Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Tangkap dan Gantung Si Kancil!

Posted on: June 3, 2007

Pada hari Jumat beberapa minggu yang lalu seperti biasa saya menunaikan ibadah sholat jumat. Setelah sekian lama tidak pernah mendengarkan ceramah jumat yang berkualitas dan berbobot, akhirnya pada hari itu saya mendapat kesempatan untuk menikmati siraman rohani yang lugas, cerdas, dan tidak ketinggalan jaman.

Ada beberapa materi yang dibahas oleh penceramah tersebut, salah satunya adalah analoginya yang menjelaskan mengapa Indonesia menjadi negara yang tertinggal dari negara-negara lainnya. Ia memberikan contoh bagaimana Jepang mampu menjadi sebuah negara yang sangat maju walau harus hancur lebur setelah perang dunia ke-2. Seperti yang kita semua tahu, negara Jepang mengalami kekalahan luar biasa di perang dunia ke-2 yang ditandai dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki oleh pihak sekutu. Menurutnya, alasan utama mengapa bangsa Jepang mampu bangkit dari keterpurukan dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi paling ditakuti di dunia saat ini adalah karena mereka memiliki budaya atau karakter yang kuat. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak kecil di Jepang selalu didongengkan sebuah cerita tentang raja yang dikutuk menjadi katak. Si katak terkutuk harus mampu naik keatas sebuah batu besar agar menjadi raja lagi, padahal batu tersebut sangat besar dan tinggi. Katak berusaha berulang-ulang, ketika ia jatuh dan terlempar ia akan meloncat lagi, lagi, dan lagi. Katak tidak mengenal lelah dan tidak pernah putus asa hingga lama kelamaan kedua kakinya menjadi kuat dan lebih lentur, dan akhirnya ia pun mampu naik ke atas batu dan menjadi seorang raja lagi. Masyarakat Jepang sedari kecil selalu diajarkan untuk tidak pernah lelah dalam memperbaiki diri. Anak-anak di Jepang selalu diajarkan bahwa mereka dapat menjadi apa saja yang mereka mau asalkan mereka fokus dan terus berusaha dalam mengejar impian mereka.

Lalu penceramah bertanya, “Cerita apa yang anak-anak Indonesia dapat?” Sudah pasti jawabannya Si Kancil. Lalu apa kerjanya Si Kancil? Yah, Si Kancil adalah seorang binatang “cerdik” yang kerjanya mencuri timun dan selalu menyusahkan Pak Tani. Anak-anak Indonesia sedari kecil sudah dicuci otaknya bahwa mencuri milik orang lain bukan hal yang tidak baik, tapi justru cerdik. Mungkin saja ini bisa menjadi alasan mengapa negara ini tidak pernah lepas dari kasus korupsi yang menggerogoti uang rakyat karena masyarakat kita tidak suka berusaha keras dan lebih suka memilih jalan pintas untuk memperoleh kemauannya. Maka tidak heran apabila beberapa bulan lalu pemerintah kita dengan bangga berkata, “Kita mengalami kemajuan, kita bukan bangsa terkorup. Kita hanya nomer dua terkorup di Asia.”

Saran saya: Tangkap dan Gantung Si Kancil!

10 Responses to "Tangkap dan Gantung Si Kancil!"

Ada salah penokohan dalam dongeng si Kancil. Ada 2 tipe dimana si Kancil adalah tokohnya dan ada cerita di mana si Kancil adalah antagonisnya. Pada cerita si Kancil dengan buaya, maka si Kancil adalah tokoh utamanya. Sedangkan pada saat dengan pak Tani si Kancil diposisikan memang sebagai tokoh antagonis, entah mengapa dipilih kembali binatang kancil, apakah karena sudah kehabisan ide binatang yang bisa dijadikan tokoh dalam cerita.

Si Kancil memang jadi simbol kecerdikan, karena pada saat itu (cerita si Kancil diciptakan) adalah masanya krisis kebodohan bangsa Indonesia. Maka melalui dongeng si Kancil masyarakat Indonesia dipacu untuk lebih cerdik agar tidak terjajah kembali oleh bangsa luar.

Kini cerita si Kancil (ataupun cerita lainnya) harus diolah kembali disesuaikan dengan problematika Jaman. Masyarakat Indonesia TIDAK DIBODOHI OLEH SI KANCIL (TIDAK ADA PEMBODOHAN DALAM CERITA INI), melainkan MASYARAKAT INDONESIA HARUS BELAJAR LEBIH DALAM LAGI.

Dari kalimat Anda “Tangkap dan Gantung si Kancil” justru yang mengajarkan masyarakat pada pola anarkis dan radikal. Saran saya untuk diperhalus kalimatnya. Kadang kita sendiri tidak sadar kitalah yang membodohi masyarakat

Secara pribadi saya sangat suka dengan kata-kata “Tangkap dan Gantung si Kancil”…perumpamaan si Kancil sebagai Maling kelas kakap (baca:koruptor) di negeri ini sudah sangat cocok dan sesuai…Kancil adalah binatang cerdik, yang mempunyai naluri ke”cerdik”an yang hampir sama dengan koruptor. Dalam dongeng, Kancil diceritakan dapat dengan mudah mengelabui tokoh dalam cerita, baik Pak Tani maupun Buaya dan parahnya Kancil juga dapat dengan mudah membuat sebuah opini publik (pembaca) bahwa yang dilakukannya sah-sah saja. Jadi yang ingin saya sampaikan adalah Kancil selain pintar dalam mencuri dan mengelabui, dia juga pandai membuat opini publik bahwa yang dilakukannya adalah benar. Dan jika kita tarik garis lurus ke depan (saat ini), kelakuan kancil hampir sama dengan koruptor. Banyak koruptor di negeri ini yang sekarang hidup dengan sangat mewah menikmati hasil korupsinya, seperti kancil menikmati timun Pak Tani. Dan saya sangat percaya jika para kancil di negeri ini ditangkap dan digantung, seperti maling sandal shalat Jum’at dibakar…hampir tidak mungkin dongeng kancil mencuri timun Pak Tani terulang.

“Tangkap dan Gantung si Kancil”

Ganti tikus aja gimana?­čśÇ

gimana kalo kodok?

Jadi ngomongin dongeng si kancil atau si kodok?
Kalau si kancil ama kodok ceritanya beda. Gimana kalo ceritanya kelinci dan kura-kura.

Tapi cerita-cerita itu dibuat bukan dengan tujuan pembodohan sih. Gw setuju ama yang di atas gw, cerita itu bukan untuk ditelan mentah-mentah, tetapi mengambil hikmah dari itu. Bukan masalah fanatisme terhadap penokohan. Tetapi apa yang bisa kita ambil di situ. Setuju kawan-kawan? I hope so…

*Tumben gw ngomong bener n serius kayak gini. Peace ah

wah, ceramahnya emang berbobot banget!
gimana bangsa kita mau maju orang setiap hari setiap jam, anak-anak bangsa ini menonton dan melihat “impian” yang di suguhkan oleh sinetron. yang hanya mengumbar kekayaan. dimana kekayaan adalah segalanya, dan mereka harus dapat kaya, tanpa harus mengetahui bagaimana caranya.
yang mereka tahu untuk mendapatkan kekayaan adalah dengan bertingkah laku cerdik. korupsi atau maling asal engga ketahuan adalah hal yang dianggap cerdik!

tenang teman-teman, ojo nesu okeh:mrgreen:

saya ingat ama pendapat -yang menurut saya benar dan masuk akal- bahwa kemajuan suatu bangsa atau suatu negara bisa dilihat dari cerita rakyatnya.

contoh, cerita rakyat Amrik seperti Superman, Flash Gordon, dkk yang menceritakan pahlawan dengan kemampuan super dan futuristik (bisa terbang, kemampuan melihat dgn inframerah, dll) walhasil sekarang negara Amrik merupakan negara adidaya, super power, bisa nerapin stick and carrot ke negara dunia ketiga.

contoh, cerita rakyat Jepang….well saya gak tau semua sih:mrgreen: tapi mungkin Captain Tsubasa, Doraemon yang merupakan cerita taun 70-80 an yang juga menceritakan kehebatan tokoh sentral cerita tersebut walhasil negara Jepang merupakan negara maju di Asia.

mmm apalagi ya?! Cina mungkin?? Kayak Sun Tzu Art Of War (bukan cerita rakyat siiiiyyy tapi gpp yaaa?!:mrgreen: ) yang menginspirasi pembacanya, malah dijadikan bacaan wajib di kalangan pengacara….pantesan sekarang Cina jadi Naga Asia….

sedangkan kita? tengoklah cerita rakyat Indonesia….apa aja pesan moralnya? rata-rata itu-itu doang kan?! bahwa kita jadi orang harus jujur, baik hati, dll yang kurang memberikan motivasi untuk maju dan modern. Oke lah lagu Indonesia Raya agak mending…..lirik “bangunlah jiwanya…bangunlah raganya…untuk Indonesia Raya” itu sebetulnya memberikan motivasi….bangunlah jiwa kita untuk ke arah yang lebih maju dan positif.

Gitu deeehhh….salam

eh ralat lagu Indonesia Raya…nyang bener “bangunlah badannya”..maaf sodara-sodara:mrgreen:

wah ktinggalan lagi….menuh2in bandwidth nih….sorrriii yaaa blogmasters..peace:mrgreen:

emm….mksd saya nulis pendapat yg panjang lebar tadi adalah bahwa Kancil merupakan cermin dari budaya, alam berpikirnya orang Indonesia pada umumnya. Malah menimbulkan ragam persepsi mengenai inti cerita atau pesan moral dari cerita Kancil.

Kalo Kancil begitu gak heran sebagian orang Indonesia ada yang seperti Kancil kelakuannya. Andaikan saja cerita rakyat kita tentang Superman atau sejenisnya, mungkin kita udah maju dari dulu…karena sadar-gak sadar, tokoh2 dalam cerita rakyat mempengaruhi dan menginspirasi pembacanya yang biasanya anak-anak.

Kali ini bener-bener selese…hehehe…salam

Saya setuju dengan Udiot, tokoh Si Kancil memang merepresentasikan para koruptor yang ÔÇťcerdikÔÇŁ dan ÔÇťlicikÔÇŁ dalam mengambil uang rakyat. Mereka bertingkah laku seperti orang suci kalau di depan TV padahal kelakuan mereka sebenarnya sangat merugikan bangsa ini. Jadi, tangkap dan gantung Si Kancil!

Analogi yang sangat menarik Yonna. Memang benar ya, kalau diperhatikan bangsa-bangsa besar seperti Amerika memiliki cerita-cerita klasik yang lebih memotivasi para generasi muda mereka untuk menjadi yang terbaik, terhebat, dan seterusnya. Sementara cerita-cerita dalam negeri cenderung menganjurkan anak-anak kecil kita untuk menjadi manusia yang jujur, solehah, sopan, dll. Bukannya tidak bagus tapi kayaknya kurang greget gitu. Padahal kita punya cerita-cerita klasik yang bagus dalam memotivasi generasi muda dari jaman kerajaan dulu tapi sayang tidak pernah dikembangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: