Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Karena Saya Sudah Muak

Posted on: August 10, 2007

sampah-2.jpgPasangan Fauzi Bowo-Prijanto akhirnya menang dan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur baru Jakarta. Pasangan yang didukung oleh 20 partai politik ini secara tidak mengejutkan memenangi pemilihan umum langsung pertama di DKI Jakarta. Apakah Anda yakin pasangan ini dapat merubah Jakarta menjadi kota yang lebih baik dan mampu memperbaiki semua masalah yang selama ini dihadapi oleh Jakarta?

Saya sendiri sangat disayangkan telah menjadi bagian dari orang-orang yang pesimis bahwa pasangan yang menang akan mampu melakukan terobosan-terobosan positif bagi Jakarta. Tapi tidak ada salahnya apabila saya tetap berharap dan berdoa bahwa Pilkada DKI yang diadakan pada 8 Agustus kemarin dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat Jakarta yang sudah mulai bosan dan muak dengan iklim politik di tingkat nasional dan lokal. Saya telah menjadi bagian dari masyarakat Jakarta dan Indonesia yang sudah bosan mendengar janji-janji palsu dari para pemimpin negeri ini. Ketika mereka menganjurkan masyarakat untuk hidup hemat karena kondisi negara yang sedang prihatin di saat yang bersamaan mereka tidak pernah mau turun dari mobil-mobil mewah mereka dan mencoba merasakan panas dan sesaknya udara di dalam angkot atau bus metro mini di Jakarta yang bentuknya sudah tidak karuan.

Andaikan saja para pemimpin Jakarta mau sekali-sekali merasakan susahnya menjadi orang miskin di Jakarta mungkin mereka bisa menjadi lebih manusiawi dan tidak sadis. Andaikan saja mereka bisa merasakan bagaimana keringnya tenggorokan dan laparnya perut para tukang ojek, supir angkot, atau tukang parkir mungkin mereka bisa menjadi lebih baik dan tidak rakus dalam menggerogoti uang rakyat. Kampret!

Saya sadar betul bahwa merubah suatu kota sebesar Jakarta sangat tidak mudah. Seorang pemimpin paling hebat di dunia pun pasti akan mengalami kesulitan untuk merubah kota Jakarta menjadi kota yang lebih baik untuk ditinggali. Jakarta mungkin saja memiliki begitu banyak potensi yang dapat digali seperti lokasinya yang strategis, fasilitas bisnis yang cukup memadai, gemerlapnya dunia hiburan, atau pendapatan pajak yang sangat besar namun Jakarta seperti yang kita tahu juga memiliki segudang masalah yang begitu ruwet untuk dibenahi. Menurut pandangan saya ada tiga poin utama yang harus menjadi fokus utama pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru, yaitu:

  1. Kemiskinan
  2. Pendidikan
  3. Sistem Transportasi Publik

Ketiga poin diatas saya kira merupakan tiga masalah utama yang benar-benar harus dibenahi oleh para pemimpin kota Jakarta. Ketiganya bisa dibilang sama-sama penting dan saling berkaitan sehingga kita tidak bisa berpendapat bahwa misalnya masalah kemiskinan jauh lebih penting dari masalah pendidikan dan sistem transportasi umum. Karena pendidikan merupakan solusi jangka panjang paling jitu untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan sistem transportasi yang baik akan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat Jakarta yang pada akhirnya akan memperbaiki tingkat ekonomi Jakarta secara keseluruhan.

Kemiskinansenayancity.jpg

Dalam artikel ini saya tertarik untuk menggali kemiskinan di kota Jakarta sedikit lebih dalam. Mengapa ada kemiskinan? Kemiskinan secara sederhana merupakan bentuk dari ketidakmampuan golongan tertentu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi, mereka tersisihkan dari orang-orang lain yang mampu merebut kesempatan dan menjadikan diri mereka lebih sejahtera. Ada banyak cara agar seseorang mendapat kehidupan ekonomi yang lebih baik, seperti menempuh pendidikan hingga ke tingkat tertingi dan bekerja keras membanting tulang siang dan malam. Hampir semua orang berpendidikan percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh perbaikan dalam hidupnya asalkan mereka mau berusaha, sehingga mereka percaya bahwa kaya miskinnya seseorang sepenuhnya merupakan hasil usaha dari yang bersangkutan. Lalu, apakah orang-orang miskin dapat begitu saja kita lupakan dan memberi mereka label sebagai kumpulan orang yang tidak mau berusaha? Tentu tidak.

Di dalam sebuah dunia yang berorientasikan kepada uang dan harta (kapitalisme) adalah peran pemerintah untuk menciptakan sistem ekonomi yang seimbang bagi seluruh masyarakatnya sehingga segala usaha untuk melakukan monopoli kemakmuran dapat diminimalisasikan. Kalau Anda hidup di Jakarta atau pernah berkunjung ke Jakarta Anda pasti dapat menyadari betapa tidak adilnya perekonomian ibukota, yang kaya makin kaya sementara yang miskin makin miskin dan tertindas. Golongan kaya dapat menikmasi indahnya hidup ini dimana setiap akhir pekan mereka bisa selalu ke mall dan nongkrong bersama teman-teman mereka sementara golongan yang miskin tetap saja bingung memikirkan besok mau makan apa. Anda pasti sering atau pernah melintasi jalan raya Sudirman-Thamrin dan sebagai orang Indonesia Anda mungkin bangga melihat gedung-gedung pencakar langit berdiri begitu kokoh yang menjadikan mereka sebagai simbol kesuksesan ekonomi bangsa Indonesia. Tapi pernah kan Anda menengok ke balik gedung-gedung tersebut? Di balik sebagian gedung-gedung berbeton tersebut ternyata rumah-rumah jelek dan warung-warung kecil berdiri reyot tidak bertenaga. Orang-orang yang lalu lalang sudah pasti tidak memakai dasi dan jas, tubuh mereka tidak wangi dan wajah mereka terlihat tidak segar. Mereka adalah golongan tertindas. Mereka adalah para satpam, petugas cleaning service, atau para tukang ojek. Keberadaan mereka sebenarnya sangat dibutuhkan hanya saja kita pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.

Kondisi kehidupan di balik gedung-gedung megah di Jakarta tersebut masih tidak ada apa-apanya dibandingkan perumahan kumuh di pinggiran kali Ciliwung, kawasan tanah Abang, Kebon Melati, dan kawasan perumahan kumuh lainnya. Apabila Anda pergi kesana mungkin Anda akan kaget atau minimal pura-pura kaget melihat betapa jorok dan kumuhnya kondisi perumahan warga disana. Anda pasti bingung tujuh keliling melihat kenyataan betapa sebagian besar masyarakat Jakarta bisa hidup di dalam kondisi seperti itu. Rumah-rumah mereka begitu kecil dan hanya terbuat dari bahan bangunan seadanya mulai dari seng, kayu, atau mungkin terpal. Bau tidak sedap tercium dari berbagai sudut karena sampah berserakan dimana-mana sementara air bersih dan makanan menjadi barang mewah yang keberadaannya menjadi begitu berarti dan mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya, apa saja!

Lalu apa yang kita lakukan sebagai masyarakat Jakarta yang lebih beruntung berada di kalangan ekonomi menengah keatas? Sudah pasti, kita pura-pura tidak tahu dan pura-pura bego. Kita semua merasa sudah puas karena telah memberi zakat secara rutin ke mesjid-mesjid yang ternyata uangnya hanya digunakan untuk membuat mesjid baru atau memoles mesjid lama. Kita merasa puas karena telah secara rutin memberi uang receh kepada para pengemis di perempatan jalan padahal uang receh tersebut sebagian besar ternyata direbut oleh para koordinator gembel. Kita merasa sudah pasti akan masuk surga karena telah membantu para polantas yang hidupnya kesusahan dengan uang “damai” padahal para polantas tidak bisa menikmati uang “damai” tersebut sepenuhnya karena masih harus membaginya ke para atasan. Beberapa dari kita mungkin ada yang beralasan bahwa kemiskinan di Jakarta cuma sebuah fenomena alam yang memang harus terjadi dan semua ini adalah sebuah proses keseimbangan alam. Mau tahu apa jawaban orang miskin? “Fenomena alam dari hongkong!”

Economic Fairness

Untuk mengatasi masalah kemiskinan di kota Jakarta saya memiliki sebuah solusi yang saya sebut dengan Economic Fairness atau Keadilan Ekonomi. Implementasi solusi ini mudah saja dan saya kira saya bukan orang pertama yang memiliki pemikiran seperti ini. Gagasan Economic Fairness muncul dari keprihatinan saya terhadap ketidakadilan di Jakarta yang dialami oleh kalangan miskin dan tertinggal. Masyarakat Jakarta yang bodoh dan miskin tidak diberikan kesempatan untuk bisa berkreasi dan menikmati keindahan globalisasi serta kemajuan teknologi. Pendidikan sebagai salah satu alat untuk mendongkrak kemiskinan masih belum bisa diharapkan, pemerintah DKI Jakarta sejauh ini baru bisa memberikan pendidikan gratis bagi setiap murid SD Negeri sementara untuk masuk SMP dan SMA para orang tua harus membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah yang dibarengi dengan sistem penerimaan murid yang memusingkan dan tentunya penuh korupsi.

Strategi Economic Fairness menurut saya paling memungkinkan ditargetkan kepada perusahaan-perusahaan besar yang berpusat di Jakarta yang selama bertahun-tahun telah memperoleh keuntungan dari berusaha di Jakarta dan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah semakin banyak perusahaan besar dari dalam dan luar negeri di Indonesia yang berlomba-lomba melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendapatkan social capital dari pasar (market). Keinginan untuk membantu masyarakat yang datang dari sebagian perusahaan besar di Jakarta seharusnya dilihat oleh Pemerintah DKI sebagai sebuah solusi untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Jakarta, dan membuat sebuah peraturan yang dapat lebih “memaksa” perusahaan-perusahaan besar untuk berkontribusi lebih banyak dan tersistem kepada masyarakat miskin di Jakarta.

Kalau selama ini perusahaan-perusahaan besar di Indonesia lebih banyak membantu masyarakat miskin dengan memberikan bantuan berupa makanan, minuman, atau perlengkapan kesehatan yang sifatnya hanya membantu mengurangi kemiskinan dalam jangka pendek atau bahkan hanya sedikit menghibur masyarakat miskin maka melalui strategi Economic Fairness ini pemerintah DKI Jakarta dapat membuat skema pengurangan kemiskinan yang sifatnya jangka panjang. Artinya, jangan berikan umpannya tapi pancingnya, jangan berikan masyarakat miskin cuma makanan dan minuman yang besok pun akan habis tapi beri mereka ilmu dan keterampilan yang mampu membuat mereka menjadi masyarakat yang mandiri yang bisa menghidupi diri sendiri. Analoginya seperti ini, Kalau Anda memberi seorang gembel di pinggir jalan uang sebanyak sepuluh juta rupiah maka saya yakin uang itu tidak akan bertahan lama dan beberapa waktu kemudian Ia akan tetap meminta-minta di perempatan lampu merah.

Strategi Economic Fairness saya secara sederhana memiliki implementasi seperti ini: Pemerintah DKI membangun lima Sekolah Keterampilan untuk Orang Miskin (SKOM) yang masing-masing berlokasi di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Tiap sekolah memiliki fasilitas yang lengkap untuk mengajar para orang miskin sehingga mereka memiliki ketrampilan mulai dari bidang menjahit, otomotif, perkebunan dan pertanian, salon, hingga pembantu rumah tangga. Semua orang miskin bebas masuk ke sekolah-sekolah itu sesuai dengan Jakarta bagian mana mereka “berdomisili” dan mereka sama sekali tidak dipungut bayaran. Tiap orang miskin yang masuk akan mendapatkan pendidikan gratis selama tiga bulan pada bidang ilmu yang mereka harus pilih sebelumnya.

Untuk menyukseskan program Economic Fairness ini Pemerintah DKI Jakarta perlu membangun satu badan yang berfungsi sebagai penyalur tenaga-tenaga kerja siap pakai yang dihasilkan oleh tiap sekolah ketrampilan tadi. Badan khusus ini bekerja ibaratnya seperti sebuah perusahaan job hunter yang bekerjasama dengan berbagai perusahaan dari bidang industri yang beraneka ragam, dan kalau perlu badan khusus ini menjalin kerja sama dengan pemda-pemda lain yang membutuhkan tenaga kerja terampil dengan biaya murah sehingga bisa menjadi salah satu solusi Pemda DKI untuk mengurangi kepadatan populasi penduduk kedepannya.

Sumber Dana dan Sistem

Semua memang tidak ada yang gratis di dunia ini maka ide Economic Fairness saya pun sudah pasti akan membutuhkan dukungan dana yang sangat besar. Nah, disini lah peran perusahaan-perusahaan besar di Jakarta bermain. Untuk membiayai program sebesar itu Pemda DKI Jakarta dapat menciptakan undang-undang baru yang mengharuskan perusahaan-perusahaan dengan skala tertentu memotong 2,5% keuntungan bersih tahunan mereka setelah pajak untuk langsung disalurkan ke program Economic Fairness. Terdengar mudah bukan?

Melalui undang-undang atau peraturan baru ini Pemerintah DKI Jakarta dapat menyerukan kepada semua perusahaan di Jakarta untuk tidak melakukan CSR secara gencar karena pemerintah sudah menfasilitasikan kemauan mereka untuk membantu masyarakat miskin. Tapi melihat tingkat korupsi yang begitu tinggi di Indonesia sudah pasti banyak perusahaan yang pesimis kalau uang bantuan wajib mereka tidak bocor kesana-kesini, dan untuk mengatasi masalah tersebut menurut saya Pemerintah DKI Jakarta bisa melakukan sesuatu yang berbeda yang benar-benar memperlihatkan bahwa mereka bukan lagi sekumpulan orang yang arogan dan sok paling tahu tentang semua hal.

Untuk mengatasi kebocoran dana, Pemerintah DKI Jakarta dapat memberikan tugas menjalankan proyek SKOM tadi kepada pihak lain yang benar-benar kompeten, sebuah strategi yang dikenal dengan istilah outsourcing di dunia bisnis. Kalau perlu Pemerintah DKI Jakarta melempar proyek besar ini kepada pihak, lembaga sosial, atau perusahaan dari luar negeri yang sudah berpengalaman dalam mengurusi masalah kemiskinan dan pendidikan di kota-kota lain di dunia sekaligus menunjuk satu perusahaan auditor ternama yang akan bertugas memonitor laju keuangan supaya tetap transparan.

Tantangan

Tidak ada satu sistem yang sempurna di dunia ini, setiap sistem pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Proyek Sekolah Keterampilan untuk Orang Miskin (SKOM) pun sudah pasti memiliki kekurangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh Pemerintah DKI Jakarta sebagai pelaksana. Salah satu tantangan terbesar yang mungkin muncul adalah peningkatan laju urbanisasi dari kota-kota lain di Indonesia ke Jakarta padahal saat ini tingkat populasi penduduk di Jakarta sudah begitu tinggi. Dengan dijalankannya proyek SKOM tersebut akan banyak orang miskin di luar Jakarta yang ingin mendapatkan pendidikan keterampilan gratis tersebut sehingga membuat Jakarta semakin padat dan tidak terkendali. Untuk mengatasi masalah ini Pemda DKI Jakarta harus menjalin kerja sama jangka panjang dengan kota-kota di sekelilingnya, dan sebisa mungkin mendorong pemerintah lokal lain untuk melakukan program pengentasan kemiskinan yang hampir sama di kota mereka masing-masing. Di saat yang bersamaan Pemda DKI Jakarta harus memotong atau minimal mengurangi secara drastis arus urbanisasi ke Jakarta yang dilakukan oleh orang-orang dari daerah-daerah lain.

Langkah kedua yang bisa dilakukan adalah dengan secara agresif menyalurkan lulusan-lulusan SKOM ke luar Jakarta melalui badan khusus yang sudah disebutkan di atas ke daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan kalau perlu ke luar negeri dan menjadikan Jakarta sebagai penyalur TKI profesional terbaik di Indonesia.

Kesimpulan

Pendidikan dan kemiskinan memang saling berkaitan, kemiskinan secara jangka panjang dapat dikurangi melalui program pendidikan yang baik dan berkesinambungan. Economic Fairness dengan program SKOM-nya pun sebenarnya merupakan sebuah sistem pengurangan jumlah orang miskin melalui jalur pendidikan walau dengan sistem dan target yang berbeda tapi ide saya melalui Economic Fairness sebenarnya lebih menekankan kepada kemampuan pemerintah untuk “memaksa” golongan kaya untuk mau membantu para orang miskin yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Pemerintah harus mampu memaksa golongan kaya memberikan sedikit harta mereka dan tidak terus menjadikan orang miskin sebagai badut yang setiap saat bisa menjadi hiburan bagi mereka untuk tertawa geli.

Melihat kondisi Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan program Economic Fairnes memang terlihat to good to be true. Anda yang membaca artikel ini mungkin akan berkata, “Lo gila yah? Mana bisa lagi menciptakan program seperti itu, ini Indonesia bung! Mana mau para pejabat ngebuat program kayak gitu, mereka gak mungkin rela jatah dari para pengusaha berkurang?” Dan Anda tidak sepenuhnya salah. Jakarta dan Indonesia yang saya tahu memang bukan gambaran sebuah komunitas manusia yang punya hati dan jiwa. Tapi siapa lagi yang masih bisa bermimpi kalau suatu hari nanti Jakarta bisa menjadi sebuah kota seperti Paris atau Washington D.C. kalau bukan kita warga Jakarta dan Indonesia sendiri?

Ide Economic Fairness saya jelas masih sangat kasar dan tidak teruji, saya berharap akan muncul ide-ide baru yang segar serta lebih terinci lahir dari pemikiran generasi muda Jakarta dan Indonesia yang masih perduli dengan Ibu Pertiwi. Saya sudah muak dengan kondisi bangsa ini, hati ini sepertinya sudah begitu terluka dan teriris-iris. Saya iri melihat bangsa-bangsa lain bisa membangun bangsa mereka begitu hebat dan bersemangat, kota-kota unggulan mereka berdiri begitu kokoh dan megah mulai dari Kuala Lumpur, Bangkok, Abu Dhabi, hingga Shanghai. Sementara bangsa Indonesia dengan Jakartanya tetap saja menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan terbelakang. Kita terus saja sibuk bertengkar dan berselisih antar sesama, kita terus saja sibuk merusak dan menindas. Kita benar-benar memalukan.

Sudah lupakan para pejabat negara ini yang masih memiliki pemikiran kuno dan ketinggalan jaman. Lupakan mereka yang mewarisi pola pemikiran feodal dari penjajah dan orde baru, sebentar lagi adalah kesempatan kita generasi muda untuk memimpin negara ini. Mari siapkan mental kita supaya tidak tercemari dengan pemikiran-pemikiran lama yang penuh dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme. Waktu kita sebentar lagi datang bung!

Jadi apabila ada seseorang yang menanyakan Anda mengapa ingin menjadikan negeri ini dan Jakarta menjadi lebih berbudaya dan berhati nurani, jawab pertanyaan itu dengan berteriak sambil mengepalkan tangan Anda di udara, “Karena saya sudah MUAK!”

Foto diambil dari sini dan sini.

14 Responses to "Karena Saya Sudah Muak"

@GBM
fiuh panjangnya:mrgreen: btw itu tulisan hasil pemikiran sendiri ya? ckckck­čÖé

semuanya udah komplit, cuma mau nambahin poin yang juga harus dibenahi yaitu TATA KOTA. ampuuunnn caur banget, kalo tata kotanya bener pasti ngatur jalur transportasi akan mudah.

ya kan?!

hebat……

tapi memang butuh waktu ya….
dan sepertinya kesadaran dituntut bukan hanya dari pemerintahannya tapi juga dari rakyatnya…..

seperti idenya untuk menyalurkan lulusan SKOM ke luar jakarta….apa mereka mau?

jd inget waktu model transmigrasi….banyak bgt yg nolak krn mrk sudah masuk ‘comfort zone’

jd mgkn jg…jgn lupa….’cuci otak’ utk memersiapkan masyarakat terutama kalangan bwh utk menuju pembaharuan hidup yg lebih baik….

Yonna: Tata kota perlu banget tuch, Jakarta sama sekali tidak punya tata kota yang jelas. Lahan hijau dijadikan tempat perbelanjaan atau hiburan.

Nila: Thanks Mba. Memang benar, sistem yang saya sarankan jelas membutuhkan persiapan yang lama, sangat tidak mudah untuk menerapkannya. Yang paling sulit adalah membangkitkan rasa percaya dari publik dan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Transmigrasinya Orba sebenarnya adalah ide yang bagus untuk mengurangi tingkat populasi di pulau Jawa, kelemahannya mungkin karena orang-orang yang dikirim tidak memiliki keterampilan sehingga justru menjadi masalah bagi pemda2 lokal yang menerima mereka.

Makasiy udah mampir. Wah, komennya ntar aja, baca2 dulu ya. Seru niy…­čÖé

tlg untuk pemengan pilkada, penuhi janji2 anda..

Tulisannya , berasa banget­čÖé, susah saya untuk berkomentar secara apa yang sudah ada sajikan begitu gamlang terpapar jelas, mungkin Jakarta butuh banyak orang-orang seperti anda, ya kita doakan saja­čÖé

ck…ck… blognya Jakarte banget nih…

kalo emang sudah bosan dengan jakarta, mending cari kerja diluar Jakarta aja ^_^ *seperti saya*

Trus pesan buat para pemilih Pilkada kemaren, nanti kalo pemerintahnya gagal, jangan cuma salahin pemimpinnya aja, tapi salahkan juga para pemilihnya !

Menurut pandangan saya ada tiga poin utama yang harus menjadi fokus utama pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru, yaitu: KemiskinanPendidikanSistem Transportasi Publik

tambah satu lagi gimana Kesehatan

Indonesia emang sedang krisis kepercayaan.
Pemilihan kemaren, aku juga melihat banyak sekali janji2 yang dilontarkan kedua pasangan tersebut. Napa mereka gak mikir ya, apa akibatnya kalo gak bisa menjalankan janji2nya itu.
Moga2 yang aku pikirkan tidak benar, dan mereka bisa menjalankan apa yang mereka janjikan.

Dew: Thank juga udah mampir balik.

Andi Bagus: Mari kita tunggu yah!

***: Terima kasih atas dukungannya. Mari kita semua berdoa untuk Jakarta yang lebih baik.

Fatah: Saran yang bagus Bung, hehe.

Temon: Mmh, kesehatan bisa jadi faktor yang sangat penting juga. Tapi saya kira fokus kemiskinan, pendidikan, dan transportasi publik jauh lebih signifikan. Kita juga harus realistis bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dalam kurun satu periode jabatan Gubernur, tapi kesehatan bisa masuk dalam kategori “kemiskinan.”

Agam:Benar sekali, masyarakat sudah tidak percaya dengan para pemimpinnya, pada boong mulu sich.

mentang2 mau konversi minyak tanah ke gas, minyak tanah langka, seminggu ini saya liat antrian di mana-mana, duh ngenes liatnya, bersyukur juga kondisi saya gak separah itu.

muak banget.

liat aja nih besok pas pelantikan gubernur DKI yang baru, palingan abis tuh harga2 pada naek semua. kayak Tukul bilang “gombal mu kiyo!!”

Wah bener tuch? Lagi-lagi rakyat yang jadi korban kerakusan penguasa. Jadi minyak tanah mau dihilangkan yah?

iya bro dikonversi sama gas, tapi ga tau yah klo emang mau dikonversi seharusnya ga harus menarik 70% pasokan minyak tanah ke rakyat, walaupun pada akhirnya sekarang pertamina hanya menarik 30% tapi bukan itu strateginya, seharusnya mereka bagi2 kompor sama gas gratis dulu baru cabut minyak tanahnya, payah ah…katanya orang pinter, tapi ga punya nurani, makanya Bapak-Ibu Pertamina rasain dulu lah ga punya duit nanti baru pada ngerti deh…Intinya jangan pernah nyusahin orang pasti nanti dibales sama Tuhan…heheh emang bangsa ini penuh dengan political problems, masing2 pihak baik legislatif,eksekutif dan parpol2 hanya mau dapet kompensasi tapi Rakyat selalu yang jadi Objeknya, padahal dalam sebuah negara yang berdemokrasi seharusnya Rakyat yang jadi Subjek…yah beginilah bangsaku….

@GBM
so, tambah banyak lagi yang bisa dimuntahin kan?!:mrgreen:

kalau lo aja yang tinggal di USA sana berasa gedeg liatnya, nah palagi kita2 yg tinggal di Jakarta, yg lgsg liat betapa buruknya negara ini?

Mending jgn balik ke Jakarta deh. enakan di sana kali ya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: