Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

CARA ORANG PINTAR PILIH GUBERNUR

Posted on: July 20, 2007

Banyak cara untuk menilai calon Gubernur (Cagub) mana yang layak menjadi poemimpin DKI berikutnya. Berbagai macam “kecap” dijual kepada masyarakat untuk menjual popularitas masing-masing Cagub. Namun mari kita coba juga melihat dari sisi-sisi yang mungkin selama ini kurang diperhatikan oleh masyarakat Jakarta.

1. Kata Kerja VS Kata Keterangan

Seperti kita sama-sama ketahui, kedua calon memasang tagline untuk kampanye mereka. Pasangan Adang-Dani memakai “AYO BENAHI JAKARTA” dan pasangan Fauzi-Priyanto memakai “JAKARTA UNTUK SEMUA.” Mungkin masyarakat tidak terlalu memikirkan makna dari tagline tersebut, padahal tagline merupakan gambaran singkat tentang karakter dari pemilik tagline tersebut, contohnya : Nokia dengan tagline “Connecting People” nya menunjukan Bahwa HP Nokia mudah untuk digunakan (user friendly).

Nah, bagaimana dengan tagline kedua pasangan Cagub ini?

Yang pasti sehari setelah terpilih, hal pertama yang harus langsung dilakukan oleh Sang Gubernur terpilih adalah BEKERJA. Mereka dipilih oleh masyarakat memang untuk BEKERJA melayani masyarakat. Disini dapat dilihat bahwa tagline milik pasangan Adang-Dani lah yang mencerminkan ‘kata kerja,” yaitu: “AYO BENAHI JAKARTA.” Tagline tersebut memiliki kata BENAHI yang merupakan kata kerja sekaligus menggambarkan bahwa pekerjaan yang akan dilakukan setelah terpilih menjadi Gubernur adalah MEMBENAHI Jakarta. Disitu pun ada kata “AYO” yang mencerminkan ajakan kepada masyarakat DKI untuk turut serta membenahi Jakarta sebagai suatu bentuk teamwork yang apik antara masyarakat dengan Pemerintah Daerah DKI.

Lalu bagaimana dengan tagline “JAKARTA UNTUK SEMUA” milik pasangan Fauzi-Priyanto? Menurut hemat saya itu lebih merupakan “kata keterangan,” bukan “kata kerja.” Keterangan bahwa setelah terpilih nanti akan “menyerahkan” Jakarta ini untuk “Semua.” Pertanyaannya adalah, siapakah yang dimaksud dengan “Semua” itu? Tentunya masyarakat sangatlah takut jika yang dimaksud “Semua” adalah: Semua teman-teman saya, semua orang partai yang telah mendukung saya sebelumnya, semua pemilik Mal dan Hypermart, semua koruptor yang selama ini mau berkongkalikong, semua penjahat berdasi, semua pemilik modal yang mau ‘berbagi’ dengan Pemda, semua pemilik tempat-tempat maksiat di Jakarta.

Ketakutan–ketakutan seperti ini sangat lah wajar mengingat itulah realita yang selama ini masyarakat lihat dan rasakan. Jadi siapakah yang dimaksud dengan “semua” itu sebenarnya? Masyarakat tentu sangat menginginkan pemimpin yang siap untuk bekerja melayani masyarakat yang siap berjuang untuk me-recovery kondisi Jakarta yang sudah carut-marut ini.

Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.

2. KB dan Banyak anak

Masih ingat dalam benak kita slogan “DUA ANAK CUKUP” milik dari program Keluarga Berencana (KB). Maksud dari sosialisasi itu tak lain dan tak bukan adalah untuk menghimbau para keluarga muda untuk memiliki dua anak saja dengan asumsi lebih mudah mengurus sedikit anak. Tidak usah pusing-pusing mikirin mahalnya biaya pendidikan sampai masalah bagi-bagi warisan yang kerap bisa berujung ke acara “bunuh-bunuhan” antar anggota keluarga.

Lalu apa hubungannya dengan Cagub DKI?

Sebetulnya kita semua mungkin agak kecewa dengan hanya ada dua calon saja sehingga pilihan masyarakat menjadi sangat sedikit. Namun marilah kita jalani saja apa yang sudah terjadi. Satu pasangan diusung oleh satu partai sedangkan yang satunya lagi diusung lebih dari dua puluh partai. Mungkin memang terlihat sedikit seram karena seperti ajang pengroyokan tapi mudah-mudahanan tidak seperti itu adanya.

Kalau dilihat dari sudut pandang waktu “SEBELUM” pemilihan, dukungan dari multi partai ini memang terlihat sebagai suatu kekuatan, terkesan bahwa salah satu pasangan didukung oleh hampir seluruh partai yang ada di Indonesia. Namun saya sangat lah yakin bahwa masyarakat TIDAK PEDULI dengan masa SEBELUM pemilihan tapi yang terpenting bagi masyarakat adalah masa SETELAH pemilihan. Yaitu, apakah pasangan terpilih dapat bekerja semaksimal mungkin untuk melayani masyarakat? Itu yang terpenting.

Kembali ke masalah KB tadi, jika dukungan sebelum pemilihan itu kita ibaratkan sebagai janin dan hasil pilkada adalah anak, maka apakah mungkin sebuah keluarga dapat mengurus anaknya dengan maksimal jika anaknya berjumlah 24 orang lahir secara bersamaan?

Apakah mungkin dapat “menyusui” 24 anak secara bersamaan?

Apakah mungkin dapat “mendidik” 24 anak secara bersamaan?

Apakah mungkin dapat “mengatur” 24 anak secara bersamaan?

Rasanya sangat sulit. Yang paling menakutkan adalah jika ke 24 anak tersebut meminta warisannya masing-masing dan tiap anak meminta warisan yang terbesar karena merasa yang paling berjasa. Yang ada adalah waktu 24 jam sehari yang dimiliki oleh pasangan terpilih (orang tua) mereka hanya akan habis untuk mengurusi anak-anaknya yang kerjaannya hanya merongrong. Lalu kapan melayani masyarakatnya? Lebih baik ikuti program KB saja.

Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.

3. Nasionalisme VS Religiusisme

Saat ini timbul kesan bahwa pertarungan antara dua pasangan cagub adalah pertarungan antara dua ideologi, yaitu : Nasionalisme vs Religiusisme. Rasanya ini hanya akal-akalan dari para elit partai untuk membuat isu yang kenyataanya tidak lah benar. Namun andaikan pun benar, manakah yang lebih baik antara Nasonalisme vs Religiusisme?

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah “manakah yang lebih penting, mencintai Tuhan terlebih dahulu atau mencintai Negara terlebih dahulu?” Menurut saya seseorang yang nasionalis belum tentu bisa menjalankan agamanya dengan baik, bisa jadi mereka cinta negaranya namun dengan cara-cara yg tidak benar seperti korupsi, ketidakadilan, penipuan, dll. Namun jika orang telah mencintai Tuhannya maka Ia pasti juga akan mencintai apa-apa yang sudah dititipkan oleh Tuhan kepadanya termasuk negara Indonesia dan kota Jakarta. Dan bedanya seorang yang religius adalah bahwa mereka akan menjalankan amanat mereka dengan cara-cara Tuhan yaitu: kejujuran, kerendahan hati, atau keadilan.

Jadi sebetulnya yang terjadi bukanlah perlombaan antara Nasioanalisme melawan Religiusisme melainkan antara Nasionalisme melawan Religiusisme plus Nasionalisme. Karena Nasionalisme belum tentu Religius sedangkan Religiusisme wajib Nasionalisme.

Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.

4. Kakak- Adik

Bila dalam sebuah keluarga terjadi kejadian seorang kakak menggencet adiknya untuk merahasiakan kesalahan kakaknya kepada orang tua mereka maka itu adalah hal yang biasa saja dan sering terjadi. Biasanya seorang adik memang takut kepada kakaknya jadi ia akan melakukan apa saja yang disuruh kakaknya walau secara terpaksa dan tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Hubungannya dengan Pilkada DKI?

Saya takut sang “kakak” yang sudah mau lengser mati-matian menaikkan “adiknya” supaya dapat digencet untuk tutup mulut tentang kebobrokan kakaknya di masa lalu. Padahal hampir semua orang tahu bahwa Pemda kita penuh dengan kepalsuan. Masyarakat bahkan sudah merasakan itu dari level yang rendah seperti kelurahan. Jika kelurahan kita anggap sebagai “anak” dan Pemda sebagai “Bapak” maka “LIKE FATHER LIKE SON.” alias anak sama saja seperti bapaknya, malah biasanya bapaknya lebih bobrok dibanding anaknya.

Namun jika kepemimpinan berikutnya bukan dipegang oleh “Adik” nya melainkan oleh orang lain maka kemungkinan terkuaknya kebobrokan dan kecurangan masa lalu sangatlah mungkin untuk dilakukan. Karena sudah saatnya kejujuran yang berbicara dan bukan masa seperti masa orde baru. Sekarang sudah saatnya orang-orang reformis yang memimpin dan melakukan pembenahan akibat kehancuran kinerja “orde baru.” Mari kita dukung orang yang berani dan tidak mendapat tekanan darimana pun untuk menguak kebobrokan dan kecurangan di masa lalu.

Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.

5. Gerak Tubuh (Gesture)

Mungkin bagi sebagian orang gestur tubuh dari seseorang tidak lah penting, namun bagi sebagian orang yang memiliki intelektualitas tinggi maka hal ini menjadi sangat penting. Apakah seorang calon pemimpin itu memiliki cara berdiri yang tegap, sorotan mata yang tajam, senyum yang lebar dan ramah, pembawaan yang berwibawa, serta kharisma seorang pemimpin? Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi sebagian orang yang mengerti mengenai “bahasa tubuh.” Karena pembawaan fisik merupakan cerminan dari jiwa seseorang. Jika cara berjalan seseorang tegap, sorotan matanya tajam, dan memiliki senyum yang lebar maka itu mencerminkan jiwanya sebagai seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa. Begitu pula sebaliknya jika seseorang berjalan bungkuk, sorot mata lemah, senyum tidak natural maka itu menunjukan lemahnya jiwa kepemimpinan orang tersebut.

Nah, manakah dari kedua Cagub kita ini yang memiliki Gestur tubuh layaknya seorang Pemimpin yang kuat dan berwibawa?

Semoga orang pintar juga pintar dalam memilih.

+Prince Fajar+

20 Responses to "CARA ORANG PINTAR PILIH GUBERNUR"

Jadi intinya pilih Adang kan? Hehe.

smalam iseng2 tanya sopir taksi tentang siapa pilihannya, jawabannya: bagi2 rejeki saja deh pak; maksude? dijawab: ya, kan yg lama udah kenyang kan pak, kasih giliran yg blum, mudah2an gak banyak bocornya…

ulasan tentang 24 anak menarik, dan masuk akal, dan saya amini.

namun seperti spanduk satu partai yang kalo gak salah saya coblos dulu, siapa pun yang terpilih, kita tetap sodara; ya iya lah, sodara-sodara sekalian😀

saya amini juga harapan agar semoga orang pintar juga pintar dalam memilih. persoalannya mungkin gak banyak ya orang pintar di Jakarta ini; kalo memang begitu, ayo kita bantu agar penduduk Jakarta jadi pintar-pintar🙂.

Artikel yang sangat bagus dan informatif. Gue setuju, kita harus pintar milih Cagub nanti. Makanya coblos Adang! Ngapain milih Foke yang jelas2 anteknya Sutiyoso? Mau kita kena banjir gede lagi lima tahun mendatang? Enggaak dech.

wah analisisnya keren🙂

yah entah niatnya mau kampanye utk mendukung salah satu cagub, tapi mnrt saya analisisnya keren dan logis….pun kalo iya kampanye tapi kalo dikasih hal-hal logis gini pasti menarik minat masyarakat karena tim suksesnya Adang-Dani adalah orang pintar dan mau berpikir.

gue pilih……kembali ke laptop aja deh:mrgreen:

wah, bener bener analisis yg bagus… jd bnyk blajar

Mencoba memberikan pendapat tentang tagline dua kubu tersebut.

Yang pertama “Ayo Benahi Jakarta” adalah bentuk persuasif untuk mengajak membenahi jakarta. Sip tagline ini mengajak masyarakat Jakarta untuk bersama membenahi Jakarta.

Yang kedua “Jakarta untuk semua” adalah bentuk gambaran kondisi yang diharapkan ke depannya (visi). Seperti halnya goal setting yang diharapkan. Ini merupakan kondisi akhir.

Kalo dari segi menarik massa, lebih menarik yang pertama.

Sama seperti halnya ketika tim marketing Pak SBY membuat istilah “SBY”. Kenapa tidak “BSY”? Karena lebih susah menyebutkan “BSY” ketimbang “SBY”. Lantas Kenapa disingkat? hal ini seperti yang dilakukan corporate2 dalam memanggil karyawan di dalamnya (contoh Telkom) atau kode dosen di kampus. Mereka cukup dipanggil insialnya, misal kalau aku ADR. Cukup hanya satu ADR, tetapi bisa jadi ada banyak Pak “Deni” di kantor tersebut.

Kalau di Indonesia ada banyak “Susilo” atau “Bambang”, maka hanya ada satu SBY…. Begitu loh…..

@deniar

kalo SBY dituker jadi BSY nanti disangka ngemirip2in BSD atau BSI lagi:mrgreen:

Emang serba salah ya..
Tapi kalo pilih incumbent, padahal hasil kerjanya jelas banget (gagalnya)…tentu orang harus melihat perubahan. Mosok pilih yang gagal? hehehe. Dengan resiko, beli kucing dalam karung (sebenernya dua2nya beli kucing dalam karung, tapi yang satu dah ketauan kalo spesiesnya kucing garong)

*yang ga punya hak pilih karena KTP dari Sleman😀 *

keren banget analisanya……
tidak menyudutkan tapi menyudutkan
tidak berpihak tapi berpihak….hehe

salud!!

semoga org pintar pintar juga dalam memilih…..

haha keren juga tagline nya

Jadi kebuka otak ini.

Surprise juga baca analisanya Bang.
Dalem banget. Tapi mudah dicerna.

Satu kata buat Abang. Salut.

Vote Adang Dani Men

Adang oke dech! Moga-moga Foke gak kepilih yah.

Salut atas sudut pandang yang cerdas ini. Andaikan generasi muda diberi kepercayaan dan peluang barangkali perbaikan-perbaikan akan lebih cepat dan banyak.
Walikota Curitiba, Brazil di usia 33 tahun , pada 1972, mengusung konsep peduli lingkungan saat seluruh dunia rakus akan industri. Dalam 10 tahun Curitiba menjadi kota ekologi, model untuk kota-kota dunia lainnya. http://bataviase.wordpress.com/2007/07/02/curitiba-dipimpin-seorang-urban-planner/

Walikota lain yang patut diteladani oleh para calon gubernur adalah Enrique Peñalosa. Hanya dalam 3 tahun masa jabatan, ia berhasil mengubah kota narkoba, kota mafia, kota slum, —berkaca pada Curitiba— menjadi panutan dunia, sayang Jakarta hanya nyontek TransMilenionya. Padahal itu hanyalah bagian dari konsep besar “Mengutamakan si Miskin.”

Jika menggoogle “Enrique Peñalosa”, anda akan banyak terinspirasi bagaimana seharusnya seorang gubernur Jakarta menjalani jabatannya. Saya 100% pilih Enrique Peñalosa…

Hidup Adang! Foke no way.

ada cagub yg janjinya ngasih pendidikan gratis…
knapa baru skarang? kmaren waktu masih menjabat kmana aja? giliran udah mau pilkada baru deh tuh iming2 pendidikan gratis..
trus klo cagub yg didukung sm banyak partai, apa ntar seandainya dia kepilih malah yg ada bukan ngurusin jakarta, tp malah repot “bayar utang” alias bagi2 kekuasaan sm partai yg udah ngedukung…
klo emng orang jakarta pinter milih calon gubernur, pastinya pilih ADANG – DANI … no.1 ..

AYO BENAHI JAKARTA UNTUK SEMUA !!!

POK AME2 BELALANG KUPU2,DIKROYOK RAME2

ADANG-DANI PILIHANKU!

katanya gini nih:

PILIH NO. 1 ADANG – DANI

AYO BENAHI JAKARTA

baru abis itu AYO BENAHI NO. 2

wahaha lmyn dalem😆:mrgreen:

canggih ni om udiot pemikiran nya..
(salam kenal om, heheheee..)

@bataviase
keren om tentang “Enrique Peñalosa”..
thanks ya om info nya..

i’d rather choose number one..
tapi sayangnya..yg maju nomor dua,,

Ass, Ah aku pengen sdkt berkomentar ey tentang keberhasilan yg jadi gubernur, klo menurt saya spa aj yg trplh. yg pntng rkyat aman, tentram, sejahtera tidak ada yg miskin lg dan jngn cuma omong doang?bukitan !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: