Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Education is The Answer

Posted on: April 27, 2007

Saya bertempat tinggal di Bethesda Maryland yang beberapa blok dari rumah saya terletak sebuah sekolah menengah pertama bernama Pyle Middle School. Di Amerika Serikat setiap murid SD hingga SMA bebas masuk sekolah publik mana saja sesuai dengan tempat tinggal mereka masing-masing dan yang luar biasanya adalah murid-murid ini tidak dikenakan biaya sepeser pun untuk mendapatkan pendidikan tersebut.

Saya beberapa kali berkesempatan masuk ke dalam gedung dan fasilitas Pyle Middle School. Di dalam sekolah tersebut semua terlihat bersih dan teratur, murid-murid usia belasan tahun dengan penuh kesadaran tinggi tidak terlihat satu pun yang melakukan aksi corat-coret atau membuang sampah sembarangan. Sekolah ini pun memiliki fasilitas yang sangat komplit mulai dari perpustakaan dengan komputer dan internet, ruang serba guna (lapangan indoor), ruang kelas yang sangat bersih dan tertata baik, kafetaria, serta kamar mandi yang saya jamin jauh lebih manusiawi dari pada kamar mandi di kampus tercinta Trisakti. Ingat bahwa murid-murid di sekolah ini tidak perlu membayar apa pun untuk fasilitas-fasilitas tersebut. Fasilitas-fasilitas tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan fasilitas yang dimiliki oleh Lab School Kebayoran Baru yang mewajibkan setiap muridnya untuk membayar 15 juta lebih untuk bisa masuk.

Tampaknya itulah kehebatan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, mereka paham betul bahwa generasi muda adalah masa depan negara. Dan pendidikan adalah satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi negara super power untuk bertahun-tahun ke depan. Education is always the answer! Itu mengapa negara-negara maju selalu memberikan budget yang sangat besar untuk pendidikan, pada tahun 2005 Departemen Pendidikan Amerika Serikat tercatat memiliki Discretionary Budget Authority sebesar $ 57.3 Milliar. Presiden George Bush yang terkenal sebagai salah satu penyebab timbulnya perang di berbagai tempat dan sempat dijuluki “Devil” oleh Hugo Chavez presiden Venezuela percaya atau tidak merupakan salah satu tokoh yang dihormati oleh dunia pendidikan Amerika Serikat. Pada 8 Januari 2002 Presiden George Bush menandatangani undang-undang “No Child Left Behind” yang memberikan murid serta orang tua kesempatan lebih untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik dan transparan.

Namun dengan segala keunggulan sistem pendidikan dalam negeri Amerika Serikat, Anda mungkin akan terkejut mengetahui bahwa masih begitu banyak pihak di Amerika Serikat yang merasa bahwa sistem pendidikan di Amerika Serikat sudah ketinggalan jaman. Setidaknya hal itulah yang ingin disampaikan oleh Majalah Time melalui edisinya bulan Desember lalu. Sebuah lelucon mengawali artikel yang ditulis oleh Claudia Wallis dan Sonja Steptoe: Rip Van Winkle bangun di abad ke-21 setelah tidur panjangnya selama seratus tahun dan tentu saja Ia sangat terkejut dengan segala hal yang Ia saksikan. Para pria dan wanita terlihat sibuk berjalan kesana kemari sambil berbicara kepada sebuah alat yang menempel di telinga mereka. Anak-anak muda terlihat asyik duduk di atas sofa sambil menggerak-gerakan sebuah alat elektronik di depan layar TV. Setiap tempat yang Ia datangi mulai dari bandara, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga perkantoran tidak henti-hentinya membuat Rip terkesima. Tetapi ketika akhirnya Ia memasuki sebuah ruangan kelas, orang tua itu tahu dengan jelas dimana Ia berada. “Ini sudah pasti sebuah sekolah!” teriaknya. “Kita juga memiliki ini di tahun 1906. Hanya saja sekarang papan tulisnya berwarna hijau!”

Sistem pendidikan bagi anak-anak di Amerika Serikat dirasakan banyak pihak sudah tidak sesuai dengan Google dan Youtube era. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat memang tidak sepenuhnya ketinggalan jaman, tapi menurut banyak kalangan pendidikan di dalam negeri mengingat cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi di area lain dalam kehidupan, sekolah-sekolah publik memiliki kecenderungan untuk tertinggal. Anak-anak Amerika menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka sama seperti apa yang kakek dan nenek mereka lakukan: duduk di bangku kelas, mendengarkan guru, menulis catatan, dan membaca buku pelajaran yang sudah kadarluarsa begitu buku-buku tersebut dicetak.

Dalam lima tahun terakhir, perbicangan pendidikan di Amerika Serikat terfokus pada penilaian kemampuan baca, tes matematika, dan mengurangi jarak pencapaian prestasi di antara murid-murid dari latar belakang sosial yang beragam. Namun banyak ahli pendidikan yang terus mengingatkan bahwa bukan hanya hal-hal itu saja yang perlu dikhawatirkan tetapi hal-hal lain untuk menjawab apakah generasi muda Amerika Serikat akan gagal di dalam ekonomi global karena mereka tidak dapat berpikir dalam masalah-masalah abstrak, bekerja dalam tim, menyimpulkan informasi berguna dari orang-orang yang berbahasa asing.

Saat ini sistem pendidikan pre-K hingga kelas 12 (SMA kelas 3) di Amerika Serikat dirasakan memiliki target yang terlalu dangkal. Kemampuan dalam membaca dan matematika yang merupakan fokus dari ujian nasional “No Child Left Behind” oleh banyak ahli pendidikan Amerika dinilai terlalu minim. Keahlian teknis dan ilmiah memang diperlukan tanpa keraguan, tapi itu saja tidak cukup. Saat ini ekonomi global menuntut tidak saja keahlian tinggi akan disiplin akademik tradisional tapi juga yang oleh banyak ahli pendidikan disebut dengan keahlian abad 21. Keahlian-keahlian tersebut adalah:

  1. Knowing More about the World. Anak-anak adalah penduduk dunia, bahkan seorang anak yang hidup di lokasi terpencil di Amerika Serikat pun harus bertindak seperti itu. Semakin terkoneksinya perekonomian dunia membuat dunia berubah menjadi sangat kecil. Perusahaan-perusahaan dari Amerika dan seluruh dunia berlomba-lomba membuka cabang di banyak negara sehingga mereka membutuhkan kemampuan untuk memahami budaya lokal masing-masing negara dengan lebih cepat dan efektif.
  2. Thinking Outside the Box. Kemampuan untuk berpikir di luar kotak telah menhasilkan Google, Youtube, Paypal, MySpace, dan masih banyak lagi. Kemampuan dimana seseorang mampu melihat adanya peluang di saat orang lain hanya melihat kesengsaraan.
  3. Becoming Smarter about New Sources of Information. Di dalam sebuah era dimana informasi tersedia begitu berlimpah dan berubah cepat, murid-murid abad ke-21 harus mampu memproses informasi tersebut dan mampu membedakan antara informasi yang dapat diandalkan dan yang tidak. “Sangat penting bahwa muris-murid mengetahui bagaimana mengelola informasi tersebut, menafsirkan, mengecek keasliannya, dan bertindak berdasarkan informasi itu,” ujar salah satu petinggi Dell, Karen Bruett.
  4. Developing Good People Skills. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa EQ atau Emotional Intelligence adalah sama pentingnya dengan IQ dalam lingkungan kerja saat ini. “Kebanyakan inovasi saat ini terjadi dalam tim-tim dalam jumlah orang yang banyak,” kata mantan CEO Lockheed martin Norman Augustine. Tambahnya lagi, “pendidikan seharusnya menitikberatkan pada kemampuan komunikasi, kemampuan untuk bekerja sama dalam tim dan orang lain dari latar belakang budaya yang berbeda.”

Nah, pertanyaan saya sekarang adalah bagaimana nasib pendidikan di Indonesia? Pendidikan gratis hingga SMA tampaknya masih sangat jauh dari impian. Dengan kondisi otonomi daerah yang belum jelas nasibnya, pendidikan gratis dan berkualitas sangat sulit untuk terealisasi. DKI Jakarta pun yang terkenal sebagai provinsi yang katanya memiliki perputaran rupiah terbesar di Indonesia baru bisa memberikan pendidikan gratis bagi murid-murid sekolah dasar. Kualitas? Tidak usah ditanya!

8 Responses to "Education is The Answer"

Pendidikan gratis? mau donk, siapa yang gak mau. Tapi yang perlu kita soroti utama bukanla ‘gratis’nya itu.

Cukup takjub juga melihat kerapihan dan kebersihan, serta prinsip2 keahlian itu. Indonesia sebenarnya telah memiliki, namun hanya segelintir orang saja. Kebanyakan segelintir orang tersebut tidak memiliki lingkungan dan support yang mendukung. Ketika manusianya mau berubah, sistem dan lingkungan tidak mendukung perubahan itu. Akhirnya ketika manusia itu mau melakukan perubahan, selalu tergencet ama sistem dan lingkungan.

Contoh, sesorang yang ingin bermain jujur dan bersih dalam politik dan kehidupan, secara lingkungan kita penuh budaya kotor dan kecurangan. Akhirnya kejujuran itu tergencet. Nantinya ketika ia bertahan dengan keidealismeannya, ternyata lingkungan menyikut dia.

Kebobrokan ini seolah-olah telah merapat dan merapi. Pernah ingat salah satu pesan, “satu orang baik, kalah dengan sekumpulan kejahatan yang bersama-sama. Sekumpulan kebaikan yang bersama-sama, kalah dengan sekumpulan kejahatan yang bersama-sama dan terorganisir (tersistem)., Kalau kebaikan itu ingin menang maka kita harus merapatkan barisan (bersama-sama) dan merapikan barisan (tersistem dan terorganisir).”

Orang2 baik itu perlu kita kumpulkan bersama, sekumpulan orang yang telah bersama itu perlu kita rapikan. Dan Jayalah Indonesiaku

(walau aku warga bandung)

Andai saja pendidikan kita bisa seperti itu. Sebenarnya bisa aja kalau Jakarta memberikan kualitas pendidikan yg jauh lebih baik dari sekarang namun pertanyaannya, “Mau gak para pejabat melakukan itu?”

Dear Rosa, pertanyaannya saya kira salah. Karena para pejabat hanya melaksanakan dan mengawal peraturan perundangan. Kita semua ini yang seharusnya menuntut wakil-wakil kita untuk bekerja keras menyusun peraturan perundangan sesuai dengan kebutuhan , mentalitas dsb….
Next election, please choose the youngers with great idealism…

Yes you right bataviase..next election we choose the youngers with the great idealism…

Tasa,
As an American resident for quite some time now, I don’t think education is free. In fact, I pay a lot of taxes to provide for those children’s education from elementary to community college.

With my income bracket, I pay more than 30% of my pre-tax earnings to pay for all kinds of stuff. In my city Mountain House, I also need to pay an extra USD 2,500 annually to provide facilities for this new city. In total, it is a lot of money annually, Tasa.🙂

It seems free but it is actually not. Somebody has gotta pay for them.😉

Jennie

Hi Mba,
As far as I know, education from elementary school to high school is free in USA, there is this article that explains it. There are some states that provide free education up to college like Washington DC. Do you put your children at private schools?

Oh, you mean you have to pay a lot of taxes to live in USA and public schools are run by the taxes? Well, if that’s the case you are right. Americans do pay taxes a lot!! But, the good thing is people’s money is distributed well here with almost no corruption.So, most people can accept the high taxes that they have to pay. Thanks Mba

Yup, Tasa. American residents/citizens must pay tons of taxes and yes, they had been distributed well, except lately during the invasion to Iraq. Many things have been cut down to finance that silly war.😉

Thanks for your support on my blog.

I respectfully disagree with Ms. Bev’s last comment. I do not think that what we’re doing in Iraq is silly. It’s an important, albeit tragic, investment that we ought to do if we desire to not only live in freedom but bestow the same gift of freedom to the next generation. So yes, we are taxed a lot, but if our money goes to fund the war, I’m OK about it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: