Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Culture Matters: How Values Shape Human Progress

Posted on: May 1, 2007

Judul artikel diatas adalah judul dari buku karya Lawrance E. Harrison dan Samuel P. Huntington (2000) yang di dalamnya menyimak temuan dari sebuah riset global yang disponsori oleh Harvard Academy for International and Area Studies di akhir tahun 1990-an. Riset tersebut melibatkan 25 ilmuwan sosial paling senior, mulai dari Michael E. Porter (pakar kedayasaingan), Seymour Martin Lipsett (ilmuwan politik), sampai dengan Francis Fukuyama (filsuf modern) yang menghasilkan temuan yang kuat bahwa “Budaya menentukan kemajuan dari setiap masyarakat, negara, dan bangsa di seluruh dunia, baik ditinjau dari sisi politik, sosial, maupun ekonomi. Tanpa kecuali.”

Budaya
Ada begitu banyak definisi tentang budaya, tetapi secara singkat, budaya adalah cara manusia memberikan respons kepada lingkungannya agar bisa bertahan (surviving) dan menang (winning). Makna ini pula yang diangkat dalam seminar yang diadakan oleh Harvard Academy for International and Area Studies di tahun 1990-an yang mengangkat topik “Culture Matters” (Samuel P. Huntington, 2000). Seminar tersebut mencatat bahwa culture counts: pada tahun 1960-an kondisi perekonomian di Ghana dan Korea Selatan adalah sama. Tapi di tahun 1990-an kita semua tahu perbedaan dari kedua negara tersebut. Ghana pada tahun 1990-an tetaplah seperti Ghana di tahun 1960-an sementara Korea Selatan adalah sebuah kekuatan ekonomi Asia yang menggetarkan dunia. Mengapa? karena Budaya Menentukan Kemajuan Manusia!

Budaya Tinggi
Jika budaya adalah sebuah strategi untuk bertahan (surviving) dan menang (winning) maka kita harus mahfum bahwa itulah takaran dasar untuk menilai tinggi-rendahnya suatu budaya. Tanpa menjadi pragmati kita perlu mengakui bahwa BUDAYA BUKAN SENI. Seni yang indah diidentifikasi sebagai fakta dari budaya tinggi.

Indonesia
Indonesia sering disebutkan mempunyai budaya gotong royong tinggi, tepa slero, dan ribuan karya sastra tinggi yang kesemuanya menjadikan kita menjadi salah satu bangsa yang memiliki budaya tinggi. Namun kenapa “budaya tinggi” tersebut tidak menjadikan bangsa Indonesia hari ini sebagai bangsa yang menang dalam persaingan global? Bahkan bangsa Indonesia tidak kunjung pulih dari krisis, tidak seperti bangsa-bangsa lain yang mampu keluar dari krisis berkepanjangan. Kita bahkan dengan mudah menghilangkan “ketinggian budaya” kita dan menjadi bangsa yang pembenci, pelupa, tidak saling mempercayai, pelanggar hukum, mau menang sendiri, bahkan ada tanda-tanda menjadi penjual bangsa sendiri, dan lain sebagainya yang anda bisa sebutkan sendiri. Jika budaya tinggi saja tidak cukup, lantas apa yang diperlukan?

Budaya adalah Strategi
Sejalan dengan Van Peursen (Strategi Kebudayaan, 1976) bahwa budaya adalah strategi untuk bertahan hidup dan menang. Inti dari budaya bukanlah budaya itu sendiri, melainkan strategi kebudayaan. Budaya tinggi tidak selalu berada dalam bentuk kesenian yang rumit seperti epos-epos kuno dan seni tari yang adiluhung. Budaya tinggi dibuktikan dari how survival is the nation. Seperti yang dikatakan oleh William Ogburn dalam konsepnya, ketertinggalan budaya berkenaan dengan kecepatannya dalam merespons perubahan. Meski gagasan Ogburn tidak langsung mengatakan bahwa budaya tinggi adalah budaya yang adaptif dan kompetitif, namun gagasan dasarnya mengarah kepada dua konsep dasar bahwa tinggi-rendahnya suatu budaya diletakan pada konteks yang berubah. Itu artinya pemaknaan budaya sebagai strategi.

Tantangan Global adalah Tantangan Budaya Indonesia
Uniknya, tantangan itu datang dari luar Indonesia. Dalam menghadapi tantangan tersebut, maka budaya yang kita miliki cenderung memilih dua cara yang kontras: membenci atau memusuhi (xenophobia) dan mecintai habis-habisan (xenofile). Pendukung aliran pertama adalah kelompok yang memuja-muja seni tradisi sebagai wujud nyata dari budaya tinggi. Pendukun aliran kedua adalah mereka yang memperoleh pendidikan dan pembelajaran barat dan menjadikan semua yang dari barat sebagai kiblat. Mereka adalah bagian dari disseminasi budaya yang disertai penaklukan budaya.

Menurut hemat saya, kedua cara di atas adalah suatu kesalahan yang sudah harus dihentikan. Kita perlu menyadari bahwa budaya adalah strategi untuk hidup dan maju berkembang. Budaya Indonesia, selama belum cukup menjadi strategi bangsa untuk menang dalam globalisasi, serumit apapun seni budayanya, Ia tetap budaya yang rendah. Jadi yang kita perlukan adalah budaya yang merupakan sebuah general strategy untuk membuat Indonesia tidak lagi mempunyai Human Capital Index pada rangking 112 dari 175 negara yang disurvei.

Pengembangan Budaya
Dengan mencermati wacana diatas, pengembangan budaya bangsa Indonesia adalah menjadi bangsa dengan budaya tinggi dan maju. Untuk itu ada sejumlah tantangan. Pertama, kemauan untuk menyadari kondisi kita. Tantangan bangsa Indonesia adalah untuk menyadari bahwa budaya yang kita miliki sebenarnya adalah budaya tinggi saja dan bukan budaya maju. Karena tidak mampu menyediakan jawaban dari permasalahan actual yang hadir di depan mata. Memang, di masa lalu kita mempunyai budaya tinggi: Borobudur, Prambanan, Tari Bedoyo, I la Galigo. Semuanya adalah warisan budaya yang indah dan sarat dengan nilai-nilai dan merupakan budaya yang tinggi pada zamannya. Hari ini pun budaya tersebut perlu kita pelihara sebagai bagian dari kekayaan bangsa. Namun pada saat ini kita harus lebih banyak membangun “budaya masa depan,” we have to build our culture of the future. Mengagumi budaya yang diberikan leluhur adalah baik tetapi tidak boleh menjadikan kita teramat romantis dan terikat kepada masa lalu. Kita sebagai bangsa harus berani meninggalkan karakter romantis yang berlebihan. Kita hidup di zaman internet, satelit, pesawat ulang-alik, dan perdagangan mata uang berpuluh-puluh kali lipat dibanding perdagangan komoditi rill. Kita hidup di zaman yang dinamai Kenichi Ohmae sebagai borderless world dan the end of the nation state.

Transformasi Kultural
Transformasi kultural pertama yang diperlukan adalah melihat rahasia keunggulan global. Menurut pengamatan saya nilai dasar dari budaya global ada dua: keberadaan saling percaya dan kultur manajemen. Francis Fukuyama kepada Kompas di tahun 1997 mengemukakan bahwa keunggulan Amerika bukan karena keunggulan teknologi, uang dan lain-lain. Tetapi karena Amerika mempunyai social capital yang disebut dengan trust. Kita memahami bahwa tanpa trust mana mungkin kita bisa yakin akan perlunya kompetisi yang sehat dan jujur. Tanpa trust mana mungkin kita bisa bekerja sama apalagi dalam skala global. Tanpa trust kita akan mengatakan bahwa standardisasi adalah tipu-tipu negara maju saja. Dan akhirnya kita tidak berani untuk melakukan benchmarking diri kita dengan orang lain. Hari ini kita perlu trust sebagai materi dasar dari budaya Indonesia. Itu pun jika kita mau mempunyai budaya tinggi. Rasa saling percaya tidak bisa dibangun tetapi dilahirkan.

Keunggulan kedua setelah adalah budaya manajemen. Menurut Peter F. Drucker (Management, 1973), hanya manajemen yang memungkinkan organisasi mampu bekerja dan menciptakan nilai tambah. Tanpa manajemen, maka yang ada hanya “sekumpulan” atau “segerombolan” manusia saja. Inilah problemnya, Indonesia tidak mempunyai budaya manajemen yang cukup. Kita lebih suka gotong-royong, paguyuban, dan ubyung-ubyung. Kalau ada masalah dikeroyok bersama-sama. Kita tidak terbiasa untuk membangun organisasi dan meletakan sistem.

Transformasi kedua adalah mempertahankan ketinggian budaya yang sudah kita miliki. Sebenarnya bangsa-bangsa maju seperti Amerika hanya memiliki budaya maju saja namun dengan keunggulannya mereka mempunyai budaya tinggi. Indonesia sudah mempunyai “budaya tinggi” dan budaya tinggi harus kita jaga terutama dalam bentuk kekayaan artefak budaya masa lalu untuk menjadi unsur pembeda bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Dan jika bangsa ini mampu membangun “budaya maju,” maka proses menjadikan Indonesia sebagai the excellent nation akan semakin cepat, karena Indonesia sudah mempunyai modal “budaya tinggi.”

Disadur dari buku Cultured!: Budaya Organisasi dalam Tantangan karangan Dr. Djokosantoso Moeljono (mantan Dirut Bank BRI).

5 Responses to "Culture Matters: How Values Shape Human Progress"

wah jujur aja aku pusing mau komentar blog ini dari mana… terlalu banyak yang pengen gw komentari.. tapi sebagian besar gw setuju dengan tulisan ini.

yang paling gw komentari adalah gambarnya. @penulis thx udah majang foto borobudur gw yang gw cintai, walopun sekarang udah gak dianggep lagi sebagai salah satu keajaiban dunia oleh dunia internasional(tanya kenapa??), tapi buat gw borobudur tetaplah keajaiban Indonesia…. yang gw banggakan

[…] melalui peningkatkan kualitas SDM untuk menjadikan masyarakat Jakarta sebagai masyarakat yang berbudaya maju. Kegiatan akan dilaksanakan tiap hari Sabtu dan Minggu di Base Camp […]

[…] melalui peningkatan kualitas SDM untuk menjadikan masyarakat Jakarta sebagai masyarakat yang berbudaya maju, maka pada tanggal 4 Agustus 2007 program kelas gratis akan mulai dijalankan. Selanjutnya program […]

Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 27 Mei 2008

Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
(Satu Sebab Krisis Indonesia)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

penulis, klo mo liat/download isi bku culture matter yang gratis, dmana sih???
aku ad tugas ngrangkum bku ituh????
thnak yah,.,.
di tungu blsnya,.,.,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: