Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Tidak Ada Kata Manis Untukmu

Posted on: August 6, 2007

jakarta2.jpgSebagai mantan warga Jakarta yang berniat untuk menjadi warga Jakarta lagi di masa depan saya merasa begitu sedih dan prihatin melihat kondisi kota tercinta ini. Selama enam tahun hidup di Jakarta saya tahu betul bagaimana kejamnya ibukota Indonesia tersebut dimana tawa dan canda hanya bisa dirasakan oleh sebagian masyarakat di dalam gedung-gedung beton yang kokoh dan arogan sementara suasana di jalan-jalan terasa begitu mencekam dan mengerikan. Setiap orang tampak saling taruh curiga dan tidak pernah memberikan senyum mereka secara cuma-cuma. Saya kadang bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ini wajah bangsa kita? Apakah seperti ini wajah masyarakat Indonesia yang selalu dibanggakan di dalam buku sejarah murid SD sebagai masyarakat yang sangat ramah dan suka menolong?”

Saya masih ingat betul betapa lalu lintas Jakarta bisa jadi suatu hal yang bikin pecah kepala. Jumlah kendaraan yang tidak terkendali ditambah dengan perilaku mengemudi masyarakat Jakarta yang masih jauh dari berbudaya benar-benar membuat saya kadang menjadi begitu frustrasi, ingin rasanya berteriak dan mulai memaki tapi saya tahu itu percuma saja. Saya tahu saya tidak bisa begitu saja menyalahkan pengemudi kendaraan lain terutama pengemudi motor yang ugal-ugalan karena mereka pun sama-sama frustasi meghadapi situasi lalu lintas Jakarta. Saya tahu bahwa sebagian besar pengemudi kendaraan di Jakarta sebenarnya terpaksa untuk mengendarai kendaraan mereka tiap harinya, mereka sebenarnya berteriak dan terus bertanya di dalam hati, “Kapan kami bisa duduk nyaman di dalam sistem transportasi umum tanpa perlu berdesakan, bercucuran keringat serta air mata?”

Saya juga masih ingat betapa banjir sudah menjadi bencana rutin bagi masyarakat Jakarta dimana setiap hujan turun, baik besar atau kecil, setiap masyarakat Jakarta dipaksa untuk was-was dan cemas. Bahkan mulai tahun 2002 masyarakat Jakarta harus menerima kenyataan bahwa bencana banjir besar akan terjadi setiap lima tahun. Kata para ahli topografi, kota Jakarta layaknya sebuah mangkok besar dimana sebagian besar wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut sehingga tidak heran apabila hujan besar turun Jakarta seakan-akan tenggelam. Lalu apa penyebab terjadinya kondisi ini? Jawabannya sangat mudah dan sederhana yang saya yakin Anda pasti sudah tahu: Bangunan-bangunan beton terus-menerus dibangun tanpa memperdulikan kondisi lingkungan sehingga membuat tanah di Jakarta menjadi semakin terbebani.

Saya tidak lupa bagaimana wajah-wajah lusuh para pengemis dan gembel mengiba kepada setiap kendaraan yang lewat di lampu-lampu merah jalan raya Jakarta. Wajah-wajah tanpa raut kebahagiaan dimana yang ada cuma sedih dan duka. Tubuh mereka begitu dekil dan bau sementara pakaian mereka begitu lusuh dan sangat tidak manusiawi. Saya terkadang merasa bersalah karena sering kali berpura-pura tidak melihat dan merasakan keberadaan mereka. Setiap kali mereka menghampiri kaca mobil, saya pura-pura acuh tidak perduli atau kadang saya mengangkat tangan untuk menunjukkan bahwa saya tidak punya uang receh. Saya telah menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang pelit, arogan, dan memuakkan. Sialan!

Maafkan Jakarta dan Ibu Pertiwi karena untuk kesekian kalinya saya harus memaki dan menghinamu. Maafkan, karena untuk kesekian kalinya tidak ada kata-kata manis untukmu.

Picture was taken from here.

4 Responses to "Tidak Ada Kata Manis Untukmu"

Jakarta….

hanya sebagian kecil dari potret kota besar dunia

kota tempat jutaan kisah nyata bercerita (baik kisah senang, sedih, tragis, bahagia, dll)

kota untuk mereka yang bermental pejuang, bukan tempat bagi losers

kok jadi berpuisi gini?:mrgreen:

hampir 26 taun gw lahir, besar dan punya kehidupan di sini….Mmmuuuaach Jakarta

We love Jakarta yah, hehe. Home sweet home pastinya­čÖé

iya….good or bad, it’s my city anyway­čÖé

Yeah, you’re right.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: