Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Anger Management

Posted on: September 28, 2007

anger_management_l.jpgBulan Ramadhan identik dengan kesabaran. Orang sabar disayang Tuhan. Tetapi, untuk menjadi orang yang sabar bukanlah suatu hal yang mudah. Mengapa tidak mudah karena tampaknya yang lebih mudah adalah menjadi marah. Maka dari itu yang ingin saya bahas dalam debut saya ini adalah tentang Anger Management. Di sekolah bisnis saja ada Operational Management, yang intinya belajar agar bisa menjalankan fungsi operasional dengan baik dengan sumber- sumber yang ada. Maka Anger Management bertujuan agar kita bisa mengendalikan kemarahan kita menjadi hal yang positif.

Anger (kemarahan) merupakan salah satu potensi manusia. Umumnya semua orang sudah sadar bahwa mereka memiliki potensi ini. Tapi baru sedikit yang bisa mengaplikasikan Anger Management. Jeleknya, kalau potensi ini sedang keluar, bahkan bukan hanya orang yang marah tidak bisa me-manage anger-nya, tapi justru dirinya yang dikontrol oleh anger-nya sendiri. Nah ini yang bahaya.

Dari pengalaman saya mengamati orang- orang di sekitar saat marah, biasanya mereka (meski tidak semua) terkena imbas Teori Domino (dalam sejarah Eropa) atau mungkin juga bisa diukur secara statistik, saya belum pernah mencoba sih tapi mungkin bisa dengan pendekatan distribusi Eksponensial (distribusi waktu antar kejadian). Di saat seseorang marah akan sesuatu (kadar marah berbeda- beda, yang jelas perasaan jadi tidak enak), mereka sulit untuk jadi objektif terhadap yang lain. Seperti Teori Domino, mereka sangat berpotensi untuk marah terhadap sesuatu atau orang lain yang ditemui berikutnya. Dengan pendekatan distribusi Eksponensial, orang yang marah itu akan masih marah terhadap hal lain di sekitarnya dalam rentang waktu maksimal kemarahannya reda.

Tulisan ini bukan hasil observasi teknis, seminar, apalagi thesis, hanya pengamatan pribadi. Saya pernah kena marah oleh seseorang yang sebenarnya bukan marah kepada saya. Hanya karena saya masuk ke dalam rentang waktu kejadian marah itu, saya pun menjadi objek.

Sekarang, mengapa mereka seperti itu? Mengapa mereka marah terhadap hal yang bukan penyebab kemarahan mereka? Hal ini sangat berbeda dari masing-masing individu tentunya. Mungkin perlu ada penelitian teknis dan psikologi. Namun beberapa faktor bisa terjadi secara umum, misalnya seseorang tersebut memang susah mengendalikan emosi (faktor sifat), atau karena faktor lingkungan yang mendukung seseorang untuk marah, misalnya, seseorang sedang kesal karena HP-nya rusak, lalu ada teman yang tiba- tiba datang kemudian meminta untuk ditraktir bakso, kan bikin marah. Mungkin juga karena pelampiasan kemarahan yang belum tuntas, misalnya ada seseorang yang marah karena HP-nya rusak trus telat ke kampus padahal ada acara penting dengan kelompoknya, lalu bertemu seorang teman yang bertanya, “Kok telat? Kan mau traktir bakso jam sepuluh? Buruan dah ditungguin temen-temen tuh!” Lalu orang tadi marah kepada temannya, “Kamu sih gak nelpon aku, aku kan belum selesai ngerjainnya, kamu juga gak bantuin aku!” Padahal yang bertanya tadi bukan teman kelompoknya jadi tidak semestinya membantu mengerjakan, dia cuma ingin marah saja tanpa alasan yang kuat karena perasaannya sedang kalut.

Mungkin masih banyak faktor lain yang menyebabkan seseorang mudah sekali marah. Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita bisa mengontrol kemarahan kita, Anger Management. Jika kita marah akan sesuatu, sangat tidak masuk akal untuk melibatkan yang lain yang sebenarnya tidak ada urusan dengan kemarahan kita.

Karena tidak ada sekolah yang mempelajari Anger Management (mungkin ada buku yang membahasnya), maka sebaiknya dari tiap individu secara sadar mempelajarinya sendiri. Paling tidak ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan mengapa kita perlu Anger Management:

  1. Faktor Finansial. Marah memerlukan energi yang tidak sedikit (saya tidak tahu nilai pastinya), tapi yang pasti cukup untuk bisa membuat seseorang jadi mengantuk atau lapar. Maka untuk kembali ke performa maksimal orang itu harus istirahat atau makan lagi, jelas butuh biaya apalagi buat anak kos yang anggaran uang makannya sangat ketat.
  2. Faktor Produktifitas.Karena marah memerlukan energi yang cukup banyak, kemarahan hanya akan membuat konsentrasi kita jadi kacau. Hal ini disebabkan kita harus memberi perhatian lebih kepada sesuatu yang membuat kita marah, memikirkan bagaimana cara marahnya, kata- kata apa yang mau diucapkan, bagaimana tindakan setelah marah, dan masih banyak lagi yang harus dipikirkan. Jelas tidak produktif.
  3. Faktor Sosial. Kemarahan tentu bukannya membuat kita senang terhadap sesuatu atau seseorang, tapi sebaliknya. Hal ini bisa menjadi feedback yang kurang enak karena orang lain bisa jadi marah balik dengan kita, padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Jelas merusak hubungan sosial.
  4. Faktor Keberuntungan. Karena kemarahan kita bisa membuat orang lain juga marah dengan kita, hal ini bisa menghilangkan keberuntungan kita. Orang lain itu bisa saja membatalkan niat baiknya (misal hendak membelikan kita es teller), karena sebelum sempat ia menyatakan niatnya kita sudah keburu marah. Jelas tidak beruntung.
  5. Faktor Keamanan. Karena marah mungkin melibatkan orang lain, sangat dimungkinkan kemarahan menimbulkan pertikaian seperti, kata- kata kasar, membenci, atau bahkan menjitak! Jelas tidak aman sama sekali untuk ketenangan hidup.
  6. Faktor Religious. Ditinjau dari faktor ini kemarahan hanya menambah daftar amal yang tidak baik (dosa). Karena seperti ditulis di atas, kemarahan kita bisa memicu orang lian ikut- ikutan marah, kita telah berperan membuat orang lain jadi melakukan perbuatan yang tidak terpuji maka dosa kita dobel. Lalu bisa membuat orang lain membatalkan niat baiknya, padahal niat baik akan mendatangkan pahala-insyaAllah, maka kita telah menutup kesempatan mulia orang itu. Kemudian marah bisa menimbulkan pertikaian yang tentunya melibatkan 2 orang atau lebih, ini jelas membuat kita maupun orang lain jadi melakukan hal yang tidak baik, misal mengumpat menyumpahi, bahkan menjitak (lagi), sehingga dosa kita dobel (lagi).
  7. Faktor Kesehatan. Belum lagi dari faktor kesehatan, karena kemarahan membutuhkan energi, sel-sel orang yang marah terutama di daerah wajah akan berkontraksi lebih keras (karena jarang sekali kan orang marah dengan senyum bahkan tertawa). Sering marah menyebabkan sel-sel daerah wajah menjadi lelah, maka rawatlah wajah dengan Biore Scrub setiap hari, padahal sel-sel wajah tidak semestinya melakukan kerja keras seperti sel-sel kaki. Sehingga akan terjadi apa yang sering disebut penuaan dini, di mana wajah terlihat tidak bercahaya, lemah, letih, lesu, dan tidak bergairah. Meminum air putih yang cukup bisa menjadi salah satu terapi. Dari sekian faktor mungkin faktor kesehatan adalah yang paling mendapat perhatian karena orang-orang lebih memperhatikan penampilannya.

9 Responses to "Anger Management"

Ian: postingannya bagus, keren dan membumi sekali….kebeneran gw suka ma postingan yang membumi gini, karena elu yang lgsg melihat-mendengar-mengalami persitiwanya, punya jiwa gitu jadi enak dibacanya­čśÇ

hahah iya iya, soal kena “peluru nyasar” saya juga pernah tuh…sewaktu bos lagi kesel ma yang laen eh giliran yg ada cuma gw eh jadi pelampiasan deh….nasib nasib:mrgreen:

nambahin dikit ya?! marah adalah media penyalur positif bagi marah yang efektif alias daripada disimpen jadi penyakit atau dendam lebih baik dilampiaskan, tapi usahakan sebagai saluran pembuangan aja tuh jangan ampe nyakitin perasaan orang dll…walau pada prakteknya susah tapi gak apa-apa dicoba pelan-pelan­čśÇ

terus pilih tombol amarah kita masing-masing. alias pilih hal-hal apa saja yang pantas dapat amarah kita, seperti hal prinsipil misalnya. alias jangan cepet pemarah karena marah adalah media / saluran pembuangan penyakit dan dendam sedangkan pemarah adalah orang yang punya karakter suka marah-marah, hobi juga kali:mrgreen:

ya udah gitu aja, moga2 jelas, salam­čśÇ

khas ian banget (hohoho).. penggunaan wit dan artikulasi explanationnya cukup true to the point dan ngegambarin experience marah most of us (atau mungkin gue doang kali ya).

pertimbangan berbagai faktornya unik dan kreatif, bikin kita males marah jadinya. again mixturenya pas.. cant wait to read more of your writings !

(mas/mbak?) yonna dan dejong:

Thanks atas comment di postingan perdana saya. Semoga saya bisa memberikan kontribusi di blog ini.
Mohon dukungannya! (sambil membungkuk)

Selamat telah menjadi kontributor Jakarta Butuh Revolusi Budaya, ditunggu artikel-artikel lainnya. Btw, artikel ini emang lucu dan inspiratif. Keren bro. Jadi intinya, kita harus menahan emosi kan?

selamat ya Ian udah jadi kontributor juga­čśÇ

ditunggu artikel2 keren lainnya, semoga bisa nambah ilmu saya….salam­čśÇ

eh lupita jadinya:mrgreen:

panggil yonna atau mbak atau kakak, terserah mau yang mana…btw umurku 26 taun kok, masih muda:mrgreen:

Kalau dilihat dari filosofis Anger Managemen, atau dari makna Manajemen itu sendiri adalah mengolah agar menjadi lebih baik agar lebih efektif dan/atau efisien untuk suatu tujuan tertentu. Maka apabila dirunut dari artikel di atas, maka sebaiknya yang dilakukan bukan Anger Managemen. Tapi Self Controlling.

Kalau Anger Manajemen berarti apabila kemarahan itu tidak ada maka harus diadakan (pada saat tertentu), dan apabila kemarahan itu telah muncul maka dimanajemen. Itu salah, harusnya adalah menajemen sikap.

Saya kurang setuju dengan Anger Manajemen, mungkin pembaca lain punya pendapat yang berbeda. Lebih bagus lagi adalah Attitude Controlling karena lebih mengena dari tujuan. Karena (mungkin) tujuan yang dimaksud adalah melahirkan Kedisiplinan dan Kepatuhan.

Kalau Anger Managemen yang dimaksudkan di atas (sepenangkap saya) justru melahirkan pressure negative.

deniar:

Terima kasih atas tanggapannya. Saya suka ide Self-Controlling dan juga Attitude Controlling. Saya juga merasa ada yang kurang lengkap di artikel Anger Management saya karena memang saya kurang memperjelas peran Management dalam situasi Anger tersebut.

Yang saya maksudkan adalah bukannya jika tidak ada Anger maka harus diadakan. Dalam Operational Management, jika tidak ada kegiatan operasi/produksi maka juga tidak ada proses maximizing resources for the best output. Maksud saya Anger adalah potensi manusia yang sangat mendasar. Sifat ini bisa muncul tanpa harus dilatih. Namun karena sifat ini berdampak buruk (most of the time) maka perlu melatih diri untuk bisa me-manage sifat ini.

Jadi Anger Management yang saya maksudkan lebih seperti Program Pelatihan Manajemen Bencana di Indonesia untuk mempersiapkan kita sewaktu-waktu bencana tersebut datang. So, kita pun akan sudah terbiasa mengendalikan kemarahan kita sewaktu-waktu dengan Anger Management ^_^

Ini hanya persepsi saya. I really appreciate every input and your support. I hope we can share more thoughts.

Thanks!
Salam!

Mmmh, menarik. Anger Management VS Attitude Control, which one is better?

Tapi, menurut saya kemarahan itu perlu juga untuk diciptakan sekali-kali dengan bentuk yang tidak berlebihan tentunya. Kalau tidak, kita justru bisa jadi keset buat orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: