faktor lain di balik itu seperti masalah sosial?

Dejong: Hey, nice comment. Analogi yang menarik, kenyataan bahwa banyak anak muda dari kalangan mampu yang perilaku “norak” harus menjadi refleksi untuk kita agar tidak begitu saja memberi label kepada suatu golongan.

Mereka memang bisa dibilang tidak sportif karena tidak bisa menerima kekalahan, hal ini sebenarnya tidak aneh mengingat Jakmania tampaknya tidak mendapatkan dukungan dan panduan yang cukup dari Pemda DKI.

That’s a good thought, masih ada tanah yang masih kita pijak, dan kita tidak boleh lupa daratan yah. Thank you for your inspiring insight.

Artikel yang sangat bagus nich. Jakmania seharusnya mendapat perhatian dari Pemda DKI.

uhhh…artikel the jakmania terlalu subyektif!!! memang bagi orang-orang yg tidak tahu kondisi riil selalu mencomooh jakmania,, tapi yg perlu digaris bawahi adalah jakmania merupakan satu2nya kelompok supoter yg terbentuk dari akar rumput masyarakat yg heterogen, kecintaan jakmania pada persija bukan didasarkan pada rasa primordialisme, tetapi kecintaan dan identitas sebagai orang JKT, coba anda bandingkan dengan suporter lain! rasa kesukuan kental didalamnya, meskipun saya bukan asli jkt tetapi kecintaan saya pada persija gak ada matinye”, sudah saatnya anda buka pikiran bahwa tidak selamanya jakmania adalah perusuh,, maaf bila ada kata yg kurang berkenan!
anto, anggota jakmania korwil otista

Setuju dengan idenya Bung Anto, artikel di atas sebenernya tidak menyalahkan Jakmania begitu saja dan justru ingin mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam mengapa Jakmania sering mendapat persepsi yang negatif di dalam masyarakat Jakarta. Saya sangat sadar bahwa sebenernya para anggota Jakmania memiliki semangat kebersamaan yang sangat tinggi yang sepatutnya mendapat perhatian dari Pemda DKI.

Saya juga Jakmania loch, cabang Kebon Jeruk!

well GBM, your article shows that you are a positive thinking person, gue suka bacanya, low profile/membumi banget, kliatan ada jiwanya nih artikel😀

betul, jangan keburu esmoni melihat sesuatu, lihat sisi lainnya kita kudu maklum kenapa jakmania kliatannya rusuh begitu, terasa lah jika hiburan satu-satunya tidak bisa menghibur kita yang sehari-hari bergelut dengan kesusahan dan kesempitan, pasti kesel banget.

lagian perilaku norak dan brutal gak hanya milik jakmania atau mereka yang dianggap kampungan, perilaku negatif itu milik semua orang yang gak mampu berpikir dan bertindak positif….salam.

Terima kasih Yonna, mari kita lihat segala sesuatu dari sudut pandang yangg beragam dan dalam. Salam.

yang penting hukum kita yang perlu ditegakkan jadi orang takut untuk bertindak sembarangan karena penjara udah ada di depan mata. jangan terus dilepaskan saja karena tau yang ditangkep bukan selebriti yang bisa dipelorotin..

kLau begitu jakmania lebih baik dibubarkan saja..bahkan kLo perlu PERSIJa juga dibubarkan..

lebih banyak efek negatif nya daripada positif nya..
hambur2xin uang rakyat..
lebih baik uang rakyat dipake buat ngebenahin jalan2x ibu kota biar ga macet ..

HEYY…

Jangan Lihat sisi buruknya….

“kami bukan yang terbaik,,tapi kami berusaha menjadi baik”

Ngomong apa sih lo!!kami lo anggap sbg sampaj ibukota…Anda hanya melihat kami dari sisi negatif saja,selalu dan selalu seperti itu.Coba anda pikir Kami adalah salah satu suporter terkreatif di negeri ini.Kami adalah suporter yang pertama kali membuat FILM DOKUMENTER.Kami punya website sendiri tanpa dibiayai oleh manajemen Persija,kami punya Tabloid sendiri.hasil susah payah kami.Sesungguhnya yang selalu melakukan tindak anarkis di jalan atau stadion itu adalah bukan anggota Jakmania melainkan simpatisan Persija.Saat ini anggota Jakmania berjumlah 32000 orang yang resmi.dan yang bukan anggota Jakmania bisa 2 sampai 3 kali lipat…memang sulit membedakan anggota Jakmania dan Simpatisan Persija karena sama2 memakai kaos Orange..Jadi jgn anda tulis yg selalu anarkis adalah Jakmania tapi Simpatisan Persija….Kalo gak percaya kita bisa berbincang-bincang..itu klo anda berani!!!!!

Oke jangan berantem…..

ada relasi kuasa politik dan untung bisnis dalam fenomena amuk massa ala suporter sepak bola di indonesia. hal yang menyebabkan suporter sepak bola di indonesia selalu jadi yang paling tersubordinasi selama puluhan tahun.

tidak saja suporter klub-klub yang berasal dari era perserikatan, tapi juga menimpa mereka yang fanatik pada klub-klub eks galatama.

pada klub-klub yang berasal dari zaman perserikatan, kondisinya bisa tambah buram. sudah jadi barang pasti, daya hidup klub-klub perserikatan yang terus ditopang uang apbd melibatkan pula campur tangan politisi di dalamnya.

setiap tahun anggaran berjalan, polanya selalu saja berulang. apalagi menjelang digelarnya proses transisi kuasa yang berujung pada pesta pora elit politik. biasanya tiap-tiap lima tahun sekali pada musim suksesi.

tak jarang berulang, nasib pejabat publik daerah yang hampir seluruhnya dijabat oleh pemimpin klub-klub bersangkutan, ditentukan oleh nasib klub yang dipimpinnya. lawan-lawan politiknya dengan mudah menjadikan klub-klub sepak bola tadi sebagai titik masuk buat menentukan sasaran tembak.

hal ini pun jadi kesempatan paling mudah bagi petualang-petualang yang ingin cari untung sesaat. saat kepentingan untuk menang makin genting, segala upaya mulai dari hal paling atas hingga hal terendah dilakukan.

semua pihak bisa terlibat. tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

sering kali terjadi, suporter-suporter jadi pihak yang terus menerus dimanfaatkan. ditarik-tarik mulai dari ujung paling kiri hingga ke pojok paling kanan. mereka dipaksa mengerti, memahami, dan mendukung rupa-rupa kepentingan yang punya aneka muka.

dengan dalih sebagai mekanisme redistribusi aset paling sesuai buat masyarakat banyak, klub-klub tadi terus digelontor puluhan miliar duit publik. kata kunci yang selalu dipakai buat berlindung adalah, sepak bola merupakan hiburan rakyat paling murah.

inilah satu-satunya “pelarian” dari sesaknya nafas orang-orang yang terpinggirkan dan mencegah munculnya anarki sosial. belum lagi asumsi seenak perut yang menyatakan duit rakyat yang mengucur tadi dipakai buat membina generasi muda lewat olahraga.

padahal uang segitu banyak dipakai buat mengontrak pemain-pemain profesional yang gajinya mencapai satu miliar rupiah per musimnya. duit tadi juga dipakai membayari aneka pengeluaran non teknis yang jika dibeberkan halnya, sungguh tak etis untuk dibaca anak-anak yang sedang dalam proses tumbuh kembang.

jikapun ada yang dipakai buat “membina” generasi muda tadi, jumlah uangnya sungguh sekedar basa basi belaka. seandainya terdapat duit yang digunakan untuk membangun fasilitas membina raga sekalipun, besarannya cuma cukup untuk membeli beberapa buah bola saja.

lantas darimana dunia bisnis mengais untung dari segala kekacauan tadi?

dalam dunia sepak bola, jual beli pemain yang melibatkan perantara adalah bisnis yang perputaran duitnya sungguh fantastis. semua pihak ikut bermain.

tak terkecuali otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini. ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan mereka jadi pembina jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

kalkulasi persetujuan tender terhadap berbagai proyek jika terjadi suatu kerusuhan akibat tontonan mengecewakan di lapangan hijau pun sudah jelas. ada yang namanya proyek perbaikan lampu-lampu jalan, pembenahan taman kota yang hancur, stadion yang rusak karena dibakar, hingga pemberian bantuan bagi warga yang dirugikan dan mungkin harus kehilangan asetnya.

tapi jangan lupa, ada kebocoran anggaran luar biasa terhadap segala proyek yang rupanya seperti pejabat sedang berderma tadi.

apa yang terjadi pada pecinta klub-klub eks galatama mungkin agak sedikit berbeda. mungkin mereka tak sampai ditarik-tarik dalam pertarungan kuasa politik akibat pertarungan rutin politisi di pentas rutin perebutan kekuasaan.

tapi mereka pun tak lepas dari penyebab besar fenomena amuk massa tadi. kecewa yang menggumpal dan terakumulasi terus dari tahun ke tahun akibat berbagai himpitan hidup.

semua masih ditambah dengan ketidakbecusan dan ketidakkonsistenan otoritas tertinggi pembina sepak bola negeri ini yang jadi sebab besar meluasnya rasa kecewa yang pada akhirnya meledak jadi amuk massa.

mengapa mereka jadi brutal?inilah potret buram gagalnya pemahaman terhadap pendidikan yang dicekokan pemerintah.

sekolah dan sistem pendidikan yang dijalani selama bertahun tahun seakan hanya bernafsu untuk mencetak karakter-karakter buas. bayangan-bayangan soal kekerasan selalu menjadikan orang lebih memilih lari pada solusi itu ketimbang menempuh jalan bertanya.

ada guru yang hobinya menghukum. terdapat kakak kelas yang siap jadi pemangsa tatkala orientasi tiap tahun ajaran baru digelar. banyak pula asupan mata pelajaran yang
seperti memisahkan manusia dari realitas di luar tembok sekolah dan kampus yang angkuh.

kita diminta yakin, sekolah ya hanya untuk belajar apa yang sudah disajikan para guru dan dosen. tidak ada kenyataan lain. bahwa segala kekacauan sosial yang ada di luar adalah realitas yang sudah pasti ada pihak-pihak ataupun pejabat, ataupun pemerintah yang bisa membereskannya.

pembedaan perlakuan yang tertanam di alam bawah sadar sejak mula-mula akan berbagai macam identitas yang diajarkan di sekolah dan sistem pendidikan kita menjadikan nihilnya pribadi-pribadi dengan toleransi.

maka selalu saja ada anggapan. jika bukan dari kelompok anu, maka sudah pasti dia begitu. kalau dia tidak putih maka sudah pasti jahat dan jika tidak hitam maka sudah pasti ia putih yang perlu ditiru. maka, sikat saja yang hitam lalu agung-agungkan yang putih tadi.

ada pola penyebaran prasangka yang didasarkan, ya atas prasangka belaka. mengikis habis potensi kekuatan dan mengerdilkan kemampuan. tak pernah ada upaya menularkan kebiasaan buat mempertanyakan segala sesuatunya. lewat bukti dan data sahih yang ada.

usaha untuk membuat manusia memaksimalkan daya pikir yang dianugerahi lewat akal. sebagai pembeda, kita manusia. bukan hewan, bukan pula tumbuhan.

bencana belum berhenti sampai disitu. barusan saya terbelalak, demi mengetahui biaya masuk taman kanak-kanak yang saya cocok pada metodologinya, dihargai sama dengan satu unit motor bebek keluaran terbaru. belum lagi pengeluaran rutin buat mengongkosi itu semua pada tiap-tiap bulannya.

sayapun sibuk menghitung-hitung uang yang saya punya buat mendanai salah satu kepentingan primer itu. yah, saya hanya bisa sedikit tercenung sembari menengok pandangan anak saya yang sedang berkutat dengan buku-buku ceritanya.

kita sekarang lagi dipaksa setuju kalau pendidikan berkualitas sama dengan harga mahal. padahal jalan pendidikan merupakan satu-satunya tawaran buat meretas segala penyakit sosial.

jika litani ini melingkar terus tanpa putus, kapan saudara-saudara saya yang di antaranya ada yang jadi suporter sepak bola tadi bisa mencoba keluar dari jerat marjinalisasi?

lawan!

Suatu observasi yg menyetuh dan bikin pembaca refleksi.
Jadi inget pas masih di Jakarta dan keliling bersama teman2, dimana keluar masuk daerah mereka perlu melewati jembatan yg terdiri dari kayu yg tak lebih dari 4 inchi lebarnya, dimana rumah2 mereka hanya terdiri dari satu dua ruangan dan keberadaannya persis di sebelah kali yg sudah lama tidak mengalir air yg bersih.
Jadi ingat satu teman dekat, yg mungkin sekarang terlibat di Jakmania ini atau soccer mania yg laen karena dia penggemar bola juga, yg tidak mau membuat keadaannya “define who he is”.

Kadang kita yg hidup bercukupan suka lupa ama realitas di dunia ini, yaitu lebih banyak orang hidup di bawah kecukupan (below the poverty threshold) daripada orang yg hidup di atas kecukupan. Maka masalah2 yg kita besar2in, either untuk diri kita atau untuk orang laen, sebenarnya bukan masalah besar tapi suatu hal yg sepele sekali.

Dan banyak external factors/influences yg kita harus memikirkan sebelom memberi penilaian buruk terhadap orang laen.
Mereka bukan “others” yg kita bisa ignore, tetapi “our fellow brothers and sisters” yg kita harus bantu dan bangkitkan.

Semakin kita memberi jarak kepada mereka, semakin negara kita akan jatuh.

I believe a success of a nation is not in the continued success of the privileged, but in the beginning success of the underprivileged and downtrodden.

Gw sebagai orang betawi sebenernya simpati ama the jak,cuman mereka tuh emang nyebelin .
kaca mobil temen gw aje ampe pecah ama the jak .

waktu dulu gw k bandung,gw nanya k satpam outlet yang gw datengin,”bang,kalo persib maen suka rusuh ngga ?”
kate die,”udah ngga sekarang mah .”

Jadi gw mohon buat jakmania supaya jangan buat onar,yang kena orang jakarta lagi kan ?
Mending the jak bikin lagu-lagu,toko merchandise,sunatan masal,dll.
soalnye “musuh” kalian udah pada ngelakuin semua yang gw sebutin di atas .

Tapi jakmania jangan terlalu mengikuti semua yang gw bilang di atas tadi yah,nanti disebut peniru lagi sama bobotoh persib .

hhe ..

Wass.

ini hanya pandangan sempit dari satu sisi, yakni kaum borjuis..kalian terlalu egois terhadap sesama, apalagi terhadap jakmania..!
terus gak semua jakmania itu proletar..jika dipersentasekan hanya sekita 40% jadi jangan digeneralisasikan keseluruhan!!!

Jakmania tidak seburuk yg mereka sangka, sekarang sudah banyak korwil yg mengkoordinir.

dan Pemda pun memberi perhatian terhadap The Jakmania.

Jakmania adalah pendukung dan Pecinta Persija.
bukan perusuh, mereka tau adat, tau aturan dan “Punya Uang”. Kalo tidak punya uang dengan apa mereka nonton pertandingan. Suporter Indonesia sudah semakin dewasa da Maju. Jadi jangan mendiskreditkan suporter sepakbola. Justru Pemerintah harus memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan sepakbola dan suporter dinegara ini

Yoi, we love the jack

Gak smua para the jak biang rusuh!!! wajar aja kan kalo tim kesayangan kalah the jak pasti kecewa, en kenapa sih orang jakarta selalu memandang sebelah mata the jak??? tanpa the jak persija jg gak akan mjd yg terbaek.

complicated,,
mksh untuk smua pemikiran yg luar biasa ini,,
tentunya ungkapan-ungkapan diatas menjadi renungan sehingga tercipta solusi yg diiringi aksi sekecil apapun yg kita mampu lakukan untuk membuat dunia kecil disekitar kita menjadi lebih dan lebih baik lg,, amin.

knpha s’tiap org hnya mnlai kmi pra JAK hnya dri segi Negatif sja. Wjar sja jka saat Tim kebanggan kita (Persija) kalah, kita mrsa kcwa. mgkin tndkan anarkis yg kmi lakukan pra The JAK itu krena emosi mreka yg tak bsa d bendung lgu krena melihat tim ksayangan mereka kalah……………..!!!!!!!!!!!!!!!
cba byangkan seandainya tim ksayangan anda kalah………..???????????????
TETAP SEMANGAT BUAT PARA JAK DIMANA PUN KALIAN BERADA KALIAN HARUS TETAP SETIA MENDUKUNG PERSIJA MESKIPUN PERSIJA KALAH DALAM BERTANDING………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: