Jakarta Butuh Revolusi Budaya!

Seiring berkembangnya dunia pertelevisian negeri ini, pastinya juga diikuti dengan berkembangnya trend program-program acara yang akan ditonton masyarakat. Tetapi sayangnya, tak banyak dari mereka yang tahu bahwa sebagian acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta di negeri ini adalah berupa “pembodohan” . Dengan rekayasa kamera dan ide acara, segalanya dapat dikemas sedemikian hingga sampai kepada bungkusan acara yang menarik untuk ditonton (bukan disimak).

Dapat dilihat sendiri, acara yang sedang naik pamor akan lebih sering menghiasi layar kaca anda, ketimbang acara yang syarat akan pendidikan dan mengajarkan anda tentang ilmu pengetahuan. Dapat saya katakan di sini acara-acara tersebut adalah infotainment, sinetron dan film-film pendek. Saya menyayangkan sekali, betapa bodohnya khalayak untuk mengkonsumsi acara seperti itu.

Contohnya infotainment. Tidak salah memang jika mereka itu menayangkan berita yang bertemakan gaya hidup selebritis, tetapi belakangan mengapa mereka menjadi penyorot gaya hidup pribadi orang ? Inilah sisi yang harus dipahami dan dibenahi. Berita-berita tentang selebritis yang sedang heboh dibicarakan seperti kasus perceraian, nikah siri, ada juga yang terlibat kasus korupsi dan sebagainya adalah bukan bagian dari berita infotainment yang sebenarnya.

Bukankah hal-hal tersebut merupakan aib yang harusnya dijaga. Mungkin, si selebritis tidak mau memberikan keterangan lebih tentang masalah pribadinya kepada khalayak, karena ia pun tahu sebagai seorang manusia yang juga mempunyai harkat dan martabat yang sama untuk lebih berhati-hati terhadap apa yang ingin melukainya atau mengancamnya. Mengapa justru si pemburu berita alias pers dari infotainment itu yang mengganggu kisah hidup pribadinya ? Apa sih pengaruh hidup mereka yang nikah-cerai bagi kehidupan kita?

Apa sih efeknya mereka yang gonta-ganti pasangan bagi diri kita? Saya rasa tidak ada apa-apa pengaruhnya selain menimbulkan opini yang tidak sedap bagi masyarakat yang mempunyai pikiran sehat tentang dampak penayangan acara ini. Dibilangnya mereka itu cari sensasi dikarenakan bekerja di dunia hiburan. Dan si seleb juga sadar, bukan resiko yang kecil karena setiap gerak-gerik mereka adalah buruan wartawan infotainment. Objektif sekali bukan?

Saya setuju jika hal ini disebut sebagai ber-ghibah. Karena, infotainment zaman sekarang sudah demikian parah. Sudah ditayangkan sebanyak-banyaknya tiga kali sehari, ditambah tujuh hari seminggu mereka pasti dinanti para penonton setianya yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan remaja putri. Namun, tidak menutup kemungkinan banyak kalangan pun menontonnya. Tidak berbobotnya tontonan seperti ini pun kian ramai diikuti.

Seperti menjamurnya tayangan sinetron-sinetron remaja yang bertemakan cinta atau film pendek atau yang biasa disebut dengan FTV. Terlebih lagi generasi muda negeri ini diracuni oleh hal-hal yang terbungkus dengan baik. Padahal itulah yang merusak. Banyak yang meniru adegan-adegan yang ada di dalam tayangan-tayangan tersebut. Entah itu gaya berpakaian, pergaulan, cara bicara dengan logat khas anak muda dan lain-lain. Jika, masyarakat tidak berpikir secara sehat mengenai masalah ini, berarti mereka sendiri sudah setuju bangsa ini terus dibodohi oleh pertelevisian yang semakin hari semakin kian mudah membuat acara-acara semacam acara di atas. Televisi itu hidup dari rating atas pendapatan tontonan. Nah, acara-acara demikian itu dijadikan tontonan?

Pikirkan lagi. Menurut teori umum komunikasi yang menjelaskan tentang bagaimana menjelaskan tentang fenomena komunikasi bagi manusia yakni terdapat dalam teori kognitif dan behavior. Yang mana teori ini berkembang dari ilmu psikologi yang memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Salah satu konsep pemikirannya adalah model stimulus-respon atau S-R, yang menggambarkan proses informasi antara stimulus dan respon.

Contoh lain teori yang termasuk di dalam kelompok teori ini adalah model psikologi Comstock yang menerangkan tentang efek televisi terhadap individu. Tujuan model ini adalah untuk memperhitungkan dan membantu memperkirakan terjadinya efek terhadap tingkah laku orang perorang dalam suatu kasus tertentu, dengan jalan menggabungkan penemuan-penemuan atau teori-teori tentang kondisi umum dimana efek selama ini dapat ditemukan.

Model ini dinamakan model psikologi karena melibatkan masalah-masalah keadaan mental dan tingkah laku orang perorangan. Model ini berpendapat , televisi hendaknya dianggap sederajat dengan setiap pengalaman, tindakan atau observasi personal yang dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pemahaman (learning) maupun tindakan (acting). Jadi model ini mencakup kasus dimana televisi tidak hanya mengajarkan tingkah laku yang dipelajari dari sumber-sumber lain.

Efek jangka panjang yang sedianya telah ada di dalam diri kita apabila kita tidak cermat dalam memilih tontonan, apalagi tontonan untuk anak-anak. Jangan sampai mereka dewasa sebelum waktunya. Dampingi mereka ketika menonton dan batasi waktunya. Setidaknya, bersikap dewasalah dalam menghadapi perkembangan zaman. Jangan kalah oleh zaman yang semakin berlari membawa ke-modern-an. Tetap berpikir cermat dan kritis dan waspada oleh keadaan yang bisa berubah semaunya. Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada esok hari jika kita tidak menjalani hari ini.

I’ve been to Museum Bank Mandiri for many times now. This morning I went there again to have a meeting with the Berburu Center team. And just like always, going to Museum Bank Mandiri gave me a very unique sensation I can’t describe with words.

But first, let me make it clear. Going to Museum Bank Mandiri and Kota Toea is not an easy journey. The traffic that you have to pass is like crazy. You all know how bad the traffic in Glodok and Kota can be, don’t you? So I suggest you wake up early and get going real soon in the morning.

Museum Bank Mandiri is not the world’s best museum, for sure. The condition outside the museum is a big factor why this museum is less attractive than it should be. Kota Toea is indeed a very hot place to be. If you come at 12 noon, you’ll probably think you’re 5 minutes away from hell. It’s damn hot and the air is so polluted. The sound of bajaj, angkot, buses, and people just makes everything so perfectly frustrating. If you want to commit suicide (a memorable one for people you love), I suggest not to do it in this area.

So, it’s so wonderful to know that you can still find peace inside the building of Museum Bank Mandiri. The old building offers us a very “adem” atmosphere. Its old furnitures and displays give us a very peaceful feeling. The fact that the museum is a melting point of a lot of communities and organizations makes it even more special.

I spent most of the time with the team at the library which is managed by Forum Indonesia Membaca; a very inspirational organization who seeks to educate people that reading is important.

We talked about our programs and strategies. The meeting was not too long but very effective, although we could still hear the sound of bajaj from inside.

One important thing we all agreed on was that we are going to conduct a training on living values very soon. We feel that the famous 12 living values rhyme perfectly with the 5 themes/values that we have in Berburu. We’re hoping the training can be conducted next month during the holy month ramadhan.

Back to Museum Bank Mandiri. We managed to take some good pictures. The museum got plenty of great spots for camera posing. I’m not a professional photographer, but taking a great angle may not be that hard for me.

It seems that I’ll be visiting Museum Bank Mandiri even more in the future, since we’re planning to launch Berburu Center’s so-called office (sekretariat, to be exact) at the museum. Hopefully, we can conduct many creative events and programs and together with other organizations we can create a better Kota Toea.

Note: We’re changing Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) to Berburu Center: The Research Center for Human Positive Behavior.

Salam Berburu!

Kemacetan lalu lintas merupakan salah satu masalah kronis di kota-kota besar Indonesia dan masalah ini semakin parah setiap tahunnya. Pertumbuhan panjang jalan kota di Indonesia jauh lebih lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan. Di Jakarta, misalnya, tingkat pertumbuhan kepemilikan kendaraan adalah 9 sampai 11 persen per tahun tetapi pertumbuhan pembangunan jalan kurang dari 1 persen per tahun.

Pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan hanyalah memecahkan masalah kemacetan lalu lintas secara sementara. Setelah beberapa tahun, jalan baru akan diisi dengan lalu lintas yang akan terjadi jika jalan baru tersebut tidak dibangun. Hal serupa terjadi dengan pelebaran jalan ketika jalan yang telah diperlebar tersebut akan kembali macet hanya dalam beberapa bulan. Fenomena seperti itu disebut induced demand. Karena induced demand ini, membangun jalan baru atau pelebaran jalan adalah solusi kemacetan lalu lintas yang sifatnya sementara.

Ada beberapa solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan salah satunya adalah pengurangan menggunakan kendaraan pribadi. Sebuah artikel di New York Times (12 Mei 2009) menceritakan tentang sebuah kota tanpa mobil di Jerman. Jalan-jalan di kota ini sepenuhnya bebas mobil kecuali di jalan utama dan beberapa jalan di pinggir kota. Penduduk kota ini masih diperbolehkan memiliki mobil, tapi parkir menjadi masalah bagi mereka karena hanya tersedia dua garasi umum di pinggir kota tersebut.

Kota tersebut bernama Vauban yang berpenduduk 5.500 jiwa dan terletak di pinggiran kota Freiburg, dekat perbatasan Perancis dan Swiss. Penduduk kota tersebut sangat tergantung pada sarana trem ke pusat kota Freiburg dan banyak dari mereka hanya menyewa mobil ketika tidak tersedia sarana angkutan umum di tempat yang mereka tuju.

Tujuh puluh persen dari keluarga di Vauban tidak memiliki mobil. Mereka cukup berjalan dan bersepeda ke toko-toko, bank, restoran, sekolah dan tempat-tempat tujuan lainnya di kota Vauban. Bentuk kota ini memanjang dan menyediakan akses yang mudah untuk berjalan kaki dari setiap rumah menuju tram.

Menciptakan tempat hunian dengan desain kompak, akses yang mudah terhadap transportasi umum dan tingkat berkendaraan yang rendah adalah visi perencana kota di abad ke-21 ini. Kota Vauban merupakan contoh desain perkotaan di abad ke-21 sebagai jawaban terhadap ancaman emisi gas rumah kaca dan pemanasan global dan terbatasnya pasokan minyak.

Saya berpendapat bahwa desain kota Vauban adalah ekstensi dari konsep New Urbanism. Konsep New Urbanism adalah suat konsep desain perkotaan yang pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal tahun 1980. Konsep ini mempromosikan beberapa prinsip utama diantaranya walkability dan konektivitas, tata guna lahan yang beragam (mixed land uses), dan kepadatan tinggi. Terdapat cukup banyak kota dengan konsep New Urbanism yang tersebar di beberapa negara, tetapi jalanan kota-kota tersebut masih penuh dengan mobil.

Kota Vauban menunjukkan bukti adanya kemungkinan untuk menciptakan kota tanpa mobil. Penerapan desain kota yang walkable, tata guna lahan yang beragam, dan kemudahan akses ke transportasi umum yang handal seperti ditunjukkan di kota Vauban kota merupakan komponen untuk menciptakan kota tanpa mobil.

Mobil masih merupakan barang mewah bagi kebanyakan keluarga Indonesia. Banyak warga kota, terutama yang tinggal di kampung kota, tidak memiliki mobil dan terbiasa hidup tanpa mobil. Gang-gang di kampung kota terlalu sempit untuk mobil dan warga banyak berjalan kaki dan bersepeda ke tempat tujuan mereka. Merujuk kepada konsep New Urbanism, kampung kota di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip penting dalam konsep tersebut seperti walkability dan kepadatan tinggi.

Perencana kota di Indonesia harus menghargai keberadaan kampung kota dalam konteks rendahnya tingkat kebutuhan berkendaraan para penghuninya. Warga kampung kota cenderung memiliki kebutuhan berkendaraan yang rendah ketika mereka memiliki akses yang tinggi terhadap angkutan umum dan dan jalan-jalan di lingkungannya tetap sempit. Warga kampung kota harus tetap memiliki tingakt kebutuhan berkendaraan yang rendah untuk mengurangi tingkat kepemilikan mobil di perkotaan.

Bagi pembangunan kawasan perumahan baru di di kawasan pinggiran, perencana kota dapat meniru keberhasilan kota Vauban. Kebutuhan berkendaraan adalah dipengaruhi oleh desain kota dan akses ke transportasi umum. Melalui desain kota yang mendorong untuk banyak berjalan dan bersepeda dan akses yang tinggi terhadap transportasi umum yang handal adalah tidak mustahil untuk menciptakan sebuah kawasan kota tanpa mobil. Kota Vauban di Jerman dan kampung-kampung kota di Indonesia adalah contohnya.
______________________________

Traffic congestion is one of the chronic problems in most Indonesian cities and this problem is getting worse year by year. The growth of road developments in Indonesian cities is much slower than the growth rate of vehicle ownership. In Jakarta, for example, the growth rate of vehicle ownership is 9 to 11 percent per year but the growth of road developments is only less than 1 percent per year.

When a new highway was built or a road was widened, it will only solve the traffic congestion for a short period of time. After a few years, the new highway will fill with traffic that would not have existed if the highway had not been built. Similarly, the widened road fills with more traffic in a few months. Such phenomenon is called induced demand. Because of the induced demand, neither building new roads nor widening roads are the long-lasting solution to traffic congestion.

There are several possible solutions to eradicate traffic congestion problems and one of them is the reduction of private vehicle uses. I read an article in the New York Times (May 12, 2009) on a suburb town without cars in Germany with great interest. Streets in this upscale town are completely car-free except the main thoroughfare and a few streets on edge of the town. The residents of this town are still allowed to own cars, but parking is relegated to two large garages at the edge of the development.

The Vauban town, is located on the outskirt of Freiburg, near the French and Swiss borders and home to 5,500 residents. The residents are heavily dependent on the tram to downtown Freiburg and many of them take to car-sharing when longer excursions are needed. Seventy percent of Vauban’s families have no cars. They do a lot of walking and biking to shops, banks, restaurants, schools and other destinations that are interspersed among homes. The town is long and relatively narrow and provides an easy walking access to the tram for every home.

Creating places with more compact design, more accessible to public transportation and less driving is the envision of urban planners in the 21st century. The Vauban town is an exemplar of the 21st century urban design in response to the threats of greenhouse gas emission and global warming and the dwindling oil supply.

I could argue that the Vauban’s urban design is the extension of the New Urbanism. The New Urbanism is a school of urban design arose in the U.S. in the early 1980s. This school of urban design promotes several key principles including walkability and connectivity, mixed land uses, and high density. There have been many the New Urbanist towns in several countries, but cars still fill the streets of these towns.

The Vauban town provides an example of the possibility of creating city without cars. The walkable and mixed-land-uses urban design, easy access to public transportation and excellent public transportation system as demonstrated in the Vauban town are the components for creating city without cars.

Cars are still a luxury item for many Indonesian families. Many urban residents, particularly those live in kampung kota, do not own cars and are used to living without cars. Streets (gang) in Indonesia’s kampung kota are too narrow for cars and the residents are used to walking and biking to their destinations. Kampung kotas are located in the center of urban areas and relatively accessible to public transportations. In reference to the New Urbanism concept, the Indonesia’s kampung kota has implemented the principles of walkability and high density.

Indonesian planners need to appreciate the existence of kampung kota in terms of lacking driving needs. Kampung kota residents will be less likely to have a demand for cars when their neighborhoods are accessible to public transportations and the streets in their neighborhoods remain narrow. Kampung kota residents need to remain lack of driving needs for reducing the car ownership rate in urban areas.

For new developments in suburb areas, Indonesian planners can emulate the success of the Vauban town. Driving needs are profoundly affected by the urban design and the high access to public transportation. It makes sense to envision and is not all impossible to create a city without cars.

Dengan semakin tingginya minat publik terhadap program Berburu, maka JBRB memulai sebuah program yang dinamakan “Berburu Training for Facilitators”. Pelatihan Batch 1 diadakan bekerja sama dengan Inner Voice Institute; sebuah lembaga pelatihan yang menyediakan berbagai macam bentuk pelatihan khususnya yang berhubungan dengan self-awareness.

Acara diadakan di kantor Inner Voice Institute yang terletak di Jl. Kyai Maja No.13 (depan RS Pertamina) pada tanggal 20 dan 21 Juni, 2009. Pelatihan ini dimaksudkan menjadi sebuah sarana bagi JBRB untuk mendapatkan calon-calon pengajar Berburu yang baru seiring dengan rencana pengembangan program Berburu di awal tahun ajaran nanti.

Alhamdulilah, minat yang datang dari berbagai kalangan cukup tinggi. Ada 30 orang yang hadir pada pelatihan tersebut. JBRB mendatangkan beragam trainer selama pelatihan, yaitu Pardamean (Inner Voice Institute), Edward (Psikologi UI), A.R. Lendy (Inner Voice Institute), dan Atty Budiharti (Brain Booster Management).

Pelatihan tidak berhenti sampai di situ. Demi mengembangkan potensi para calon pengajar, JBRB mengadakan pelatihan bagian kedua di Museum Bank Mandiri pada tanggal 4 Juli, 2009. Kali ini JBRB bekerja sama dengan Forum Indonesia Membaca (FIM). Pelatihan terasa sangat istimewa karena Museum Bank Mandiri menawarkan nuansa romantis era jaman kemerdekaan. Kali ini para peserta mendapatkan materi tentang Children’s Positive Discipline yang diberikan oleh Mita Abidin dari Cikal.

Apabila kamu tertarik bergabung dalam program Berburu, hubungi Dela Dwinanda di 0817 807644 atau kirim e-mail ke Ika di revolusibudaya@gmail.com

Salam Berburu!

IMG_1666

Did you know that last June 22 was the birthday of our beloved city Jakarta? Some of you were probably aware of that fact, but I’m sure most of us didn’t care at all; that is exactly what happened in my office, everything went just like any other day. No one mentioned the fact that Jakarta was having its 482nd birthday.

Compared to our country Indonesia, Jakarta turns out to be so much older. But it is too bad that despite the fact that our capital is so old, the condition doesn’t show the kind of maturity that a city as old as Jakarta should have. Perhaps that is why we Jakartans don’t really care whether or not it’s a birthday. Because it’s always the same kind of Jakarta we all have: bad traffic, bad public transportation, pollution, flood, and poverty.

With all those problems, we don’t feel like celebrating it. I even forgot that last Monday was Jakarta’s birthday until I heard, accidentally, the news on the radio reporting that our local government had been conducting cultural events in several areas.

Our ignorance of this special occasion definitely reflects our attitude towards this city of ours. Admit it, most of us don’t like it here. Admit it, most of us always curse at this city every single day and always think that if not for the money we would have left this city so long time ago.

Am I being too much on this? I don’t think so. I was driving my car a few days ago from my office to a friend’s house in Blok M when suddenly a metromini cut me off. This bus came from nowhere and stubbornly stopped right in front of me. I was going to curse but decided not to when I saw the people’s faces on the bus. I felt sorry for them.

They all looked sad. None of them were crying, but I could tell they were all unhappy. Their bodies were squeezed against each other and they were all sweating. Suddenly I felt guilty for being inside my comfortable car. I felt guilty for having my air conditioner and radio on. I looked at those people and I realized that not all people in this great city of ours can enjoy Jakarta’s luxurious malls and nightclubs.

The funny part was the fact that the condition of the bus was no better than the people’s condition inside. Just like any other Jakarta’s public transportation system, this bus in front of me looked like the ugliest bus in the whole world. At that very moment, I was so ashamed of being an Indonesian. I couldn’t imagine what I would have said if there had been a foreigner sitting next to me; trying to mess his or her concentration from this very embarrassing sight, I would probably have said, “By the way, have you tried our busway?”

It seems to me that Jakarta is run to please the rich. Look at our big malls. Our malls are so luxurious that even my American friend, Bill, admitted that our malls are better than the ones in the United States. While walking inside a famous mall in Central Jakarta, he pointed at those branded items being displayed at various outles, and said, “Isn’t it amazing, there are actually many people in this city who buy all those unreasonably-priced products?”

But it is interesting to know that even the rich are not actually happy living in Jakarta. If you don’t trust me, ask them to describe Jakarta in one word. I bet most of them will say macet. In other cities, people probably have positive words like: beautiful, traditional, or peaceful. And that is why they always go somewhere far every time they have a chance. We shouldn’t be surprised to know that Jakarta’s rich people are among the main tourist sources for cities like Singapore, Kuala Lumpur, and Bangkok; and not the other way around.

So, what now? Did 482nd birthday mean anything? It still did and should mean something.

I think it is time for all of us to look at Jakarta differently. It is time for us to treat Jakarta wisely and start doing small but real actions to this city. I remember I didn’t really like Jakarta in the past. But living in the United States for 2 years made me realize that Jakarta was not as bad as I had thought before. It was the first time when I realized that Jakarta had so many great things I couldn’t find in America. And one thing for sure, I missed those things so badly.

So when I came back, I decided I would treat Jakarta differently. I made a vow that I would start doing the things that I never had done before. It was not easy, but I managed to survive. First, for the very first time in my life I went to Monas. Then, I went to other cultural and historic attractions. I began to find out that Jakarta is more than just about malls and cafes. Second, I started trying all kinds of food that this city offers. I found out food in Jakarta is not mainly about nasi uduk or soto betawi. You will be surprised to know that the choices are unlimited. Third, I now use the traffic as a perfect therapy on patience.

At the end, we can always have thousands of excuses not to like Jakarta and all its elements. But, we all should know that there is a second choice to like this city, although it might only be just a little bit more; and to do it, it will need some efforts.

Bencana jebolnya tanggul Situ Gintung, Cireundeu, Tangerang Selatan pada tanggal 27 Maret lalu tentunya sangat memprihatinkan. Korban jiwa tercatat berjumlah 99 orang (Kompas 1 April 2009) dan angka ini masih mungkin bertambah mengingat masih terdapat 100 korban dilaporkan hilang. Bencana ini mencakup kawasan yang tidak terlalu luas (112.5 ha) tetapi karena besarnya korban jiwa ini, pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian yang besar terhadap bencana ini.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisa penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menemukan adanya erosi buluh pada bagian tanggul yang jebol (Kompas 1 April 2009). Adanya erosi buluh ini menyebabkan terjadinya rembesan air ke dalam kapiler retakan yang selanjutnya membuat badan tanggul longsor. Erosi buluh ini telah terdeteksi pada pengamatan yang dilakukan pada bulan Desember 2008.

Curah hujan yang tinggi di kawasan sekitar Situ Gintung ditengarai sebagai penyebab terjadinya bencana jebolnya tanggul Situ Gintung. Hujan hanyalah pemicu dan bukanlah penyebab terjadinya bencana tersebut. Curah hujan Curah hujan tinggi tercatat sering terjadi sebelumnya di kawasan Situ Gintung, seperti terjadi pada tahun 2007 yang menyebabkan banjir besar di Jakarta, tetapi tidak menjebolkan tanggul Situ Gintung.

Sebagai seorang pengamat tata ruang di Indonesia, saya berpendapat bahwa bencana Situ Gintung adalah akibat lemahnya penegakan rencana tata ruang. Indonesia telah memiliki Undang-undang Penataan Ruang sejak tahun 1992 melalui UU 24/1992 yang membagi fungsi utama kawasan menjadi dua yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung termasuk diantaranya kawasan sekitar mata air dan kawasan sekitar waduk/danau, seperti halnya kawasan Situ Gintung. UU 24/1992 menegaskan bahwa kawasan lindung adalah kawasan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan lindung adalah sangat terbatas seperti upaya konservasi, rehabilitasi, penelitian dan objek wisata lingkungan.

Bilamana kita mengacu kepada ketentuan yang terdapat dalam UU 24/1992 ataupun Undang-undang Penataan Ruang yang baru (UU 26/2007), kawasan Situ Gintung semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung. Pemfungsian kawasan Situ Gintung sebagai kawasan lindung ini berarti kegiatan yang diperkenankan dilakukan di kawasan ini hanyalah untuk melindungi kelestarian Situ Gintung. Kawasan permukiman tentunya tidak termasuk ke dalam kawasan lindung dan tidak diperkenankan terdapat di kawasan Situ Gintung.

Bencana yang terjadi di kawasan Situ Gintung adalah akibat dari kegiatan yang terjadi di kawasan tersebut yang tidak melindungi kelestarian lingkungan hidup Situ Gintung. Lebih dari 40 persen dari kawasan tangkapan air dari Situ Gintung yang luasnya 112,5 hektar adalah kawasan terbangun (Kompas 1 April 2009). Persentasi kawasan terbangun sebesar ini di kawasan yang semestinya diarahkan sebagai kawasan lindung tentunya menjadi bukti lemahnya penegakan undang-undang penataan ruang di Indonesia. Besar kemungkinan bilamana bencana ini tidak terjadi, persentasi kawasan terbangun di kawasan Situ Gintung akan bertambah seiring dengan tekanan pertambahan penduduk.

UU 26/2007 yang merevisi UU 24/1992 dengan menambahkan klausul pengenaan sanksi bagi pelanggar tata ruang juga belum diimplementasikan secara tegas. Berikut pula dengan pengenaan disinsentif dan insentif dalam pelaksanan pemanfaatan ruang belum ditegakkan sebagaimana mestinya. Pelanggaran tata ruang di kawasan Situ Gintung adalah hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak pelanggaran tata ruang di Indonesia. Penegakan UU Penataan Ruang tidaklah mudah tanpa adanya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya tata ruang.

Masyarakat Indonesia masih memerlukan waktu dan upaya yang lebih intensif untuk “belajar” pentingnya tata ruang untuk pembangunan yang berkelanjutan. Musibah Situ Gintung ini dapat pula dimaknai sebagai pembelajaran bagi masyarakat tentang konsekuensi dari pelanggaran tata ruang. Indonesia perlu belajar dari kesalahan yang terjadi di kawasan Situ Gintung untuk menghindari terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Masyarakat Indonesia mesti memahami pentingnya rencana tata ruang bagi kebaikan dan keselamatan mereka. Pemahaman ini adalah sangat esensial bagi pemerintah untuk menegakkan wibawa UU Penataan Ruang 26/2007 demi terwujudnya ruang Indonesia yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

It’s a bless that JBRB has been awarded “2008 Young Changemakers Initiative” by Ashoka Indonesia. I hope this achievement will make us stronger.

This is not the end. This is a start.

I thank everyone out there who has been supporting our movement and never given up hope. Let’s build this city together because we believe that Jakarta deserves a second chance.

Dukung Program Berburu di Sekolah Anda

Mari jalankan dan dukung Program Berburu di sekolah-sekolah di Jakarta dan jadilah bagian dari sebuah REVOLUSI BUDAYA! Kirimkan email ke revolusibudaya@gmail.com dan daftarkan sekolah anda untuk ikut dalam Program Berburu.

Contact Us

BERBURU CENTER Jalan Cucur Timur III Blok A 7 No. 6 Sektor 4 Bintaro Jaya Tel: 62 21 736 3617 Oki: 0856 8102299 Tasa:087881521091 E-mail: revolusibudaya@gmail.com

Blog Masters

Guebukanmonyet (Washington D.C.) and Udiot (Jakarta)

Contributors

Andri Gilang (Sydney), Ian Badawi (Washington D.C.), Dejong (Washington D.C.), Sherwin Tobing (Budapest), Anggie Naditha Oktanesya (Jakarta), and Izmi Nurpratika (Jakarta).

Guest Writers

Deden Rukmana (Savannah), and Harris Iskandar (Washington, D.C.)

Categories

Gudang Artikel

Our Pictures

Arif Bergaya!

Cuci Motor

Ayo maju ke depan

More Photos