Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Stop!

Posted on: March 31, 2007

Apabila kamu sedang berlibur ke Amerika Serikat kamu akan melihat rambu lalu lintas ini dimana-mana. Yes, I mean everywhere. Hampir di setiap perempatan atau pertigaan yang tidak memiliki fasilitas lampu lalu lintas, rambu ini digunakan untuk menggantikannya. Sesuai dengan tulisan yang tertera maka setiap pengendara kendaraan bermotor harus “Stop” atau berhenti. Ketika kamu berhenti kamu diharuskan untuk melihat kanan dan kiri memastikan bahwa tidak ada mobil yang datang dari arah lain.

Rambu lalu lintas ini merepresentasikan budaya yielding di dalam masyarakat Amerika. Yielding berarti memberikan kesempatan kepada orang lain yang memiliki hak lebih dari kita. Contohnya seperti ini, apabila kamu sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba ada pejalan kaki yang hendak menyeberang di zebra cross (atau kondisi lain yang memperbolehkan dia untuk menyeberang) maka kita harus memberikan jalan untuknya karena pejalan kaki memiliki hak yang lebih dari pengendara mobil.

Sama seperti tanda “Stop,” rambu ini mengharuskan setiap pengendara mobil untuk memberikan jalan bagi mobil lain yang terlebih dulu ada untuk lewat. Untuk orang Jakarta yang baru pertama kali datang ke Amerika mungkin akan bingung melihat rambu lalu lintas yang “aneh” dan gak penting ini. Tapi itu bukan itu yang paling membuat orang Jakarta bingung. Orang Jakarta pasti akan sangat bingung melihat kenyataan bahwa hampir semua pengendara mobil di Amerika mematuhi rambu lalu lintas ini. Bahkan ketika kondisi jalan sudah terlihat lengang dan kosong rata-rata pengendara mobil di Amerika tetap saja berhenti atau memperlambat kendaraan mereka untuk benar-benar memastikan bahwa mereka aman untuk melintas. Luar biasa bukan?

Coba kamu bandingkan dengan budaya pengendara kendaraan di Jakarta. Tidak motor dan tidak juga mobil. Sama-sama gebleknya. Lihat jalan kosong sedikit bawaannya ingin ngebut, tidak perduli apakah ada orang yang sedang berjalan atau tidak. Salip sana salip sini, sudah kayak di arena balapan.

Kondisi lalu lintas Jakarta yang begitu memusingkan kepala mungkin menjadi salah satu alasan mengapa para pengendara mobil dan motor di Jakarta tidak bisa “berbudaya.” Salah satu contoh betapa tidak berbudaya-nya masyarakat Jakarta di jalan raya adalah ketika lampu merah di satu perempatan tiba-tiba mati. Pasti kamu pernah mengalami kondisi ini. Apa yang ada di benakmu? Semrawut! Tidak ada yang mau mengalah, semuanya ingin cepat-cepat melintasi perempatan tersebut. Semua orang berpikir, “Kalo gue ngasi jalan ke orang lain gue pasti gak bakal dapet jalan.” Apabila situasi yang sama terjadi di Amerika Serikat kesemrawutan itu tidak akan terjadi. Mungkin memang akan sedikit membuat kemacetan, tetapi sebuah kemacetan yang tertib. Semua pengendara mobil dan motor akan saling bergantian melintasi perempatan jalan dengan pengendara lain yang datang dari arah yang berbeda.

Kapan para pengendara mobil dan motor di Jakarta bisa berbudaya? Answer this question please…..

Tidak semua budaya atau peraturan di Amerika Serikat patut kita contoh. Kita sebagai bangsa yang besar harus bangga terhadap budaya kita sendiri, tapi bangsa yang besar tidak anti menerima masukan dari budaya lain.

2 Responses to "Stop!"

di Riau tuh ada kompleks perumahan Chevron, kalo soal kedisiplinan lalu lintas oke bgt… seandainya waktu lagi di perempatan kebagian lampu merah sedangkan di jalur yang lain lagi kosong, para pengendara tetap nunggu sampe lampunya hijau baru jalan… ga asal nyerobot aja… yang begitu perlu di tiru…

sayangnya, keadaan begitu ga diterapkan di seluruh Riau­čśŽ cuma diterapkan di perumahan Chevron atau jalanan yang ada polisinya­čśŤ

ooo..Chevron..dulunya Caltex yah..?kayanya wajar deh..he..he soalnya saya dulu punya teman sekampus yang tinggal di komp. Chevron, pas pertama kali dia datang ke Jakarta dia selalu ngomel..apa ini Jakarta seharusnya Gubernur dan Presidennya orang Riau (dari Chevron) supaya kalian tau kebersihan, kalian tau sopan santun, dan kalian tau tata tertib he..he itu katanya…

Kenapa cuma Chevron dan bukan seluruh Riau yang bisa mempunyai disiplin tinggi, menurut saya karena Chevron mempunyai system culture yang baik, sehingga siapapun manusia yang berada pada lingkungan Chevron akan mengikuti culture di Chevron tetapi apabila manusia tersebut kembali ke tempat asalnya maka culture (perangai)nya akan kembali seperti sedia kala. Sama halnya seperti Orang Indonesia yang pergi ke Singapura, disana mereka akan terlihat seperti orang yang sangat berbudaya (disiplin, sopan, tertib, bersih, dll) tetapi ketika kembali ke Indonesia maka perangainya kembali seperti semula, membuang sampah sembarangan, kebut-kebutan, tidak menyebrang pada tempat penyebrangan dll.

Yup semoga aja Pemilu Gubernur DKI yang akan datang bisa menghasilkan Gubernur yang berbudaya seperti Budaya-nya orang Caltex, Setuju untuk Modernizednya but not for westernizednya…

So siapa yang salah sistem, pemimpin atau rakyatnya…?you better find out and know before late!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos
%d bloggers like this: